
Sakhi tercari-cari akan sosok yang hilang bak di telan bumi. Ia tidak percaya jika Udin akan pergi begitu saja tanpa memberi tahu dirinya.
Meskipun kepala sekolah sudah menjawab pertanyaan Sakhi , tapi gadis itu tetap tidak percaya. Kenapa? Segitu jijik kah Udin sampai pergi tanpa pamit.
" Udahlah Sa, Lo harus menerima kenyataan. Jika Udin sekarang sudah pergi. Lagian ngapain Lo berharap sama dia, Toh kamu sudah tidak suci lagi " Komentar Nuri saat menemani Sakhi pergi ke kontrakan Udin.
Sakhi tak menanggapi perkataan Nuri, ia hanya mampu menghela nafas berat. Bagaimana pun Udin adalah pria pertama yang mampu menggugah hati nya. Tapi sekarang???
Berbeda dengan Prilly , Gadis itu sengaja menyibukkan dirinya untuk bisa menjauh dari Yoga.
Ia mengikuti latihan beladiri, Tari balet, dan ekstra kurikuler dalam bisnis. Latuluna pun selalu mendukung apapun keinginan putrinya.
Dan Yoga, dia tidak menyerah sama sekali. Semakin menjauh, semakin ia tertantang untuk mendapatkan gadis itu.
Ia sengaja selalu menunggu Prilly pulang latihan. Ia juga selalu membawakan bekal hasil masakannya sendiri.
Meskipun harus menelan kekecewaan karena ditolak, Yoga tidak menyerah.
Udin???
Sudah tentu dia semakin hebat, semakin dingin, dan dengan sengaja menciptakan jarak antara dia dan kedua sepupunya.
Berangkat sekolah dia akan pergi sendiri menaiki sepeda motor. Karena ia sudah belajar naik motor dan secara khusus dibelikan oleh Fajar.
Setiap ada waktu luang, ia akan menghubungi Prilly . Apalagi jika ada mata pelajaran yang tidak ia mengerti. Maka Prilly akan menjadi guru les nya secara otodidak.
Keduanya sangat menikmati hubungan jarak jauh itu. Prilly dan Udin memiliki dunia yang tidak dapat tersentuh oleh orang lain. Hanya mereka berdua dan cukup mereka saja.
Waktu berlalu, ujian kelulusan sekolah menengah pertama sudah usai. Prilly berniat untuk pergi menemui sang kekasih di tanah Jawa.
Ia sengaja tidak memberi tahu Udin akan rencananya itu. Karena setiap liburan sekolah, Prilly selalu memiliki kesibukan tertentu. Entah itu pentas tari, atau lomba seni beladiri.
Barulah liburan kali ini, Prilly memiliki jadwal kosong. Ia mempersiapkan keberangkatannya sendiri tanpa sepengetahuan sang Ibu. Karena dikhawatirkan Ibunya akan membocorkan rencana nya kepada Yoga.
Pada hari keberangkatan, Prilly menghampiri Latuluna yang tengah sibuk bermain piano.
" Ma " Prilly memeluk Latuluna dari belakang.
" Eh,,, mau kemana? Kok sudah rapi?" Tanya Latuluna.
" Prilly mau minta ijin liburan ke Jawa Ma "
Sontak Latuluna memutar kursi rodanya, ia kaget melihat sebuah koper sudah siap di samping putrinya.
" Kok mendadak? "
Prilly tersenyum lebar.
" Sebenarnya nggak mendadak sih, cuma sengaja aja biar nggak bocor sama Yoga "
Latuluna tercenung, ia menatap lekat wajah putrinya.
" Boleh kan Ma ?" Prilly masih ingin tahu pendapat sang Ibu.
" Kalau pun Mama melarang, kamu pasti akan tetap kekeuh untuk pergi juga kan ?"
Prilly tersenyum menggoda, ia memeluk Latuluna manja.
" Prilly kangen Udin Ma" Rengek Prilly manja.
Latuluna mengangguk mengerti.
" Ya udah, hati-hati di jalan. Salam untuk Pakde dan Bude ya " Akhirnya Latuluna mengalah meskipun berat hati.
Prilly mengangguk cepat, ia ciumi wajah Ibunya penuh haru.
" Makasih Mama "
Prilly tak berhenti tersenyum, ia sudah tidak sabar untuk bertemu sang pujaan hati. Sepanjang perjalanan Prilly terus membayangkan bagaimana ekspresi Udin nanti jika bertemu dengan nya.
