SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
SULTAN UDIN



Tak terasa hari sudah menjelang sore, Udin dan Prilly masih saja melakukan video call. Baterai lowbat, mereka cash. Seolah tak ingin mengakhiri perbincangan kosong diantara mereka.


Niat Udin untuk mengatakan jika ia akan pindah jadi terlupakan. Yang dibicarakan justru hal-hal lain.


Cahaya sejak tadi bersama sang suami mengintip kegiatan anaknya. Sudah berkali-kali mereka bolak-balik, tapi tetap saja Udin masih melakukan aktivitas dengan ponselnya.


Sampai akhirnya kesabaran Cahaya sudah habis, ia pun masuk ke dalam kamar sang anak. Sontak Udin terkejut, ia langsung bangkit dari tidurnya yang tengkurap.


" Ibu.. " Udin mematikan sambungan telepon nya secara sepihak. Cahaya tersenyum simpul.


" Bagaimana? Kamu betah nak tinggal disini? " Cahaya berpura-pura tidak tahu tentang kegiatan Udin sejak tadi.


Udin mengangguk gugup.


" Baguslah, besok orang suruhan Paman mu akan mengurus surat-surat kepindahan sekolah mu. Katanya lusa kamu sudah mulai beraktivitas ke sekolah lagi, kamu akan sekolah bareng Naya" Cahaya memberi tahu.


Pupil mata Udin membesar, ia baru ingat jika dirinya sama sekali tidak mengatakan perihal kepindahannya kepada Prilly . Ia juga tidak menyinggung masalah tentang dirinya telah bertemu kedua orang tuanya.


Udin merasa bodoh sekali, kenapa ia bisa terlupa? Padahal sudah berjam-jam ngobrol di telfon bersama Prilly .


" Din " Cahaya memanggil Udin yang terlihat melamun.


" Ah iya Bu " Udin jadi gelagapan, ia tidak sadar jika pikiran nya jadi ngelindur.


" Kamu mikirin apa ? " tanya Cahaya, Udin menggeleng pelan. Tidak mungkin ia mengatakan apa yang dirasakan nya saat ini.


" Jangan terlalu banyak pikiran, fokus lah belajar" Cahaya menepuk pundak anaknya, Udin hanya mengangguk saja.


" Ya sudah, istirahat lah. Pasti capek berjam-jam teleponan nggak berhenti-henti "


Udin terkesiap, jadi Ibunya tahu mengenai apa yang dilakukan nya sejak tadi. Wajah Udin terasa panas, pipinya merona kemerahan.


Cahaya keluar dari kamar anaknya, sementara Pangeran As'ad mendekati Udin seraya memegang pundak anaknya itu.


" Tidak perlu sungkan, orang jatuh cinta memang begitu. Ayah dan Ibu dulu juga begitu"


Udin tersenyum tipis, tapi ia masih malu hingga tak mampu menatap wajah sang Ayah berlama-lama.


***


Tania memperhatikan dari kejauhan kedekatan suaminya dengan Kakak kandung nya yang baru saja datang.


Ia merasa cemburu melihat bagaimana riak wajah suaminya begitu bahagia? Tak pernah sekalipun Tania melihat suaminya sebahagia sekarang.


Sejak awal mereka kenal, Fajar memang sangat dingin. Tapi Tania sudah terlanjur jatuh cinta, sehingga ia melakukan pendekatan dengan Fajar.


Segala cara Tania rencana kan begitu matang, Hingga pada suatu hari ia menjebak Fajar. Yang membuat mereka melakukan pernikahan.


Tania berpikir dia adalah pemenangnya yang bisa mendapatkan Fajar, seorang pria sukses dengan kekayaan yang tak terhingga.


Tapi sekarang dia menyadari jika ia salah besar, rupanya Kakaknya adalah pemilik hati Fajar. Entah ini normal atau malah menyesatkan? Tania sampai berpikir bahwa suaminya mencintai Kakak kandungnya sendiri.


" Pa .. " Tania ingin memberanikan diri untuk menegur jika suaminya keliru.


Fajar menoleh setelah mengambil handuk untuk mandi.


" Boleh Mama ngomong sesuatu? " Tania mendekati Fajar, Suaminya itu mengiyakan.


" Selama ini Mama nggak pernah melihat Papa sebahagia sekarang, jujur Mama iri sama Kak Caca Pa. Yang bisa buat Papa terlihat sangat bahagia, Papa ketawa terus , senyum terus kalau ngobrol sama Kak Caca "


" Apa Papa sayang banget sama Kak Caca? "


Fajar menatap istrinya begitu mendalam. Tania pun menyambut tatapan itu disertai senyuman.


