Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
The Story



Cassandre menegang, cangkir berisi coklat panas yang baru saja menyentuh permukaan bibirnya tiba-tiba terjatuh lalu pecah. Membuat isinya tumpah, mengalir kemana-mana.


Bodohnya juga, mengapa ia tak sadar kalau minuman manis itu masih panas, bibirnya langsung saja menyerobot. Dan inilah akibatnya.


Ketika ia mulai berjongkok untuk memunguti pecahan cangkir keramik, seseorang menahan tangannya seraya memandang dengan wajah khawatir "Biar saya saja."


Cassandre menggeleng "Tidak perlu, Julian. Kerjakan saja pekerjaanmu."


"Tapi ini pekerjaanku."


"Ya sudah kalau begitu, maaf yah."


Julian mengangguk patuh, seraya melirik atasannya dengan khawatir. Sebab, kedua tangan wanita itu tampak gemetar dan kaku. Menyadari Julian melihatnya, Cassandre sontak menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuh, lantas bergegas pergi ke ruang pribadi miliknya.


"Dia terlihat tidak baik-baik saja."


Di sisi lain, Cassandre parau menyembunyikan keterkejutannya yang terjadi tiba-tiba. Seperti spontan ia menjatuhkan gelas berisi coklat panas tadi, layaknya dikejutkan berita buruk.


Wanita itu menghela napas panjang untuk menetralkan pikirannya, sembari bersandar pada daun pintu yang tertutup "Ayolah Cassandre, tidak ada hal-hal buruk yang akan terjadi. Keluargamu baik-baik saja, keluargamu--Luz... tapi dia tidak baik-baik saja," gumamnya.


Teringat dengan sang putri, kembali membuatnya bersedih. Padahal sudah dua bulan lebih Luz pergi dari era ini, menuju era lain di masa lalu, sama saja gadis itu sudah mati. Tapi mau bagaimanapun, ia hanya punya satu anak, dan pastinya kenangan jelas hanya ada Luz.


Dadanya terasa sesak, bagai ditusuk benda tumpul, rasanya sakit tidak terhenti. Tiba-tiba saja bayangan Ereluz menyerobot dan memenuhi isi otaknya, seperti ada pesan yang tersampai pada dirinya, tentang Luz.


Cassandre menangkup kedua tangannya untuk berdo'a atas keselamatan Luz "Semoga kau tenang di sana, nak. Ibu sangat merindukanmu."


...---...


"Kemarin ada yang mau sewa private room lagi untuk acara besar, tapi Bu Cassandre tidak di sini, pemesan sudah meninggalkan nomor telepon atas nama perusahaannya, tolong berikan ini sekalian pada boss, ya," ujar pelayan kasir ketika melihat Julian berjalan ke arah ruangan Cassandre sambil meneteng pel juga ember.


Julian mengangguk mengiyakan, sekalian dirinya yang hendak membersihkan sisa tumpahan coklat panas di depan ruang Cassandre tadi.


Ia terlebih dulu menaruh pel dan ember di sudut ruangan, dan beralih hendak mengetuk pintu ruangan Cassandre yang tertutup rapat.


"Semoga kau tenang di sana, nak. Ibu sangat merindukanmu."


Namun niatnya urung ketika mendengar suara Cassandre yang terdengar tengah bergumam sendirian. Lagi pula tak ada siapapun sejak Julian pergi mengambil pel tadi.


Suara itu terdengar menyedihkan, membuat Julian urung mengetuk pintunya hingga beberapa menit. Lelaki itu kemudian memutuskan untuk mengepel lantai terlebih dulu, dari pada bekas air cokelatnya mengering dan suasah dihilangkan.


Mengingat ucapan boss-nya tadi, Julian terpikir sesuatu tentang anaknya. Dulu saat masih kecil, sepertinya mereka pernah bertemu, tepatnya di hari telah dimulainya kehidupan hancur keluarga Julian.


Saat itu satu-satunya anak perempuan Cassandre menangis di pemakaman ibu Julian yang meninggal setelah melahirkan Nathalia. Anak kecil itu menagis sambil menjerit-jerit tidak karuan, kedua tangan kecilnya juga tak henti mencabik tanah makam. Dia menangis hanya karena tidak jadi berangkat beli boneka, perjalanan mereka terhenti saat mendengar kabar duka dari keluarga Girasol, ayahnya terpaksa memutar balik mobil yang hendak menuju toko mainan, beralih ke makam di mana ibunya Julian akan di makamkan.


Meski putrinya terus menangis karena keinginanya tertunda, sang ayah juga tidak bisa menuruti kemauannya. Yang sedang berduka adalah kawannya sendiri, tak mungkin ia melewatkan upacara pemakaman istri temannya.


Akibatnya, Ereluz yang masih kecil membuat hampir semua orang yang berada di lokasi, kesal setengah mati. Pasalnya, dia sama sekali tidak mau diam dan mengacak-acak makam, bunga-bunga di kuburan sekitar diambili lalu dilempar kemana-mana. Suasana duka itu dibuat rusuh oleh anak kecil tidak tahu diri.


Usianya sama dengan Julian, tapi Ereluz lebih kekanakan, anak itu seperti tidak paham akan situasi. Kalau Julian menjadi dirinya, dipastikan ia bisa menunda keinginannya untuk beli mainan. Hal itu yang membuatnya kesal, ingin sekali memukul Ereluz yang bandel.


"Nyonya Cassandre seperti berdo'a untuk orang yang sudah mati. Tapi, bukankah anaknya masih hidup," atasannya tadi memang mengatakan, seolah-olah putrinya sudah mati.


"Siapa yang sudah mati?"


