Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
That's The Girl



"Kau! Kenapa melakukan hal seperti ini, kau melukai dirimu sendiri?!" Bentak sang kakak saat melihat Nathalia menyembunyikan kedua tangan dibelakang tubuh ketika diintrogasi. Meski disembunyikan, darah yang menetes deras itu tak luput dari pandangan Julian.


Nathalia semakin merapatkan tubuh, dan berjalan menjauh saat Julian berniat mendekatinya.


"Separah apa penyakitmu sampai selfharm? Sedalam apa depresimu sampai rela manyayati tubuh sendiri? Kita sama-sama terbeban, kalau ada masalah salinglah berbagi. Lagipula masalah kita masih sama, sesuatu yang membuat kita terbeban adalah hal yang sama!"


"Ti-tidak begitu."


"Lalu apa? Dibuli lagi?"


Nathalia balas menggeleng, kemudian menunduk diam. Julian memanfaatkan waktu untuk menarik pergelangan tangan sang adik, yang ternyata ada beberapa sayatan berjajar. Nathalia pun tak berkutik, membuat sang kakak langsung menariknya dalam pelukan, "Jangan seperti ini lagi. Ibu tidak akan senang di atas sana."


Dalam rengkuhan sang kakak lelaki, Nathalia neregangkan sedikit pelukan mereka, mendongak guna menatap manik Julian, "Kak, sepertinya aku punya penyakit psikis, aku menyadari itu. Ada yang salah dalam diriku."


"Sepertinya kita berdua memang harus menemui psikolog."


...---...


Luz bergegas membuka tirai jendela ketika terdengar kericuhan di luar sana. Sepertinya masalah kali ini cukup besar sampai-sampai membuat warga heboh. Bahkan sang raja dan kedua pangeran yang ada di tempat langsung turun tangan secara bersamaan dengan si raja muda dari kerajaan Galicia.


Di mana saat kereta dengan gerbong belakang dibuka, tiga orang tak asing pertama kali menarik perhatian Luz. Meski sebagian wajah mereka, terutama bagian mulutnya ditutup kain hitam, "Mereka orang yang diduga pelaku pencurian di wilayah Galicia," celetuk Herestia, wanita itu ikut mengintip dari celah yang tidak tertutupi badan Luz.


Sedang terjadi perdebatan di bawah sana karena rupanya yang menangkap paksa para pencuri itu adalah pihak Galicia tanpa izin dari Aragon, beruntung berlangsungnya peristiwa sudah diketahui pihak Aragon atas suruhan Pangeran Juan.


Awalnya para pengawal tidak resmi dari Galicia itu ingin menghukum secara langsung para pelaku di Galicia, mereka hendak membawanya secara ilegal menuju wilayah asal. Beruntung rencana berhasil digagalkan, utusan Aragon memang sudah mengikuti gerak-gerik mereka dari awal.


Sekarang Ares marah, dia tak terima atas kegagalan, jadi terus menyalahkan Aragon karena kurang cekatan. Untuk itu ia bertindak lebih awal. Raja Ares dengan murkanya, mengacaukan keadaan, dia bahkan menyobek penutup salah satu diduga pencuri, seketika membuat Luz membelalakkan mata, "Hareen!"


Gadis itu tanpa pikir panjang berlari keluar. Herestia yang tidak berhasil mencegahnya, kemudian ikut menyusul dari belakang.


Sebenarnya Luz tak begitu yakin siapa lelaki itu di antara Hareen atau Reagel, namun keduanya tetaplah kawan baiknya, mereka semua mengenali Luz dan sebaliknya. Tapi mengingat benda yang dicuri berhubungan dengan barang tambang, Luz meyakini dia Hareen dan teman-temannya, selagi berprofesi sebagai penempa pedang.


Sampai di luar istana, sontak semua mata mengarah padanya. Padahal keributan terjadi pada Ares dan Juan di tengah halaman, kenapa hampir seluruh pandangan hanya tertuju padannya, Luz menunduk kecil menghindari rasa gugup, sebelum kembali melangkah mendekati Hareen yang ternyata juga mematung ditempat.


Dalam hati, Hareen hanya terus membatin penuh kebingungan, 'Jadi dia Luz, ternyata Luz memang benar Puteri Sierra? Aku masih tak menyangka, mengapa dia harus kabur dan berbohong kalau pada akhirnya kembali lagi. Lalu bagaimana dia bisa tahu tentang dunia masa depan kalau selama ini mengaku berasal dari masa depan.'


