SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
BOLA INTI KEHIDUPAN TELAH KEMBALI



Malam merambat sunyi nan indah, Cahaya menyiapkan teh jahe untuk suami dan anaknya. Senyum tak pernah lekang dari bibir nya yang manis. Penantian nya selama bertahun-tahun kini berakhir sudah. Mereka berkumpul layaknya keluarga yang sempurna .


Tapi sayangnya, Udin masih belum mengetahui siapa pasutri ini.


" Terimakasih Bi " Ucap Udin saat ia menerima teh jahe original dari hutan.


" Sama-sama" jawab Cahaya, mereka duduk bertiga mengelilingi api unggun. Tanpa ada yang bicara banyak.


Cahaya dan Pangeran As'ad masih gugup didepan anaknya, mereka bingung mencari topik pembicaraan.


Sedangkan Udin tidak jauh berbeda, sifat pendiam nya semakin menambah kecanggungan diantara mereka.


" St St " Hanya Kujang yang jenuh dengan keheningan ini. Apalagi malam-malam begini? Semakin bosan lah dia.


Udin melirik ke arah Kujang.


" Ngobrol dong" Bisik harimau putih itu.


" Ngobrol apa? " Udin pun turut bicara dengan nada rendah.


" Apa kek? Jangan diam begini, entar semua kesampuk setan bisa kesurupan berjamaah" Celutuk Kujang.


Udin berpikir keras, ia mencari-cari topik yang bisa memecah keheningan.


" Paman.. Bibi..."


" Iya " Cahaya dan Pangeran As'ad menjawab hampir bersamaan.


" Emm boleh Udin cerita"


" Boleh, cerita saja " jawab Pangeran As'ad .


" Cerita lah yang banyak nak, kami selama ini sangat kesepian" Cahaya menambahkan.


Udin tersenyum, ia mulai bersiap untuk berceloteh.


" Udin dulu pernah ketemu insiden kecelakaan di jalan raya saat pulang sekolah"


Cahaya dan Pangeran As'ad menyimak dengan baik cerita yang akan disampaikan oleh Udin.


" Orang-orang pada berkerumun baaaaanyak sekali. Sampek Udin mau liat si korban itu susah banget, nggak bisa. Mereka pada berdesakan pengen liat juga "


Pangeran As'ad manggut-manggut sangat serius mendengarkan, Cahaya sampai bertopang dagu dan Kujang meringkuk di samping Udin.


" Terus Udin punya ide, Udin ngaku sebagai saudara korban. Udin bilang gini, Eh itu adik saya Mas permisi itu adek saya... dan rencana itu berhasil, mereka satu persatu memberikan Udin jalan untuk melihat korban"


" Eh ternyata yang ketabrak monyet 🐒🐒"


Hahahhahahahhahaa


Sontak Pangeran As'ad , Cahaya dan Kujang tertawa terpingkal-pingkal.


" Jadi kamu ngaku saudara an sama monyet?" Tanggap Cahaya yang semakin membuat tawa menjadi riuh, Udin mengangguk mimik wajahnya manyun menambah kesan lucu.


" Kau ada-ada saja Nak nak " Pangeran As'ad membelai lembut kepala Udin sambil sesekali masih tertawa lepas.


Lucy rupanya sudah hadir diantara mereka tanpa disadari. Rohnya masuk ke dalam gubuk tempat tinggal Cahaya.


Lalu ia memanggil anak angkatnya melalui suara batin.


" Caaaaa "


Cahaya tersentak, tawanya langsung lenyap. Ia menoleh ke sekeliling.


" Ada apa sayang? " Tanya Pangeran As'ad . Udin pun turut penasaran apa yang dicari oleh Bibik .


Cahaya melihat gubuknya bersinar seperti ada lentera besar di dalamnya.


" Ibu datang, kalian tunggu disini. Aku akan menemui Ibu terlebih dahulu" Cahaya langsung beranjak menaiki tangga bambu tanpa menunggu jawaban dari yang lain.


" Ibu... " Begitu pintu terbuka, ia melihat perempuan yang sudah membesarkan nya itu berdiri di samping perbaringan.


Cahaya menghaturkan sembah dengan bersujud mencium lantai.


" Bangunlah Nak " Pinta Lucy seraya mengulurkan tangannya. Cahaya patuh, ia bangkit begitu takzim.


" Apa ini Bu? " tanya Cahaya heran.


" Ini adalah bola inti kehidupan milik Ibu kandung mu. Sebab kekuatan inilah kamu bisa mengendalikan topeng itu, jadi berikanlah ini kepada anakmu "


Mata Cahaya membulat sempurna.


" Ta tapi,,, Bukankah bola inti kehidupan ada dalam tubuh Pangeran Arif?"


Lucy mengiyakan.


