
Guru kelas masuk, serta merta siswa siswi kembali duduk dengan rapi.
" Selamat pagi anak-anak " Sapa Pak guru datar.
" Selamat pagi Pak guru " jawab para siswa kompak.
" Selamat datang di kelas baru kalian, kelas delapan. Kalian pasti sudah tahu atau mendengar cara Pak guru mengajar kalian, jadi Pak guru berharap kalian tidak pernah main-main. Karena Pak guru tidak suka murid yang suka main-main "
Semua murid hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
" Bagus, hari ini Bapak akan memulai mata pelajaran kalian. Simak baik-baik! "
Pak guru mulai mengajar dengan tegas tanpa sedikitpun senyuman. Para siswa pun mendengar kan dengan baik, mereka tidak berani membuat keributan. Karena mereka tahu wali kelas mereka terkenal killer.
Ditambah lagi Pak guru merupakan ketua guru BK. Yang mengutamakan kedisiplinan para muridnya. Jadi sangat pantas jika ia bertindak tegas terhadap murid-muridnya.
Jam istirahat berdering, Pak guru menyudahi pelajaran nya. Ia menutup buku lalu keluar kelas.
Setelah wali kelas mereka keluar, barulah kondisi kelas riuh kembali.
" Gila, Pak Karyo benar-benar tegas banget ya " Komentar Dahlia.
" Serius, gue mau nafas aja pelan-pelan banget " Tambah Naya.
" Gue denger-denger sih Pak Karyo meskipun tegas begitu, dia tipe suami takut istri " Bita mulai bergosip ria.
" Tahu darimana Lo?" Yolanda meragukan kabar tersebut. Karena biasanya Bita selalu membuat-buat cerita kosong.
" Gue pernah liat istri Pak Karyo datang ke sekolah marah-marah sama Pak Karyo. Pak Karyo diem aja nunduk, nggak berani membantah" Bita menceritakan pengalamannya.
" Iya , Gue juga pernah liat Pak Karyo ditoyor kepalanya sama istrinya di tempat parkir. Nggak ngelawan dia, diem aja " Dahlia turut membenarkan cerita Bita .
" Kok bisa ya? sama anak-anak disiplin banget, tapi ma istri nyalinya ciut " Naya bersuara.
Udin yang sejak tadi hanya diam saja memiliki pemikiran tersendiri. Ia mulai menyusun rencana dalam otaknya.
Saat pulang sekolah, Udin sengaja menghilang dengan bersembunyi di atas pohon.
Naya sampai sakit kepala mencari keberadaan Udin. Sedangkan Gading kesel banget karena Naya tak kunjung datang. Terpaksa Gading menelfon adiknya itu.
" Lo dimana? " Tanya Gading begitu talian tersambung.
" Nyariin Udin Kak, dia nggak ada " Jawab Naya.
" Ngapain dicariin, dia udah gede bisa pulang sendiri. Cepetan ayo pulang, gue laper nih " bentak Gading kesal.
" Tapi Kak, Nanti Papa marah Gimana?" Naya masih khawatir.
" Papa di kantor Dek, dia nggak mungkin tahu kalau Udin nggak pulang sekarang " Tandas Gading santai.
" Kalau Tante Caca nanyain, gimana? " Naya masih ragu.
" Bilang aja Udin ikut latihan apa kek, udah cepetan!! " Gading rupanya pintar membuat alasan, akhirnya Naya menyerah. Ia pun pulang tanpa Udin.
Setelah yakin Naya dan Gading pergi, Udin melompat turun dari atas pohon. Ia menunggu Pak Karyo keluar dari ruangan nya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Pak Karyo terlihat berjalan di koridor sekolah menuju tempat parkir.
Ia mengendarai mobil keluar dari area sekolah. Udin memutuskan mengikuti menggunakan jasa ojek. Sekarang dia kan punya uang saku, jadi masalah ongkos tidak perlu khawatir.
Melihat mobil Pak Karyo memasuki halaman sebuah rumah, Udin meminta turun di tempat yang agak jauh. Setelah membayar ongkos, Udin memperhatikan ke sekeliling, kemudian ia melompat ke atap rumah lalu bersembunyi di pohon mangga yang rindang di samping rumah Pak Karyo.
