SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
MEMBUAT HURU HARA



Bu bidan yang memeriksa Wati bingung harus bagaimana? Ia tahu jika Satrio adalah preman kampung. Kalau ia salah jawab atau menyinggung perasaan Bapaknya Wati, ia takut akan dicelakai.


Tapi jika ia tidak mengatakan yang sebenarnya, maka hal ini pun akan mencelakai dirinya suatu hari nanti.


" Bu, gimana keadaan Wati ? dia sakit apa Bu?" Tanya Siti penuh harap.


Bu bidan merasa iba dengan Ibunya Wati, tapi ia juga takut saat melihat Bapaknya Wati.


" Katakan yang sebenarnya Bu, kami tidak akan mempersulit mu " Satrio mengerti kekhawatiran Bu bidan. Itu terlihat jelas dari raut wajahnya.


" Emm Tapi jangan marahi anak nya ya Pak, tanyakan baik-baik agar dia tidak ketakutan" Bu bidan memberikan penyuluhan, Siti dan Satrio saling berpandangan satu sama lain.


Apakah yang mereka khawatir kan itu benar?? Karena sebelumnya mereka memang takut terjadi sesuatu dengan anak gadisnya selama di pesantren.


"Iya Bu, kami tidak akan memarahinya" Satrio mengikrarkan janji, tapi ia sendiri tidak yakin bisa menepatinya atau tidak.


" Baiklah, sepertinya anak Ibu dan bapak sekarang tengah berbadan dua. Saya mendapatkan ada dua detak jantung dalam tubuhnya. Tapi masih belum jelas sekali, mungkin masih berumur beberapa Minggu saja " Bu Bidan menjelaskan dan langsung membuat Siti histeris.


" Astaghfirullah Pak... anak kita Pak... "


Satrio bangkit, ia memeluk istrinya agar tidak semakin menjadi. Bisa-bisa tetangga sebelah mendengar teriakannya.


" Sabar Bu.. Sabar... "


" Kalau begitu saya permisi dulu Bu, Pak " Bu bidan meminta diri untuk pulang.


" Baik Bu, tapi saya minta Ibu bisa merahasiakan hal ini dari orang-orang sekitar" Pinta Satrio.


" Baik Pak" Jawab Bu bidan, lalu ia pun pergi.


" WATIIII! " Satrio tidak bisa berpura-pura untuk sabar lagi , ia melangkah masuk dengan emosi yang menggunung.


Wati langsung bangkit dan memeluk tubuh nya di pojok kasur. Ia takut Bapaknya akan memukulnya.


BRAK


Satrio menendang pintu kamar anak perempuan nya, Wati semakin mempererat pelukannya.


" Ini yang kau dapat dari pesantren hah?? Baru sebulan kau disana sudah membawa janin haram!!! " Bentak Satrio geram.


" Sini kamu sini " Satrio menarik Wati yang berlindung di sudut ruangan.


" Pak sudah Pak sudah " Siti tidak tinggal diam, ia berusaha melindungi Wati dari kekerasan Bapaknya.


" Anak kurang a jar, bilangnya mau mondok biar tidak dipandang sebelah mata karena anak preman. Malah bikin malu keluarga! Sekarang kita bukan hanya dipandang sebelah mata sama orang!! Tapi mereka langsung tidak mau melihat kita, PAHAM!!!" Satrio sangat emosi, ia terus menarik Wati yang berusaha memberontak.


" Ampun Pak ampun " Rintih Wati agar Bapaknya kasihan padanya.


" Pak sudah Pak ,,, sudah" Siti pun turut melerai.


Udin yang baru saja pulang dari bermain di sungai bersama Rahul , langsung bergerak cepat membantu Siti melerai Satrio.


Melihat Udin ikut campur, Satrio pun melepaskan anaknya. Ia tahu tidak mungkin dia menang melawan Udin.


" Ada apa ini Pak? Bu ?" Tanya Udin.


Begitu Wati dilepaskan, Siti langsung merangkul putrinya dengan erat. Ia turut menangis bersama Wati.


" Mbak mu itu Leh, pulang dari pondok malah hamil" Jawab Satrio, ia terengah-engah menahan amarahnya.


