SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
ABU TULANG MANUSIA



Udin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar Syifa. Kujang pun tak ketinggalan, ia mengendus dinding kamar Syifa secara keseluruhan.


" Ini teluh " Kujang memberikan petunjuk.


" Dia memakai abu tulang mayat manusia "


" Apa kamu punya cara untuk mengobatinya? " Tanya Udin yang langsung membuat Syifa heran. Tapi Sakhi segera menjelaskan dengan cara berbisik. Syifa pun mengangguk mengerti.


" Susah, tidak mungkin kita kutip semua abu yang sudah menyebar " Jawab Kujang.


" Tapi ada yang bisa melakukan nya " sambung Kujang.


" Siapa ? "


Kujang tersenyum tipis.


" Tapi kau harus bisa merayunya"


Udin menautkan kedua alisnya, ia tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh Kujang.


" Ohya ngomong-ngomong apa karena dia miskin ya? kelas kalian berbeda, toilet nya beda, baret nama di baju kalian pun beda " Kujang tiba-tiba teringat tentang peraturan di sekolah Udin dan Sakhi.


Udin melirik dua gadis yang berdiri berdampingan itu.


" Iya emang nya kenapa?? Menurut ku sih aku nggak apa-apa dibedakan seperti itu, karena sekolah tetap mengijinkan kami untuk mengenyam pendidikan di tempat berkelas . Mereka membuat peraturan seperti itu karena tidak ingin menyudutkan si miskin seperti aku dengan biaya sekolah yang fantastis"


"Yah meskipun kami harus menerima kenyataan bahwa fasilitas yang kami terima biasa-biasa saja. Semua itu menurut standar kemampuan kami membayar iuran sekolah "


" Aku memang orang miskin dari kalangan menengah ke bawah, seperti contoh ini adalah garis kemiskinan ____ Aku bergelayut tuh di bawah garis itu "


Kujang tertawa lepas sampai ia batuk-batuk. Tidak bisa dibayangkan jika Sakhi bergelayutan di bawah garis kemiskinan.


" Sudah sudah, kok malah jadi bahas itu sih ? " Udin menengahi.


" Habis dia lucu, dia bergelantungan di bawah garis kemiskinan. Kayak monyet dong hahahahahahah "


Sakhi merengut kesal.


" Kujang, sudah jangan bahas dia lagi. Cepat katakan padaku, aku harus merayu siapa untuk memusnahkan teluh ini ? " Pinta Udin.


" NYI Blorong "


Sakhi tersentak kaget, NYI Blorong adalah siluman ular. Yang merupakan sosok ratu ular berjenis piton.


" Udin, jangan kamu lakukan itu. Menurut legenda, siapapun yang butuh bantuan NYI Blorong? Jika laki-laki maka harus memuaskan nafsunya" Sakhi melarang Udin untuk merayu siluman ular tersebut.


Udin menatap Kujang, harimau putih itu tersenyum.


" Kau ingin menjebak ku Kujang? "


Kujang menggelengkan kepalanya, ia menampik atas tuduhan si Udin.


" Kau harus pintar mengucapkan kata manis kepada Ratu Blorong, lalu tunjukkan dua jimat milik mu " Kujang memberikan petunjuk.


Udin diam, ia percaya jika Kujang adalah makhluk astral suci dari aliran putih. Jadi tidak mungkin dia berbohong.


" Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi menurut Sakhi, dia melihat genderuwo meludahi tubuh Kakaknya. Jadi kita juga harus membasmi genderuwo itu " Tukas Udin.


" Tidak perlu, jika abu tulang manusia itu sudah sirna. Genderuwo itu tidak akan datang lagi. Karena sebenarnya dia terpanggil oleh abu tulang manusia yang tersebar di kamar ini "


" Kujang, apa kamu tahu siapa yang melakukan semua ini sama Kakakku ? " Sakhi turut bertanya.


" Apa kamu tidak mendapatkan sembarang petunjuk dari semua orang pintar yang kamu datangi ? " Kujang balik bertanya.


" Banyak petunjuk nya, tapi tidak dipastikan siapa pelakunya. Katanya orang terdekat, karena dia bisa meletakkan sesuatu di dalam kamar Kakak ku " Jawab Sakhi.


" Banyak yang mengatakan itu adalah perbuatan mu Sakhi " Tiba-tiba Syifa menimpali.


