SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
PERTEMUAN



Cahaya menyiapkan sarapan pagi dengan penuh sukacita. Senyuman tidak pernah lekang dari bibir nya. Penantian bertahun-tahun lamanya kini berbuah begitu manis. Kesengsaraan menahan rindu akhirnya menciptakan kebahagiaan yang tak dapat diungkapkan.


Pangeran As'ad pun tidak jauh berbeda, ia tidak jemu menatap wajah Udin. Dari keseluruhan wajah anaknya adalah kombinasi antara dirinya dan sang istri.


Mata Udin mirip Cahaya, hidung lancip nya sangat mirip dengan Pangeran As'ad . Bulu matanya lentik, alis tebal dengan rahang yang tegas. Sungguh sempurna!


Usia Udin masih terbilang muda, tapi ketampanannya sudah terlihat.


Menyadari jika Ayahnya senyam-senyum memperhatikan dirinya, Udin jadi salting. Ia duduk dengan perasaan gugup.


" Sudah lah , jangan melihat anakku seperti itu" Cahaya menegur sembari meletakkan masakan di atas meja kayu.


" Pintar juga aku buat anak ya sayang, dia hampir mendekati sempurna" Pangeran As'ad merasa bangga dengan dirinya.


" Alah, siapa dulu Ibunya " Cahaya tidak mau kalah, ia tersenyum ke arah Udin yang malu-malu.


" Ayo sayang kita sarapan dulu " Cahaya menyodorkan piring yang berisi nasi beserta ikan goreng.


Udin menerima nya.


" Apa kamu sudah punya kekasih? " Tiba-tiba Pangeran As'ad bertanya Membuat ia mendapatkan pukulan dari istrinya.


" Apa-apaan sih Mas ? Anak masih kecil sudah mau main begituan"


Namun Udin menjawab dengan anggukan kepala, Cahaya spontan tersedak oleh makanan yang tengah dikunyah nya.


" Aduh hati-hati sayang" Pangeran As'ad mengambil air minum untuk sang istri.


" Tadi dia mengangguk kan ?" Cahaya ingin memastikan jika ia tidak salah lihat.


" Sepertinya iya... " Jawab Pangeran As'ad .


" Kamu serius Sudah punya kekasih? " Cahaya ingin memastikan jawaban Udin, anak itu mengiyakan.


Cahaya dan Pangeran As'ad terpelongo.


" Kamu masih kecil loh, kok udah punya kekasih" sergah Cahaya.


Udin tersenyum malu.


" Ah dia kan ganteng jadi pantaslah... Cantik nggak pacar mu? " Pangeran As'ad memberikan dukungan.


Udin mengiyakan, Cahaya mengerutkan keningnya.


" Dia nggak keberatan kamu pergi sampai sejauh ini? " Sambung Pangeran As'ad , Udin menggelengkan kepalanya.


" Pacarnya jauh, dia lagi LDR-an " Kujang membantu menjawab.


" Kau tahu Jang ?" Tanya Cahaya tak percaya.


" Tahulah, Si Udin nih jadi rebutan " Kujang menambahkan.


" Itu pasti, dulu aku masih muda pun begitu " Timpal Pangeran As'ad , Cahaya serta merta menjeling tajam.


UPS!


Pangeran As'ad langsung memalingkan wajahnya.


" Nak, nanti malam kita akan melakukan perjalanan jauh. Ibu berencana untuk menemui Kakek dan Paman mu " Cahaya mengalihkan pembicaraan.


Udin mengangguk.


" Kamu selama ini tinggal dimana?? " Imbuh Cahaya.


" Ngontrak Bu " jawab Udin.


" Ngontrak?? " Cahaya menghela nafas panjang, pasti anaknya mengalami masa sulit akhir-akhir ini.


" Kamu sekolah? " Pangeran As'ad bertanya lagi.


Udin mengiyakan.


" Sekarang kelas berapa? "


" Baru saja kenaikan kelas ke delapan"


" Oh ya udah nanti kamu bisa melanjutkan sekolah di tempat tinggal Kakek. Dari pada kamu sekolah disitu dengan kondisi ngontrak" Tukas Cahaya.


" Emang kamu udah yakin mau kembali ke rumah mu Ca ?" Kujang menimpali.


" Kalau pun Ayah dan Fajar keberatan kamu tinggal bersama, kami akan tinggal di tempat lain "


" Mereka tidak akan mungkin menolak mu, karena kedatangan mu sangat diharapkan oleh mereka " Jawab Kujang.


