SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
UDIN DI TANGKAP



Wati mengeliat , sekali lagi ia merasakan bayi dalam perut nya seperti menendang-nendang. Wati membuka mata, ia menemukan dirinya sendirian di dalam kamar.


Padahal tadi sebelum tidur Ibunya ada disampingnya menemani, Udin pun bilang akan stay disini. Tapi kenapa sekarang dia justru sendiri.


THAK THAK THAK


Wati melihat pintu kamar nya seperti berusaha didorong dari arah luar. Apakah itu Ibunya,? Atau kah Udin?? Atau mungkin Rahul ??


Tapi kenapa tidak langsung dibuka? toh tidak dikunci.


Pintu Terus saja didorong, Membuat Wati terpaksa turun dari atas tempat tidur untuk membuka pintu.


Namun saat pintu terbuka, Wati terperanjat melihat sosok kepala yang mirip Iksan dengan leher yang sangat panjang keluar.


Kepala itu tersenyum lebar...


" Suprise" Seru si kepala, Wati langsung jatuh pingsan.


Kepala tersebut masuk, Lehernya semakin memanjang. Ia menyingkap baju yang menutupi perut Wati , kemudian menjilati perut tersebut.


Bisa dilihat dengan jelas, bayi di dalam perut Wati bergerak lebih agresif. Seolah-olah bersukacita dengan kedatangan Iksan dalam wujud Iblis nya.


Tak disangka tiba-tiba UDin melompat tepat disebelah tubuh sang Kakak yang tidak sadarkan diri. Ia melayangkan tinjunya ke pipi Iksan hingga kepalanya membentur dinding.


Udin tidak memberikan jeda, ia menekan kepala Iksan ke dinding lalu menggesek nya ke seluruh dinding kamar.


Otomatis leher Iksan semakin memanjang. Udin terus menekan dan menggesek kepala Iksan mengelilingi kamar sehingga leher Iksan terus semakin panjang memenuhi ruangan.


Setelah full oleh leher Iksan, Udin menghentikan aksi nya. Wajah Iksan sudah tidak berbentuk lagi, sebagian mukanya terkikis oleh gesekan di dinding.


Udin menarik kakinya ke belakang, bersiap melepaskan tendangan. Dan sekali tendang kepala Iksan berputar-putar memelintir hingga ke pangkal leher yang mana tubuh Iksan tengah bertengger di atas pohon.


Udin tertawa terkekeh-kekeh, sampai memegang perut nya. Ia berlari keluar menyaksikan bagaimana wujud Iksan yang lehernya terpelintir seperti Celembi.


" Kau memang tidak ada kapok-kapoknya menantang ku anak kecil!! " Seru Iksan dengan suara garang.


" Aku akan terus mempersulit mu menemui anak itu " Balas Udin.


" Hahahahahaha Kau terlalu jumawa, itu adalah titisan ku. Bukan bayi sembarangan "


" Jadi kau sudah mengakui bahwa kau lah yang telah meniduri Kakakku " Hardik Udin.


" Emangnya kenapa?? Kau pengen juga Hahahahahaha " Dengan sengaja Iksan memancing kemarahan Udin.


" Kau memang harus mendapatkan pelajaran yang setimpal"


Habis berkata demikian, Udin menekan tubuhnya hingga melesat terbang. Lalu ia menendang kembali kepala Iksan sehingga tubuh Iksan terlempar ke tanah.


Udin mendarat tepat di atas badan Iksan, ia pun menginjak kepala Iksan tanpa ampun, sampai wajah Iksan benyek seperti rempeyek.


" Hentikan!!!"


Kaki Udin yang terangkat seketika tertahan begitu mendengar teriakkan Wati. Di ambang pintu terlihat Wati berdiri tapi kedua matanya terpejam.


" Kalau kamu terus menyakiti ayahku, maka jangan salahkan aku jika ku habisi nyawa perempuan ini. Akan ku makan habis organ dalam tubuhnya"


Rupanya yang bicara adalah bayi di dalam perut Wati, ia seperti menghipnotis Wati agar bicara seperti itu kepada Udin.


" Berani kau melakukan itu ? Maka akan ku tarik paksa kau keluar dari tubuh Kakakku " Udin balik mengancam.


" Hehehehehe itu berarti sama saja kau akan membunuh Kakakmu"


Udin terdiam, ia merasa posisi nya kurang menguntungkan.


" Cepat turun dari tubuh Ayahku!!! " Bayi itu memerintah melalui suara Wati.


Udin tetap diam, ia melemparkan pandangan nya kepada kepala Iksan yang sudah penyek tersenyum penuh kemenangan.


AKHHH


Wati menjerit kesakitan sambil memegang perut nya. Udin mulai panik, ternyata bayi Iblis yang berada di dalam perut Wati tidak main-main dengan ancaman nya. Ia mulai menggigit dinding rahim sang Ibu.


" Ayo, injak aku lagi " Iksan justru memprovokasi keadaan.