Senyuman Tania langsung sirna saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari sang suami.


" Kak Caca adalah wanita berharga di dalam hidup ku setelah Mama. Jadi jangan berharap kamu bisa menggeser kedudukan nya di tahta hatiku. Kau harus puas dengan status mu sebagai istri ku, karena bukan kah itu yang menjadi ambisi mu. Jangan kamu pikir aku bodoh selama ini. Dari awal, aku tahu kebusukan mu. Tapi aku diam, karena permintaan Papa "


Usai berkata demikian, Fajar melangkah masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Tania yang termangu.


Diliriknya punggung sang suami sampai lenyap di balik pintu kamar mandi. Tania mendadak sesak nafas, ia shock mendengar pengakuan suaminya. Jadi selama ini Fajar tahu apa yang dilakukannya dulu.


Pantas Fajar tetap bersikap dingin padanya, Fajar hanya mau menggauli Tania jika ia diberi obat perangsang secara diam-diam.


Tapi jika ia tidak dalam pengaruh obat perangsang, Fajar tidak akan pernah melakukan apapun pada istrinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari pertama sekolah, Udin berangkat bersama Gading dan Naya. Mereka diantar menggunakan mobil SUV warna hitam.


Tidak lupa Udin diberikan uang saku oleh Fajar. Uang saku yang lumayan banyak, hingga membuat Udin termangu melihat uang itu.


" Emmm Mas Udin " Seru Naya saat mereka dalam perjalanan. Udin mengangkat wajahnya.


" Emmm Naya harus panggil Mas, Kakak atau Abang? Sama Mas Udin, biar terlihat dekat gitu"


Gading mencebikkan bibirnya mendengar ucapan adiknya.


" Udin aja " Jawab Udin .


" Ah jangan lah, kan nggak sopan" Bantah Naya.


" Kayaknya barusan sudah manggil Mas deh, kok masih nanyak mau manggil apa? " Celutuk Gading yang duduk di sebelah supir.


" Diam kau!! " Hardik Naya kesal.


Udin acuh saja dengan tingkah kakak beradik itu, ia fokus kembali ke layar ponsel karena ia tengah chatting an sama Prilly .


" Mas lagi apa sih ? Kok sibuk banget sama hp nya " Naya menengok lebih dekat, Udin sigap menutup ponselnya agar Naya tidak tahu.


Lalu ia melirik Naya tajam, membuat Naya menarik diri pelan-pelan.


" Sorry" Naya mengucapkan maaf atas kelancangannya.


Udin tidak menjawab, ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Kemudian menatap kosong ke luar mobil. Pikiran nya menerawang jauh, sebenarnya ia sangat merindukan Prilly . Tapi apalah daya, entah kapan ia bisa bertemu dengan wanita itu?


Setibanya di sekolah, Naya sangat bersemangat memperkenalkan Udin kepada teman-temannya yang akan menjadi teman sekelas Udin juga.


Banyak dari kalangan siswi yang langsung terpesona dengan ketampanan Udin. Mereka sedikit kurang percaya dengan pengakuan Naya yang mengatakan Udin adalah saudara sepupunya.


Karena dilihat dari gurat wajah Udin dan Naya, sangat jauh berbeda. Naya ayu dan manis, sedangkan Udin lebih ke Arab-araban.


" Itu karena Ayah Mas Udin orang Brunei, lebih tepatnya sultan Brunei" Naya menjelaskan seperti yang diceritakan oleh Ayahnya.


" Jadi dia putra mahkota dong " Terka Dahlia, Naya membenarkan.


" Papaku aja masih manggil Ayahnya Mas Udin dengan panggilan Pangeran " tambah Naya.


" Tapi kok namanya Udin sih, kuno sekali " Sahut Bita.


" Kalau di Brunei dia dipanggil SULTAN UDIN dong hahahahahaha " Yolanda menambahkan yang langsung disambut tawa oleh yang lain.


" Ya nggak apa-apa, yang penting dia ganteng. Pantas jadi sultan, kalian aja belum tentu bisa punya gebetan kayak Mas Udin. Meskipun namanya katro, tapi dia kaya raya" Naya menggangungkan Udin berlebihan.


Gading yang mendengar itu hanya tersenyum sinis lalu pergi. Karena sekolah mereka berdekatan.