
Prilly baru saja membuka matanya menyambut pagi . Ia mengeliat meregangkan otot-otot tubuhnya. Kemudian meraih ponselnya yang diletakkan di atas nakas.
Untuk kesekian kalinya ia harus menelan kecewa, karena ponsel Udin masih belum aktif juga. Pesan yang dikirim oleh Prilly masih saja centang satu.
Padahal hari libur sudah akan usai, kenapa masih belum ada kabar dari Udin? Apa dia akan berhenti sekolah hanya untuk membalas dendam kematian keluarga nya ?
Kepala Prilly dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang sangat tidak ingin hal itu terjadi. Tapi apa yang harus Prilly lakukan?
Tiba-tiba Prilly mencium aroma masakan yang menggugah selera. Ia gegas menurunkan kedua kakinya menapak lantai. Lalu berjalan keluar karena penasaran sedang masak apa sih pembantu nya itu ?
Tapi sangat mencengangkan, si Bibik tengah mengobrol di meja makan bersama Mamanya Prilly . Lalu siapa yang masak dong ?
" Pagi sayang" Sapa Latuluna begitu menyadari kedatangan putri nya. Prilly tersenyum, ia mendekati sang Ibu lalu melakukan cipika cipiki.
" Bibik ada disini?? Terus yang masak itu siapa? " Tanya Prilly . Bibik tersenyum penuh arti, begitu pula dengan Latuluna.
" Kalau penasaran coba lihat siapa yang masak" Ujar Latuluna, Prilly mengernyitkan keningnya. Ia pun pergi ke arah dapur dan menemukan sosok pria berdiri membelakangi.
Semakin penasaran lah si Prilly , ia semakin mendekat. Tubuh yang terlihat berotot itu berputar ke belakang.
" Hay!! " Yoga tersenyum lebar begitu tahu jika Prilly sudah ada di belakangnya.
" Yoga" Pekik Prilly tak percaya. Pria itu tersenyum tipis ia berjalan dengan membawa semangkuk masakan lalu diletakkan nya di atas meja.
" Silahkan tuan putri" Yoga menarik kursi untuk duduk.
" Lo kok bisa disini ?" tanya Prilly tak menghiraukan jika Yoga sudah mempersilahkannya duduk.
" Kan dimana ada Prilly pasti ada Yoga " Seloroh Yoga yang langsung mendapatkan tinju di bahunya.
" AW sakit Pri "
" Ih begitu aja udah sakit" Prilly mencebikkan bibirnya seraya mendudukkan dirinya di kursi yang baru saja ditarik oleh Yoga.
" Semakin bertenaga saja tinju Lo Pri " Yoga memilih duduk untuk bersisian dengan gadis itu.
" Iya dong " Prilly membalikkan piring yang menelungkup lalu Yoga sigap menyendokkan nasi goreng buatannya.
" Terimakasih" Ujar Prilly tersenyum lebar " Lo bertukar profesi nih Yog "
" Ah sekedar hobi" Yoga menjawab sembari menyendokkan nasi goreng untuk Latuluna.
" Makasih ya Yog " Ucap Latuluna.
" Sama-sama Tante"
" Kok Lo pagi-pagi sudah ada disini sih ? " Tanya Prilly seraya menyuapkan nasi ke mulut nya.
" Sekedar ingin mengobati kerinduan, habis nya semalaman gue nggak bisa tidur kepikiran sama Lo " Celutuk Yoga yang langsung mendapatkan teplokan di bahunya untuk kedua kali.
Yoga tertawa lepas, Latuluna hanya senyam-senyum saja melihat tingkah dua anak itu.
" Jangan macem-macem ya, sekarang gue udah punya pacar" Prilly memberikan peringatan, spontan gerakan tangan Yoga yang mengangkat sendok ke mulut nya langsung terhenti.
" Serius?? "
Prilly mengangguk yakin. Sejenak Yoga terdiam, tapi saat menyadari dirinya diperhatikan oleh Mamanya Prilly ia langsung tersenyum.
" Ah cuma pacar, bini orang aja bisa diajak selingkuh"
Prilly tercengang mendengar celotehan si Yoga, tapi Pria itu semakin tertawa lepas mendapatkan tatapan mata indah si Prilly yang kebingungan.
