SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
AKHIRNYA...



Tidak dapat menerima kekalahan dengan mudah, Makhluk hitam itu duduk bersila. Ia tidak ingin main-main, ia ingin secepatnya menghabisi dua musuh barunya.


Udin dan Kujang menunggu apa yang akan dilakukan makhluk tersebut. Tak disangka tiba-tiba dari balik celah lantai papan kayu muncul akar pohon yang membelit kedua kaki Si Udin.


Kujang melompat kaget, namun ia kalah gesit. Ke empat kakinya pun terbelit akar pohon yang tidak tahu dari mana datangnya.


Semakin mereka bergerak, semakin kuat lilitan akar pohon tersebut.


Melati, Ibunya, dan Anwar pun tak ketinggalan. Hanya Surti saja yang tidak diapa-apakan. Bayi Melati terlepas dari pelukan sang Nenek. Ia melayang mendekati Makhluk hitam bertanduk itu.


" Anakku " Seru Melati, Ibunya sudah berusaha untuk meraih cucu nya. Namun akar pohon itu melilit seluruh tubuh sang Nenek hingga masuk ke dalam rongga mulut nya.


HAHAHAHAHAHAHAHAHA


Surti tertawa lepas, meskipun matanya masih belum bisa melihat. Tapi segala suara yang didengarnya seperti memberi tahu jika semua musuh nya sedang tidak baik-baik saja.


" Mana perempuan tua itu, kenapa dia tidak terdengar suaranya?? Apa dia sudah mati ?" Surti menajamkan pendengarannya.


" Belum, aku hanya menyumpal mulut nya " Jawab makhluk tersebut.


" Bagus, jangan dulu kau bun-uh dia... Aku masih ingin mendengar teriakkan kesakitan dari mulutnya" Tukas Surti penuh kemenangan.


" Lalu pria ini mau kau apakan? Dia sudah mau mati... bau darah nya sangat menggoda rasa lapar ku hehehehehe " Makhluk itu berseringai, menunjukkan sederet giginya yang runcing.


" Dia sudah tidak berguna, makan saja dia " jawaban Surti membuat Melati terhenyak, ia berontak.


" Apa-apaan kau Surti!! Kenapa kau begitu kejam ?" Teriak Melati, akar pohon yang melilit tubuhnya semakin erat saja. Karena ia baru saja melahirkan, darah yang keluar dari jalan peranakan membuat akar pohon itu semakin besar.


Ujung nya merambat mendekati bagian bawah perut Melati, dan terus merambat memasuki pintu rahim.


Melati meringis kesakitan, ia merintih karena merasa ada sesuatu yang menghisap kuat dibagian bawah perutnya.


" To long " suara Melati hampir tidak terdengar.


Udin berusaha sekuat tenaga, tapi akar pohon itu juga melawan balik lebih kuat dari tenaga si Udin.


Kekuatan dua jimat nya pun tidak maksimal, untuk kesekian kalinya Udin merasa tidak berdaya. Dulu saat Wati dibantai beserta keluarganya yang lain, Udin pun tidak berdaya.


Anak itu tertunduk, ia menangis. Tanpa terasa ia menyebut satu nama.


" IBU.... "


WUUUZZZZZZ


Tiba-tiba angin kencang berhembus memporak-porandakan dinding rumah yang terbuat dari papan kayu.


Udin terkesiap kaget, Kujang yang terpaksa memicingkan matanya karena diterpa angin kencang melihat sosok yang sangat dikenalnya.


Sosok wanita melayang mendekat, wajahnya memakai topeng dengan pedang samurai di tangan nya.


Makhluk yang semula penuh jumawa kini berubah tegang. Ia terbelalak ketakutan melihat siapa yang datang.


Udin terpana melihat perempuan bertopeng itu, dengan menggunakan gaun berwarna putih yang diterpa angin. Kakinya menapak setangkai daun kering, di tangan nya terdapat pedang panjang berkilau. Meskipun topeng yang digunakan sangat menyeramkan, namun penampilan secara keseluruhan begitu mengagumkan.


Perempuan itu mementik jemarinya, para manusia biasa langsung terkulai lemas tak berdaya kecuali Surti. Karena Surti sudah tidak bisa melihat, jadi dia tidak akan melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat.


Bayi yang sudah berada dalam genggaman Makhluk hitam itu dituding oleh si Perempuan bertopeng. Kemudi bayi tersebut melayang mendekat.