"Hareen!" Panggil Luz seraya berlari kecil mendekatinya.


'Astaga, dia memanggil namaku secara langsung di depan semua orang!'


Kurang beberapa langkah saja, Juan mencegat dengan cara merentangkan salah satu tangan. Mata lelaki itu memicing tajam, kemudian berbisik, "Kau mengenalnya?"


"Tahu apa kau, Puteri Sierra?" Tanya Ares seraya tersenyum miring.


"Aku tahu segalanya," balas si gadis dengan acuh, ia kemudian menghampiri Hareen lantas melepas seluruh ikatannya, "Lepaskan mereka, biarkan kembali ke rumah masing-masing."


Tak berselang lama, Jevin berseru, sehingga kini atensi beralih padanya, "Selain keluarga kerajaan dilarang ikut campur!"


Sang ayah lantas menyenggol sikunya, "Herestia bawa dia masuk, ini bukan hal yang harus diurusi seorang puteri."


"Tapi dia temanku! Dia baik, tak mungkin melakukan hal seperti ini. Tolong percaya padaku," sayangnya Luz masih membantah, padahal Herestia sudah berusaha membujuknya sembari terus menahan tangannya yang hendak berbuat sesuatu.


"Bahkan kau ini pembohong. Bagaimana kami bisa mempercayaimu?" Jevin kembali berucap, membuat suasana makin memanas, terutama antara Juan dengan dirinya.


Semua orang terlihat kebingungan dengan apa yang diucapkan Jevin, tak terkecuali Ares yang membatin bagaimana Sierra bisa hidup lagi setelah tubuhnya dijatuhkan ke dalam sumur tua yang dalamnya tak main-main, 'Sepertinya gadis itu memang bukan Sierra, dia cukup keras kepala dan berani.'


"Jevin, diamlah! Sierra, segera masuk ke ruanganmu. Kami yang akan menyelesaikan hal ini, jangan khawatir. Kalau temanmu memang terbukti tidak bersalah, kami tidak akan menyakitinya," akhirnya dengan keputusan sang raja, semuanya menurut, termasuk Luz. Ia masih tahu diri kalau memang tidak punya hak di sini, apalagi setelah Raja Saloar tahu sendiri.


'Jevin pasti tahu sesuatu tentang Sierra yang sekarang.'


...---...


Raja Ares benar-benar menemui Pangeran tertua Aragon, Jevin. Saking penasaran dengan keberadaan Sierra yang ia rasa janggal.


"Ada apa, yang mulia Ares paling terhormat? Tumben sekali kau berkunjung ke ruanganku. Cukup mencurigakan," Jevin menyambutnya dengan tatapan sinis sekaligus curiga. Pasalnya sebelum ini, ia dan Ares tak pernah saling berbicara sama sekali kecuali saat pertemuan. Mereka berdua sama-sama keras kepala dan tidak mau kalah, untuk itu keduanya saling menghindari pembicaraan empat mata selayalnya sekarang.


"Aku menjanjikan wilayah perbatasan utara untuk kekuasaanmu."


Jevin jelas terkejut, pangeran tertua itu tertawa menanggapinya, "Ada apa ini? Setelah bertahun-tahun kawasan itu kita perebutkan, kenapa tiba-tiba merelakannya untukku?"


Wilayah perbatasan utara merupakan separuh daratan dan separuhnya lagi perairan, di sanalah kawasan yang akan dipimpin secara langsung oleh Pangeran Jevin, sayangnya belum bisa dilaksanakan karena ketidak jelasan pembagian wilayah antar dua kerajaan yang berbeda. Untuk itu Jevin tak bisa segera pergi bertugas selayaknya kedua adiknya, Johnny dan Javier.


"Tentu tidak gratis, Pangeran Jevin. Kalau kau bersedia membagi sedikit informasi padaku, seluruh wilayah utara baik daratan ataupun perairan akan langsung bisa kau ambil alih."


Jevin berdecak, "Tak perlu basa-basi, Ares, apa yang kau mau?"


"Siapa Sierra yang sedang berada di sini? Aku curiga dengan ucapanmu tadi, seolah Sierra bukanlah Sierra."


TBC