SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
TOILET BERSTIKER



Bel istirahat berbunyi, Udin menutup buku pelajaran yang baru saja dijelaskan oleh Bu guru.


" Gimana?? Apa kamu mengalami kesulitan? " Tanya Prilly , ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke dekat Udin.


Udin tersenyum sambil menggeleng.


" Sombong" Goda Prilly " Yuk ke kantin, kamu pasti belum sarapan kan tadi pagi" Ajak Prilly seraya bangkit.


" Ciyeeeee " Pras kembali mengganggu, ia dan teman-temannya yang terdiri dari Wahyu dan Bayu nimbrung di dekat Prilly.


" Apa an sih Pras ?" Cetus Prilly kesal bercampur malu.


" Kayak nya si princess lagi jatuh cinta nih " Bayu turut menggoda Membuat wajah Prilly mengeras seketika.


Prilly melayang kan tamparannya, namun Bayu dengan sigap menangkap pergelangan tangan Prilly. Lalu ia menarik Prilly ke dalam pelukannya.


" Lepasin Bay, jangan kurang A jar Lo" Prilly meronta, bukan dilepaskan, Bayu justru ingin mencium Prilly secara paksa.


Udin bangkit, ia mendorong kepala Bayu yang mau nyosor wajah si Prilly.


" Eh eh eh " Bayu tak dapat melawan, kepalanya mengeras seperti tidak bisa bergerak sama sekali.


" Patah tuh entar kepala anak orang" Kujang ikut berkomentar.


Dengan sedikit tekanan, tubuh Bayu terjungkal ke belakang menimpa Pras yang tengah duduk di meja.


Wahyu ngakak mentertawakan kedua temannya yang saling tumpang tindih.


" Yu, bantuin dong Ah " Bayu jadi kesal, ia mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Wahyu.


Udin sedikit menarik tangan Prilly agar berlindung di belakang punggung nya. Gadis itu tersenyum, ia merasa terharu bercampur rasa bahagia karena merasa dilindungi oleh Pria yang telah berhasil membuat getaran cinta di dadanya.


" Kuat juga tangan Lo ya " sergah Pras yang tidak terima dirinya dipermalukan padahal belum berbuat apa-apa.


" Aku tidak ada minat untuk main-main dengan kalian, jadi jangan mengganggu aku lagi " Udin mencoba untuk mencegah, Tapi Pras sudah terlanjur malu. Ia melayangkan tinjunya ke wajah Udin.


Dengan santainya Udin menarik wajahnya ke samping, sehingga tinju si Pras meleset mengenai udara kosong.


Sekali lagi Pras meninju Udin dengan tangan kiri nya, tapi Lagi-lagi Udin mengelak dengan gerakan ringan.


Gagal menggunakan dua tinju nya, Pras pun mengarahkan tendangan nya ke arah perut si Udin.


Kali ini Udin tidak bisa mengelak karena tak ada ruang untuk menghindar. Terpaksa ia menepis menggunakan kakinya juga.


KRAK


Kaki Pras langsung patah, anak itu membeliak lebar lalu menjerit kesakitan.


Bayu dan Wahyu panik, mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan kaki temannya.


" Aaaaaaa tolong Anjirrr... kaki gua patah" Pras mengoceh marah.


" Hah ??? Kok bisa " Itulah yang terjadi, padahal jika dilihat dengan mata telan jang Udin sama sekali tidak terlihat menggunakan tenaga sepenuhnya. Tapi untuk seorang manusia naif seperti Pras, tendangan Udin sangat lah kuat.


Prilly diam-diam mengumpat saat Pras di angkat menggunakan tandu ke dalam ambulans.


Tidak ada cara lain untuk menolong Pras, karena ia mengalami patah tulang yang hebat.


Saat guru bertanya, Bayu dan Wahyu kompak mengatakan jika Pras jatuh saat bermain di atas meja.


Mereka takut karena pada saat diinterogasi, Prilly dan Udin memperhatikan kedua nya dari luar ruangan.


Apalagi dengan sengaja Prilly menggerakkan ujung jarinya di leher. Membuat Bayu dan Wahyu semakin ketakutan.


" Hahahahaha kamu lihat tadi kan gimana wajah Bayu dan Wahyu yang ketakutan? hahahaha" Prilly nampak senang sekali, ia terus menjadikan kejadian itu sebagai lelucon.