Telepon nya berdering, nama Udin tertera di layar ponsel. Prilly sengaja membiarkan nya, biar semakin menegangkan untuk Udin. Hehehehehe
BRAKKK
Belum habis senyuman di bibir Prilly , mobil yang ditumpanginya berdenyit akibat gesekan roda yang direm mendadak.
Prilly yang tidak memakai sabuk pengaman, terdorong ke depan menghantam kaca mobil.
Sementara ponselnya tidak berhenti berdering dan terus berdering.
Udin kesal tapi hati nya tak tentram. Tumben Prilly mengabaikan telfon dari nya. Sudah dua hari ini ia tidak tahu kabar Prilly . Kemana dia? Padahal Udin berencana untuk menemui nya, ia ingin tahu alamat rumah Prilly dan bagaimana cara sampai ke sana. Karena Udin belum pernah bepergian keluar pulau.
Tiga hari kemudian, Udin tetap tidak putus asa mencoba menghubungi sang kekasih. Akhirnya, ada jawaban juga dari seberang.
" Hallo.. Kamu kemana aja? Hah? " Tanya Udin sebelum Prilly menjawab.
" Ada, aku ada... Di sini " Suara Prilly terdengar aneh.
" Kamu baik-baik saja kan ?" Udin jadi cemas.
" Hem "
" Pri, aku ingin kesana. Aku ingin bertemu dengan mu, aku rindu "
DEGH
Prilly terpegun, air matanya meleleh dari balik perban yang membungkus matanya.
" Pri... kok diam ? Kamu nggak suka aku datang? " Mendadak Udin merasakan sakit di dadanya. Karena reaksi yang ia dapat tak seperti ekspektasi nya.
" Din, maafkan aku " Suara Prilly terdengar lirih.
" Kenapa minta maaf? Apa kamu membuat kesalahan?? "
Hening....
" Aku... Aku ingin kita putus "
Udin tercengang, ia merasa hal itu sangat mustahil.
" Kau bercanda? "
" Tidak! Aku... Aku mencintai Yoga "
Udin diam tak bergeming, ini seperti mimpi buruk baginya. Hingga ia tidak percaya jika itu nyata.
Tanpa mengatakan apapun lagi, tiba-tiba Prilly memutuskan talian. Udin tidak terima ia diperlakukan seperti itu, ia mencoba menghubungi Prilly kembali. Tapi nomor telepon nya sudah tidak bisa dihubungi. Udin mencoba lagi dan lagi, tetap saja nomor nya tidak bisa dihubungi.
Prilly menangis sejadi-jadinya, ia terpaksa melakukan semua ini. Karena dirinya kini sudah cacat permanen.
Kedua matanya rusak akibat pecahan kaca yang masuk menembus kornea mata. Siapa yang mau bersanding dengan perempuan cacat seperti nya?
Apalagi ia tahu, Udin adalah pria yang sangat tampan tanpa cela. Sungguh ia tidak bisa untuk mengecewakan pria itu karena keadaan dirinya yang sudah buta.
Yoga memeluk Prilly , ia membiarkan gadis itu menumpahkan kesedihannya dalam pelukannya.
Latuluna pun tidak dapat menahan air matanya, ia sangat kasihan sekali dengan nasib sang anak tersayang.
Dirinya sudah tidak bisa berjalan, kini putrinya pun tidak bisa melihat. Sungguh kejam nasib mempermainkan mereka.
TAMAT
Untuk para pembaca setia saya , maaf jika saya terpaksa menutup kisah mereka sampai disini. Karena saya berencana membuka cerita baru untuk mengejar reward kontrak.
Kisah yang saya tulis belum mampu mencapai target retensi yang ditentukan. Sebenarnya saya kecewa, tapi tidak mungkin saya juga harus mengecewakan para reader yang sudah meluangkan waktunya untuk terus menikmati karya recehan ini.
Jadi besok silahkan lanjutkan membacanya di novel yang berjudul SULTAN UDIN JILID DUA. Jangan lupa tinggalkan like serta komentarnya ya, karena jujur komentar kalian adalah penyemangat saya untuk terus menulis.
TERIMAKASIH BANYAK ATAS DUKUNGAN KALIAN SEMUA, TANPA KALIAN SAYA BUKAN SIAPA-SIAPA.
SALAM SEJAHTERA SELALU, DI BALIK SEMUA KISAH INI BISA DIAMBIL HIKMAH NYA.