
Pagi-pagi sekali Paman Sam mendatangi sel tempat Udin di tahan. Semua rekan Udin sudah keluar, hanya bocah itu yang masih ngorok.
"Din, Din " Paman Sam berusaha membangun kan Udin. Tapi anak itu tetap saja tidur dengan sebelah tangan menutupi sebagian wajahnya.
" Din, bangun... Kamu udah ketemu sama Lia belum? " Paman Sam terus berusaha membangunkan Udin.
" Ayolah Din, bangun... Katakan padaku gimana kabar anakku? " Tanya Paman Sam.
Sebenarnya Udin tidak tidur, dia hanya bingung bagaimana menyampaikan berita tentang kematian Lia?
" Din " Paman Sam terus memaksa dengan sedikit menggoyangkan tubuh si Udin.
AKH
Udin langsung bangun serta merta, ia sudah tidak tahan dengan gangguan seperti ini. Membuat Paman Sam sedikit terkejut.
" Paman, aku mengantuk sekali " Gerutu Udin.
" Iya iya maaf, tapi aku pengen tahu gimana keadaan Lia "
Udin menatap lurus manik mata pria tua itu. Kenapa lah keadilan dunia seperti ini?? Seandainya Paman Sam tidak mencuri beras di toko, dia tidak mungkin dipenjara. Dan tidak mungkin Lia akan mati dengan cara mengenaskan seperti ini.
" Keluarga Bude yang merawat Lia sudah meninggal semua" Mau tidak mau Udin harus menyampaikan berita itu.
" Apa ?? Terus Lia ??" Perasaan Paman Sam semakin tidak karu-karuan.
" Lia membunuh nya "
Dua bola mata yang sebagian tertutup oleh katarak , melebar sempurna.
" Tidak itu tidak mungkin" Paman Sam menolak untuk percaya.
" Semua mungkin karena Lia sudah meninggal "
Kening Paman Sam berkedut, ini semakin membingungkan.
" Mereka lebih dulu membunuh Lia, tapi bukan sengaja dibunuh. Melainkan menyiksa Lia Hingga meninggal, arwah Lia dendam dan dia membunuh seluruh keluarga itu "
Paman Sam yang tengah berada di posisi berjongkok, langsung terduduk di lantai. Ia sangat shock mendengar berita itu.
" Paman ada salam dari Lia "
Kedua mata tua itu terangkat.
" Paman harus hidup lebih lama lagi, doakan Lia agar Allah mengampuni semua dosa-dosanya "
Paman Sam tersenyum namun air matanya meluruh deras. Tubuhnya bergetar hebat, Udin langsung memeluk Paman Sam dengan hangat.
Tangisan Paman Sam semakin menjadi, ia sampai susah untuk bernafas. Dadanya terasa sesak sekali. Hingga Paman Sam memukul-mukul dadanya sendiri.
Udin memeluk Paman Sam lebih erat lagi, kepedihan ditinggal pergi oleh keluarga kembali menyakiti hatinya si Udin.
Ia teringat dengan senyuman Rahul, kemarahan Wati, belaian Siti , dan suara tawa Satrio. Semuanya bagai penyakit yang akan kambuh jika terluka.
Paman Sam mulai berubah, Ia lebih banyak menyendiri. Tapi Udin tidak pernah meninggalkan nya, ia selalu menemani Paman Sam kecuali saat jam tidur tiba. Udin baru kembali ke sel tahanan nya.
" Paman" Seru Udin memanggil Paman Sam yang tengah asyik merangkai ranting kayu untuk dijadikan sebuah boneka.
" Paman" Ia mengulang lagi panggilan nya karena tidak mendapatkan tanggapan apapun.
" Aku punya sesuatu yang seru " Udin menyampaikan apa yang ingin ia katakan meskipun Paman Sam Sibuk dengan kegiatannya sendiri.
" Paman ingin melihat tahanan wanita mandi nggak?? "
Refleks tangan Paman Sam mematung mendengar ucapan Udin. Ia melirik Udin tajam.
" Apa maksud mu?? "
Udin tersenyum mistis, ia mengulurkan tangannya untuk mengajak Paman Sam. Awalnya Paman Sam ragu, tapi ia percaya Udin bukan lah anak yang suka berbohong.
Udin membawa Paman Sam ke bagian belakang penjara, ia mengamati ke sekitarnya. Setelah yakin situasi aman, Udin memegang tangan Paman Sam dengan erat.
" Paman, Paman harus percaya padaku. Jangan sekali-kali menolak saat aku tarik Paman. Agar kita tidak jatuh, paham ?"
