
"Juan? Jevin? Sedang apa kalian?"
Keduanya terperanjat, terkejut dengan kedatangan ibu mereka bersama puteri mahkota.
"Kalian berkelahi?" Tanya Luz, saat melihat dahi Juan yang memerah, serupa pula dengan lengan Jevin.
"Kami hanya mencari udara malam," sahut Jevin, lelaki itu lantas pergi begitu saja tanpa mempedulikan tatapan keheranan sang ibu. Tapi lirikan sinis yang diberikan pada Luz, terlihat jelas oleh bola mata Juan.
Juan menghampiri ibu dan Luz "Sebaiknya kita kembali ke kamar masing-masing, aku mulai sadar kalau udara malam tak begitu bagus untuk tubuh."
"Baiklah, ayo kembali ke atas, Sierra."
"Ya," sahut Luz.
Luz benar-benar merasakan hawa tidak enak di sekitarnya, bukan karena angin malam yang memang tidak baik untuk tubuh, tapi ketika Juan malah mengekor di belakangnya, bukan berbelok menuju kamarnya sendiri.
Lebih terkejut lagi ketika lelaki itu tiba-tiba mempercepat laju langkahnya untuk menghadang Luz "Sierra, kau tidak apa-apa?"
Sang lawan argumen hanya bisa mengernyitkan dahi "Memangnya aku kenapa? Yang harusnya bertanya itu aku, kau dan Jevin terlihat mencurigakan tadi."
"Kenapa tadi kau keluar malam-malam? Jevin mengikutimu, jadi aku mengikuti kalian berdua," jelasnya.
"Aku bahkan tidak tahu kalau dia mengikutiku."
Kedua pasang mata pangeran termuda itu bergilir ke segala arah, seusai memastikan keadaan, ia menarik Luz masuk ke kamar perempuan itu.
Merasakan sesuatu semakin tidak mengenakkan, Luz memberontak kasar, tapi sayang Juan sudah lebih dulu mengunci diri mereka dalam ruangan "Kenapa kau ikut masuk!"
Juan mendengus, Sierra-nya pasti berpikir macam-macam saat ini. Lelaki itu mengalihkan pembicaraan Luz, dengan duduk bersandar di kursi wol yang berada di sudut ruangan "Aku curiga padanya."
Luz mengernyitkan dahi seraya mendengus kesal "Apa yang kau bicarakan? Sebaiknya keliarlah dari sini."
Juan mencebikkan bibir melihat gadisnitu masih berdiri di dekat pintu, sangat jauh dari temoatnya berada "Ngomong-ngomong ada yang sangat aneh dengan dirimu, Sierra. Lagi pula, aku tidak akan melakukan hal diluar batas padamu, walau sebentar lagi kita akan menikah. Aku tetap menghormati kedudukanmu. Tenang saja, tidak perlu khawatir."
"Laki-laki itu tak terduga," cibir Luz dengan suara pelan.
Juan kembali memulai pembicaraan, dengan membuka topik yang sebelumnya sempat tertunda "Hei, selama ini apa kau pernah punya obrolan tentang sesuatu, dengan pangeran Jevin? Katakanlah padaku, kita kan calon pasangan."
Luz sontak menggiggit bibirnya, berpikir keras dengan apa yang akan ia katakan. Topik ini sangat menyangkut Sierra yang asli, salah bicara sedikit saja dirinya akan kembali dihujami ribuan pertanyaan aneh lain "Sepertinya tidak ada, pembicaraan kami hanya sebatas hal-hal penting saja."
"Yakin? Coba ingat-ingatlah lagi, mungkin kau lupa?"
"Aku benar tidak ingat, yanh ku ingat hanya obrolan tentang hal-hal sepele."
Juan menghela napas panjang "Lain kali bersikap terbukalah padaku, sebentar lagi kita akan menjadi pasangan sehidup semati. Kau harus mempercayaiku dan aku juga akan menjagamu dengan baik."
Mendengar ucapan lelaki itu, tubuh Luz seketika menegang, mengingat kalau dirinya akan segera menjadi istri orang. Bahkan usianya saat ini baru saja menginjak tujuh belas tahun, bagaimana bisa sudah segera menikah. Beruntung saja calon suaminya tampan, bahkan sangat rupawan. Jika saja kalau pangeran keempat Aragon sudah tua dan punya fisik jelek, Luz berencana kabur sejauh mungkin, kalau bisa menjatuhkan diri ke ngarai akan lebih baik.
