SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
MENGAJARI UCOK



Sekitar dua puluh menitan berjalan, akhirnya Udin bisa bertemu dengan beberapa rumah warga.


Rupanya Dukuh Kamboja sangat terpencil sekali. Seluruh warga desa seperti terisolasi oleh hutan Pinus yang lumayan luas. Bagaimana akses mereka untuk keluar kota? Atau pergi ke desa sebelah?


" Ucok "


Tiba-tiba seorang perempuan paruh baya berlari kecil menghampiri. Ia langsung memeluk Ucok dengan erat.


" Kamu dari mana saja? Sudah Ibu bilang kalau malam jangan keluyuran, banyak celeng dan binatang buas di hutan" Perempuan itu yang tak lain adalah Ibu si Ucok memarahi anaknya.


" Ucok cari Kak Sofi Bu.." Ucok menjawab seadanya.


" Ya Allah, Ucok... Sofi udah minggat nak, dia udah bahagia sama laki-laki pilihan dia " Jawab Si Ibu.


" Nggak Bu, Ucok yakin Kak Sofi nggak kemana-mana. Dia ada disini " Ucok sangat yakin dengan pendapat nya sendiri.


Ibunya memilih untuk tidak menggubris perkataan Ucok. Ia mengalihkan perhatiannya kepada Udin yang secara kasat mata sendiri-an saja.


" Anak muda, kamu mau kemana? Sepertinya kamu bukan orang sini " Sapa Ibu Ucok.


" Iya Bi saya kebetulan lewat " Jawab Udin.


" Emang kamu mau kemana?" Ibu Ucok bertanya lagi.


" Saya mau ke Kota, tapi saya kehabisan uang. Jadi saya terpaksa jalan kaki dan tidak sengaja bertemu Ucok di jalan " Udin berbohong, karena tidak mungkin dia jujur jika sedang mencari benda pusaka.


" Oh begitu rupanya, hari sudah malam nak. Sebaiknya kamu menginap saja di rumah ku, besok kamu bisa melanjutkan perjalanan " Ibu Ucok menawarkan tempat tinggal.


" Iya Bu, Abang ini berjanji mau bantu Ucok cari Mbak Sofi. Jadi memang harus tinggal di rumah " Ucok menimpali.


" Hus kalau orang tua lagi ngomong nggak boleh matuk-matuk gitu, Dosa! " Cetus Si Ibu menegur Ucok.


Ucok merengut sedih, untuk menghiburnya, Udin mengusap pipi Ucok lembut.


" Ya udah Nak, mari ikut Bibi " Ibu Ucok memimpin perjalanan yang didampingi si Ucok sendiri.


Sedangkan Udin dan Kujang mengekor di belakang.


Rupanya semakin masuk ke dalam kawasan desa, penduduk semakin ramai. Rumah Ucok pun terbilang lumayan besar, Ada surau kecil di halaman rumah nya.Dan masih ada aktivitas mengaji disana.


" Mari silahkan duduk Nak " Ibu Ucok mempersilahkan Udin setelah ia membuka pintu lebar-lebar.


Udin mengangguk sopan diselingi dengan senyuman.


" Nak siapa namanya?" Sambung Ibu Ucok.


" Udin BI " Jawab Udin.


" Oh.. Nak Udin tunggu sebentar ya, Bibi siapkan makanan. Pasti Nak Udin belum makan kan ?"


" Tidak usah repot-repot BI" Udin berbasa-basi dengan sopan.


" Nggak apa-apa, kalau perlu bakar dupa ya. Saya juga laper " Seru Kujang yang tentunya hanya Udin yang mendengarnya.


" Nggak... Nggak repot kok. Udah masak tinggal nyiapin aja, kebetulan keluarga disini belum makan malam. Masih Nunggu Hamid selesai ngajar"


Udin manggut-manggut tanda mengerti.


" Ya udah, tak tinggal dulu ya. Biar Ucok yang nemenin Nak Udin " Ibu Ucok pamit.


" Iya Bi, silahkan " Jawab Udin santun.


" Bang, itu foto Mbak Sofi" Ucok menunjuk ke dinding tempat foto Sofi di pajang.


Dilihat dari wajahnya kemungkinan umur Sofi terpaut lebih tua dari Udin.


" Kapan Mbak Sofi mu pergi ?" Udin bertanya.


" Udah mau sebulan, Ucok nggak tahu Mbak Sofi pergi kemana? Kata Ibu Mbak Sofi minggat sama Mas Rifin" Ucok bercerita tentang kisah Sofi, Kakaknya.


" Siapa Rifin?" Udin bertanya lebih lanjut.


" Pacarnya Mbak Sofi, tapi Bang Hamid nggak setuju karena Mas Rifin penampilannya kayak preman. Ibu juga ikut-ikutan Nggak setuju, semua orang disini takut sama Bang Hamid " Ucok tertunduk sedih.


Udin mengusap punggung Ucok dengan lembut.


" Assalamualaikum"


Udin refleks menoleh begitu ada orang mengucapkan salam.


" Adek temannya Ucok?" Sapa Hamid bertanya siapa Udin.


