
" Sakhi !!! "
Sakhi terperanjat, refleks ia menarik diri mundur menjauhi Udin.
Prilly menjeling tajam ke arah nya, kedua tangannya terlipat sombong di dada.
" Ngapain Lo dekat-dekat sama calon suami gue? Hah ?" Gertak Prilly yang jelas-jelas tidak suka melihat Sakhi berdekatan dengan Udin.
" Ah gua.... " Sakhi bingung sendiri, jika ia jujur tidak mungkin Prilly percaya jika sebenarnya dia tengah menggoda Seekor harimau. Karena kenyataannya tidak ada yang bisa melihat makhluk tersebut.
" Gua apa? " Cetus Prilly mengintimidasi.
" Sakhi !! " Seseorang dengan lantang memanggil Sakhi, gadis itu menoleh.
" Ayo!! Giliran Lo latihan"
" Oh, baik !" Sakhi buru-buru melarikan diri dari keadaan ini. Ia bergabung dengan peserta lain yang setaraf dengan nya.
Prilly masih terus mengekori pergerakan Sakhi dengan ekor matanya.
" Sepertinya kamu keenakan bilang aku ini calon suamimu " Tegur Udin sembari melipat tangan di belakang kepalanya lalu menjadikannya sebagai bantal.
Prilly tersenyum tipis, ia duduk di kursi yang ditempati oleh Udin.
" Tapi kamu juga suka kan ?" Balas Prilly.
" Aku hanya tidak ingin mempermalukan dirimu "
Prilly tetap tersenyum.
" Itu sama saja "
Udin memejamkan matanya kembali.
" Kalau sudah selesai ayo cepat pulang, aku ingin istirahat " Tukas Udin, Prilly hanya mengedikkan bahunya sembari membuang pandangannya ke arah teman-temannya yang tengah latihan.
*
" Dari tadi gue perhatiin, Lo sering banget liatin cowok itu" Nuri berkomentar saat ia dan timnya mengemasi barang-barang keperluan mereka.
" Ah nggak kok " Sakhi mengelak dari tuduhan Nuri kepada dirinya.
" Jangan bohong, Lo suka sama dia " Nuri semakin menyudutkan Sakhi agar mengakuinya.
" Nggak kok, lagian kalau gue suka dia? Sama aja gue cari mati "
Nuri tersenyum tipis.
" Kenapa?? Karena dia anak baret merah?"
" Bukan, tapi katanya dia calon suami si Prilly" Jawab Sakhi.
" What's?? Prilly?? Serius Lo ?" Nuri nampak terkejut, Sakhi mengangguk yakin.
" Setahu gue Prilly tuh cuek banget sama cowok, dengar sendiri kan cerita anak-anak kalau cowok yang suka sama Prilly tidak bisa dihitung sama jari "
Sakhi mengangguk lemah, hal itulah yang membuat dirinya insecure.
" Tapi Lo nggak kalah cantik kok Sa, hanya saja kelas yang membedakan kamu sama Prilly" Nuri menepuk pundak sahabatnya, Sakhi tersenyum hambar.
" Din, berikan aku ucapan selamat dong. Aku hari ini berhasil menjadi pencetak rekor renang tercepat loh " Prilly bercerita penuh semangat.
Udin menarik sebelah bibirnya disertai gelengan kepala.
" Jangan gitu dong, masak cuma ngucapin selamat aja kamu pelit banget" rengek Prilly.
Udin tidak perduli, tiba-tiba Luis beserta teman-temannya datang. Mereka sepertinya berjalan mengarah ke tempat Prilly dan Udin.
Tanpa disangka-sangka Udin bertindak agresif, ia meraih tangan Prilly lalu mencium punggung tangan gadis itu.
Sontak Prilly terpana mendapatkan perlakuan semanis itu. Ia seolah-olah melayang-layang karena bahagia.
Luis menghentikan langkahnya, wajahnya yang sebelumnya penuh semangat ingin mengucapkan selamat atas keberhasilan Prilly, tiba-tiba berubah ketat.
Gerahamnya mengeras menahan emosi. Pancaran mata nya tajam seolah ingin mencongkel jantung si Udin.
Prilly menoleh, ia sama sekali tidak menyadari jika Luis dan teman-temannya ada di belakangnya.
