
"Sejak kapan kau punya kakek di sini? Atau jangan-jangan kau berbohong, sebenarnya kau bukan manusia dari masa depan kan?!" Tuduh Luz.
Feuji mencegah Luz yang hendak melemparkan pukulan pada Reagel, tatapannya seperti penuh tanya "Apa yang kau bilang? Kalian sama-sama dari masa depan?"
"Aku kan sudah bilang, Ereluz itu sama dengaku, dari tahun yang sama. Maksudku, masa depan," Reagel mengerti sekarang, kakeknya memang sudah berumur, kemungkinan dia gampang lupa.
Sedangkan sang kakek, malah sedang memikirkan hal lain. Di dunia ini, mesin waktu baru bisa tercipta satu saja, sesuai dengan susunan waktu yang mana hanya satu dan terus berjalan. Kalau Ereluz juga orang dari masa yang lain, maka melalui mesin waktu yang mana lagi, tidak memungkinkan ada dua mesin waktu dalam satu periode yang sama. Kecuali, kemungkinan besar, Ereluz menggunakan mesin waktu yang saat ini sudah ada, dalam masa yang lain. Feuji menggelengkan kepala, memikirkannya "Ba-bagaimana bisa? Kau yakin?"
Luz melirik sinis "Ada apa? Kau paham tentang semua ini?"
Feuji mengalihkan pandangan pada cucu seketurunannya "Reagel, apa perempuan ini berkata benar? Tidak mungkin kalau dia juga dari masa depan kan? Siapa yang mengirimmu kemari?"
"Luz berkata jujur, dia juga dari tahun yang sama denganku. Kakek lihat saja rambutnya, agak warna biru kan, tidak mungkin orang di jaman ini punya rambut warna-warni seperti dia."
"Astaga, kalau begitu bagaimana bisa? Ereluz, siapa yang mengirimmu kemari, atau kau adalah penerus mesin waktunya?"
"Apa yang paman bicarakan? Aku sama sekali tidak paham, asal paman tahu, keberadaanku di sini secara tiba-tiba begitu saja, padahal harusnya aku sedang bersenang-senang di mall, huuft! Menyebalkan!"
Feuji memijat pelipis, lantas pergi begitu saja setelah memberikan sepiring kue untuk menu makan Luz.
"Tidak mungkin ada lebih dari satu mesin waktu di periode yang sama. Anak perempuan itu sepertinya juga tidak begitu mengerti, tidak mungkin dia pemegang mesin waktunya, pasti ada orang lain yang mengirimnya ke masa ini atau mengambilnya dari masa depan."
Feuji menuju ruangannya, membiarkan dua anak muda berjenis kelamin beda itu menguasai dapurnya.
Selepas sudah di dalam, Feuji langsung menguncinya rapat-rapat "Mesin waktu di tahun ini, aku simpan di rumah Fiji. Sudah ada Reagel yang menggunakannya dengan bantuan sidik jariku. Oh iya! Telapak Ereluz, kemungkinan besar dia lahir di tahun yang sama dengan Reagel, sekitar tahun 2000-an, yang artinya tahun naga."
...---...
Sedangkan di dapur, Reagel masih setia mengisi perutnya. Ia tak menyangka kalau makanan di masa lalu jauh lebih sedap ketimbang masanya yang sebelumnya.
Sayang sekali waktu disekap, Reagel hanya makan-makanan seadanya. Kakek tua kembaran dari kakeknya memang agak kejam "Kau tidak makan, Luz? Sup gazpacho ini enak sekali."
Luz hanya menlirik sekilas, lantas menggeleng, masih dengan rautnya yang selalu dilingkupi emosi "Siapa orang tua itu sebenarnya?"
"Kan sudah ku bilang, dia kakekku. Aku masih keturunannya, satu silsilah."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Reagel berdecak karena tak bisa menikmati makanan dengan damai dan sunyi "Jangan bicara apapun kau! Tidak lihat aku sedang makan?"
Luz sudah membuka mulutnya untuk menyemburkan sumpah serapah, tapi urung karena Reagel menyumpal bibirnya menggunakan daun selada.
"Diam, Luz. Kita di sini bersama orang yang tepat. Ternyata kakekku adalah orang yang membawaku ke tahun ini, tapi aku belum bertanya bagaimana kalau kita pulang ke tahun kita seharusnya berada."
"Cepat tanyakan padanya, kakekmu harus bisa membantu! Aku sangat ingin pulang."
"Ya nanti, sekarang makanlah dulu. Mumpung banyak."
Luz melirik meja di hadapannya. Berbagai makanan tersaji, seolah memang dipersembahkan untuk mereka berdua. Berbeda dengan Reagel yang menyambutnya dengan senang hati, Luz malah curiga. Kalau-kalau orang tua tadi hanya berbohong dan ingin memanfaatkan ketidak tahuan kedua anak muda tersebut.
"Kau yakin dia kakekmu kan? Aku hanya takut kalau orang itu berbohong, hanya untuk memanfaatkan sesuatu dari kita," ujar Luz.
"Kau bebas mempercayainya atau tidak lah..., bodoh sekali!"
