
Kemudian Nyai Blorong Duduk bersila diantara Kujang dan Udin.
Anak itu terus memperhatikan air di telaga yang nampak indah. Tiba-tiba sebuah cermin besar muncul dari bagian tengah telaga.
Udin dapat melihat secara langsung Kakak Sakhi yang tengah tertidur.
" Dia kah teman mu ?" Tanya Nyai Blorong, Udin mengiyakan.
" Aku akan mengutus pemakan mayat untuk membersihkan abu tulang manusia itu hingga tuntas. Tapi dia tidak memakan tulang manusia, abu tulang itu harus dikembalikan kepada pemiliknya " imbuh Nyai Blorong.
Udin terkesiap, apakah akan dikembalikan kepada Sakhi? Udin yang sebenarnya berjiwa penyayang dan setia kawan, tidak rela jika Sakhi akan menerima perbuatannya sendiri.
" Bagaimana? " Pertanyaan Nyai Blorong menyentak Udin dari pikiran nya.
" Apa tidak bisa dibuang ke laut saja?"
Nyai Blorong menggeleng perlahan.
" Ini teluh ter jahat dan paling sadis, laut pun akan menolaknya datang"
Udin tertunduk, ia bingung harus bagaimana? Tapi jika dibiarkan kasihan Syifa, dia hanyalah korban.
" Apakah Kanjeng ratu tahu siapa pelakunya? " Udin ingin memastikan terlebih dahulu siapakah yang telah tega melakukan ini kepada Syifa.
Ratu Blorong tersenyum simpul.
" Jiwamu sangat mirip dengan Salahuddin, tapi entah kenapa wajah mu melampaui ketampanan dia ?" Gumam Nyai Blorong.
" Ciyeeee ada yang lagi kangen nih " Goda Kujang sembari bersiul.
WUUZZZ
BUGH
Kujang terpental akibat pukulan dari selendang Ratu Blorong. Tapi sang Ratu terlihat cuek dan tidak perduli sama sekali dengan keadaan Kujang yang puyeng.
Udin menengok Kujang, harimau itu berusaha bangkit tapi ambruk kembali. Di atas kepalanya seperti banyak sekali burung terbang mengitari.
" Kamu baik-baik saja Kujang? " Seru Udin.
" Tidak usah perduli kan dia " Ratu Blorong mengalihkan perhatian Si Udin.
" Ayo kita saksikan siapa pelakunya" Nyai Blorong menabur kembali bunga tujuh rupa ke dalam telaga.
Lalu ia membaca mantra dengan mata terpejam.
Terpampang lah sebuah adegan dimana Syifa berjalan dengan riang nya . Entah dia mau pergi kemana?? Ternyata gadis itu memang sungguh sangat cantik jelita.
Tiba-tiba langkah kakinya terhenti, ia seperti melihat sesuatu yang tidak seharusnya. Nampak dari dalam cermin itu seorang pria yang cukup tampan, tengah bicara serius dengan seorang perempuan jelita.
" Aku tidak mau menjalani hubungan rumit seperti ini Mas, kamu sudah bertunangan. Biarkan aku pergi" Ujar si gadis Jelita.
" Jangan Hanum, aku sangat mencintaimu. Aku janji akan segera memutuskan pertunangan ku dengan Syifa "
" Tapi kedua orang tua mu tidak menyetujui hubungan kita, mereka lebih memilih gadis itu " Hanum tetap bersikeras dengan segala alasan yang membuat ia mantap untuk berpisah dari Hairul.
" Jangan khawatir, asal kamu mau menunggu ku sebentar lagi. Maka aku akan menunaikan janji ku padamu. Lalu kita akan pergi jauh dari tempat ini " Hairul sekali lagi berusaha meyakinkan Hanum agar bersedia menunggu nya .
Syifa menutup mulutnya, ia tidak percaya bahwa tunangannya ternyata telah memiliki kekasih. Bagaimana ini ? Syifa sudah terlanjur sangat mencintai Hairul.
Ia berlari pulang sambil menangis. Harapan nya untuk mengobati perasaan rindu nya kepada sang pujaan hati, kandas sudah.
Ayah Syifa heran melihat putrinya datang dengan berlinang air mata. Apalagi Syifa sama sekali tak menegur nya dan langsung masuk ke dalam kamar.
