SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
SYIFA PERGI



" Ya udah gini aja, coba kamu susul Ibu kamu. Siapa tahu dia masih di jalan " Bu Bambang memberikan solusi kepada Sakhi .


" Mau dikejar kemana Bude?? Sakhi nggak tahu Ibu akan naik apa ke Sumatera" Sakhi bingung, ia galau tidak tahu harus kemana?


Tapi tiba-tiba ia teringat dengan Prilly , akhirnya ia langsung menghubungi gadis itu.


" Hallo, ada apa Sa? " Cetus Prilly dari seberang.


" Lo dimana Pri, bisa bantu gue nggak?" Sakhi tak dapat menahan diri untuk tidak menangis.


" Bantu apaan?" Tanya Prilly .


" Syifa sama Ibu pergi Pri, dia ngejual rumah dan tanah nya sekaligus tanpa ngasih tahu sama aku "


" Hah ? Kok bisa sih? Ya udah tunggu disitu jangan kemana-mana! Gue sama Udin Otw"


Talian langsung terputus sebelum Sakhi mengucapkan terima kasih. Ia sedikit lega karena ada yang mau bantu dia.


Diam-diam Sakhi kagum sama Prilly , meskipun gadis itu terkenal jutek, tapi dia baik dan nggak tega an sama temen.


Tak lama kemudian, Prilly pun datang dengan mobil SUV merahnya yang cantik. Ia hanya membuka kaca jendela mobil lalu memerintahkan Sakhi untuk segera masuk.


Sakhi patuh, ia duduk di kursi tengah, rupanya Udin duduk bersebelahan dengan Prilly. Tapi wajah Udin nampak lain, pria itu terlihat tegang. Kedua tangannya memegang bagian atas pintu mobil dengan erat.


" Kita kemana nih?" Tanya Prilly yang sudah bersiap ngebut.


" Coba ke terminal" Sakhi menjawab cepat.


" Ok! Pegangan yah " Prilly menginjak pedal gas, dan mobil pun melesat cepat.


Astaghfirullah subhanallah Allahu Akbar Lahaulawalaquata illabillah Qulhuwalla hu Ahad ALLAHU AKBAR


Banyak bacaan yang dibaca oleh Udin secara random. Sakhi tercengang, sedemikian takut nya Udin hingga seperti itu. Prilly hanya senyam-senyum sendiri, ia terus mempermainkan Udin dengan menambah kecepatan nya.


Semakin cepat semakin keras Udin membaca dzikir dan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Namun matanya terpejam erat, seperti tidak ingin menatap jalanan yang dilalui.


Setibanya di terminal, Sakhi cepat-cepat turun untuk mencari ibunya. Sedangkan Udin turun karena ingin muntah. Perutnya seperti diobok-obok saat Prilly melakukan putaran di setiap tikungan.


" Gimana?" Tanya Prilly saat Sakhi datang menghampiri , ia membantu Udin agar lebih nyaman dengan sedikit memberikan pijatan.


Sakhi menggeleng lemah, ia menahan air matanya agar tidak menangis.


" Apa kita coba ke Bandara saja ?" Prilly memberikan ide.


" Tapi itu tidak mungkin Pri, karena Ibu nggak punya banyak uang untuk naik pesawat. Dan lagi Ibu takut ketinggian " bantah Sakhi yang sangat kenal betul dengan karakter sang Ibu.


" Katanya baru habis jual rumah dan tanah, ya pasti Ibumu punya banyak uang. Masalah takut ketinggian kayaknya nggak mungkin deh. Kan naik pesawat, bukan manjat pohon" Prilly ber-argumen.


Sakhi mengangguk mengerti, apa yang dikatakan oleh Prilly itu semua masuk akal.


" Ya udah yuk cepat" Prilly mengajak agar cepat masuk ke dalam mobil. Sakhi setuju, tapi tidak dengan Udin. Ia melambaikan tangan tanda menyerah.


" Aku nggak ikut" serunya Lemah.


" Aduh banyak bac*t " Prilly dan Sakhi kompak menggotong Udin masuk ke dalam mobil. Lalu Prilly memukul batang leher si Udin agar ia tertidur. Dan berhasil!! Udin langsung tidak sadarkan diri.


" Pri, apa itu tidak keterlaluan" Sakhi merasa kasian kepada Udin.


" Ah sudah! Jangan pikirin dia, Lo berdoa saja semoga kita bis menyusul Ibu dan Kakak kamu " Balas Prilly .


Sakhi mengangguk ragu.


