SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
RAHASIA DIBALIK PERWIRA



Udin diam, ia berpikir sejenak.


" Aku bisa saja keluar dari sini, tapi aku tidak tega meninggalkan Paman Sam. Dia tidak punya siapa-siapa" Ujar Udin.


" Jadi kau akan ngajak pria tua cabul itu? " Sergah Kujang.


" Kau pun sama bukan ? " Bantah Udin.


" Aku, aku nggak cabul.. Aku hanya menikmati kalau tanpa sengaja tersaji di depan mata " Kujang masih membenarkan diri. Udin geleng-geleng kepala sembari menghela nafas.


" Eh bener Loh, buktinya aku tidak naik lagi. Aku hanya sekali itu saja yang tidak sengaja" Kujang menambahkan.


" Iya iyalah , terserah dah " Udin malas berdebat, ia pun bangkit menenteng penyapu dan sekop.


" Din tunggu lah " Kujang berlari mengejar.


Ketika Udin menyapu di lorong sel tahanan, tanpa sengaja Udin melihat seorang polisi berpangkat perwira sedang mengobrol dengan polisi-polisi lainnya. Yang tentu dengan pangkat dibawah nya.


Udin jadi penasaran, ia mendekat hingga ke pintu pembatas sel penjara. Matanya memperhatikan dengan seksama tingkah dan gerak gerik perwira polisi tersebut.


Sampai akhirnya, si perwira menyadari jika dirinya tengah diperhatikan oleh anak ABG yang memakai baju tahanan.


Well as


" Siapa dia ? " Tanya perwira yang bernama Pak Agung. Semua polisi itu beralih menatap Udin.


" Oh dia Udin Pak, tahanan termuda kami" Jawab Pak Loji yang merupakan kepala polisi yang menjaga lapas ini.


" Kenapa dia melihat ku seperti itu?? suruh dia pergi" Pak Agung merasa tak nyaman dengan tatapan Udin yang seolah-olah dirinya adalah seorang tersangka.


" Baik Pak "


Belum lagi Pak Loji pergi , datang lah seorang gadis bergelayut mesrah di lengan Pak Agung.


" Pa, " Rengek gadis itu manja, Sebagai pria normal Pak Loji terpukau dengan kecantikan gadis itu.


" Iya sayang" Suara Pak Agung yang sebelumnya tegas , mendadak jadi lembut.


" Prilly mau kesana ya " Gadis itu menunjuk ke arah luar.


" Jangan kemana-mana, ingat pesan Mama . Kalau terjadi apa-apa sama kamu ? Papa yang akan kena marah " Pak Agung mencubit lembut hidung mangir sang anak.


" Ya Papa jangan bilang-bilang sama Mama, kan kalau Papa nggak ngomong Mama nggak mungkin tau " Prilly masih mencoba membujuk Pak Agung.


Pak Agung mengalihkan perhatiannya kepada para staf polisi bawahan nya.


" Loji , kenapa kamu masih diam disitu?? Apa kamu sudah menjalankan perintah ku ?" Tegur Pak Agung sedikit emosi setelah ia melihat Udin masih berdiri di tempat yang sama.


" Ma ma maaf Pak " Pak Loji kelabakan, ia gegas pergi mendatangi Udin.


Semua mata tertuju kepada Udin yang dihampiri oleh Pak Loji, Begitu pula Prilly. Ia memperhatikan Udin yang juga tengah menatap dirinya.


" Din, jangan disini!! Cepat pergi!! Kami sedang ada rapat kunjungan perwira polisi " Tegur Pak Loji ( Disini Pak Loji adalah kepala polisi yang baru satu tahun menjabat, sedangkan kepala polisi yang sudah bekerja sama dengan Iblis untuk menjebloskan Udin ke penjara telah lama dimutasi)


" Pak , maaf tapi saya ingin bicara dengan polisi itu" Udin justru menunjuk langsung Pak Agung, Prilly mengangkat wajahnya menatap sang Ayah.


" Din jangan kurang A jar, cepat pergi" Pak Loji tak mengindahkan permintaan Udin. Tapi Udin tak bergeming. Tatapan nya semakin tajam ke arah Pak Agung.


Tiba-tiba Prilly melangkah menghampiri Udin.


