
Iksan terdiam, ia menatap tajam bayangan kedua orang tuanya di balik jendela. Tiba-tiba sepasang mata itu berkilau kemerahan. Aura kemarahan terpancar kuat.
KRETEK KRETEK
Iksan mentelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Menciptakan bunyi tulang yang dipatahkan. Sudut bibirnya berseringai penuh misteri.
Tiara datang ke rumah sakit dengan sengaja tanpa memberi tahu kedua orang tuanya. Karena jika ia minta ijin, pasti tidak akan diperbolehkan. Secara ini adalah rahasia besar kedua orang tuanya mengenai keadaan Iksan.
Setelah tahu kamar adiknya dari suster penjaga meja resepsionis, Tiara langsung pergi dengan pandangan awas. Pokoknya ia tidak ingin kedatangannya diketahui oleh kedua orang tuanya.
Ternyata nasib baik berpihak kepada Tiara, Ia melihat kamar adiknya di kelas VIP itu sepi. Mungkin Abah dan Ummi nya tengah pergi keluar. Tiara tidak membuang kesempatan ini, ia langsung masuk ke dalam kamar Iksan.
" Hay Iksan " Sapa Tiara, Iksan yang tengah tidur membelakangi pintu langsung berbalik.
" Gimana keadaan kamu dek? " Tiara duduk di kursi tepi bangsal.
" Udah mendingan Mbak " Jawab Iksan, wajahnya memucat, Bibir nya terlihat mengelupas.
" Keadaan mu terlihat parah dek, kamu yakin udah mendingan?" Tiara ingin meyakinkan. Iksan mengangguk yakin.
" Ohya, tadi kedua orang tua Syela datang ke rumah loh. Mereka membatalkan pertunangan mu dengan Syela " Tiara memulai aksinya.
" Yang bener Mbak ?" Iksan nampak terkejut.
" Iya, emang Abah sama Ummi nggak bilang sama kamu ?" Tiara pura-pura tidak tahu, padahal dia yakin kedua orang tuanya tidak akan mungkin bercerita kepada Iksan tentang kondisi nya yang sebenernya.
Iksan menggeleng lemah.
" Kenapa mereka membatalkan pertunangan kami Mbak? Apa alasannya?? " Tanya Iksan.
" Katanya kamu sekarang bukan pria tulen" Dengan tanpa rasa bersalah, Tiara mengatakan yang sebenarnya.
" Emang kamu kenapa si dek? Kok bisa dibilang begitu?? Mbak nggak terima loh kamu dibilang kayak begitu" Tiara memang pintar sekali bersilat lidah.
Iksan diam, ia mengepalkan tangannya dengan kuat.
Tiba-tiba Tiara melihat sesuatu di sudut bibir adiknya. Seperti benang kecil yang bergerak-gerak.
" Apa ini Dek? " Tiara mengambil nya, dan betapa ia terkejut hingga langsung membuang benda yang ternyata adalah ekor cecak yang baru saja putus.
" Hiii " Tiara geli sekali, kok bisa itu ada di mulut adiknya.
Pada saat itu pintu terbuka, dan muncul lah Bu haji Kamil.
" Ummi " Tiara langsung bangkit, ia berhambur ke belakang punggung sang ibu dengan terus bergidik geli.
" Kamu kapan datang Tiara ?" Tanya Bu Haji Kamil.
" Baru saja nyampe Ummi, Ummi... Tiara pulang dulu ya " Tiara Mencium tangan ibunya kemudian berlari keluar secepat yang ia bisa.
" Aneh, baru datang langsung pulang. Kayak ketemu hantu saja " Gerutu Bu Haji tanpa tahu apa yang terjadi.
*
*
Satrio baru saja mendapatkan laporan dari anak buahnya, kalau Pak Haji Kamil menyuruh antek-antek nya untuk membakar warung.
Anak buah Satrio sudah melawan, tapi kalah jumlah.
" Ya sudah biarkan saja, mulai sekarang kita berhenti beroperasi" Tukas Satrio tanpa merasa gundah sama sekali.
" Tapi Bos " Niman ingin membantah, tapi tangan Satrio terangkat sehingga ia langsung diam.
" Aku ingin tobat, kalau kalian ingin lanjut silahkan. Aku capek" Ujar Satrio dengan nada bicara yang pasrah.
