
Latuluna melirik dengan ekor matanya, Tubuhnya yang kaku tidak bisa mengatakan apapun. Padahal ia sangat bersyukur roh-roh hitam yang selalu menghantuinya telah pergi.
" Ma " Prilly Mencium kening sang Ibu dengan lembut " Prilly bawa temen nih, sepertinya dia tahu penyakit Mama apa? Prilly harap dia bisa bantu Mama untuk sembuh" Ucap Prilly menahan sebak di dada.
Latuluna meneteskan air mata, ia terharu sekali. Ternyata karena anak muda ini para hantu-hantu itu pergi.
" Din, coba periksa Mama " Prilly mempersilahkan.
" Tidak perlu, Mereka sudah pergi " Jawab Udin acuh.
Prilly mengernyitkan keningnya.
" Apa maksud mu ?"
" Roh hitam yang memenuhi kamar ini sudah pergi, sebaiknya sekarang kamu bawa pergi Ibumu dari rumah ini. Sebelum perempuan itu datang" Udin memberikan arahan kepada Prilly yang semakin bingung.
" Aku tidak mengerti maksud mu apa?? Apa kamu sedang mempermainkan aku ? "
Udin melirik Prilly, ia kurang suka dengan orang yang banyak tanya dan tidak cepat tanggap. Segera ia mendekati Latuluna, Udin mengusap wajah Latuluna hingga ke ujung kaki.
Latuluna Kejang, sehingga tubuh nya melengkung ke atas. Namun itu hanya sekian detik, setelah itu Tubuh Latuluna normal kembali dengan disertai tarikan nafas yang panjang.
" Mama... " Pekik Prilly, ia takjub tubuh Mamanya yang kaku sedikit mengalami perubahan.
" Sebenarnya aku ingin kalian pergi dari rumah ini, tapi kamu idiot. Aku malas meladeni orang kurang tanggap" Celutuk Udin.
" Apa kamu barusan mengatai aku idiot??" Prilly tidak percaya dirinya diumpat sedemikian rupa oleh laki-laki yang baru saja berhasil membuat nya terpesona.
" CK " Udin berdecih sembari geleng-geleng kepala.
Prilly hendak turun dari tempat tidur, tapi sebuah sentuhan hangat di lengannya telah menahan keinginan nya untuk memberikan Udin pelajaran.
" Mama, Mama udah bisa gerak?? " Prilly semakin senang. Begitu juga dengan Latuluna, ia tersenyum tipis.
Di lain tempat, Pak Agung yang menyusul Sonya terhenti di pekarangan rumah bagian belakang.
Sonya nampak gelisah, ia mondar mandir tidak tentu arah.
" Sonya, kamu kenapa ? " Tanya Pak Agung.
" Kenapa kamu bawa orang asing ke rumah? Hah?? Apa maksud mu yang sebenarnya?? " Sonya melotot tajam, Membuat Pak Agung sedikit bergidik ngeri.
" Em dia dia, di ajak Prilly" Suara Pak Agung terdengar gugup.
" Prilly?? Kamu takut sama Prilly?? Pokoknya aku nggak mau tahu ya, usir cepat dia dari rumah ini " Sonya begitu gusar.
" Dia cuma mau ngobatin istri ku " Pak Agung masih belum mengerti kenapa Sonya tidak suka dengan Udin?.
" HAL ITU YANG TIDAK AKU INGINKAN!! " Suara Sonya meninggi dengan tiba-tiba, ia melotot disertai wajah ganas nya.
Pak Agung tercengang, ia kaget melihat perubahan ekspresi pada wajah Sonya. Itu seperti bukan Sonya yang ia kenal sebelumnya.
" Cepat usir dia sekarang!!! " Sonya menunjuk ke arah rumah dengan nada garang. Pak Agung mengangguk lalu buru-buru pergi sebelum ia melihat hal yang lebih mengerikan daripada ini.
" Tidak, Luna tidak boleh sembuh, aku hanya tinggal menunggu waktu sebentar lagi untuk bisa mendapatkan jantungnya. Ah..." Sonya berjalan mondar mandir dengan pikiran yang semrawut.
Ia bingung , para rekan-rekannya sesama manusia hantu yang sudah bersiap menyantap bangkai Latuluna tiba-tiba kabur. Itu pertanda penyakit saudara sepupunya akan membaik.
" Ini tidak akan ku biarkan terjadi, Luna harus mati agar lengkap semua persyaratan untuk menyempurnakan kekuatan ku, aku harus pergi sekarang juga! " Sonya berbalik untuk keluar dari pintu gerbang belakang.