Cahaya tersenyum simpul.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suara bel berbunyi pagi-pagi sekali, Saat itu Fajar baru saja keluar dari kamar nya untuk ngopi.


" Ma, siapa pagi-pagi sudah datang bertamu? " Tanya Fajar kepada istrinya Tania.


" Entahlah Pa " Tania pun tak tahu, Idris yang melipat korannya seraya meraih secangkir teh madu kesukaan nya.


" Tuan, ada tamu" Bibik datang tergopoh-gopoh menghampiri.


" Siapa Bik ? " tanya Fajar, Bibik tidak menjawab. Ia justru melirik deretan foto yang terpampang di dinding. Bibik ingin memastikan bahwa yang dia lihat benar-benar salah satu dari orang yang berada di dalam foto tersebut.


Fajar mengikuti kemana arah mata Bibik tertuju, tiba-tiba jantung nya berdegup kencang. Fajar bingkas bangun, ia berlari keluar.


Tingkah nya mengundang rasa penasaran Tania, ia pun mengikuti suaminya pergi.


Idris termangu heran, ia menggerakkan kepalanya kepada sang pembantu. Bibik menunjuk ke salah satu foto di dinding. Yang mana Foto itu adalah hasil jepretan Fajar tentang Cahaya.


" Caca... " Idris pun bergegas pergi, Gading dan Naya saling berpandangan satu sama lain. Mereka merasa aneh dengan sikap semua orang.


" Ada gempa kali " Tebak Naya sekenanya.


" Ngawur " timpal Gading, Mereka duduk di meja makan hampir bersamaan.


" Bik ngapain sih semua orang pada buru-buru keluar? " Tanya Naya saat Bibik menyiapkan susu madu untuk nya.


" Itu Nona ada itu " Bibik menunjuk ke foto Cahaya.


Mata Gading membulat, Cahaya adalah sosok yang dikaguminya karena semua foto yang ada mengguratkan kecantikannya wanita itu.


" Serius Bik ?"


Bibik mengangguk yakin. Gading buru-buru pergi, Mau tidak mau Naya pun mengikuti.


Fajar langsung membuka pintu, ia terperangah, masih sulit untuk dipercaya jika seseorang yang kini berdiri di depan nya adalah sang Kakak.


" Ca... " Tiba-tiba Idris menyerobot keluar dan langsung memeluk anaknya.


" Ayah... "


Idris memeluk putri sulungnya dengan erat, ia tidak percaya jika Cahaya kini benar-benar dipeluknya.


" Lama sekali kamu marah nak "


Cahaya tersenyum menahan sebak di dada, ia tidak bisa mengatakan apapun kecuali menangis.


Fajar yang mematung tak banyak bicara, namun matanya terlihat berkaca-kaca. Tania yang berdiri di samping nya mengusap punggung sang suami. Menyebabkan Fajar menyembunyikan air matanya.


Gading yang baru muncul langsung termangu, sosok wanita yang tengah dipeluk Kakeknya itu memang benar-benar cantik.


" Waaaaahhh" Gading sangat takjub, ia sampai geleng-geleng kepala.


" Apakah kamu tidak mau memeluk ku ?" Cahaya merenggangkan kedua tangannya setelah Idris melepaskan pelukannya.


Fajar maju satu langkah namun Gading menyerobot maju memeluk Kakak dari Ayahnya.


" Tanteee... "


Cahaya tercengang, begitu juga dengan Fajar. Namun Gading tak perduli, ia tersenyum tipis penuh kemenangan. Wanita yang sering dimimpikan nya kini berhasil dipeluknya.


Udin merasa aneh dengan laki-laki yang kini memeluk Ibunya, ia pun bertindak. Tangan nya mendorong jidat Gading hingga pelukan mereka terlepas.


" Eh eh eh apa-apaan ini " Gading berusaha melawan, tapi ia seperti kalah tenaga dengan anak yang umurnya terpaut lebih muda dari nya.


" Hey kau siapa hah ?" Gading berang, harga diri nya terluka sebab kalah. Udin tak menjawab, ia acuh dengan tangan terlipat di dada.


" Sudah sudah, baru ketemu kok tengkar... " Cahaya berusaha menengahi.


" Hem untung Tante cantik ada disini, kalau tidak sudah ku patahkan lehermu " Tandas Gading pongah.