
Wati meringis kesakitan, ia merasa tubuhnya seperti digencet sesuatu yang bergerak. Kelopak matanya terbuka, tapi suasana temaram membuat jarak pandangnya terganggu.
Wangi aroma kasturi begitu menyengat di hidung. Wati sangat kenal dengan aroma tersebut, karena sama persis dengan wangi sapu tangan yang diberikan oleh Gus Ikram saat mereka pertama kali bertemu.
Untuk beberapa saat, Wati kembali tidak sadarkan diri. Dan ia terjaga setelah mendengar samar-samar bunyi kong kok ayam.
Wati beringsut bangun, ia terkejut menemukan tubuhnya tanpa sehelai pakaian. Dan semakin tidak percaya bahwa Gus Ikram saat ini tengah tertidur di sisinya. Ia mencoba mengingat semua yang terjadi.
Wati terperangah melihat kondisi di sekitarnya, pakaian yang sebelumnya ia gunakan telah berserakan dimana-mana.
Wati mulai menangis, ia memungut satu persatu pakaiannya sambil terus menangis.
Gus Ikram perlahan membuka kelopak matanya, samar-samar ia mendengar suara Isak tangisan.
Saat penglihatannya sempurna, ekspresinya tidak jauh berbeda dengan Wati tadi.
" Dek Wati, kamu kenapa menangis ?" Gus Ikram sama sekali belum menyadari apa yang telah terjadi.
" Gus,,,, bagaimana ini ? hiks hiks " Wati bertanya sambil menutup wajahnya. Getaran di punggungnya semakin hebat.
" Bagaimana apa nya Dek ?" Gus Ikram ingin Wati memperjelas ucapannya.
Wati menurunkan tangannya yang menutupi wajah.
" Gus, apa yang telah Gus Ikram lakukan sama Wati semalam ?"
Gus Ikram mengernyitkan keningnya. Ia berusaha mengingat dan mencari jawaban atas pertanyaan Wati.
" Aku nggak ingat Dek, emangnya apa yang terjadi ? Coba jelaskan " Pinta Gus Ikram.
Wati tergugu, tangisannya kembali pecah .
" Dek, jangan menangis begini ? Aku jadi semakin bingung . Ini kita kenapa berada di cangkruk peristirahatan ku ?? Ngapain Kamu berada di sini Dek Wati ?" Gus Ikram baru ngeh jika ia berada di tempat yang sangat ia kenal.
" Kok tanya Wati, Gus! Yang tahu jawabannya adalah Gus Ikram sendiri. Wati semalam kan pingsan saat setelah minum air dari Gus Ikram" Wati membela diri.
Gus Ikram mencoba mengingat kejadian sebelumnya .
" Tapi.... " Pria itu meringis kesakitan sambil meraba bagian belakang kepalanya " Ada seseorang yang memukul ku Dek "
Wati menoleh, ia melihat Gus Ikram memicit bagian belakang kepalanya.
" Jangan berbohong untuk bisa lari dari tanggung jawab Gus " sergah Wati, ia sama sekali tidak percaya dengan perkataan pria itu. Karena Wati sudah terlanjur kecewa, bukankah ia menolak untuk makan kue yang diberikan oleh Gus Ikram. Tapi pria itu memaksa, sehingga terjadilah perkara nahas ini.
Wati bangkit dan berlari keluar, Meninggalkan Gus Ikram yang termangu kebingungan.
*
*
Siti rungsing sekali sejak semalam, ia bermimpi buruk tentang putrinya, Wati. Karena itu, pagi-pagi sekali Siti sudah bersiap untuk pergi menjenguk anaknya ke pondok, meskipun jadwal pertemuan masih tinggal beberapa hari lagi.
Karena di pondok pesantren Al Huda menggunakan metode jadwal pertemuan orang tua santri sebulan sekali.
Ini agar melatih kedisiplinan dan kepandaian dalam pengelolaan keuangan santri agar bisa mencukupi waktu satu bulan.
" Ibu mau kemana?" Udin bertanya saat melihat Siti merapikan bekal nasi.
" Mau jenguk Mbak mu " jawab Siti.
" Udin boleh ikut Bu ? " Tanya Udin. Siti tersenyum tipis, ia berjongkok di depan Udin lalu mengusap kepalanya.
" Tolong temani Rahul di rumah, Ibu sebentar aja kok. Perasaan Ibu nggak enak soalnya, takut Mbak mu sakit " Siti mengutarakan penolakan nya dengan lembut, agar tidak melukai hati Udin.
