Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
War in The Dream



Leura terkejut sampai menutup mulutnya, kejanggalan terjadi lagi, "Kau... Nathalia kan? Adiknya Julian?"


Gadis remaja tersebut mengangguk antusias, "Kau kemari pasti ingin menemui kakakku ya? Tapi sayangnya dia tidak pulang dari semalam, pasti menginap di tempat kerja. Tapi.. kemarin kan malam minggu."


"Nath, Julian bilang kau di rumah sakit."


"Jadi kakakku bersamamu?"


Tak lama kemudian, derap langkah terburu menghampiri keduanya. Julian dengan raut khawatir dan wajah berubah pucat ketika menyadari keberadaan Nathalia.


Berbeda dengan respon kakak lelakinya, Nathalia justru tertawa melihat kedatangan Julian, "Lain kali kalau mau pergi kencan katakan saja padaku, kak. Aku kan jadi khawatir sendiri, mana ponselmu tidak aktif, tidak bisa dihubungi."


Mengabaikan Nathalia, Leura beralih menatap teman lelakinya dengan khawatir, "Julian, bagaimana? Respon orang yang mengabarimu semalam, itu bagaimana?"


"Tidak, dia bilang tidak memberi tahu apa-apa. Bahkan tidak bertemu denganku."


"Ada apa ini, sebenarnya?" Melihat kedua orang yang ada dihadapannya tampak dalam keadaan tidak baik-baik saja, Nathalia ikut pusing. Dahinya sudah merengut, matanya juga memerah.


"Tidak apa-apa, sebaiknya kita masuk. Leura, kau ikut juga."


...---...


Julian menatap seduhan teh hijau di genggaman tangannya, cangkir kecil itu tampak mengepulkan uap. Membuatnya enggan menegak karena pasti masih terasa panas. Ia beralih meraih sebotol air mineral kemasan yang siap sedia di lemari pendingin.


"Wanita itu bahkan tak melihatmu semalam, Julian. Dan buktinya, pagi-pagi sekali aku menemukanmu tertidur di taman dekat rumahku. Ini tidak logis, atau mungkin kau tidur berjalan sambil bermimpi."


Julian menghendilkan bahunya, "Entahlah, Leura. Rasanya kecelakaan itu sungguh nyata, bahkan jari-jariku yang terhimpit kursi mobil, masih terasa nyeri sampai sekarang."


Leura cukup terkejut melihat darah yang sudah kering di sekitar jari lelaki itu, dengan perlahan ia memperhatikan tangan Julian, "Kalau hanya mimpi, kenapa bisa terluka?"


"Kau tahu, sebenarnya setelah kilasan kecelakaan itu, masih ada lanjutannya. Aku tiba-tiba terbangun di tengah hutan, dan melihat secara langsung peperangan, tampaknya seperti zaman kuno. Mereka bersenjata panah dan pedang, pakaian pun juga masih primitif."


Leura menatapnya dengan sebelah alis terangkat.


"Aku tahu..., aku mengerti kalau ini agak gila. Aku sudah seperti kebanyakan berhalusinasi sampai menghasilkan efek world building sendiri."


Leura menggigit bibir bawahnya, "Apa yang kau alami, aku percaya. Menurut ilmu pengetahuan, itu realita menuju suatu hak untuk menjadi kebenaran. Bagaimanapun, yang dialami manusia ini bisa saja berhubungan dengan alam semesta, tandanya hal itu bukan semata-mata mimpi."


"Bagaimana kau bisa menyimpulkannya seperti itu? Apa kau tahu sesuatu?" Julian cukup terkejut mendengar penuturan gadis di hadapannya kini, Leura bahkan pernah berkata dirinya kesulitan mengingat materi pelajaran. Tapi tiba-tiba mendadak jadi pakar peneliti.


'Sepertinya keluarga Leura bukan sembarang orang, selain karena sinyal mesin waktunya berasal dari sana. Tapi anak ini walau terlihat bodoh, pasti tahu banyak hal tentang perjalanan waktu. Sungguh tak terduga.'


Leura tiba-tiba membereskan barang-barangnya, menaruh cangkir teh yang barusan ia gunakan ke mesin pencuci piring, setelah itu ia bergegas pamit tanpa alasan yang jelas.


Saat Nathalia bertanya pun, Leura hanya menyunggingkan senyum kecil sebelum benar-benar pergi.