Sakhi terbelalak kaget.


" Apa maksud mu Kak ? " Sakhi gemetaran mendapatkan tuduhan tersebut.


" Dari awal aku hanya diam saja, semua petunjuk mengarah pada mu. Untung Ayah sudah meninggal sebelum dia tahu hal itu. Kalau tidak?? Mungkin dia akan membu-nuh mu "


Sakhi menggelengkan kepalanya, ia sungguh tidak percaya jika Kakaknya justru mencurigainya.


" Kak, aku... tidak melakukan itu "


" Aku dan Ibu ingin percaya jika itu bukan ulah mu, tapi semua bukti mengarah padamu. Aku kerap kali melihat mu selalu mengintip kamar ku, bukan hanya aku Sakhi. Tapi Ibu juga sering melihat mu " Syifa terus saja mengatakan sesuatu yang semakin menyudutkan Sakhi.


Selama ini Syifa diam karena Sakhi adalah adiknya yang sangat ia sayangi. Ibunya pun meminta agar Syifa memaafkan Sakhi dan berjanji akan berjuang untuk kesembuhan Syifa tanpa harus memutuskan persaudaraan antara kedua anaknya.


Syifa pun menuruti nya, ia selalu diam saja dan terus bersabar serta berharap akan ada orang yang bisa menolongnya.


Entah kenapa, hari ini Syifa sudah tidak tahan lagi. Ia melihat sebuah kemunafikan dari adiknya yang seolah-olah ingin ia sembuh.


Tapi ternyata semua hanyalah sandiwara belaka. Hal itulah yang membuat Syifa muak. Sudah hampir tiga tahun lamanya Syifa menderita dengan semua borok ini . Dan ia juga sudah tidak bisa menikmati kecantikan nya sendiri di depan cermin.


Syifa menilai Sakhi iri padanya, karena dia tidak secantik Syifa. Pernah sekali Syifa memergoki Sakhi bicara dengan tunangan Syifa.


Pada saat itu dari pihak keluarga Syifa belum menceritakan tentang keadaan Syifa yang sebenarnya. Tapi tiba-tiba Syifa melihat sang kekasih pulang begitu saja tanpa mencoba melihat keadaan nya.


Dan selang beberapa hari kemudian, pihak keluarga tunangan Syifa memutuskan hubungan.


" Tidak Kak, itu semua tidak benar. Aku memang sering mengintip mu, tapi aku hanya ingin melihat genderuwo itu. Tidak ada niat yang lain " Sakhi berusaha untuk menjelaskan.


Syifa tersenyum miring, bibirnya yang pecah-pecah ketarik dan mengeluarkan darah.


" Teruslah berbohong Sakhi, tapi jangan salah kan aku jika nanti aku menemukan dukun yang lebih handal dari dukun mu. Aku akan mengembalikan teluh ini Padamu " Kecam Syifa.


Sakhi benar-benar tidak menyangka, jadi selama ini dirinya adalah tersangka yang didiamkan saja di rumah ini.


Pantas Sakhi selalu mendapatkan perlakuan dingin dari Ibunya. Meskipun Ibunya nampak sangat penyayang, tapi sebenarnya ia jarang sekali bicara dengan Sakhi. Tapi Ibu Sakhi akan lebih banyak bercanda dengan Syifa.


" Baiklah Kak, jika memang kamu yakin aku adalah pelaku nya? Maka aku bersumpah, biarlah aku yang mengalami semua yang terjadi padamu Kak "


Syifa tersenyum miring.


" Kalau aku bisa ? Aku tidak akan menunggu sampai hari ini Sakhi. Sudah lah, hentikan semua drama mu. Kalau memang teman mu ini bisa menyembuhkan aku? Aku harap dia melakukannya dengan benar, sehingga aku akan melupakan kesalahan mu"


Udin dan Kujang saling berpandangan satu sama lain.


Mereka tidak bisa memastikan apakah benar Sakhi pelakunya atau bukan.


Tapi apa yang dikatakan Syifa juga tidak salah, karena penaburan abu tulang manusia itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang terdekat.


Yang sudah terbiasa Keluar masuk rumah mereka, terlebih lagi kamar Syifa. Karena disini Kujang menemukan abu tulang manusia itu tersebar dengan rapi dan tidak berantakan.