SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
PERPISAHAN



Pagi-pagi sekali Sakhi pergi ke rumah Prilly dengan alasan ingin joging bersama.


Karena sejak hari ini sekolah sudah mulai liburan panjang kenaikan kelas.


Tapi kata supir nya, Prilly tidak ada di rumah. Katanya kemungkinan ada di rumah Udin.


DEGH


Perasaan Sakhi mulai tak nyaman. Ini masih jam Enam pagi, kok Prilly sudah ada di rumah Udin. Apa dia nginep di rumah Udin ?


Rasa cemburu menguasai jiwa Sakhi , ditambah lagi hasutan-hasutan iblis yang dikirim kan oleh Nyai Roro Demit ke dalam hati si Sakhi .


Akhirnya Sakhi memutuskan untuk pergi ke rumah Udin dengan menaiki ojek. Ia berhenti di depan sebuah rumah yang berjarak beberapa bangunan dari tempat tinggal Udin.


Dari sana Sakhi berjalan kaki, perasaannya semakin tidak menentu. Bayang-bayang Prilly bermesraan dengan Udin bagai sembilu yang menyayat hati.


Dan benar saja, dari kejauhan Sakhi melihat Prilly dan Udin tengah bercanda di dapur. Kebetulan jendela di dapur akan dibuka lebar oleh Udin agar asapnya tidak memenuhi ruangan.


Kedua insan itu nampak sangat bahagia sekali, saling mencipratkan tepung, berlari-larian, begitu tertangkap Udin memeluk Prilly dari belakang.


Sakhi membuang muka, ia tidak tahan lagi menyaksikan mereka berdua. Dadanya sakit dan terasa sesak. Tubuhnya menyender ke dinding rumah tetangga. Tangannya meremas dadanya sendiri. Sungguh sangat sakit sekali.


Kenapa? Kenapa perasaan nya semakin tidak terkontrol begini.


Nyai Roro Demit tersenyum licik dari jarak aman. Ia yakin akan berhasil menjadikan Sakhi sebagai senjata untuk membalas dendam nya kepada Udin.


Apalagi disini Sakhi memang memiliki perasaan terhadap Udin, jadi semakin mudah lah pekerjaan nya.


Nyai Roro Demit yang merasa keberadaan nya sudah cukup aman dan tidak akan terdeteksi oleh Udin. Itu salah!! Udin serta merta melepaskan pelukannya karena merasakan kehadiran yang tidak asing. Sama persis ketika saat ia menjadi penonton diwaktu pertandingan lomba renang.


" Ada apa Din ?" Tanya Prilly heran melihat perubahan Udin yang tiba-tiba.


Udin tidak menjawab, ia gegas keluar dari dalam rumah nya. Tubuhnya mematung saat melihat Sakhi berdiri tak jauh dari rumah nya tengah menyender di dinding, ia terlihat kesakitan sekali.


" Sakhi " Pekik Prilly, ia langsung berhambur mendekati gadis itu.


Sakhi gelagapan, ia tidak menyangka jika Prilly akan menemukan nya.


" Lo kenapa?? Lo baik-baik saja kan ?" Prilly memperhatikan Sakhi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia takut Sakhi terluka atau apalah.


" Em, gue gue baik-baik saja" Sakhi menjawab gugup.


" Tapi tadi gue lihat Lo seperti kesakitan " Ujar Prilly .


Udin memperhatikan ke sekeliling, hawa itu sudah menghilang. Yaps!! Nyai Roro Demit langsung kabur begitu tahu Udin keluar rumah.


" Ah tidak kok" Sakhi berdalih, ia tidak ingin apa yang ia rasakan diketahui oleh Udin apalagi si Prilly .


" Bagus lah kalau begitu , btw Lo mau kemana? " Lanjut Prilly ingin tahu tujuan kedatangan Sakhi .


" Gue, gue nyari Lo ke rumah. Katanya Lo nggak ada, eh ternyata ada disini" Jawab Sakhi sedikit jujur.


" Ah iya, ya udah yuk masuk " Ajak Prilly , Sakhi mengangguk setuju. Ia pun mengikuti Prilly masuk ke dalam rumah Udin.


" Kamu yakin baik-baik saja Sa? " Udin bertanya, karena ia yakin perasaan nya tidak pernah salah. Pasti ada sesuatu yang hadir tidak jauh dari mereka.


Udin mengira takut nya makhluk itu menyerang Sakhi , sehingga membuat Sakhi kesakitan.


Sakhi hanya menjawab dengan anggukan kepala, ia cukup senang karena Udin masih memperhatikan dirinya.


" Pri, Lo nginep disini? " Sakhi tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Prilly tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Pipinya merona kemerahan.


" Kalian tidur berdua?" Sakhi semakin merasa dadanya terhimpit batu besar.