Tapi tiba-tiba Kujang muncul saat Sonya membuka pintu gerbang tersebut. Harimau putih itu menyeringai, ia berjalan begitu gagah mendekati Sonya.
Sonya gelagapan, ia panik sendiri. Pandangannya mengedar, mencari celah untuk lari.
Tanpa diduga, Latuluna muncul dengan menaiki kursi roda yang di dorong oleh Prilly. Pak Agung juga turut serta berjalan di belakang san anak.
" Mau kemana Tante Sonya? " Tanya Prilly penuh percaya diri. Sudah sekian lama gadis itu memendam amarah kepada Sonya, karena telah menjadi duri di dalam rumah tangga kedua orang tuanya.
" Jadi kalian mau main keroyokan hah?? " Sonya mundur perlahan sehingga ia tersudut pada dinding pembatas rumah.
" Apa yang sebenarnya Tante lakukan sama Mama?? Apa benar Tante sengaja membuat Mama lumpuh dan hampir meninggal hanya untuk menggantikan posisi Mama sebagai istri Papa ?" Prilly mengucapkan rentetan tuduhan nya kepada Sonya.
Wanita yang sudah tersudut itu justru tergelak. Tawanya terdengar sangat mengerikan.
" Hanya itu yang bisa kau tangkap dari serentetan kejadian yang menimpa kalian?? Sungguh sangat naif sekali" Sonya tersenyum devil.
" Luna, adikku tersayang " seru Sonya, Latuluna membeliak lebar. Adik ?? Apa Sonya sudah gila ?? Bukankah Latuluna tidak memiliki saudara, dia hanya putri tunggal di dalam keluarga nya.
" Kenapa?? Terkejut?? Kau pikir hanya kamu anak dari seorang Danuarta ?? Apa kamu tidak tahu rahasia besar Danuarta?? Hah ?? "
Latuluna semakin bingung kemana arah bicara Sonya yang sebenarnya? Tapi Prilly berusaha menenangkan sang Ibu dengan mengusap pundak Latuluna.
" Kau tidak usah banyak bicara Tante, aku sudah menelepon polisi agar menangkap mu " Seru Prilly begitu angkuh.
" Apa ?? Polisi?? Kau pikir polisi bisa menahan ku ?? Hahahahaha lucu sekali kau gadis kecil " Sonya mengejek Prilly, yang Sontak memancing amarah gadis itu.
" Pa!!! Jangan diam saja, tangkap dia Pa " Seru Prilly meminta Pak Agung bertindak. Namun reaksi Pak Agung begitu mencengangkan, Ia diam seperti orang hilang akal.
" Pa !!! " Hardik Prilly, Pak Agung tetap diam.
Sonya menjentikkan jemarinya, Tiba-tiba Pak Agung melangkah pergi mendatangi Sonya dan berdiri di samping perempuan itu.
" Papa ,,, " Prilly memanggil lirih, ia tidak menyangka Pak Agung bisa sangat patuh dengan Sonya.
Latuluna yang memang sudah tahu semenjak ia sakit, hanya bisa mengelus tangan sang anak yang berada di pundaknya.
" Kenapa?? Kau terlihat sangat shock sekali gadis kecil. Lihat Ibumu, dia biasa saja karena sudah tahu apa yang terjadi"
Prilly merendahkan pandangannya, hatinya terluka sekali setelah menyadari Papanya akan lebih memilih perempuan itu daripada dirinya ataupun Mamanya.
Prilly merangkul sang Ibu dari belakang, ia menciumi pipi Latuluna bertubi-tubi disertai Isak tangisan.
" Cup cup cup sayang, jangan menangis yah.. Ini masih belum seberapa dibandingkan kenyataan yang sebenarnya"
" Cukup Tante!!! " Bentak Prilly setegas mungkin" Kalau memang Tante menginginkan Papa, ambilah. Dan pergi dari tempat ini sekarang juga!!"
" Pergi?? Aku baru bisa pergi jika sudah ku dapatkan jantung Latuluna, dan juga membawa dirimu manis " Tandas Sonya masih berambisi menyelesaikan hajatnya.
" Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi" Pungkas Prilly yakin.
" Ohya ?? "
Kujang melangkah maju lalu berdiri di antara Prilly dan Sonya.
Sonya membelalak lebar, ia baru menyadari jika disini ada Kujang dan Udin yang mana Sonya bisa merasakan energi positif dari anak laki-laki itu yang sangat begitu kuat.
Prilly yang tidak bisa melihat Kujang berdiri di depan nya, hanya bisa menangkap raut ketakutan dari wajah Sonya.
Perempuan itu menggenggam tangan Pak Agung yang berdiri di samping nya tanpa ekspresi.