
Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, Andi terus menerus dikejar hantu nya si Rani.
Abidin, Ayah Rani sama sekali tidak berniat untuk membun*h Andi dalam waktu singkat. Ia ingin Andi merasakan kesakitan yang dirasakan oleh Rani.
Andi terkejut mendapati tempat tidur nya bergoyang, ia mulai panik saat mendengar ******* yang akhir-akhir ini menakuti dirinya.
Tiba-tiba sebuah tangan berkuku hitam panjang menyentuh pergelangan tangan Andi yang tertancap jarum infus.
Andi terbelalak, tapi ia sama sekali tidak bisa bergerak. Tubuhnya kaku, hanya dadanya yang naik turun menarik nafas dengan cepat.
Lalu muncul satu lagi tangan di tepi ranjang nya, Andi melotot bola matanya melirik ke tepi. Ia dapat melihat bagaimana sebuah wajah yang pucat penuh oleh jahitan keluar dari bawah ranjang nya.
KRETEK
Tiba-tiba pintu kamar tempat Andi di rawat terbuka pelan. Hantu Rani langsung melenyapkan diri. Andi menghela nafas lega begitu melihat seorang pria yang mungkin umur nya tidak jauh berbeda dengan dirinya.
Dialah Udin, dia dengan sengaja mendatangi rumah sakit tempat Andi dirawat untuk menolong.
Abidin melebarkan matanya, wajahnya mengeras penuh amarah. Nafasnya memburu seolah ingin memangsa manusia yang telah mengganggu ritual nya menyiksa pembun*h anaknya.
" Bagaimana keadaan mu? " Tanya Udin setelah ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang pasien.
Andi hanya menjawab dengan anggukan kepala, kepanikan masih terlihat di raut wajahnya. Tubuhnya pun masih membatu.
Udin melihat bekas tangan menghitam di pergelangan tangan si Andi.
" Apa yang telah kamu lakukan? " Lanjut Udin menginterogasi Andi.
Anak itu melirik Udin dengan nyalang, meskipun ia selalu disiksa oleh hantu Rani. Andi sama sekali tidak pernah bercerita dengan siapa pun termasuk orang tuanya yang berada di luar negeri.
Ia takut jika ada yang tahu perbuatannya, orang-orang akan menghukum dirinya. Termasuk kedua orang tuanya si Andi.
" Sebaiknya kamu mendatangi keluarga nya, lalu minta maaf. Mungkin hantu itu akan memaafkan mu " Udin memberikan saran, tapi ekspresi Andi sangat lah tajam.
Udin belum mengetahui jika hantu itu adalah anak Bu kantin. Karena ia sama sekali belum pernah bertemu dengan Rani.
Dan lagi, Abidin meminta istrinya untuk tidak mengatakan apapun tentang kematian anaknya kepada orang yang belum mengetahui.
Karena Abidin tidak ingin tindakan nya membangkitkan arwah Rani diketahui oleh orang-orang.
" Kalau kamu masih bersikeras tidak ingin minta maaf, maka kau akan terus menerus dihantui oleh perempuan itu" Udin menambah peringatan kepada si Andi.
" Kau tidak perlu ikut campur" Cetus Andi pongah" Dia mengganggu ku bukan kamu, jadi untuk apa kamu repot-repot? Aku tidak akan semudah itu dikalahkan oleh hantu jelek seperti dia. Buktinya? Aku masih hidup sampai sekarang "
Udin tak bisa berkata apa-apa lagi, Tiba-tiba ranjang yang ditempati oleh Andi bergerak seperti digoyang. Udin sigap bangkit dan menjauh.
Sementara Andi panik karena secara perlahan ranjang nya melayang di udara.
" Tolong, tolong" Andi ketakutan, ia hendak melompat turun. Tapi tubuhnya membatu tidak bisa digerakkan sama sekali.
Tiba-tiba ranjang nya berputar, mengakibatkan tubuh Andi sungsang nyungsep.
"Tolong" Andi berteriak minta tolong, namun Udin hanya diam menyaksikan kesombongan Si Andi.
Rani terus mempermainkan Andi hingga anak itu kelelahan. Lalu ia membanting ranjang Membuat tubuh Andi terlempar ke lantai.