" Pangeran Arif sudah menyerahkan sejak lama pada Ayah dan adikmu. Ia merasa tidak pantas untuk anugerah ini, hingga akhirnya Pangeran Arif meninggal di depan Ayah dan adik mu. Aku tahu karena roh Ibumu mendatangi ku, maka aku pun datang untuk menyimpan nya yang kelak pasti kau butuhkan "


Cahaya tersenyum haru, tak disangka rupanya bola inti kehidupan yang dimiliki oleh Ibu kandungnya amat sangat berguna.


" Berikanlah kepada anak mu " Sambung Lucy setelah Cahaya menerima bola bercahaya kebiruan itu.


Udin terpegun, meskipun tubuhnya duduk bersama Pangeran As'ad . Tapi ia diam-diam mengirim dua jimat nya untuk menjadi penghubung suara. Sehingga ia bisa mendengar semua yang dibicarakan di dalam gubuk itu.


Kini Udin tahu kenapa Kujang seperti tahu tentang dirinya? Kenapa NYI Blorong sangat mengenal dua jimat nya ? Jadi kedua orang tua Udin adalah pasangan suami istri yang kini berada di sisinya.


Cahaya berjalan setengah berlari karena tidak sabar untuk memberikan bola inti kehidupan kepada Udin. Ia disambut oleh suaminya dengan senyuman.


Melihat riak wajah sang istri yang sangat bahagia, Pangeran As'ad tahu jika ini kabar baik.


" Nak... Alhamdulillah, kau bisa menggunakan topeng itu tanpa harus khawatir energi kehidupan mu terhisap" Cahaya berucap syukur dengan penuh semangat.


Namun Udin diam tanpa ekspresi, ia tatap wanita yang masih berpura-pura tidak mengenal nya.


" Alhamdulillah... "Pangeran As'ad mengusap wajah nya penuh sukacita.


Mendadak senyuman kebahagiaan mereka sirna begitu menyadari Ekspresi wajah sang anak.


" Kenapa Nak? Apa kamu tidak suka? Bukankah ini yang kamu inginkan? " Ujar Cahaya.


Udin tidak menjawab, ia teringat kisah penjaga topeng yang harus kehilangan semua anaknya kecuali yang ketujuh. Apakah dirinya adalah anak yang diceritakan oleh Kujang?? Kenapa saat itu Kujang tidak mengatakan yang sebenarnya??


" Nak " Pangeran As'ad menyentuh pundak Udin, Udin tersentak kaget.


" Apa yang kamu pikirkan?? " Tanya Pangeran As'ad .


Udin tertunduk, tangan nya menengadah, perlahan dua jimat miliknya melayang hinggap perlahan ke telapak tangan si Udin.


Udin mengangkat nya lalu ia sodorkan kehadapan Cahaya.


" Bibi pasti mengenal dua benda ini bukan??"


Pupil mata Cahaya membesar, dadanya bergemuruh , degup jantungnya berdetak lebih kencang.


" Kenapa harus berpura-pura tidak mengenal ku?? Pantas... saat ku panggil Ibu, Bibi yang datang menolong ku "


Dada Cahaya naik turun, nafas nya berpacu cepat. Secara refleks ia langsung memeluk Udin dengan erat.


Cahaya tidak bisa mengatakan apapun lagi, ia hanya menangis menciumi rambut Udin. Begitu pula dengan Pangeran As'ad . Ia memeluk anak istrinya serta merta.


Ketiganya larut dalam tangisan penuh kebahagiaan. Disini Udin menangis seperti anak kecil. Ia meraung-raung sembari memanggil Ayah dan Ibu.


Kujang tertunduk, ia menyembunyikan tangisan harunya dari siapapun. Baru kali ini hewan astral itu meneteskan air mata.


Sungguh mengharukan....


Setelah suasana kembali tenang, Cahaya melanjutkan ritual memberikan bola inti kehidupan kepada putra nya.


Bola itu ia tiupkan ke dalam mulut Udin lalu masuk ke dalam tubuh anak itu.


Kepala Udin terangkat, matanya membeliak lebar. Sebuah kekuatan besar yang masuk seperti melepaskan segel-segel kekuatan nya.


Cahaya juga meminta Udin untuk mencoba memakai topeng legendaris. Namun sekali lagi Cahaya mewanti-wanti, bahwa Udin hanya meminjam nya .


" Kau tidak boleh berkeinginan untuk menguasai benda ini, karena Ibu sudah mengatakan bahwa Ibu tidak akan mewariskan nya padamu "


Udin mengangguk mengerti. Ia menerima topeng hitam yang terbuat dari kayu juwet. Lalu Udin pun memakai nya, seluruh tubuh Udin bagai tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Dari tangan kanannya tiba-tiba keluar pedang samurai panjang.


Inilah untuk pertama kalinya topeng legendaris dipakai oleh seorang pria. Cahaya tersenyum kagum melihat anaknya terlihat sangat gagah perkasa.