Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Penculikan



Pintu jeruji yang terletak di bawah tanah tersebut dibuka oleh seorang penjaga yang mengikuti perintah pemimpinnya, "Kalian semua dibebaskan."


Tiga lelaki yang ada di dalam bukannya tak bahagia, mereka hanya menampakkan raut heran. Mengapa sangat tiba-tiba, padahal belum ada persidangan. Salah satunya sontak berceletuk, "Huh, tapi kami belum menjalani--"


Ucapannya dipotong oleh si penjaga dengan cara ancaman, "Jika memang tidak mau keluar, eksekusi mati sekarang pun siap,"


Sementara sang raja menyahut dengan bahasa lebih lembut, "Kalian dibebaskan karena tidak ada bukti yang kuat dari penuduh, kami selaku bangsawan Aragon sekaligus Galicia meminta maaf sudah memperlakukan kalian dengan buruk."


Raja dari Galicia yang baru sampai menunjukkan surat kebebasan. Kakinya terlihat berjinjit karena jijik dengan lantai penjara bawah tanah yang sebelumnya tak pernah ia kunjungi, "Sebagai gantinya, akan ada pesangon untuk kalian semua khusus dari Galicia. Dan setelah ini pasukanku juga akan mengantarkan pulang ke rumah masing-masing."


Seolah sudah dipersiapkan, satu gerbong kereta kuda khusus kini akan menjadi pengantar korban tuduhan itu pulang malam larut begini, dengan alasan yang janggal pula.


Mereka dituduh dan dilepaskan dengan tidak jelas.


'Aneh, aku dan teman-teman seolah sedang dipermainkan.'


---


Sedari tadi Luz bersidekap di depan jendela kamar, menanti seseorang yang tak lain yaitu Juan. Baru saat Herestia membuka pintu, ia mengeluarkan segala kekesalannya lewat bibir. Padahal ia sangat ingin menceritakan kalau ternyata Ares sudah tahu mengenai siapa dirinya, "Kemana Juan pergi? Ini sudah sangat larut!"


Herestia menaruh pakaian bersih yang ia bawa ke dalam lemari kayu di sudut ruangan, "Dia meminta izin pada raja untuk menuju Kastillia, besok pagi sudah akan kembali ke Aragon. Jadi kau tidak perlu khawatir, Luz."


Luz yang sebelumnya tak memgalihkan pandangan dari halaman utama lewat jendela, kini sontak berbalik menghadap Herestia disertai tatapan menukik, "Untuk apa dia pergi ke sana? Bukannya tugas di Kastillia sudah selesai semua?"


"Pangeran hanya meminta izin untuk mengambilkan barangnya yang pernah kau bawa ke sana."


Hal itu terdengar seperti kebohongan, bukan dari Herestia, melainkan berasal dari Juan, 'Barang apa? Aku tak pernah menerima sesuatu darinya. Atau jangan-jangan...' Batin Luz kesal, ia sudah tahu apa yang membuat lelaki itu pergi, jelas karena ceritanya semalam. Hal itu membuat Luz berdecak kesal, kalau Juan pergi ke sana, mengapa tidak mengajaknya sekalian, "Herestia, jangan katakan pada siapapun. Aku harus pergi sekarang menyusul Juan."


"Luz! Jangan berbuat ulah! Kau bisa membahayakan dirimu lagi," Herestia mencekal tangannya yang langsung ditepis, "Tolong ingat, peranmu sementara ini bukan sebagai orang biasa, sedetik saja, kabar seorang puteri mahkota yang berada di negeri lain harus terus disetorkan."


Luz kembali berdecak malas, "Kalau begitu bilang saja jika aku sedang masa pubertas maksimum. Hanya ingin mengurung di kamar dan tidak mau ditemui siapapun. Herestia, kau satu-satunya harapanku, Juan pasti bertindak buruk saat ini, aku hanya ingin mencegahnya," mau tak mau, Luz bersikap lebih lembut, bahkan sambil mengelus pelan punggung tangan Herestia, "Aku akan segera kembali."


"Huft, mereka berdua sama-sama keras kepala, aku tidak yakin semua akan berakhir baik sesuai yang diharapkan."


Baru saja keluar dari pekarangan kastil, kudanya dicegat.