Hampir saja terjungkal, wanita itu tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Julian yang tengah membungkuk guna mengepel lantai.


Julian tersenyum canggung, lantas merogoh saku celananya "Eh, nyonya, ini nomor telepon customer baru, kata kak kasir, orang ini ingin menyewa private room di sini."


"Oh, terima kasih," balas wanita itu agak terkejut, beruntunglah suaminya sudah punya 'nama' sebagai direktur dan cukup terkenal, hingga tak sulit baginya membuka peluang bisnis baru. "Ngomong-ngomong, hari ini kau datang lebih awal ya. Bahkan jauh dari jam biasanya kau datang."


"Sekolahku libur hari ini, nyonya."


"Oh? Kenapa libur?"


Cassandre menganggukkan kepala tanda mengerti "Di mana kau sekolah, Julian? Sekarang sudah kelas dua kan?"


"Iya, saya kelas dua. Sekolah di La Carlos Senior High School."


"Hey, benarkah? Sekolahmu sama dengan sekolah Luz," sambut wanita itu tampak senang.


Julian merasa tak asing akan nama itu, sepertinya baru-baru ini ia pernah mendengar nama Luz disebutkan "Luz? Apa dia putrimu?"


"Iya, Ereluz Rivera. Kalian saling kenal kan, dulu saat masih kecil."


'Oh, jadi nama anaknya Ereluz, bukankah dia anak yang pindah, seperti yang permah Leura ceritakan,' batin Julian. "Seingatku ada murid namanya Ereluz, dia sudah pindah ke luar negeri sebelum aku pindah ke sekolah yang sekarang."


Bibir Cassandre yang sebelumnya terbentuk lengkungan senyum, kini berubah drastis menjadi datar "Luz memang sudah pindah ke luar negeri, dia bandel sekali. Makanya aku dan suamiku memindahkannya untuk hidup lebih mandiri."


'Ereluz itu anak yang katanya penggertak, sepertinya Nyonya Cassandre berbohong tentang ini. Atau mungkin dia malu punya anak bandel seperti Ereluz, makanya dipindah sekolah,' lagi-lagi Julian membatin curiga. "Kata teman-teman, dulu anak perempuan yang namanya Ereluz itu sangat jahat."


Cassandre masih terdiam tapi tatapanya menyiratkan kekecewaan sekaligus kesedihan "Jadi sudah banyak yang tau ya? Luz memang berulah sejak awal masuk sekolah, bahkan sejak kecil, mungkin," ia kemudian menghela napas panjang "Luz memang bandel, tapi aku yakin sekarang dia sudah lebih baik di sana. Tolong jangan semakin menyebar berita buruk tentangnya, ya?"


"Memangnya sekarang dia bersekolah di negeri mana?"


Cassandre dibuat gelagapan atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan karyawan barunya "Ereluz... Ereluz menuntut ilmu di asia tenggara," tempat itu spontan Cassandre ungkapkan.


"Wah, jauh sekali. Negara mana?"


Melihat Julian yang tampak antusias menanyai tentang putrinya, Cassandre tidak tega untuk permisi pergi begitu saja "Nanti kalau dia pulang, tanyakan sendiri padanya."


"Oh? Apa dia akan pulang?"


"Do'a kan saja ya."


...---...


Sudah pukul delapan lebih, tapi Julian baru berangkat sekolah. Dengan santai ia berjalan kaki menuju tempat menimba ilmunya. Padahal letaknya cukup jauh dari apartemennya, tapi demi tak ingin membuang-buang uang untuk naik bus, lebih baik ia berjalan kaki saja, yang mana juga bisa membakar kalori tubuh.


"Hey, Julian Girasol! Kenapa kau baru datang?! Sudah jam berapa ini?"


Baru saja kakinya melangkah memasuki pekarangan sekolah, bukanlah sapaan baik malah teguran kasar yang diterima olehnya. Tapi Julian memang salah. Ia mengakuinya, untuk itu bibirnya terkunci rapat dan memilih mengabaikan protes dari orang-orang yang sok kenal itu.


"Hai Leura," ia menyapa riang ketika matanya bertemu pandang dengan gadis itu, baru keluar aura kebaikannya. Sepertinya Julian hanya merasakan kadar orang baik dari Leura, tidak dengan orang lain.


Yang disapa makah terlihat kecewa "Kenapa kau berangkat terlambat sekali, banyak jam pelajaran sudah kau lewatkan."


Julian meletakkan tasnya yang hanya berisi satu buah buku tanpa pelengkap seperti alat-alat tulis, di mejanya yang berdekatan dengan bangku Leura "Tak masalah, selagi aku bisa belajar sendiri."


Gadis itu tampak mendengus mendengar jawabannya. Yah, mendengar ucapan seperti itu memabg seolah merendahkan dirinya yang bodoh, Jukian seperti menjunjung tinggi kecerdasannya sendiri.


Mengerti terhadap perasaan orang lain yang mana itu adalah Leura, Julian langsung menghadapkan badannya pada gadis itu "Maaf, maksudku. Aku masih repot pagi tadi, jadi agak terlambat ke sekolah."


"Sepertinya tidak begitu."


"Jangan berpikiran buruk padaku, nanti kepalamu sakit."


"Tidak ada hubungannya," sahut Leura disertai tawanya yang pecah, tapi pelan "Oh, iya. Ngomong-ngomong kapan kita akan belajar bersama. Tolonglah aku, kau sangat cerdas Julian, berbagi sedikit ilmu tidak akan menurunkan kadar kecerdasanmu kan?"


Julian tertawa menanggapinya "Aku akan segerandatang ke rumahmu."


'Dan untuk mesin waktunya.'


*TBC


THANK'S FOR READING💘*