AKHHH


" Sa sakit" Rintih Wati parau.


Tapi disini Udin tetap tak bergeming, sampai akhirnya Wati menyemburkan darah segar dari mulut nya . Pertanda bayi itu sudah memakan bagian organ dalam penting.


Udin melompat turun, ia langsung memeluk tubuh sang Kakak.


" Mbak, Mbak Wati "


Dalam keadaan yang sekarat Wati mengulas senyum. Ia memegang tangan Udin dengan sisa-sisa tenaganya.


" Bu Nuh a nak i ni " Suara Wati lirih dan terbata-bata.


Tanpa terasa dan untuk pertama kalinya UDin meneteskan air mata.


" Te RI ma KA sih.. KA u SE la lu me lindungi a ku "


" Mbak jangan bilang seperti itu, bertahan Mbak Tolong bertahan " Pinta Udin memohon, ia berharap bisa datang keajaiban.


Wati tersenyum lirih, darah yang menyembur membuat ia tersedak.


" Hahahahahaha sudah terlambat, Anakku sudah memakan habis organ tubuh Kakak mu " Seru Iksan yang kini sudah berubah wujud menjadi manusia biasa.


Udin mengepalkan tangannya, ia marah dan sangat marah.


" Wa ti "


Tiba-tiba Rahul keluar, ia melihat Kakak nya sekarat dalam pelukan Udin.


" Rahul!! Cepat masuk " seru Udin, ia mulai panik.


Tapi terlambat, Iksan memanjangkan tangan nya mencengkram leher Rahul. Lalu menarik nya dan menghisap jiwa nya.


Pergerakan Iksan begitu cepat sehingga Udin tidak sempat berbuat apa-apa.


" Kau!!! " Udin bangkit lalu melesat melayang kan tinjunya ke muka Iksan. Ia terus menjotos wajah Iksan bertubi-tubi mengikuti kemarahan nya karena Iksan telah menghabisi nyawa Rahul begitu saja tanpa perlawanan.


Sedangkan bayi di dalam perut Wati mulai merobek perut sang ibu menggunakan jari telunjuknya.


Wati menahan sakit yang luar biasa, tangan nya terulur hendak meminta bantuan Udin. Tapi Udin yang tengah memukul Iksan dengan membabi buta tidak mengetahui jika bayi Iblis itu sudah berhasil keluar melalui perut Wati.


Siti yang baru saja keluar, terperanjat melihat kondisi Wati sudah tidak bernyawa. Bagian perut nya robek menganga memperlihatkan organ dalam yang sudah hancur.


" Wati "


Suara Siti menarik perhatian si Bayi Iblis yang tengah sibuk menjil-at i sisa-sisa darah di dalam tubuh nya.


Udin pun seketika itu juga menoleh mendengar suara Siti. Tapi ia terlambat, bayi Iblis itu sudah melompat menyerang Siti dengan menggigit leher Siti.


" Ibu.. "


Udin melesat terbang dengan cepat, tapi Iblis kecil itu tak kalah cepat. Ia lari masuk ke dalam menghabisi Satrio yang tengah tertidur pulas.


" Hahahahahaha " Iksan tertawa penuh kemenangan. Ia merasa bangga dengan titisannya yang jauh lebih pintar dan cerdik daripada dirinya.


Udin pun masuk ke dalam, ia sudah menemukan Satrio yang sekarang dengan kondisi batang leher terluka.


" Bang-Sat!!! " Udin keluar lagi. Kini dua Iblis itu berpelukan merayakan kemenangan mereka.


" Lihat dia, dia tadi bilang tidak akan pernah mempertemukan Ayah dengan kamu sayang. Sekarang??? Dia yang sudah kehilangan semua keluarganya hahahahahahaha" Tawa Iksan menggelegar, ia puas dan sangat puas dengan kemenangan nya.


Udin berdiri mematung, dalam hatinya marah sekali. Tapi ia juga merasa lemah karena tidak bisa melindungi semua keluarganya.


" Jangan melihat ku seperti itu, ini belum berakhir" Iksan menambahkan, ia memberi kode kepada Iblis kecil nya untuk pergi. Si bayi Iblis mengangguk, ia pun melompat dari gendongan Iksan lalu masuk ke dalam kegelapan malam.


Iksan mengeluarkan ponsel dari saku celananya, ia menekan tombol 911 . Lalu dengan santai nya Iksan melaporkan jika ada pembu nuhan yang menghabisi nyawa seluruh keluarga.


Bisa dipastikan, disini Udin lah yang menjadi tersangka. Oleh kelihaian Iksan ia memfitnah Udin sebagai satu-satunya tersangka yang sudah menghabisi nyawa seluruh keluarga nya.


Udin dituding sebagai anak Iblis oleh Iksan, dan polisi percaya begitu saja hingga menggelandang Udin ke penjara.


Udin diam saja, ia tidak ingin ada korban selanjutnya jika sampai melawan. Karena di balik Iksan, ada bayi Iblis yang lebih tangguh dari Iksan.