Udin memperhatikan, Pak Karyo tengah memasak di dapur. Sedangkan istrinya duduk dengan kaki di atas meja makan.
Ia sibuk mengikir kukunya yang runcing dan indah.
Pak Karyo mengangguk tanpa sebarang bantahan.
Udin geleng-geleng kepala, ini sudah keterlaluan. Ia diam-diam turun dari atas pohon mangga. Lalu berjalan dengan hati-hati menuju pintu utama.
TOK TOK TOK
Istri Pak Karyo menoleh ke arah pintu.
" Ada tamu, bukain gih " Ia memberikan perintah kepada Pak Karyo. Pak Karyo mengiyakan, lalu keluar menuju pintu.
" Assalamualaikum Pak " Sapa Udin begitu pintu di buka dari dalam.
" Wa'alaikum salam" Jawab Pak Karyo.
" Maaf mengganggu Pak, saya Udin murid Kelas delapan"
Pak Karyo mengernyitkan keningnya, dari mana murid nya itu tahu alamat rumah nya. Padahal selama ini tidak ada satu pun murid yang mengetahui tempat tinggalnya.
" Ada apa? " Tanya Pak Karyo, mimik wajahnya menunjukkan dia tidak suka dengan kedatangan Udin.
" Boleh saya masuk Pak? "
Pak Karyo memicingkan matanya, ditatapnya wajah Udin yang full senyum.
" Bicara disini saja, ada apa datang ke rumah ku ? " Sinis sekali nada bicara Pak Karyo terhadap Udin.
" Siapa sih Mas ?" Tiba-tiba istri Pak Karyo muncul, ia berkacak pinggang memperhatikan Udin.
" Siapa dia ? Kok pakai seragam sekolah? "tanya Istri Pak Karyo.
" Salah satu murid ku " Jawab Pak Karyo dengan suara melunak.
" Cepat urus dia agar cepat pergi Mas! aku laper nih " Gertak istri Pak Karyo dengan disertai lirikan tajam ke arah Udin.
" Kalau laper ya masak sendiri lah " Tiba-tiba terdengar suara menyahut dari belakang Udin.
Sontak semua langsung menengok ke arah datangnya suara.
Nampak seorang perempuan paruh baya memakai jilbab serta gamis semata kaki.
" Hey Ayu! Kau ini sebagai istri seharusnya yang menyiapkan makanan untuk suamimu. Bukan malah anakku yang kau suruh masak, padahal dia baru saja pulang kerja. Capek! malah disuruh masak " Perempuan itu rupanya Ibunya Pak Karyo.
Ia menuding istri Pak Karyo yang ketakutan dan bersembunyi di balik tubuh suaminya.
" Bu ... sudah lah, nggak apa-apa" Pak Karyo justru membela sang istri.
" Karyo, buka mata hati kamu Nak. Ini bukan kamu yang sebenarnya, Ibu mendidik kamu dengan tegas. Bukan malah jadi kayak laki-laki Cemen begini. Istri kamu itu sudah keterlaluan " Ibu Pak Karyo terdengar sangat emosional.
Istri Pak Karyo yang dipanggil Ayu itu menarik kain lengan baju Pak Karyo. Pak Karyo melirik nya sepintas, lalu kembali menghadapi Ibunya.
" Lebih baik Ibu pulang sekarang, daripada buat keributan di rumah Karyo "
" Apa ??!! " Ibu Pak Karyo terkejut karena mendapatkan pengusiran dari anaknya.
" Tega kamu ya Karyo mengusir Ibumu sendiri. Pokoknya Ibu tidak mau pulang! Kalau perlu Ibu mau tinggal di rumah ini mulai sekarang! Minggir!! " Ibu Karyo menerobos masuk dengan mendorong Pak Karyo. Anehnya beliau juga menarik tangan Udin untuk masuk ke dalam.
Udin heran ,tapi ia ngikut aja. Karena itu tujuannya datang ke rumah wali kelas nya.
Ibu Pak Karyo duduk di ruang tamu, ia menepuk kursi kosong di sebelah nya. Sebagai perintah agar Udin duduk di sana.
Udin menurut saja, Pak Karyo dan istrinya saling berpandangan satu sama lain.