Ares kemudian menyapa ramah, "Ereluz, hai?-- Eh, benar kan namamu Ereluz? Takutnya salah."


Ia ingin sekali menerjang tubuh Ares dengan kuda yang ditunggangi. Beruntung ini masih kawasan kastil, sehingga Luz mati-matian menahan.


"Hmm, kenapa mengacuhkan? Kau takut?"


Kakinya melompat turun dari kuda, seketika melayangkan pukulan pada Ares tanpa aba-aba, "Mau apa lagi kau ini?! Siapa aku dan mengapa aku di sini bukanlah urusanmu. Saat sudah tepat, aku berjanji akan mengakui, jadi kau tak perlu repot-repot melukaiku!"


Mereka memegangi tubuhnya, melilitkan tali ke beberapa bagian yang cukup membuatnya sulit bernapas. Meski begitu, tak ada kata menyerah bagi Luz, "Aku tak peduli, lepas!"


"Seret ke gerbong."


Semuanya, tampak semu. Kejadian itu terulang kembali, bagai deja vu.


---


Juan memperhatikan dengan teliti mesin waktu yang ada di hadapannya, membuat Feuji merasa khawatir, "Harusnya kau memberi kabar pada keluargamu dulu, paling tidak satu orang saja. Kau bukan orang biasa di negeri ini, jika melihat terakhir kali keberadaanmu ada di rumah ini, maka orang-orang jelas mencurigai keluargaku."


Reagel menyahut, "Maaf menyela, tapi benar, ada baiknya kalau kau pulang terlebih dulu untuk memberi alibi tentang kepergianmu, melakukan perjalanan waktu bukan hanya dalam hitungan per jam, melainkan tahun."


"Aku bingung jika pulang, ada banyak orang yang akan mempertanyakan terutama Ereluz. Dia pasti sudah tahu kenapa aku di Kastillia, atau mungkin malah kemari menyusulku."


"Yah setidaknya pentingkan rakyatmu, kami akan terkena imbas jika semuanya kacau."


Lelaki itu akhirnya mengangguk, "Baiklah, kalau begitu izinkan pengawalku menginap di sini semalam saja. Besok kami kembali ke Aragon, setelahnya aku akan datang sendirian kemari. Malam ini akan ku kirim kabar lewat utusanku di Kastillia."


Feuji sektika menggaruk tengkuknya, "Itu... boleh saja, tapi kami tak punya cukup tempat untuk menampung yang sebanyak mereka."


"Belikan alas tidur sekarang, aku berikan uangnya," balas Juan sambil menyerahkan sekantung penuh uang logam.


...---...


Luz tak henti meronta, apalagi mulutnya yang terbuka, membiarkannya bebas berteriak, "Seharusnya tidak bisa begini! Satu lawan satu kalau kau memang laki-laki!"


"Itu tidak akan terjadi karena tak ada yang berpihak padamu di sini. Kau sendirian, jangan sok berani"


"Aku tak pernah takut apapun! Tidak seperti gadis yang kau bunuh sebelumnya! Ayo bertarung sekarang kalau perlu!"


"Jangan banyak mengoceh atau ku bakar kau!"


Suara seseorang yang tak asing tiba-tiba menyahut dari belakang, Luz memajukan kepala mengintip, "Jevin?!" Sebenarnya ia agak tak terkejut dengan keberadaan pria itu, Ares dan Jevin sama-sama berniat menghancurkannya, "Huh! Sudah ku duga pasti ada orang dalam yang bersangkutan. Siapa lagi yang ikut merencanakan hal ini, Amer? Javier?"


"Kenapa kalian tak mengikat mulutnya sekalian? Dia sangat berisik," gerutu sang pangeran tertua Aragon.


Sementara Ares menyahut sinis, "Tidak ada persiapan sebelumnya, tahu begini sudah lama aku datangkan peti dari Galicia. Harusnya kau yang membantu mempersiapkan semuanya. Gadis itu perlu hadiah sebelum mati."


"Kalau aku yang mendatangkan, bisa meninggalkan bekas. Ya sudah sekarang ikat dia sampai tidak bisa bergerak sama sekali. Lekas kembalilah ke Galicia lewat utara, jalur di sana dibawah kekuasaanku, jadi kalian bebas untuk malam ini."


TBC