Para anak buahnya saling berpandangan satu sama lain, mereka tidak bisa berbuat apa-apa kalau atasan mereka sudah berkata demikian.
Udin tersenyum tipis mendengar ucapan si Bapak. Akhirnya Satrio bisa mempunyai keinginan untuk bertaubat.
Malam semakin larut, udara dingin terasa menusuk tulang. Wati yang tengah terlelap tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbulu meraba perut nya.
Ia langsung terjaga, tapi tidak menemukan apa-apa kecuali sang Ibu yang tidur membelakangi.
" A apa barusan ba bayi ku bergerak??" Wati sangat shock, ia yakin sekali jika umur kandungan nya tidak sampai dua bulan. Tapi kok ???
Pak Haji Kamil meruntuk kesal seraya masuk ke kamar Iksan yang tengah dirawat.
Bu haji yang tertidur langsung bangun ketika menyadari kedatangan sang suami.
" Bah, gimana ?" Tanya Bu Haji Kamil yang ingin tahu apakah rencana suaminya berjalan lancar.
" Kalau masalah warungnya Satrio sudah jadi abu , Mi. Tapi sekarang masalah nya Ki Cokro justru meminta agar Iksan menikah dengan Wati "
Bu Haji terperanjat.
" Kok bisa Bah Ki Cokro menyuruh begitu??"
" Itu yang tidak bisa ku jangka Mi, Apa maksud Ki Cokro menyuruh seperti itu?? "
Iksan yang tidur memunggungi kedua orang tuanya tersenyum devil. Cecak yang baru saja ditangkap nya ia lahap dengan rakus.
"Ikuti saja perintah Ki Cokro Bah " Ucapnya.
Sepasang suami istri itu terperangah mendengar suara anaknya. Ia pikir Iksan sedang tidur.
" Tapi masa kamu mau menikah dengan Wati San? " Tandas Pak Haji Kamil.
"Namanya sudah jodoh, Abah kan mau aku memiliki keturunan? " Balas Iksan dengan posisi tetap memunggungi.
Pak Haji dan istrinya hanya bis geleng-geleng kepala.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Bu.. " Wati menghampiri Siti yang tengah memasak di dapur.
" Iya Wat, Ada apa? " tanya Siti.
" Bu, emangnya kandungan dua bulan bayinya udah bergerak ya Bu ? " tanya Wati penasaran. Siti tertawa renyah mendengar pertanyaan sang anak.
" Ya nggak lah Wat, kamu ini ada-ada saja"
" Tapi semalam bayiku bergerak Bu " Wati sangat yakin sekali.
" Kamu mimpi kali " Siti tetap tidak percaya, karena itu sangat mustahil.
" Serius Bu " Wati berusaha meyakinkan sang Ibu agar percaya perkataan nya.
Udin yang mendengar percakapan itu langsung mendekati Wati . Ia memegang perut Kakaknya itu.
" Kamu merasakan nya juga kan Din ? " Tanya Wati. Udin menggeleng, Siti jadi tersenyum sendiri. Ia yakin Wati hanya bermimpi saja.
" Dia takut menunjuk kan dirinya padaku Mbak "
Wati menautkan kedua alisnya, begitu juga dengan Siti.
" Apa maksud mu Din ? "Tanya Siti.
" Ternyata yang menghamili Mbak Wati bukan anak kiai itu. Melainkan orang lain" Jawab Udin yang masih berteka-teki.
" Siapa Din? " Siti mendekat ia ingin tahu lebih jelas.
Udin tidak langsung menjawab, ia menatap Wati hingga Wati sendiri takut dengan pancaran mata si Udin.
" Mbak harus percaya padaku, Mbak jangan menikah dengan siapapun selama anak itu belum lahir"
Wati termangu, ia tidak tahu harus menjawab apa.
Di rumah sakit, Iksan sudah diizinkan pulang. Dokter yang memeriksa Iksan mengatakan jika dia sudah baik-baik Saja. Malah sangat baik sekali. Alat reproduksi Iksan pun telah kembali normal. Ini sesuatu yang sangat luar biasa.
Pak Haji Kamil bersorak gembira, ia berkali-kali memeluk Iksan karena terlalu senang.
Tapi lain halnya dengan sikap Iksan, Ekspresi nya datar saja. Tanpa senyum ataupun sedih.
" Persiapkan acara pernikahan ku dengan Wati Bah " Ujarnya sembari melangkah pergi.