Makhluk bertanduk tidak bisa melawan, ia masih ingin hidup. Ia tidak ingin berbuat bodoh seperti rekan-rekannya yang binasa karena Perempuan satu ini.


" Lepaskan mereka" Seru perempuan itu setelah merangkul si bayi dalam gendongannya.


" Ta tapi.. "


Perempuan itu mengangkat pedang nya hanya menggunakan satu tangan, makhluk itu langsung menundukkan kepalanya.


Perlahan tubuh Udin mulai terlepas dari akar pohon itu, begitu juga dengan Kujang, Melati ,Nenek , dan Anwar yang sudah meregang nyawa.


Perempuan itu melirik Surti, akar pohon yang berasal dari tubuh makhluk hitam itu bergerak melilit tubuh Surti.


Surti yang tak dapat menghindar terkejut, kenapa dirinya yang diserang? Bukankah dia adalah orang yang akan memberi makan makhluk kiriman Ki Kusumo.


Surti tidak tahu jika akar itu kini dalam pengaruh pikiran perempuan bertopeng. Dan bukan lagi dalam kendali makhluk peliharaan Ki Kusumo.


Perempuan itu mentelengkan kepalanya ke kanan, dan akar itu pun mematahkan leher Surti ke kanan. Akhirnya Surti tewas seketika.


" Makanlah wanita itu jika kau lapar, lalu tinggal kan tempat ini segera" Perempuan itu memberikan perintah tanpa dibantah oleh Makhluk tersebut.


Ia benar-benar menyantap Surti lalu pergi dari tempat tersebut.


Seperginya makhluk itu, perempuan yang masih melayang di udara dengan menapak setangkai daun kering, menatap Udin lama sekali. Tidak ada yang tahu bagaimana ekspresi wajahnya, karena ia memakai topeng.


Setelah sesaat kemudian ia melayang turun lalu menyerahkan bayi itu kepada Udin.


Udin pun menerima nya, kedua tangannya masih kaku untuk menggendong bayi mungil itu.


Perempuan itu mengusap pipi Udin, lalu melesat pergi secepat cahaya.


Udin termangu, kenapa ia merasakan usapan tangan wanita itu begitu hangat? Hingga mampu membuat jantung nya berdetak lebih cepat.


Kujang yang diam-diam meneteskan air mata, segera mengesat ujung matanya. Ia mendekati Udin .


" Kau lihat sekarang ?"


Udin langsung tersadar dari pikiran nya yang menerawang.


" Lihat apa ? " Ia tidak mengerti apa maksud dari ucapan si Kujang.


" Itulah topeng legendaris yang kau cari"


Pupil mata Udin melebar, ia sungguh tidak percaya. Jadi semua yang dikatakan oleh Kujang itu sangat lah luar biasa.


Makhluk hitam tadi langsung tunduk dan sangat takut saat perempuan itu mengangkat pedang nya.


SAMPAI SEHEBAT ITU KAH ?


" Jadi kita sudah dekat Jang ?" Tanya Udin.


Kujang menjawab dengan anggukan kepala. Udin tersenyum tipis, ia sudah tidak sabar untuk menggunakan topeng itu. Akan dibabatnya habis semua Iblis jahat yang ada di muka bumi ini.


" Ayo Jang kita harus cepat" Ujar Udin penuh semangat.


" Sabar Din, kau harus selesaikan dulu semua masalah disini. Termasuk membantu menguburkan jenazah Anwar " Kujang memberikan himbauan.


Udin mengangguk setuju.


***


Berkali-kali Melati mengucapkan terima kasih atas pertolongan Udin sehingga bayinya selamat. Ibunya pun juga Alhamdulillah selamat. Hanya Anwar yang meninggal serta Surti yang tak diketahui keberadaannya.


Udin sengaja tidak mengatakan apapun perihal Surti.


" Saya mohon pamit Mbak, Nek " Udin berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya.


" Hati-hati ya dek, kalau lewat sini lagi jangan lupa mampir yah. Pintu rumah kami akan selalu terbuka lebar untuk kamu dek " Ucap Melati.


" Terimakasih Mbak "


Ibu Melati tersenyum haru, ia memberikan sekantong makanan untuk bekal perjalanan si Udin. Meskipun Udin sudah menolak, tapi Ibu Melati tetap memaksa. Akhirnya, Udin pun menerima pemberian itu.