" Kok bisa ? Emang di pondok lebih bebas dari pada disini?? "


" Bapak juga nggak ngerti, Bapak tahu kalau Bapak ini bukan orang suci. Bapak preman suka huru hara sana sini, Tapi selama ini Bapak itu nggak pernah main perempuan. Tanya Ibumu kalau nggak percaya. Bapak cuma suka judi " Satrio merasa kedua matanya panas, air mulai mengembun di pelupuk matanya.


" Sekarang gimana ini ? Siapa orang yang sudah menodaimu Wati? " Imbuh Satrio.


" Iya Nak, coba cerita sama Bapak dan Ibu. Siapa yang melakukan ini sama kamu ?" Siti turut membujuk.


Wati diam, ia justru semakin tergugu.


" Bilang Mbak, kalau mbak nggak mau bilang. Udin bakar pesantren itu sekarang juga " Udin mengeluarkan ancaman agar Wati mau bicara.


" Jangan Din jangan macam-macam kamu " Wati akhirnya buka suara.


" Ya kalau Mbak nggak mau itu terjadi, bilang dong siapa yang sudah menghamili Mbak " Paksa Udin.


Wati menatap wajah sang Ibu yang sendu, ia juga menatap sang Bapak. Ada keraguan di hati Wati ,tapi kalau dia tidak jujur, Udin bisa saja benar-benar membakar pesantren itu.


" Gus Ikram" Wati menyebut satu nama yang sontak seperti bom atom meledak di hati kedua orang tua Wati.


" Gus Ikram?? Anaknya Kiai mu ?" Tanya Satrio ingin memastikan, Wati mengiyakan.


" Kurang a jar, Din.. Bilang sama anak-anak agar berkumpul sekarang! Bawa truk nya Sholeh, Kita pergi ke pesantren untuk menuntut keadilan" Tanpa pikir panjang Satrio memberikan perintah kepada Udin, anak itu langsung berlari keluar menjalankan perintah Bapaknya.


" Pak jangan Pak, jangan lakukan itu " Wati melarang, tapi tak di Endah kan oleh Satrio.


" Kau mau menanggung malu sendiri, hah?? Enak dong Kalau gitu, sekalian aja bapak jual kamu jadi Pela cur biar menghasilkan uang " Tukas Satrio emosi.


" Bapak!!! Tega ya Bapak ngomong seperti itu sama anak sendiri " Celutuk Siti tak terima anaknya mau dijual.


" Ya kan sekalian Bu, dia dihamili malah nggak mau minta pertanggung jawaban sama pelaku nya. Apa dia nggak punya otak?? " Satrio membalas dengan telak perkataan sang istri.


Di hari yang sama, di pesantren Al Huda sedang menyelenggarakan pernikahan. Yah, benar! Hari ini adalah pernikahan Gus Ikram bersama Neng Rabi'ah.


Akad nikah sudah selesai, dilanjutkan dengan acara makan-makan. Seluruh santri putra dan putri turut memeriahkan pernikahan itu.


Mereka disuguhkan hiburan-hiburan yang tidak pernah ada sebelumnya.


Gus Ikram dan Neng Rabi'ah begitu tampan dan cantik. Keduanya sangat serasi sekali, bagai pinang dibelah dua.


Tiba-tiba suasana kemeriahan itu menjadi huru hara disaat rombongan preman yang diketuai oleh Satrio menggempur kerumunan para tamu. Mereka meringsek maju sambil menyeret Wati ke depan pelaminan.


" Itu yang namanya Gus Ikram? Hah?" Gertak Satrio bertanya kepada Wati. Wati hanya tertunduk, ia malu dan juga takut disebabkan tingkah Bapaknya. Apalagi di atas pelaminan juga berdiri Kiai beserta Nyai dan juga keluarga Neng Rabi'ah.


" Jawab Wat!!" Bentak Satrio geram, Wati terkejut hingga menciut.


" Ada apa ini?" Gus Ikram maju bertanya.


" Apakah kamu yang bernama Gus Ikram?? "Satrio balik bertanya.


" Iya , saya Gus Ikram "jawab Gus Ikram tanpa menaruh curiga.


" Oh bagus, Sini Gus.. kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu yang telah menghamili anak saya "


Gus Ikram terkejut, begitu juga dengan Neng Rabi'ah. Ia maju mensejajari sang suami.


" Kanda, apa maksud laki-laki ini ?" Tanya Neng Rabi'ah.