Udin memperhatikan Prilly dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.


" Kau putrinya?? "


Prilly mengiyakan.


" Bagaimana kabar Ibumu? " Imbuh Udin.


" Aku bertanya kenapa kamu ingin bicara dengan Papa, tapi kamu malah bertanya Ibuku ? Apa mau mu yang sebenarnya?? " Prilly mulai jengkel, Melihat putrinya kesal , Pak Agung pun mendekat.


" Sayang, tidak usah kamu meladeni seorang napi . Kamu pasti tahu bukan? Jika bukan karena rendahnya moral mereka, mereka tidak akan berada di sini " Pak Agung merangkul bahu anak gadisnya itu. Prilly melirik Udin dengan ekor matanya.


" Apa bapak sedang ngeroasting diri sendiri?"


Spontan semua orang membeliak lebar mendengar penuturan Udin. Anak itu justru dengan santainya melipat tangan di dada dan separuh tubuhnya menyender di pintu teralis besi.


" Sebaiknya Bapak bicara dengan saya empat mata, sebelum saya mengatakan sesuatu yang tidak Bapak harapkan " Udin mengeluarkan ancaman telak, sehingga terpaksa Pak Agung meminta Pak Loji mengeluarkan Udin dan membawanya ke ruang interogasi.


Prilly ingin ikut, namun Pak Agung mencegah nya. Ia hanya ingin berdua saja dengan Udin di ruangan tersebut.


" Sekarang katakan, apa yang mau Kamu bicarakan? " Titah Pak Agung jumawa, ia menyender di kursi sambil memainkan bolpoin nya.


" Apa istri Bapak sedang sakit sekarang?? " Tanya Udin.


" Dari mana kamu tahu ? " Tanya Pak Agung heran. Memang saat ini istrinya sedang sakit, sebab itulah ia bawa Prilly kesini. Agar anak itu tidak merepotkan Ibunya.


" Dia sakit karena ulah Bapak sendiri, jadi bagaimana pun anda berusaha mengobati istri Bapak?, dia tidak akan sembuh" Jelas Udin.


" Jaga bicaramu baik-baik yah, aku bisa menambah hukuman mu semakin berat disini "Ancam Pak Agung.


" Itu tidak akan mempengaruhi keadaan anda Pak, Tidak akan lama lagi istri anda akan meninggal dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Cam kan kata saya baik-baik, bahwa tindakan anda lah yang membuat istri anda meninggal " Udin berbalik dan hendak pergi setelah memberikan peringatan keras kepada perwira polisi itu.


" Tunggu!!! " Prilly tidak mungkin membiarkan Udin begitu saja.


Udin kembali memalingkan wajahnya.


" Kau tahu dari mana kalau Mama ku sakit?? Dan kamu tahu dari siapa penyebab Mama sakit karena ulah Papa ku? "


" Prilly!! Kamu jangan percaya dengan semua omong kosong ini " Pak Agung memotong cepat kalimat anaknya.


" Kamu tahu dari siapa bahwa Mama ku akan meninggal tidak lama lagi ?" Namun Prilly tidak perduli dengan komentar Pak Agung.


" JAWAB!!! " Hardik Prilly keras karena melihat Udin diam tidak menjawab.


" Aku tidak punya hak untuk menjawab pertanyaan mu aku tahu dari siapa?? Tapi jika kamu butuh bantuan ku, datang lah! aku siap membantu" Cetus Udin seraya berlalu pergi.


" Hey !!! Jangan pergi!! Kau harus menjelaskan semuanya padaku " Seru Prilly sembari memukul pintu jeruji besi. Ia kesal dan marah karena tidak mendapatkan penjelasan dari Udin.


" Prilly, jangan begitu ini kantor polisi" Pak Agung berusaha mencegah tingkah putrinya yang sedikit kasar.


" Coba Papa jelaskan semuanya, apakah yang dikatakan anak itu benar?? Hah?? " Bukannya tenang, Prilly justru mencerca balik sang Ayah dengan pertanyaan.


" Itu tidak benar Nak, Papa sangat mencintai Mama " Bantah Pak Agung.


" Kalau Papa mencintai Mama, kenapa Papa ciuman sama Tante Sonya ?"