" Ok, Siap?? "
Paman Sam mengangguk yakin. Udin melompat ke atas atap dengan diikuti oleh Paman Sam yang mana tubuh nya pun ikut melayang di udara.
" Wa wa wa " Paman Sam hampir jatuh karena kakinya terlalu menepi. Tapi Udin dengan sigap menarik tangan Paman Sam hingga terduduk.
" Sssttttt " Udin meletakkan jari telunjuknya di depan hidung. Paman Sam mengangguk mengerti.
Udin mengeluarkan teropongnya, ia pun menyetel lensa agar lebih dekat lagi .
" Nih Paman " Udin menyerahkan teropong itu kepada Paman Sam, Pria itu sangat bersemangat sekali menerima teropong tersebut.
" Waaaaahhh" Dua mata pria paruh baya itu berbinar saat melihat pemandangan dari penjara wanita.
" Kau ni " Paman Sam menjeplak kepala Udin.
" Apa Paman ?" Udin terpelongo mendapatkan pukulan yang tidak terduga.
" Dari mana kamu tahu tempat ini ? Hah?? kencing nya masih bau Pesing udah jorok-jorok pemikirannya"
Udin cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya ia tahu tempat itu karena tidak sengaja. Saat ia dan teman-temannya bermain bola, dan bolanya melambung ke atap.
Saat Udin mengambil bola itulah, Udin melihat para tahanan wanita mandi. Sejak saat itu kedukaan hati Paman Sam mulai berangsur sembuh. Udin tahu ,jika yang bisa mengobati luka hati Paman Sam adalah menikah lagi.
Tapi pasti Paman Sam akan menolak, biarlah nanti kalau memang Paman Sam masih ada jodoh dengan perempuan lain diluar sana, mereka akan bertemu dengan sendirinya.
*
*
Sementara itu, Kedukaan hati Cahaya tidak berpenghujung. Ia selalu termenung sendiri dengan Tatapan kosong. Cahaya jadi teringat akan Ibunya, Soraya!
Mungkinkah ini karma baginya karena ia sama sekali tidak menghargai Soraya ketika mereka telah berkumpul kembali.
Malah cenderung sikap Cahaya sangat dingin terhadap Soraya yang jelas-jelas sangat merindukan nya.
" Ibu... Maafkan Caca " Gumam Cahaya lirih, tapi menyesal pun sudah tiada guna. Soraya sudah meninggal, mengorbankan nyawa nya demi menyelamatkan pangeran Arif.
Tiba-tiba kunang-kunang datang mengerumuni Cahaya. Jika ada kunang-kunang seperti ini, biasanya pertanda Ibu asuhnya Cahaya yaitu Lucy akan datang.
Cahaya segera melompat turun dari gubuknya, ia mengikuti kemana arah pergi nya gerombolan kunang-kunang tersebut.
Dan benar saja, Di ujung jalan setapak Cahaya melihat ruh Lucy tengah melambaikan tangan padanya. Cahaya gegas mempercepat langkahnya.
" Ibu " Seru Cahaya, ia bahagia ruh sang Ibu bersedia datang menemui nya. Cahaya bertekuk lutut dihadapan sang Ibu.
" Cahaya, kini anak mu sudah baligh" ujar Lucy.
" Iya Ibu, itu benar. Tapi dia hilang, Cahaya tidak tahu dimana sekarang dia berada " Ungkap Cahaya sedih.
Lucy tersenyum lembut.
" Sabar lah, dia akan datang sendiri mencari mu "
Cahaya mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti kenapa sang Ibu bisa berkata demikian.
" Aku akan mengutus Kujang untuk menemani nya , agar ia semakin cepat mencari mu. Tapi ingat, jangan pernah kamu mengatakan bahwa kau lah Ibunya "
Cahaya semakin tidak mengerti.
" Kenapa Ibu ? Kenapa aku tidak boleh mengatakan itu ?"
Lucy tersenyum.
" Itu sudah hukum alam Cahaya, karena kamu tidak menginginkan anakmu menjadi penjaga topeng legendaris itu bukan? Jadi dia tidak boleh tahu jika kamu adalah Ibunya. Kecuali dia tahu sendiri tanpa kamu ataupun Suami mu yang memberi tahunya"
Cahaya tertunduk sendu, tapi tidak mengapa jika itu memang adalah syarat mutlak agar anaknya tidak menjadi penerusnya menjaga topeng legendaris.
" Baiklah, tapi bisakah Ibu mempercepat pertemuan kami. Aku sangat merindukan nya Ibu " Keluh Cahaya lirih.
Lucy tersenyum lembut, ia membelai pucuk kepala Cahaya lalu menghilang tanpa bekas.