Udin hanya tersenyum tipis, ia duduk berhadapan dengan Prilly di kantin sekolah.


" Kamu mau makan apa ?" Tanya Prilly.


" Ya iyalah nasi, Masa kemenyan.. maksud aku, kamu mau makan nasi dengan lauk apa? "


" Apa aja yang penting bukan babi " cetus Udin.


Hufffff


Prilly bangkit dari duduknya dengan kesal, ia pergi menuju meja yang menyediakan bermacam lauk pauk.


Prilly sengaja mengambil dua piring untuk nya dan Udin. Tiba-tiba ia terserempak dengan Sakhi , seorang siswi yang duduk di kelas tujuh namun beda level dengan Prilly.


Di sekolah ini anak dari golongan menengah ke atas berada di lantai dua, sedangkan anak dari golongan menengah ke bawah ada di lantai bawah.


Termasuk Sakhi, meskipun dia murid terpintar di sekolah. Tapi karena ia anak golongan menengah ke bawah, jadi dia tidak satu kelas dengan Prilly.


" Wah, banyak juga makan mu " Tegur Sakhi, ia dan Prilly adalah pesaing dalam hal mata pelajaran. Karena kedua gadis itu sama-sama pintar dan cerdas.


" Jangan usil deh " Balas Prilly sengit, ia melenggang pergi begitu saja menuju mejanya.


Sakhi terdiam memperhatikan siswa yang duduk dengan Prilly. Bukan, bukan Udin yang menarik perhatian nya. Tapi harimau yang duduk di lantai tepat di sebelah Udin.


Sakhi memang bisa melihat makhluk tak kasat mata, tapi tidak ada yang tahu tentang hal itu.


Sakhi duduk di kursi kosong yang terdekat, ia terus memperhatikan gerak gerik harimau itu. Rasa penasarannya membuncah, baru kali ini ia melihat seorang punya khodam yang sangat gagah perkasa.


Sakhi yakin pemilik nya pasti bukan orang biasa saja.


Udin Mengangkat kedua matanya, ia menyadari jika seorang gadis di ujung sana tengah memperhatikan dirinya.


Namun Udin tidak ingin menarik perhatian gadis tersebut lebih jauh. Ia cepat menghabiskan makanannya lalu beranjak.


" Eh kau mau kemana? " Seru Prilly yang masih belum menghabiskan makanannya.


" Mau ke toilet" Jawab Udin pendek.


" Mau ngapain? " Prilly menautkan kedua alisnya.


Udin menatap Prilly dengan renungan mendalam.


" Apa aku harus membuka resleting celana ku di depan mu ?" Udin memegang celananya.


" Oh tidak tidak! ya udah cepat pergi sana, tapi kamu harus ke toilet yang memiliki stiker merah. Karena itu memang khusus untuk anak-anak yang sederajat dengan kita " seru Prilly sembari menutup kedua matanya.


Udin mengangguk, disini Udin tidak tahu apa bedanya stiker merah dan hitam. Baginya itu semua sama aja.


Begitu melihat toilet cowok, Udin mau masuk begitu saja. Tapi tiba-tiba sebuah tangan menghadangnya di depan pintu.


Rupanya itu tangan milik Sakhi, gadis itu menunjuk ke arah tempelan stiker di depan pintu.


Udin menggeleng tidak mengerti.


" Ini bukan toilet untuk mu " Tegur Sakhi.


Udin semakin tidak mengerti, apa maksud toilet ini bukan untuknya ?


" Ini toilet cowok kan ?" Tanggap Udin.


" Iya, tapi lihat itu! " Sakhi menunjuk stiker di depan pintu.


" Itu stiker hitam, ini toilet khusus golongan siswa menengah ke bawah"


" Ah sudah, aku kebelet " Udin menepikan Sakhi lalu ia menerobos pintu.


Sakhi terpelongo, baru kali ini ada anak dari golongan menengah ke atas masuk ke dalam toilet berstiker hitam.


Begitu Udin masuk, ia terkejut melihat kondisi toilet itu yang tidak jauh berbeda dengan toilet di penjara.


Pesing dan banyak kerak kekuning-kuningan. Tapi karena sudah terbiasa di penjara, Udin pun tidak terlalu mempermasalahkannya.