Sementara Sakhi dan yang lain menonton peristiwa itu disertai bisik-bisik diantara mereka.
" Itu bukan urusan Lo ya " Cetus Prilly.
" Hey, anak baru... Ayo ikut kami!! " Nando mendekati Udin.
" Mau ngapain sih Do " Prilly berdiri seolah-olah ingin melindungi Udin.
" Mending Lo diem aja dech Pri, Ini urusan antara cowok sama cowok" Delon ikut menyahut.
" Gue nggak akan biarin kalian apa-apain dia " Pungkas Prilly.
Luis yang semula diam menarik tangan Prilly dengan kasar hingga Prilly mendekat padanya.
" Kalau Lo mau ikutan lomba dengan lancar aman dan damai, mending Lo diem aja. Dia nggak bakalan gue apa-apain " Luis mengancam Prilly.
Gadis itu panik, dua bola matanya bergulir menatap Udin. Udin mengangguk lembut sebagai tanda.
Akhirnya Luis dan teman-temannya pergi dari tempat itu dengan diikuti oleh Udin.
Sakhi bergerak cepat mengemasi barang-barang nya, karena sepertinya roh jahat yang selalu mengikuti Luis menginginkan Udin.
Delon dan Nando mempersilahkan Luis dan Udin masuk ke dalam sebuah gudang terbengkalai di belakang sekolah.
Setelah mengawasi sekeliling bahwa tidak ada yang melihat, keduanya pun turut masuk dan mengunci pintu rapat-rapat dari dalam.
" Pegang dia? " Luis memberikan komando, Nando dan Delon pun mendekat, mereka sama-sama mencekal lengan Udin satu persatu.
Lalu mereka mengangkat tubuh Udin dan direntangkan di atas meja.
" Mau apa kalian?? Hah ?? " Gertak Udin, disini Udin sengaja diam. Karena ia ingin tahu apa yang akan dilakukan roh jahat itu padanya.
Kujang sendiri diam mengintip di luar Gudang.
Sakhi yang baru saja sampai, jadi heran. Kenapa si Harimau justru menguntit disitu?
" Hey " Sakhi menepuk Kujang, si harimau menoleh.
" Ngapain Kamu disini?? Majikan kamu mana ?" Tanya Sakhi, suaranya sengaja direndahkan.
Kujang menunjuk ke dalam gudang.
" Kok kamu biarin dia masuk sendiri?? Seharusnya kamu kan tolong dia ? Ih payah!" Sakhi mencari sesuatu sebagai alat pijakan, karena ia ingin melihat apa yang terjadi di dalam melalui jendela.
Udin bergerak memberontak disaat LUis mendekati nya. Luis membuka genggaman tangannya, ternyata disana ada beberapa ekor belatung . Dengan seringai iblis yang sama seperti senyuman sosok gadis di sampingnya, Luis ingin memasukkan belatung-belatung itu ke dalam mulut Udin.
Tapi...
BAGH BUGH
Udin cepat menendang Delon yang memegang kakinya, lalu ia salto menendang Nando yang menahan tangan nya.
Belum sempat Luis mengelak, tendangan bebas pun menghantam wajahnya.
Gadis yang berada di samping Luis tak terima, ia memutar kepalanya. Rambutnya yang hitam pekat memanjang dengan cepat mengelilingi seluruh ruangan hingga gelap gulita.
"Tuh kan , ini pertarungan mereka. Aku tidak boleh ikut campur" Ucap Kujang membenarkan filingnya.
" Emang dasar kamu nya yang tidak setia kawan " Tanggap Sakhi.
Luis beserta kedua temannya sudah terkapar pingsan, kini di ruangan yang ditutupi oleh rambut sosok gadis itu hanya tinggal Udin saja.
" Siapa kamu? " Tanya Udin.
" Aku tidak berminat untuk berkenalan, aku hanya ingin kamu menjadi abdiku. Jika kau menolak, maka aku harus membunuh mu "
Oh rupanya Delon dan Nando adalah abdi dari Luis karena gadis itu. Mungkin mereka sudah diberi makan belatung yang sama seperti yang akan diberikan kepada Udin.
" Sekarang, bersiap lah "
Gadis itu melesat cepat menyambar leher Udin, tapi Udin berhasil mengelak. Justru ia menendang perut gadis itu dengan kuat hingga gadis itu melotot.