" Baiklah Bu, sampaikan salam Udin sama Mbak ya "
Siti mengangguk, hatinya lega Udin sangat pengertian.
Satrio baru saja bangun tidur, ia masih sempat melihat kelibat sang istri yang pergi.
" Jenguk Mbak Wati di pondok Pak " Jawab Udin.
" Kamu nggak ikut? "
Udin menggeleng lemah, sebenarnya dia ingin ikut. Tapi karena nggak dibolehin, Udin pun terima saja.
Setibanya di pondok, Karena seorang Ibu , Siti tidak perlu menunggu di ruang pertemuan. Ia langsung menuju kamar asrama sang anak usai menandatangani buku pendataan pertemuan.
Pada saat itu, Wati tengah meringkuk di di pojokan kamar dengan posisi miring menghadap dinding. Ia menangis dalam diam tanpa teman-temannya menyadari.
" Wat , Wati... Ada Ibumu " Rani menepuk pundak Wati, ia mengira jika Wati tengah tidur.
Mendengar Ibunya datang, Wati langsung bangun sambil mengusap air matanya.
Rani melongo saat melihat wajah sahabat nya yang bengkak. Belum sempat ia bertanya, Wati sudah berlari keluar.
" Buuuu " Wati berhambur memeluk sang Ibu, ia menangis kembali.
Siti kebingungan, kenapa anaknya bersikap seperti ini.
" Kenapa Wat ? Kenapa kamu menangis?" Tanya Siti.
" Wati mau pulang Bu, cepat bawa Wati pulang. Wati nggak mau mondok lagi, Wati mau pulang pokoknya "
Siti semakin tidak mengerti, apalagi teman-teman Siti yang lain hanya diam berdiri melihat kejadian itu.
Hanya Rani yang berani mendekat.
" Kenapa Wati Nak ?" Tanya Siti begitu Rani datang.
" Saya juga tidak tahu Tante, Wat kamu kenapa? "tanya Rani, Wati hanya menggeleng dalam pangkuan sang Ibu.
" Gimana ini?? Emang boleh Nak kalau saya bawa Wati pulang dulu ? " Siti yang memang tidak tahu bertanya kepada Rani.
" Boleh Tante, bentar saya akan lapor sama ketua asrama "
" Makasih ya Nak "
Rani tersenyum, ia bangkit lalu mencari ketua asrama untuk melaporkan kepulangan Wati.
Setelah mengikuti prosedur, akhirnya Wati diijinkan pulang seminggu saja.
Sesampainya di rumah Wati jadi dingin kepada adik-adiknya dan juga semua orang di rumah. Ia banyak merenung di kamar dan susah untuk di ajak makan.
Siti sangat khawatir dengan perubahan sikap Wati. Ia sudah berkali-kali menanyakan apa yang sebenarnya terjadi? Tapi Wati hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Gadis itu sebenarnya takut jika semua orang tahu jika ia sudah kehilangan kehormatannya. Bapaknya pasti akan murka, Ibunya akan sangat kecewa. Nama baik keluarga nya akan semakin buruk.
Udin yang datang pun dibentak Oleh Wati, ia malu kepada Udin. Adik kecilnya itu bukankah sudah melarang, tapi Wati bersikukuh untuk tetap masuk pesantren.
Sebulan berlalu, Wati merasa tubuhnya semakin melemah. Ia demam dan muntah-muntah. Diam-diam Siti memanggil bidan desa untuk memeriksa keadaan Wati.
Ketika melihat seorang wanita berpakaian dinas berwarna putih masuk ke kamar nya, Wati histeris. Ia menolak untuk diperiksa.
Sehingga terpaksa Satrio turun tangan untuk menahan tubuh Wati agar anaknya tidak bergerak lagi.
" Lepaskan Pak, lepaskan Wati "
Wati yang sebenarnya sudah lemah itu merintih dengan suara yang menyayat hati.
" Tenang Ndok, kamu cuma mau diperiksa. Nggak mau di apa-apain " Siti berusaha menenangkan sang anak.
" Wati nggak kenapa-napa Bu, kok mau diperiksa sih ?" Bantah Wati ,air matanya mengalir perlahan.
" Cepat periksa dia Bu " Ujar Satrio yang sudah mengunci pergerakan sang anak.
Bidan itu mengangguk, ia memeriksa keseluruhan kondisi Wati.