Setibanya di Bandara, Prilly dan Sakhi berlari masuk ke dalam. Sementara Udin nyenyak tidur di dalam mobil.


Kedua gadis itu berpencar untuk mencari Ibu Sakhi , tapi mendadak Sakhi lemas karena dari layar tv yang menunjukkan jadwal keberangkatan pesawat, pesawat jurusan Sumatera sudah berangkat satu jam yang lalu.


Sakhi benar-benar merasa terpuruk, ia terjelopoh ke lantai dengan lemas. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang sudah basah oleh air mata.


" Sa " Seru Prilly dari kejauhan, Sakhi tak perduli. Ia terus saja menangis hingga menjadi pusat perhatian.


" Sa.." Prilly berlari menghampiri Sakhi " Itu Ibu Lo bukan?"


Sakhi tersentak, ia langsung bangun dan berjalan cepat menuju tempat yang ditunjuk oleh Prilly .


" Ibuuu... " Sakhi berlari lebih cepat menghampiri sang Ibu yang tengah memeluk tasnya di ruang tunggu.


" Sakhi " Ibunya sangat tidak percaya jika Sakhi bisa menyusul nya kesini.


" Ibu mau kemana?" Sakhi bersimpuh di hadapan sang Ibu " Kenapa nggak bilang-bilang sama Sakhi ? "


" Ibu mau ikut Syifa ke Sumatera, Syifa nggak mau bawa kamu. Karena kamu seperti menyesal telah membantu Syifa untuk sembuh "


Sakhi tercenung, hatinya sakit sekali mendengar penjelasan sang Ibu. Ia tertunduk sedih.


Prilly yang bisa membaca situasi, ia mengusap pundak Sakhi agar Sakhi bisa kuat dan tegar.


" Baiklah, jika itu keinginan Kak Syifa dan Ibu. Sakhi nggak akan ikut, Sakhi akan tinggal disini. Tapi... Mana Kak Syifa Bu?" Akhirnya setelah berusaha untuk berdamai dengan keadaan, Sakhi pun buka suara.


" Syifa tadi pamit mau ke toilet, tapi sampai sekarang dia nggak balik-balik. Ibu nggak tau ke toilet yang mana Syifa pergi, Ibu mau cari takut Syifa datang dan Ibu nggak ada disini" Jawab Ibu Sakhi dengan pandangan mengedar.


Prilly pun turut memperhatikan ke sekeliling, siapa tahu ia bisa melihat Syifa. Tapi bayangan Syifa saja tidak terlihat dimana-mana.


" Sa, siapa nama lengkap Kakakmu" Prilly bertanya, ia mempunyai rencana untuk tahu apa benar Syifa sudah booking tiket ke Sumatera.


" Syifa tun Najah" jawab Sakhi .


" Ibumu?" Prilly bertanya lebih lanjut.


" Rukmini "


Prilly bergegas pergi menuju tempat penukaran tiket. Sementara Sakhi menunggu dengan tetap duduk bersimpuh di hadapan Ibunya.


Hatinya masih sakit, ia seperti bukan siapa-siapa bagi Ibu dan Kakaknya. Padahal ia sangat menyayangi Syifa dan juga Ibunya.


Melihat Prilly datang, Sakhi menunggu semoga Prilly memberikan kabar yang baik.


" Sa, ikut gue " Prilly mengajak menepi dari Ibunya. Sakhi menuruti kemauan Prilly .


" Gue udah tanya sama petugas, benar ada nama Syifa Tun Najah yang ikut penerbangan pesawat ke Sumatera. Tapi itu udah sejam yang lalu, dan lagi... nggak ada tiket penumpang yang beratas namakan Rukmini"


Sakhi terbelalak mendengar penjelasan Prilly .


" Itu tandanya, Syifa sengaja meninggalkan Ibu Lo disini. Coba Lo tanya uang hasil penjualan tanah dipegang siapa?" Lanjut Prilly .


Sakhi bergegas menghampiri Ibunya.


" Bu, uang hasil penjualan tanah dan rumah nya dimana?" Perasaan Sakhi sudah tak nyaman.


" Ngapain kamu nanya-nanya? Kamu mau minta bagian? Sudah, kamu nggak punya hak atas rumah dan tanah itu. Ibu sudah ngasih semua nya ke Syifa" cetus Ibu Sakhi sengit.


Prilly tepuk jidat, ia geram sekali dengan perempuan tua itu . Sedangkan Sakhi langsung lemas, ia menangis meraung-raung memikirkan nasibnya beserta sang Ibu setelah ini.