" Ah Iya Ustad, kami baru saja bertemu di jalan "


" Oh begitu, ya udah silahkan duduk "


Udin mengangguk lalu duduk kembali, Hamid juga duduk untuk menemui Udin.


" Ucok, kamu pergi kemana tadi habis mutholla'ah? " tanya Hamid kepada adik bungsu nya.


Ucok tidak menjawab, ia hanya tertunduk dengan sangat mendalam.


" Ucok, Abang sedang bertanya sama Ucok nih. Ibu mencari Ucok kemana-mana, seharusnya Ucok banyak belajar, Bukankah hasil ulangan Ucok dibawah standar. Kalau bukan Abang yang memohon sama guru Ucok agar diadakan ujian ulang, Ucok nggak mungkin bisa punya kesempatan untuk naik kelas. Ini bukan nya belajar malah kelayapan, dimakan celeng baru tahu rasa kamu " Hamid memarahi Ucok panjang lebar.


Ia sudah tidak bisa bersabar dengan sikap Ucok yang kerap menghilang saat sesudah mutholla'ah. Kebiasaan aneh yang dilakukan Ucok setelah minggatnya Sofi.


" Ucok nggak bisa belajar tanpa Mbak Sofi " Ucok menjawab meskipun kepala nya tetap tertunduk.


" Sofi lagi Sofi lagi!! Kalau gitu kenapa kamu nggak ikut Sofi pergi ? hah!!!" Hamid terlepas kontrol, ia meninggikan suaranya di depan Udin.


" Kakak,,,, " Ibu Ucok keluar dari dalam dengan tergesa-gesa, ia menarik Ucok dalam perlindungan nya.


" Sudah Kakak, jangan marahi Adek. Adek masih terlalu kecil untuk mengerti"


" Ibu selalu membela nya, kalau kita tidak memberikan pengertian mulai sekarang. Sampai kapan pun dia akan semaunya sendiri Ibu. Bukankah itu yang diajarkan oleh almarhum Bapak " Hamid membenarkan diri dalam tindakan nya.


" Iya Kakak Iya, Ibu ngerti... Sudah sekarang ayo kita makan dulu. Ada tamu malu kalau marah-marah di depan tamu "


Hamid terpaksa menelan kemarahan nya.


" Hamid makan nanti saja Bu, Hamid mau ke rumah Zahra.. Assalamualaikum" Hamid langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari sang Ibu.


" Wa'alaikum salam" Jawab Bu Ucok .


" Ucok " Udin berjongkok di dekat Ucok, ia berniat untuk menghibur anak itu " Bagaimana kalau Abang yang ngajarin Ucok belajar? Mau ?"


Ucok mengangkat wajahnya menatap sang Ibu. Ibu Ucok mengangguk sebagai tanda ia setuju. Lalu Ucok pun mengiyakan.


" Tapi sebelum belajar, Kita makan dulu ya" Ajak Ibu Ucok, semua setuju.


Udin memulai membuka buku pelajaran yang akan dipelajari oleh Ucok. Ia meminta mana yang Ucok tidak mengerti maka akan dijelaskan oleh Udin. Ucok mengangguk menerima buku yang disodorkan oleh Udin.


" Bang, kalau tebu sama pohon sagu itu menyimpan makanan di dalam batang nya. Kalau manusia Bang, menyimpan makanannya dimana? " tanya Ucok memulai soal yang kurang ia mengerti.


" Emmm biasanya sih di Kulkas, karena Abang nyimpen makanan di Kulkas" Jawab Udin sekenanya.


" Oh iya ya " Ucok langsung menulis jawaban yang diberikan oleh Udin.


Kujang mengernyit heran, ia menunduk menatap perut nya sendiri. Bukankah manusia menyimpan makanan di perut, sama kayak binatang? Itulah yang dipikirkan oleh Kujang.


" Emmm lagi Bang, hewan membelah diri dengan cara apa Bang ?"


Udin mencoba untuk berpikir, ia sendiri tidak tahu apa ada hewan yang membelah diri?


" Emm mungkin dengan pisau atau benda tajam lainnya . Oh dengan gunting, kalau membelah diri kan jadi dua ya?"


Ucok mengiyakan.


" Nah iya dengan gunting " Udin menjawab begitu yakin sekali.


Kujang menutup wajahnya karena ia malu sendiri. Udah salah malah yakin banget lagi. Mana ada hewan bisa make gunting? Kujang memperagakan gerakan gunting dengan jarinya sendiri.


" Em ini lagi Bang, hewan paling kecil itu apa?"


" Hewan paling kecil?" Udin mengulang pertanyaan nya, Ucok mengangguk.


Kujang mencari kutu disela bulu-bulu halus di badannya. Dapat! Ia sudah menunjukkan kutu itu kepada Udin.


" Cacing"


Kedua bola mata Kujang langsung berputar-putar mendengar jawaban Udin yang diluar nalar.


" Kok cacing Bang, bukannya bakteri ya ?" Ucok sanksi dengan jawaban si Udin.


" Kan bakteri nya bisa cacingan, berarti cacing lebih kecil dari bakteri "


" SIAPA YANG NGAJARIN KAMU SIH DIN?" Kujang sudah kehilangan kesabarannya, ia kesal dengan si Udin.