Kita kembali ke perjalanan si Udin ^~^
Kujang menunjuk kan sebuah gunung di depan sana, katanya di kaki gunung itulah tempat tinggal si pemilik topeng.
Entah kenapa Udin merasa jantung nya berdetak lebih cepat dari biasanya disaat Kujang memberi tahu hal itu?
" Ayo cepat, kok malah bengong" Tegur Kujang, Udin mengangguk lalu mengikuti langkah Kujang.
Di perjalanan mereka melihat seorang pria paruh baya naik sepeda ontel boncengan sama anaknya.
Yang mengherankan pria itu juga menggendong seorang wanita di punggung nya.
Udin dan Kujang saling berpandangan satu sama lain. Karena penasaran mereka pun diam-diam mengikuti Pria tersebut dengan bersembunyi di atas pohon.
Pria itu masuk ke pekarangan sebuah rumah berdinding anyaman bambu. Dan si anak melompat turun dari atas sepeda lalu berlari masuk ke dalam rumah.
Si Bapak juga turut masuk ke dalam rumah nya setelah memarkirkan sepeda ontel nya di samping rumah.
Perempuan yang digendong nya terus saja disitu tanpa mau turun. Entah kenapa bisa begitu? Hal itulah yang ingin diketahui oleh Udin dan Kujang.
" Roni... " Pria itu memanggil sang anak, Roni mendekati Bapaknya lalu duduk di kursi kosong.
" Emmm Bapak mau tanya sesuatu sama kamu " Pria itu mengawali pembicaraan dengan putranya. Roni mengiyakan sebagai tanda setuju.
" Apa kamu ada yang ingin disampaikan sama Bapak ? Atau kamu ingin bertanya sesuatu? " Tanya Bapak Roni.
Roni diam, matanya menunduk menatap ujung jari kakinya.
" Katakanlah Ron, Bapak tidak akan marah Kok " Bapak Roni sedikit memberikan dukungan agar anaknya merasa leluasa untuk mengatakan apa yang ingin ditanyakan.
Perlahan Roni mengangkat wajahnya, ia menatap si Bapak dengan sendu. Bapak Roni tersenyum tipis, kedua tangannya memegang bahu sang anak.
" Bapak, Roni ingin tanya... Kenapa Ibu selalu gendong ke Bapak? Apa Bapak nggak berat gendong Ibu terus ? "
Bapak Roni terbelalak lebar, wajahnya langsung memucat.
" A- apa kamu bilang? " Bola mata nya berputar melirik ke belakang kepala.
Roni tidak mengerti dengan raut wajah si Bapak yang tiba-tiba pucat seperti melihat setan.
" Bapak kenapa? " Tanya Roni ingin tahu, Si Bapak tidak menjawab. Lidah nya kelu untuk berkata.
Roni semakin bingung, ia tidak tahu jika sebenarnya Ibunya sudah meninggal. Dibunuh oleh Bapaknya sendiri.
Peristiwa itu terjadi saat Bapak dan Ibu Roni bertengkar hebat. Bapak Roni dituduh selingkuh oleh Ibunya Roni. Tapi Bapak Roni sudah mengatakan jika ia tidak selingkuh.
Namun Si Ibu terus saja marah-marah hingga membanting barang yang ada. Ia menjerit-jerit seperti orang kesurupan.
Bapak Roni sudah tidak tahan, ia tampar istrinya hingga terbanting keras. Kepalanya membentur sisi sudut meja yang tajam.
Tanpa disadari, pukulan itulah yang mengantar Ibunya Roni pada kematian.
Untuk menutupi semua nya dari Roni, Si Bapak menidurkan istrinya dengan posisi miring. Jadi saat Roni pulang bermain, ia mengira Ibunya tidur.
Dan disaat tengah malam, barulah Bapak Roni menggotong tubuh istri nya untuk dikubur di pekarangan rumah.
Bapak Roni terus diam karena tidak ingin memancing pembicaraan mengenai Ibunya Roni.
Tapi saat mendapati Roni sama sekali tidak pernah bertanya tentang Ibunya, Barulah pria itu sedikit khawatir dengan mental putranya.
Rupa-rupanya justru karena Roni selalu melihat Bapaknya menggendong si Ibu dipunggung nya. Jadi dia tidak pernah tahu jika yang digendong si Bapak adalah hantu dari Ibunya sendiri.