Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Galician's King Was Angry



Juan bersedia mengantarkan Luz untuk pergi menemui Feuji di rumahnya pagi ini, sayang seribu sayang, belum sempat berangkat, Aragon kedatangan masalah lagi. Orang suruhan Juan yang bertugas mengikuti penguntit dari Galicia melaporkan kalau saat ini para pencuri itu sedang di perjalanan menuju kerajaan, tentunya bersama pasukan penguntit dari Galicia.


Sebenarnya sang pangeran termuda itu sudah menduga kalau akan terjadi hal seperti ini. Mengingat Ares itu bukan orang yang akan diam selama ada masalah besar yang perlu dia selesaikan sendiri, pasti setelah ini akan ada perdebatan panjang antar dua kerajaan sekaligus. Sungguh, Juan paling malas kalau harus berurusan dengan Galicia. Tapi bagaimanapun, takhtanya di sini merupakan calon raja, segala masalah akan dilimpahkan padanya.


"Kita tunda dulu ya, Ereluz. Setelah aku menyelesaikan masalah pencurian dengan Galicia, nanti kita berangkat."


Luz mendesah kecewa, terbesit ide dalam otaknya tiba-tiba. Tanpa pikir panjang pun ia mengutarakan hal itu, "Bagaimana kalau aku pergi sendiri. Tempatnya dekat, hanya disekitar sungai ebro."


"Jangan!" Tolak Juan, awalnya tak ada makaud untuk membentak. Namun, nada suaranya terdengar meninggi sekaligus seperti perintah mutlak. Lelaki itu pun mengulangi ucapannya dengan nada lebih lembut kala menyadari ada kesalahan intonasi yang tidak disengaja, "Jangan, sebaiknya kau pergi bersamaku. Ada Jevin dan Ares di sini, aku khawatir dengan keberadaan mereka di sekitarmu. Kalau saja Johnny atau Javier tidak ditugaskan di tempat lain, aku mungkin bisa memercayakanmu pada mereka."


Gadis itu hanya bisa mengangguki ucapannya, bagaimanapun posisinya di sini sebagai orang yang bersalah atau yang telah melakukan kesalahan. Tawanan yang sudah menyerahkan diri dilarang menlanggar ucapan tuannya.


"Jangan sedih begitu, aku akan terus membantu dan melindungimu sampai bisa pulang dengan selamat."


Senyum tulus lantas terukir begitu saja, Luz mendongak guna menatap lebih jelas manik mata sang pangeran. Bibirnya yang terlalu jujur itu berucap secara spontan, "Sierra pasti sangat bersyukur memilikimu."


Merasa dipuji oleh gadis kesayangannya dulu yang sebenarnya berbeda orang, Juan tak kuasa menahan pipinya yang bersemu merah, padahal dulu ia tidak pernah seperti ini, memalukan, "I-iya, baik-baiklah di sini. Aku akan segera kembali sebisa mungkin."


Luz kembali masuk ke kamar milik Juan, jika tak ada yang mengajak bicara alias sendirian begini, sisi jiwanya yang selalu berbuat jahat akan merasa bersalah lagi dan lagi. Hal itu terjadi usai dirinya mengakui kesalahan di hadapan sang raja secara langsung, "Apa begini cara tuhan memberikan hukuman untukku. Walaupun tidak melalui fisik, tapi batinku rasanya tersiksa, hanya dengan melihat wajah-wajah orang yang sudah ku buat hancur, semuanya terasa menyedihkan."


Perlahan tubuhnya kembali merosot, beruntung pakaianya yang dipakai kini bukan lagi gaun-gaun mekar berwarna anggun, melainkan kemeja coklat gelap dan celana panjang hitam, hampir menyerupai pakaian para lelaki. Luz menyandarkan punggung pada pinggiran ranjang, sekali lagi ia merasa bersalah, mengapa orang-orang masih banyak yang bersikap baik padanya. Dirinya, selaku penjahat, malah bersembunyi dibalik punggung mereka yang baik, "Pengecut! Aku ini benar-benar pengecut!"


Mulutnya merancau tanpa suara, hanya terdengar desisan-desisan pelan. Kedua tangan pun ingin sekali membanting sesuatu, namun Luz masih berusaha menahannya, karena hal itu akhirnya ia menjambaki surainya sendiri, yang awalnya sudah rapi dan di kuncir kuda, kini kembali berantakan seperti saat bangun tidur.