Akan tetapi tetap saja, dirinya yang asli masih begitu muda. Mana mungkin menikah sedini ini, bisa-bisa rumah tangganya terkena masalah saat baru berjalan seminggu. Terlebih, meski Juan sangat rupawan, Luz tidak tertarik secara biologis.
"Juan, kapan kita akan... menikah?" Akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Memperjuangkan apa?"
"Cinta kita."
...---...
Kabut dan embun masih belum hilang darin permukaan bumi ketika matahari mulai menampakkan seperempat dari keseluruhannya.
Padahal sebagian besar manusia sudah mulai melakukan aktivitasnya masing-masing, tentu saja yang berkaitan dengan keseharian mereka.
Seperti ketiga orang dalam rombongan kereta kuda pengangkut senjata di kawasan hutan, mereka tiada henti melanjutkan perjalanan dari semalam. Beruntunglah di pagi yang cerah ini semuanya sudah sampai dengan aman.
Hareen sebagai penunjuk jalan apalagi, semalaman penuh tidak bisa menutup matanya barang sekejap saja. Elmir dan Xiangjun memang tidak mengetahui rute dari Trazmos ke pusat kota Zaragoza, akhirnya di pagi ini Hareen menghabiskan waktu untuk terlelap di dalam gerbong, bersamaan dengan pedang-pedang. Semakin dekat kota, Elmir sudah mulai mengetahui letaknya.
"Hareen, bangunlah! Sebentar lagi kita sampai!" Seru Xiangjun, sebagai orang yang bertugas menjaga, ia membawa kudanya sendiri dibelakang dua kuda yang mengangkut gerbong.
"Aku baru memejamkan mata dua detik! Kau sudah mengganggu!" Sahutnya dari dalam.
"Sebaiknya kau bangun, aku khawatir kita melewatkan Ereluz," ujar Elmir pelan, namun Hareen jelas mendengarnya, posisi mereka tak begitu jauh.
"Kau benar, seharusnya aku tidak menutup mata sama sekali," keluh Hareen.
Elmir tertawa menanggapinya "Aku benar-benar paham sekarang, perasaan khawatir dan ambisiusmu itu kalau bukan suka, ya apa lagi? Kau menyukai Ereluz sebagai seorang wanita."
"Aku sudah mengatakan ini berkali-kali padamu, kalau aku hanya menganggapnya saudara. Dia cujup lama berada di rumahku, bagaimana aku tidak khawatir ketika ibuku mengusirnya?"
"Selalu saja mengelak. Tapi, Hareen, Arabel juga mengharapkanmu. Ku pikir kau perlu memilih salah satu, kalau kau menyukai Ereluz katakan saja pada Arabel, dan jangan memberinya perhatian lebih. Nanti dia mengira kau membalas perasaanya juga."
"Elmir, kau ini bicara apa? Ah jangan membuatku semakin lelah. Aku tidak menyukai Luz ataupun Arabel, mereka berdua sama-sama ku anggap saudara. Tidak lebih," gerutu Hareen, raut wajahnya sudah sangat kesal.
"Tapi Arabel menganggapmu lebih, entah dengan Ereluz, bisa saja dia juga begitu."
"Kenapa kau terlalu terbawa perasaan seperti ini? Kita bukan perempuan ya... tolong ingat."
"Aku hanya menasehatimu, sebelum keduanya sama-sama pergi nanti."
Hareen hanya diam, tak berniat menyahuti perkataan kawannya. Sampai pada akhirnya ia mendengar keramaian yang semakin menjadi-jadi, ternyata sudah di pasar.
Seusai melewati keramaian pasar, keretanya menuju istana yang memiliki akses utama masuk melalui jembatan besar. Semua orang yang hendak memasuk kawasan kerajaan harus diperiksa, Hareen keluar dari gerbong untuk mwnunjukkan dirinya serta barang bawaan, yaitu jumlah senjata tajam yang sudah panglima Aragon pesan.
Mereka dipersilahkan masuk, dan diarahkan oleh salah satu penjaga istana menuju gudang senjata. Pengawal yang lain segera memberi tahu raja, untuk memeriksa keadaan senjata yang baru datang.
Tapi yang keluar untuk memeriksa bukanlah sang raja, melainkan Pangeran Juan bersama sosok cantik bergaun biru laut.
Kedua pasang bola mata Hareen sontak terbelalak, melihat sosok itu.
*TBC
THANK'S FOR READING💘*