Reagel memicingkan mata "Kau pingsan dan kita dikerumuni banyak orang, tatapan mereka sama sekali tidak bersahabat. Lalu datang orang yang mau mengajak kita pergi, itu kakek Feuji, yang sekarang menolong kita. Dan asal kau tahu, awalnya aku takut sekali, wajahnya sangat mirip dengan orang yang menyekapku dulu. Tapi dia memaksa agar aku ikut denganya, ya... tentu ku turuti, dari pada kita di bunuh orang-orang sekitar," tubuhnya bergidik ngeri, mengingat raut orang-orang yang ditemuinya di pinggiran sungai ebro.
"Orangnya memang mirip atau orang yang sama?"
"Mereka kembar, ternyata yang satu sakit dan yang satunya lagi yang sudah menolong kuta saat ini. Yang menyekapku itu yang punya penyakit kejiwaan, namanya Fiji, sedangkan yang di sini namanya Feuji."
Kedua mata si gadis terbelalak saat mendengar nama tak asing disebutkan "Kakek Fiji? Penyakit kejiwaan? Agak tidak waras?" Luz menutup mulutnya tak percaya.
Reagel mengernyitkan dahi "Kau tahu? Kau mengenalinya?"
Mengingat kakek Fiji, Luz kembali teringat akan keluarga Einne, bagaimana sekarang keadaan Hareen dan Hefaisen, ia berharap mereka terus baik-baik saja. Tanpa Luz, mungkin keluarga kecil itu bisa lebih tenang.
Luz juga masih agak mengingat wajah kakek Fiji waktu itu, memang mirip dengan kakek Feuji, hanya saja Feuji tampak lebih sehat dan tinggi "Jadi selama ini kita berada di jarak yang berdekatan, Reagel. Selama ini aku tinggal di rumah orang yang sudah menolongku, dan rumah itu tepat berada di depan rumah orang yang menyekapmu."
Mendengar penjelasan Luz, Reagel sontak tersedak sup gazpacho yang ia nikmati sendiri "Trazmos? Kau juga dari desa itu? Ta-tapi bagaimana mungkin, apa hanya kebetulan saja."
"Aku tidak pernah tahu nama desanya, bahkan sampai sekarang. Tapi kakek Fiji memang mirip dengan kakek Feuji."
"Ya ampun Luz, aku masih tidak habis pikir kalau kita sebenarnya berada di jarak yang sangat dekat. Dengan nasib yang sama pula," ujar Reagel agak dramatis.
Luz tersenyum melihatnya, seperti melihat Hareen. Lagi-lagi lelaki itu yang ia rindukan. Luz sudah menganggap Hareen dan Hefaisen sebagai saudara kandungnya sendiri, wajar kalau ia sangat ingin bertemu "Oh ya, mengapa kakek Fiji mengurungmu? Kalau memang kakek Feuji pelakunya, terkait keberadaanmu di sini."
"Entah, mungkin memang insting bawaan otaknya yang berinisiatif untuk mengurungku. Tapi, kakek Feuji bilang, akan berbahaya membawaku ke sini, ke kota ini. Karena di sini pusat pemerintahan, jadi ia menitipkanku pada kakek Fiji, sebenarnya kakek Feuji sendiri tidak tahu kalau aku disekap di sana. Yang ia tahu hanya menitipkanku sebagai anak di rumah pria gila itu."
"Kalau kakek Fiji yang membuatmu berada di tahun ini, bagaimana denganku? Apa aku juga?"
"Nanti kita tanyakan padanya."
...---...
Hareen menghela napas pasrah, ia baru kembali dari hutan hanya untuk mencari sosok Luz. Setelah melihat lukisan wajah Puteri Sierra di balai, memang sangat mirip dengan rupa Luz. Tapi ia masih belum bisa percaya kalau Luz adalah Puteri Sierra, bisa jadi pelukisnya kurang handal dan malah membuat wajah asli Puteri Sierra mirip dengan Ereluz.
"Hey Hareen! Kerjakan pekerjaanmu! Kita bisa tidak dapat upah kalau kau begini terus," Seru Xiangjun, pesanan dari kerajaan saja baru berjalan limapuluh persen, tapi salah satu temannya itu malah mogok-mogok'an bekerja. Bisa-bisa mereka dituntut pihak kerajaan karena tidak menjalankan pesanan sesuai perjanjian.
Hareen turun dari kudanya dan berjalan gontai, ia langsung menuju tungku api untuk kembali menempa pedang.
"Ereluz itu sudah beberapa hari tidak pulang ke rumahmu, tandanya dia sudah menemukan rumah barunya," kata Elmir berusaha menenangkan sahabatnya. Padahal ia sendiri tak tahu siapa Luz itu, yang sekedar ia ketahui dari Arabel kalau wajahnya mirip dengan Puteri Sierra yang hilang.
"Kalau Luz benar-benar Puteri Sierra, harusnya ada kabar dari kerajaan, jika Puteri sudah kembali. Tapi ini? Tidak ada, tandanya memang dia bukan bagian dari bangsawan," sahut Hareen kesal.
"Jangan bicarakan dia lagi! Fokus bekerja, atau kita bisa dituntut kerajaan," Elmir dan Hareen sontak terdiam seraya kembali melanjutkan tugas masing-masing, kalau Xiangjun sudah marah, keduanya tidak bisa berkata apa-apa lagi.
TBC
THANK'S FOR READING💘