Rupanya hal itu didengar Herestia, wanita paruh baya tersebut tanpa ragu memasuki ruangan privasi pangeran muda, ia menemukan si gadis penyusup yang mengaku sebagai Puteri Sierra, kini tengah dalam kondisi tidak baik-baik saja, kacau.


Herestia menahan kedua tangannya, "Ereluz, jangan begini... mereka tidak ada yang berniat melukaimu, bahkan Raja Saloar sekalipun."


"Ta-tapi hukuman itu mutlak di sini, aku akan segera mendapat giliranku untuk eksekusi mati," sahut Luz yang ternyata sudah berlinang air mata.


...---...


"Julian, hari ini kami sepakat untuk menyelinap masuk ke rumah temanmu itu. Setelah kami mencari tahu data-datanya, rumah itu milik seorang supir taksi bernama Urgre Andras, istrinya Ameta Andras, dan anak perempuan mereka satu-satunya Leura Andras. Pekerjaan mereka juga sudah diketahui, tapi tidak ada yang berhubungan dengan hal ilmiah, sulit memastikan kalau mesin waktu berada di tangan orang biasa yang tidak mengerti apapun tentang sains," malam ini, Julian sudah kembali menerima telepon dari Richard. Awalnya ia malas mengangkat karena masalah psikis dirinya waktu itu maaih begitu sensitif diantara keduanya. Mungkin memang Julian saja yang terlalu keras kepala, dia jadi tidak mendengarkan omongan Richard. Padahal ada benarnya kalau ia pergi ke psikolg sesekali, untuk kebaikan dan kenyamanan hidupnya.


"Bisa jadi, kita tidak tahu saja kalau orang itu belajar ilmu sains secara otodidak."


"Kau sudah kenal dekat dengan anaknya kan? Bagaimana keseharian Leura di sekolah? Apa dia menunjukkan ciri-ciri anak jenius, atau paling tidak pintar lah?"


"Ti--dak, sepertinya sinyal dari detector itu memang salah. Keluarga Andras tidak mungkin berurusan dengan hal seperti ini," sahut Julian seolah tengah menyembunyikan keluarga Leura dari bahaya. Padahal ia sediri cukup mencurigai Leura, bagaimana mungkin anak gadis bodoh bisa diajak bicara dalam hal mesin waktu. Ya kalau tidak nyambung, ia juga tidak akan curiga. Sayangnya ucapan Leura waktu itu terdengar logis dalam hal ilmu pengetahuan.


Richard kembali menyahut dalam sambungan teleponnya, "Kau sendiri yang bilang, bisa jadi dia belajar otodidak."


"Tapi kalau dipikir-pikir lagi, hal seperti ini sulit dipelajari sendirian, paman. Orang yang sudah berpendidikan tinggi saja kadang masih kebingungan dengan ejaan perjalanan waktu. Mana ada orang awam bisa mengerti lebih jauh."


"Kalau terpaksa ya bisa jadi, karena suatu tuntutan, akhirnya mau tidak mau dia mempelajari perihal perjalanan waktu dan alatnya. Lagipula untuk pemilik mesin waktu jaman sekarang, mereka tidak menciptakannya, mereka hanya menjalankannya. Dua hal itu sangat ketara perbedaannya, padahal yang diurus itu sama. Jangan sampai kita salah paham."


Seraya menatap Nathalia yang tiba-tiba berlari di hadapannya dengan pergelangan tangan yang terus dicengkeram kencang, Julian mengangguki ucapan Richard, "Iya, jadi sekarang aku harus bagaimana?"


"Besok, saat weekend. Datanglah ke laboratorium, jangan bawa adikmu lagi, karena kau akan ditugaskan untuk menyelinap di rumah keluarga Andras. Dr. Katana yang akan menemanimu, dia ingin turun tangan langsung."


"Ah! Yang benar saja bersama perempuan. Menyusahkan!" Gerutunya seraya mematikan sambungan yang masih berlangsung. Julian bergegas mengikuti Nathalia yang tadi pergi ke kamar mandi.


Setelah menyadarai ada tetesan warna merah bekas jalur yang dilewati adiknya


TBC


Maaf udh jarang update, soalnya sibuk prakerin😔