" Ya nggak lah Sa, apa-apaan sih Lo nanyak begituan" Prilly jadi malu sendiri.


" Aku tidur di luar " Udin bantu menjawab, agar Sakhi tidak salah paham.


" Kita masih kecil loh Sa, jangan mikir yang aneh-aneh" Timpal Prilly agak kesal.


" Ya bukan gitu Pri, gue takut kalian sampai kebablasan " Sakhi membenarkan diri.


" Prilly mau pindah, jadi dia nginep disini " Udin menjelaskan agar lebih mudah dimengerti oleh Sakhi .


" Hah ?" Sakhi terkejut, jadi benar kata wanita bersanggul itu. Prilly akan pergi, tanpa sengaja Sakhi menarik kedua sisi bibirnya hingga melengkung samar.


" Pindah kemana Pri ?" Sakhi pura-pura terkejut mendengar nya.


" Ke tempat kelahiran Opu, sebenarnya gue nggak mau. Tapi cuma gue keturunan asli dari Opu " Prilly menjawab.


Opu?? Jangan-jangan karena sebab itulah Prilly adalah keturunan darah dewa, Pikir Sakhi .


" Jadi Lo akan pergi" Sakhi ingin memastikan kembali bahwa Prilly benar-benar akan menjauh dari kehidupan Udin.


Prilly mengangguk seraya menundukkan wajahnya, Udin datang memeluk bahu Prilly begitu hangat.


" Jangan nangis lagi " Udin berusaha menenangkan Prilly , tapi gadis itu justru semakin sesenggukan.


Sakhi bangkit, ia juga memeluk Prilly dengan erat. Tanpa sengaja tangan Udin pun ikut terengkuh oleh Sakhi . Tapi Udin menarik tangan nya cepat, seolah-olah tidak ingin bersentuhan dengan Sakhi .


Kembali Sakhi merasakan hatinya sakit, kenapa kalau dengan dirinya Udin justru menjaga jarak? Tapi dengan Prilly , ia begitu hangat.


Hari keberangkatan Prilly ke Kalimantan sudah tiba. Udin dan Sakhi ikut mengantar ke Bandara.


" Jaga diri baik-baik ya Pri, jangan lupa hubungi gue" Ucap Sakhi saat mereka akan berpisah, Prilly mengangguk.


" Ma, tolong biarkan Sakhi tetap tinggal di rumah itu ya. Kalau boleh juga tolong bantu biaya sekolah dia agar naik ke baret merah" pinta Prilly kepada sang Ibu.


Latuluna mengiyakan.


" Nggak usah gitu Pri, Lo udah banyak bantu gue " Sakhi sebenarnya hanya berpura-pura menolak, ia justru sangat senang jika pindah ke baret merah. Jadi ia akan semakin dekat dengan Udin.


" Nggak apa-apa Sa " balas Prilly tersenyum tulus.


Kini giliran ia mengucapkan perpisahan kepada Udin. Namun keduanya hanya diam dan saling bertatapan.


Udin meraih tangan Prilly , digenggamnya dua tangan itu dengan erat. Udin memang tidak pandai berkata-kata manis, tapi dari sikap nya bisa terlihat jika dia tidak ingin berjauhan dengan Prilly .


" Jangan nakal " Ucap Prilly , kedua bola matanya mulai berkaca-kaca. Udin hanya menggeleng lemah.


" Lo tenang aja Pri, gue akan jaga Udin buat Lo " Celutuk Sakhi .


" Justru gue nggak bisa percaya sama Lo Sa, gue tahu Lo suka sama Udin " Tukas Prilly tanpa basa-basi.


" Sayang, ayo cepat " Latuluna memperingatkan, karena waktu penerbangan sudah tinggal sepuluh menit lagi.


" Aku pergi Din "


Udin tak menjawab, ia lebih erat lagi menggenggam tangan Prilly .


" Ayo sayang" Latuluna kembali mendesak, akhirnya Prilly menepis tangan Udin lalu berlari masuk ke dalam. Ia berlari jauh dan semakin jauh tanpa menoleh lagi.


Udin hanya mampu menatap punggung gadis itu yang semakin menghilang diantara keramaian.


Sakhi mendekati Udin, ia mengusap pundak pria itu dengan lembut.


" Sabar Din " Ucap Sakhi .


Udin tak menjawab, ia berbalik dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sakhi mengejar dan berusaha mensejajari langkah Udin.


" Din kamu mau kemana? Kita naik mobil nya Prilly aja. Kan udah ditunggu sama supir nya "


" Kamu pulang aja naik mobil, aku masih ada perlu " Jawab Udin seraya berlari cepat meninggalkan Sakhi .


Gadis itu tidak mampu mengejar Udin, akhirnya ia diam dengan rasa kecewa.