...---...


Siang ini, setelah mendapat penjelasan yang tidak cukup signifikan dari Leura. Julian menemui Richard ke rumahnya secara langsung. Kalau tidak karena penasaran dengan yang dialaminya, ia tak akan mau berkunjung ke rumah orang lain seperti ini. Paling menyebalkannya, ternyata Herald yang bernotabe keponakan Richard sedang berada di sana.


"Aku tidak tahu kau dan pamanku sedekat ini. Sudah seberapa sering kau kemari?"


"Baru kali ini," balas Julian cukup ketus, ia tak suka ditanya-tanyai lagi. Jadi ia ingin membuat Herald seolah sungkan melontarkan pertanyaan tidak bergunanya.


Setelah Richard kembali dari dapur seraya membawa tiga cangkir kopi dan bisukuit, Julian segera mengutarakan tujuan kedatangannya, "Aku ingin bicara empat mata dengan kau," Ujarnya seraya melirik Richard.


"Wah, bukankah paman hanya supir sementara untuk Julian. Kenapa kalian seolah sudah punya rahasia begitu?" Tanya Herald penuh penasaran, ia bahkan sudah menumpukan kepalan tangannya dan menatap Julian dengan penuh ketertarikan. Tidak di sekolah, di mana saja memang menyebalkan bagi Julian.


Richard beralih menatap keponakannya, sembari membungkus beberapa kukis, "Pulanglah anak bandel, ini bukan urusanmu. Dan berika ini pada ayahmu."


Herald meneeimanya dengan mata berbinar, kukis memang bagian dari kegemarannya, "Bagaimana paman bisa tidak tahu, dia ini yang paking bandel di sekolah. Aku sebagai ketua kelas merangkap ketua osis selalu tahu bagaimana kepribadian anak-anak bandel, terutama dia. Julian bahkan sering membolos tanpa sebab, lalu menghilang entah kemana."


"Aku tidak peduli, sebaiknya kau pulang. Nanti penyakit jantung ayahmu bisa kambuh kalau tahu kau tidak di rumah. Pulang sana!"


"Iya... Iya... aku pulang. Oh, ya Julian, jangan lupa titipkan salamku pada Leura ya, kau kan dekat sekali dengan dia."


Julian segera protes mendengar ucapan Herald, tapi si ketua kelas itu sudah terlebih dulu pergi sambil berlari bahkan tanpa alas kaki.


"Jadi, apa yang membuatmu mau datang kemari? Aku yakin ini hal yang tidak biasa, kau rela berkunjung jauh-jauh ke rumahku."


Julian mendengus, apakah sebuah keajaiban ketika dirinya pergi ke rumah orang lain. Yah hal itu memang sangat jarang ia lakukan, tapi apa salahnya, "Aku kemari untuk menannyakan sesuatu."


"Lain kali kalau berkunjung ke rumah orang, bawalah buah tangan."


Julia mendesisi kesal, "Paman! Apa aku perlu pergi lagi untuk membeli buah tangan, dan kembali mengulang perkataanku?"


Sedangkan Richard hanya tertawa menanggapinya, "Bercanda, hidupmu terlalu tegang dan serius. Cobalah sesekali bermain bersama teman sebayamu, ikutlah Herald, biasanya dia pergi ke tempat mengopi."


"Tujuanku kemari untuk menanyakan sesuatu, bukan membuatmu menyuruhku mengopi bersama orang lain."


"Ah, yah tuan Girasol, silahkan bertanya. Aku tidak sabar topik apa yang akan kau berikan kali ini."


Julian lagi-lagi mendengus karena dibuat kesal. Tapi bagaimanapun ia harus bisa menahannya untuk tidak marah di tempat, "Aku mengalami hal-hal aneh akhir-akhir ini. Jadi, hanya ingin memastikan apakah ada hubungannya dengan hal ilmiah, selagi belum menjalar sampai kemana-mana."


"Hal-hal aneh, bagaimana?"


"Kau ingat saat aku membuat kerusuhan di jalan raya waktu itu, sampai mobilku harus kau sita? Di sana aku melihat anak kecil menyebrang, tapi ternyata tidak ada. Dan semalam setelah pulang dari rumah teman, aku mengalami kecelakaan parah, tapi paginya tiba-tiba berada di dekat rumah temanku yang dikunjungi sebelumnya. Menurutmu, apa itu?"


TBC