
Owner kafetaria yang ternyata juga perempuan, begitu terpesona dengan wajah Julian. Apalagi dengan bujuk rayu karyawannya kalau bisnis penyajian makanan yang baru dibuka ini bisa sangat laris akibat keberadaan Julian sebagai salah satu karyawannya.
Wanita pemilik kafetaria yang baru dua minggu dibuka ini, tampak berwibawa atas kedatangan anak muda yang ingin melamar di tempatnya "Namaku Cassandre Rivera, kalau kau mau mendaftar kerja di sini, besok datanglah membawa lampiran kemampuan atau pengalaman yang kau punya terkait tata hidang."
Julian tampak bingung "Tapi aku belum lulus sekolah, kalau lampiran, aku hanya memiliki ijasah sekola dasar dan pertengahan. Oh, ada juga piagam penghargaan dari olimpiade, apa itu perlu?"
Cassandre agak terkejut mendengarnya "Keu belum lulus sekolah? Kenapa bekerja?"
"Aku butuh uang."
Melihat penampilannya dengan barang-barang branded, membuat Cassandre tak begitu yakin kalau anak lelaki ini membutuhkan uang. Karena sepertinya dia anak orang berada. Tapi ia sendiri jugabtak bisa menampik kalau wajah Julian akan menghasilkan uang lebih banyak.
"Begini saja, besok kau datang. Tidak perlu membawa apapun ya, kau diterima."
"Ha? Kenapa begitu, bukankah biasanya ada interview, wawancara, tes lisan, atau tes tulis?"
"Ini bukan perusahaan besar, nak. Aku memberimu pekerjaan di bagian waiter, bagaimana? Kau mau?"
Julian mengangguk semangat "Aku mau."
"Karena kau masih sekolah, shiftmu akan dibuat malam hari, tidak masalah kan?"
"Tidak apa-apa," ia tersenyum bangga "Terima kasih Nyonya, sekali lagi terima kasih."
...---...
Luz menggembungkan pipinya "Kenapa malah aku yang terlampau suka pada Juan. Aduh.. pesonanya memang sulit ditolak."
Beberapa saat lalu, ia baru saja berpeluk mesra dengan pangeran itu sebagai tanda perpisahan sementara. Nantinya juga akan kembali lagi ke Aragon dan tinggal selamanya sebagai ratu baru, istri dari Pangeran Juan.
Saat ini kereta kudanya sudah mulai jauh dari kawasan istana Aragon. Selama perjalanan, rombongannya dijaga ketat pasukan Kastillia dan juga pasukan Aragon, demi tidak mengulangi kejadian buruk waktu itu yang sudah berlalu.
"Sierra, ayah hanya ingin bertanya. Apa keputusanmu menikah dengan Juan sudah yakin? Masalahnya, dengan pernikahan ini Aragon dan Kastillia resmi dipersatukan."
Anak gadisnya mengangguk pelan sebagai jawaban. Membuat ayahnya menghela napas lesu.
"Selama kau pergi, Aragon dan Kastillia sempat berselisih. Hilangnya kau pun juga karena kelalalian mereka dalam urusan keamanan wilayan, ayah masih belum bisa merelakanmu."
Luz mengangkat wajahnya yang sebelumnya menunduk. Ia pun tak mengerti akan pilihan ini, kalau menikah dengan Juan, masih terlalu muda tapi kalau tidak jadi menikah rasanya juga tak rela, Juan pasti akan menikah dengan perempuan lain dan mulai melupakan Sierra.
"Aku akan tetap pada keputusanku. Kelalaian waktu itu bukan sepenuhnya salah Aragon, pasukan mereka menyelamatkanku."
"Tetap saja ayah selalu sedih mengingat kejadian itu."
"Makanya jangan diingat terus, ayah."
Luz mengalihkan pandagannya ke luar, melalui jendela kecil yang ada di setiap sisi gerbong. Harusnya piluhan seperti ini bukan ditujukan padanya, tapi apa daya, hal ini diakibatkan oleh kelakuannnya sendiri. Mau tak mau, ia harus bisa menjalaninya sampai akhir, yah... semiga saja Sierra yang asli benar-benar sudah mati.
Terlampau lama melamun sembari melihat pandangan yang dilewati dari Aragon ke Kastillia, sampai tidak manyadari kehadiran bulan yang menggantikan matahari.
Malam ini cukup terang karena bulan, para pasukan yang mengawal tak memerlukan begitu banyak obor dan lampu minyak, sehingga perjalanan bisa sampai dengan santai menuju kerajaan Kastillia.
