SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
PILIHAN YANG SULIT



Ujian kenaikan kelas sudah tiba, Prilly sedikit khawatir dengan Udin. Takut dia ketinggalan kelas karena Udin tidak memiliki latar belakang pendidikan yang mencukupi.


Oleh sebab itu, setiap pulang sekolah Prilly menjadi guru les privat untuk si Udin. Dia mengajari Udin semua mata pelajaran di kelas tujuh Mengikuti jadwal ujian yang akan dihadapi.


Alhasil, Udin bisa masuk peringkat sepuluh besar . Prilly sangat bahagia sekali, usahanya tidak lah sia-sia.


Udin sangat puas dengan hasil yang didapat. Ia berhasil membuat Latuluna bangga sekali padanya.


Kini tinggal pertandingan olimpiade tingkat provinsi. Prilly berlatih keras untuk bisa membawa pulang trofi kemenangan untuk kota-nya.


Singkat cerita, perjuangan Prilly hanya bisa menyabet juara kedua. Ia sedikit kecewa, namun pelukan hangat dari Udin mengobati segala nya.


Pelukan yang tulus serta hangat, Sakhi pun memberikan ucapan selamat untuk Prilly . Ia yang gagal di semifinal merasa bangga dengan prestasi Prilly .


Sementara juara pertama diraih oleh sebuah sekolah swasta. Seorang gadis yang memiliki tatapan mata yang sangat tajam.


Ia nampak marah melihat Udin, seolah-olah menyimpan dendam yang lama. Tapi ia justru bergerak cepat menyelinap dalam keramaian, seolah-olah takut Udin menyadari kehadiran nya.


Sebenarnya Udin sudah melihat nya sejak pertandingan atlit renang itu dimulai. Ia menyadari jika Prilly tidak akan memenangkan pertandingan tersebut. Karena yang Prilly hadapi bukan manusia biasa.


Usai pertandingan Udin dan Prilly beserta Latuluna pulang dengan menaiki mobil yang sama. Sedangkan Sakhi nebeng bersama Nuri.


Karena jarak rumah Udin lebih dekat, jadi supir yang mengemudikan mobil mengantar Udin terlebih dahulu ke rumah nya. Lalu mereka lanjut pulang ke rumah.


" Pri.. " Latuluna memanggil sang anak. Prilly menoleh mengesampingkan ponselnya terlebih dahulu.


" Iya Ma "


" Em ada yang Mama pengen sampai kan sama kamu "


Prilly menautkan kedua alisnya, perasaannya tiba-tiba nggak enak . Ia merasa apa yang akan disampaikan oleh sang Mama bukanlah hal yang baik.


" Ua meminta kita untuk tinggal di Kalimantan, karena tidak ada yang melanjutkan bisnis sawit di sana "


Ua( Bibi) Adalah sepupu bungsu Danuarta, Kakek Prilly .


" Maksud Mama, kita akan pindah ke Kalimantan?" Prilly ingin penjelasan yang lebih simpel dan dimengerti, Latuluna mengangguk ragu.


" Terus sekolah Prilly gimana? " Sebenarnya bukan sekolah yang ia khawatirkan, melainkan Udin belahan jiwanya.


" Disana jauh lebih baik " Latuluna menjawab yakin.


" Ya nggak gitu dong Ma, ah Prilly nggak mau " Prilly menekuk wajahnya, air matanya lolos begitu saja.


" Mau gimana lagi, kasihan para pekerja kalau bisnis sawit nggak bisa jalan " Latuluna berusaha memberikan pengertian kepada Prilly .


" Papa kan udah nggak ada, biasanya Papa yang mengurus bisnis itu"


" Terus bisnis yang disini gimana? Rumah, Restoran ? Siapa yang ngurus?" Prilly mengajukan pertimbangan dengan keadaan yang sama.


" Udah jual aja deh Ma kebun sawit nya kalau nggak ada yang ngurus" dengan senang nya Prilly memberikan solusi.


"Iya nggak bisa gitu dong Sayang, Mama tidak punya hak karena kebun sawit itu bukan sepenuhnya milik Mama. Tapi ada sebagian milik saudara-saudara sepupuan dari kakek " Bantah Latuluna.


" Terus Mama mau jual rumah-rumah yang di sini beserta restorannya? gitu maksud Mama?"


"Ya nggak juga, Biar nanti Om Dedi yang mengurus semuanya. Mama percaya sama Om Dedi " jawab Latuluna.