Andi ngos-ngosan, belum lagi lelahnya hilang. Tiba-tiba Rani merangkak keluar dari kolong ranjang. Ia menjalari tubuh Andi, menarik tangan nya sekuat tenaga hingga tangan Andi terlepas.
Andi menjerit kesakitan, Membuat Rani tertawa cekikikan. Ia menarik lagi sebelah tangan Andi, Andi menggeleng memohon agar Rani tidak melakukan hal itu.
Tapi Rani justru semakin bersemangat melakukannya, ia menarik tangan Andi hingga terputus hingga ke siku. Andi menangis meraung-raung kesakitan.
" Tolong" Suara Andi memohon, kedua matanya menatap Udin penuh iba.
Tapi disini Udin seperti orang yang tidak punya hati, ia sama sekali tidak tersentuh oleh permohonan Andi.
Justru ia bangkit dan keluar dari kamar tempat Andi dirawat.
Andi meneteskan air mata melihat kepergian Udin, bola matanya bergulir menatap Rani yang berjongkok di atas tubuh nya.
Rani menyeringai lebar, dari sudut bibirnya menetes darah berbau anyir.
" Kini, tidak ada orang yang perduli padamu. Tidak ada hihihihihihihi" Rani tertawa cekikikan. Kepalanya mendongak ke atas menambah volume suara tawanya.
Udin memperhatikan eksekusi Andi dari atas atap rumah sakit. Rani memelintir kepala Andi hingga terputus. Hantu Rani tertawa membahana seraya berdiri Mengangkat kepala Andi yang sudah terlepas.
" Andai dia tidak sombong, aku ingin membantu nya " Gumam Udin.
Kujang geleng-geleng kepala.
" Jika manusia sudah memiliki sifat sombong, maka dia tidak akan bisa tertolong lagi" Kujang menambahkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berlalu begitu cepat, namun tidak ada yang tahu mengenai kematian Rani.
Sakhi pun masih belum tahu siapa wujud yang sudah membantai Andi dan kawan-kawannya. Ia tidak bisa mengingat tentang Rani yang hanya beberapa kali dilihat nya jika membantu Bu kantin bekerja.
Pulang sekolah, Sakhi heran melihat ada seseorang yang tidak dikenal menutup pintu rumah nya lalu mengunci nya.
" Assalamualaikum" Sapa Sakhi setelah memarkirkan sepeda nya.
" Wa'alaikum salam" Jawab pria itu yang ditatap heran oleh Sakhi .
" Maaf, Bapak siapa ya? Kok mengunci rumah saya?" Tanya Sakhi .
" Ini rumah sudah dijual dek sama saya beserta tanahnya " Jawab pria itu.
" Apa ? dijual?? Sama siapa Pak ?" Sakhi benar-benar shock mendengar kabar tersebut. Karena ia memang tidak tahu menahu mengenai penjualan itu.
" Sama Bu Ani, pemilik rumah ini " Pria itu menjawab yakin.
" Ibu ? terus Ibu sekarang kemana?"
" Tadi saya lihat dia pergi bersama anaknya yang hampir mirip dengan kamu dek " Pria itu menjelaskan.
" Kak Syifa?? " Sakhi masih tak percaya, ia bingung entah apa yang direncanakan oleh Ibu dan Kakaknya itu. Kenapa dirinya tidak diberi tahu apapun??
Sakhi berusaha menghubungi Syifa, tapi telfonnya terus dirijek . Dan terakhir kali justru telfon Syifa sudah tidak aktif.
Sakhi semakin panik, ia semakin bingung. Pada saat itu Bu Bambang datang menghampiri Sakhi . Beliau adalah tetangga dekat Sakhi .
" Loh, kamu kok masih disini Sakhi ? Kamu nggak ikut Ibu kamu pindah?" Tanya Bu Bambang.
" Ibu mau pindah kemana Bude? " Tanya Sakhi .
" Katanya mau ikut Syifa, Syifa mau nikah dan mau tinggal sama suaminya di Sumatra. Jadi Ibu kamu menjual rumah sekaligus tanahnya untuk pindah ke sana" Bu Bambang menjelaskan.
" Tapi Ibu nggak ngomong apa-apa sama Sakhi Bude " Sakhi mulai menangis.
Bu Bambang dan si pembeli rumah Sakhi saling berpandangan satu sama lain.