...---...
"Sepertinya aku tidak akan ikut-ikutan, aku terlalu sibuk untuk mengurusi hal-hal seperti itu," sahut Johnny ketus.
"Iya, Juan adik kita sendiri. Aku tidak mau berprasangka buruk padanya, dia memang cocok untuk memimpin kerajaan ini," timpal Javier.
Mendengar respon dari kedua adiknya, Jevin sontak meremat bagian bawah bangku sampai remuk. Suaranya sampai mengejutkan Javier yang tengah membaca buku pengeluaran tahunan.
Javier memicingkan mata tak suka "Sepertinya kau begitu menbenci Juan. Ingatlah juga, dia adik kita, adik kandungmu."
"Aku tidak membencinya, sama sekali tidak. Hanya saja ayah kurang adil, bagaimapun Juan adalah yang termuda, tapi tahtanya jauh lebih tinggi dari kita semua."
Johnny mengangguk menyetujui "Aku pribadi tidak masalah dengan itu, tapi sepertinya kau benar. Ayah selama ini tidak adil, namun memang yang menempatkan Juan di tahta paling atas adalah rakyat, aku yakin tidak ada kecurangan sama sekali."
"Lalu kita mau apa? Kita bisa apa? Sudahlah, kalian jangan berulah. Pekerjaan kita terlampau banyak, kalau sampai tertinggal satu saja, bisa-bisa kedudukan kita semakin turun," ujar Javier, kedua saudaranya pun bungkam.
Tak berselang lama kemudian, Jevin sudah menyelesaikan pekerjaannnya dengan sempurna, tanpa cela sedikitpun. Lelaki itu berpamit pergi untuk menyimpan berkasnya ke ruangan khusus, meninggalkan kedua adiknya di perpustakaan.
'Sierra tak jadi pengaruh atas tahta Juan. Aku tak perlu menghabisinya, lagi pula kasihan, dia baru ditemukan. Apa iya aku setega itu untuk langsung melenyapkannya,' senyuman miring terusngging jahat di bibirnya.
...---...
"Sierra, bangunlah. Kita sudah sampai."
Luz membuka kelopak matanya yang terasa begitu berat, seingatnya baru sekitar lima belas menit kedua indra penglihatan itu ditutup. Namun nyatanya sudah tiga jam lebih, ia tertidur dengan sangat pulas.
Istana megah berdiri kokoh di depan sana, layaknya menyambut kedatangannya. Yah, tak sepenuhnya salah. Bangunan itu memang tengah menyambutnya, sebagai Puteri mahkota Sierra yang cantik jelita.
Juga ada banyak orang membawa karangan bunga, beberapa menaburkannya ketika kereta melewati jalan di tengah mereka. Sayup-sayup yang terdengar, banyak ucapan selamat, bersyukur atau kebahagiaan atas kembalinya Sierra dengan selamat. Mereka semua sepertinya bahagia sekali, bagaimana pun sosok Sierra itu terkenal baik di negerinya sendiri ataupun negeri tetangga, terlebih fisiknya yang tak kalah menawan. Membuat berbagai kalangan usia tergila-gila padanya.
Kereta kuda berhenti, seorang pria berpakaian formal membukakan pintu untuk kedua orang berpengaruh di negeri mereka, sang raja dan putrinya.
"Selamat datang kembali dengan sehat sentosa, bidadari Kastillia, Puteri Sierra yang teramat sempurna."
"Selamat datang juga, Raja Alendro pemimpin Kastillia."
Keduanya mengangguk sopan menganggapi ucapan selamat datang sekaligus pujian dari pria itu, yang rupanya menjabat sebagai panglima utama di kerajaan Kastillia.
"Colinse, segera bawa masuk putriku. Perintahkan pada pelayan untuk mempersiapkan segala kebutuhannya."
Panglima yang patuh itu pun mengangguk sigap atas perintah dari sang raja.
Bukannya ingin menyembunyikan Sierra dari publik atau bagaimana, tapi Raja Alendro tau, kalau anak perempuannya pasti kelelahan setelah melalui perjalanan antar Kastillia-Aragon yang bisa dikatakan tidak cukup dekat.
Ia mengambil alih semuanya, untuk menyamankan rakyatnya. Membiarkan Sierra bisa beristirahat dengan nyaman.
"Sierra kita sudah kembali, dalam keadaan baik-baik saja. Terima kasih sebelumnya, atas bantuan kalian saat pencariannya waktu itu."
*TBC
THANK'S FOR READING💘*