Prilly membuang muka, ia melipat tangan di dada dengan perasaan kesal.


Setibanya di rumah, Prilly langsung keluar dari dalam mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.


Latuluna hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Prilly yang kekanak-kanakan.


" Lebih baik Nyonya minta bantuan Udin untuk membujuk Nona. Karena hanya dia yang bisa membuat Nona melunak" Supir pribadi Latuluna memberikan solusi.


" Terimakasih Pak " Latuluna tersenyum senang, karena ide dari supirnya itu benar.


Udin terdiam untuk beberapa saat, entah kenapa? Permintaan wanita yang sudah banyak membantunya itu seperti berat sekali.


" Din " Latuluna memanggil Udin karena tak mendengar suara Udin di seberang.


" Iya Tante " Jawab Udin setelah ia menarik nafas dalam-dalam.


" Aku pikir kamu kemana, karena nggak ada suara nya " Tukas Latuluna.


" Masih disini kok Tante" Jelas Udin.


" Gimana, kamu mau kan bujuk Prilly ?" Latuluna ingin mendengar kesanggupan Udin.


" Akan saya usahakan Tante " Tidak ada yang bisa Udin jawab selain kalimat itu.


" Terimakasih ya Din... "


TOK TOK TOK TOK


Latuluna tersentak mendengar ada orang yang mengetuk pintu dengan tekanan cepat.


" Ya udah Din, Tante tutup dulu ya telfonnya" Terpaksa Latuluna mengakhiri obrolan nya dengan Udin.


" Baik Tante"


Tanpa mengucapkan salam, Latuluna sudah menekan tombol merah lalu meletakkan ponsel nya di pangkuan nya.


Ia menekan tombol kursi rodanya agar berjalan sendiri menuju pintu kamar.


" Ada apa Bik?" Tanya Latuluna saat pintu sudah terbuka.


" Maaf Nyonya, anu.. Anu.. Nona Prilly pergi Nyonya, bawa mobilnya. Nona kayak sambil nangis gitu " Sang Bibik melaporkan apa yang baru saja terjadi.


Latuluna terdiam, ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


" Ya udah terima kasih Bik " Ucapnya kemudian.


" Apa kita tidak perlu menyusul nya Nyonya?" Bibik nampak sangat khawatir dengan anak majikannya itu.


" Tidak perlu, aku akan meminta Udin untuk mencarinya" Latuluna sangat begitu mempercayai Udin. Ia kembali menutup pintu kamar nya lalu menghubungi Udin.


Latuluna memberi tahu Udin mengenai kaburnya Prilly . Udin sendiri langsung punya filing kalau Prilly pasti akan menemui nya.


Dan benar saja, belum lama Udin menyudahi obrolannya dengan Latuluna di telfon. Prilly sudah datang.


Udin yang sengaja duduk di teras rumah, langsung mendapatkan pelukan dari Prilly yang disertai isak tangis.


Udin tidak mengatakan apapun, ia hanya membalas pelukan Prilly sambil lalu membelai lembut punggung gadis itu.


Prilly semakin menangis sejadi-jadinya, hingga beberapa saat kemudian, setelah ia mulai tenang, Udin mengajak Prilly untuk duduk di teras tanpa alas.


Keduanya terdiam, tanpa ada yang mengawali percakapan. Otak mereka dipenuhi dengan pikiran masing-masing yang mungkin tidak jauh berbeda.


" Mama kamu barusan nelfon aku" Udin akhirnya yang bicara lebih dulu.


Prilly mendongak, jadi Mamanya sudah tahu jika ia akan datang menemui Udin.


" Aku nggak bisa ngomong apa-apa, hanya saja... Meskipun..... kita berjauhan... Bukan berarti.... kita tidak... bisa berhubungan" Udin mengucapkan satu perkata dengan penuh penekanan. Karena suaranya seperti tercekat di tenggorokan.


Prilly tertunduk, ia menangis kembali. Tapi kali ini hanya terdengar sesenggukan nya saja.


Udin menyodorkan ponsel nya, Prilly tidak mengerti kenapa Udin melakukan itu?


" Ada ini, selama ada ini... kita bisa saling ngasih kabar"


Prilly menggeleng lemah, bukan itu yang dia inginkan. Prilly ingin ia dan Udin selamanya bersama tanpa harus berjauhan.