Ia yang sangat menyayangi Syifa berusaha menyusul sang anak dan mencoba membujuk nya.
" Ada apa Nak ? Kenapa kamu datang-datang langsung menangis?? Katanya tadi kamu mau ke rumah Hairul?? "
Syifa menggelengkan kepalanya dengan tetap terbenam di atas bantal. Tangisannya semakin menjadi.
" Sayang jangan gitu dong, coba cerita sama Bapak, ada apa sebenarnya? " Ayahnya Syifa membelai lembut rambut anak sulung nya itu.
Syifa sangat mencintai Hairul, dan dia tidak ingin kehilangan laki-laki itu.
" Baiklah,, jika kamu tidak ingin cerita sekarang, nggak apa-apa. Kamu tenangkan dulu hati serta pikiran mu ya sayang " Ayahnya Syifa pun pergi, ia berniat memberikan ruang untuk putrinya menyendiri.
Merasa capek menangis, Syifa termenung. Pikiran nya menerawang jauh. Ia mencari cara agar bisa secepatnya menikah dengan Hairul. Dan tidak memberikan kesempatan untuk perempuan itu merebut tunangannya.
" Aku harus minta sama Bapak, biar mempercepat pernikahan kami " Tukas Syifa pada dirinya sendiri.
Ia pun keluar dari kamar mencari Bapaknya. Saat itu sang Bapak tengah memotong kayu di belakang rumah.
" Pak " Syifa menghampiri Bapaknya. Pria yang sudah berumur sekitar hampir lima puluh tahun itu menghentikan aktivitas nya.
" Ada apa Nak ?"
" Ibu kemana Pak ?"
" Entahlah, mungkin ke warung"
" Pak, bolehkah Bapak mempercepat pernikahan ku dengan Mas Hairul? "
Si Bapak tersenyum tipis mendengar permintaan anaknya itu.
" Kamu kan masih sekolah Nak, tunggu lah dulu sampai lulus SMA"
" Nggak bisa Pak, karena..." Syifa nekat dengan keputusan nya.
" Karena Syifa sudah hamil"
Kapak yang masih berada dalam genggaman terlepas tanpa terasa.
" Tapi Bapak jangan bilang siapa-siapa ya, Syifa malu" Syifa menundukkan wajahnya, ia takut akan kemarahan sang Bapak.
Pria itu tidak mengatakan apapun, ia gegas pergi begitu saja meninggalkan Putri tercintanya.
Syifa panik, mau pergi kemana Bapaknya?? Ia berusaha mengejar, tapi sang Bapak sudah jauh mengayuh sepeda nya.
Syifa menunggu kedatangan Bapaknya dengan perasaan was-was. Ia menyesal telah membohonginya Bapaknya. Bagaimana nanti jika terjadi sesuatu dengan pria malang itu?
Setelah lama menunggu, akhirnya Bapaknya datang. Pria itu tersenyum tipis lalu mencium kening Syifa lembut.
" Bapak dari mana saja ? " Tanya Syifa
" Bapak habis menemui keluarga besan , yah mereka setuju untuk segera menikah kan kalian berdua"
Rasa panik yang sejak tadi melanda, seketika berubah dengan binar bahagia.
" Sungguh Pak??"
Si Bapak mengangguk yakin.
" Lalu kata Mas Hairul gimana?"
" Dia tidak bisa membantah apapun, ini sudah keputusan bulat kedua orang tuanya"
Syifa tersenyum lebar, akhirnya ia akan memiliki Hairul sepenuhnya.
Hari pernikahan akan dilakukan seminggu kemudian, dari kedua belah pihak sama-sama menutupi alasan kenapa semuanya dipercepat.
Hanum yang bermukim tidak jauh dari rumah Hairul, sudah tentu tahu kabar tersebut. Ia seharian mengurung diri di kamar karena merasa dibohongi oleh kekasihnya.
Sedangkan Hairul merasa tidak berdaya untuk memperjuangkan cintanya. Ia marah sekali dengan Syifa, karena gadis itu telah memfitnah nya. Tapi kedua orang tuanya sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada Hairul untuk menjelaskan. Mereka menelan bulat-bulat fitnah yang dilontarkan kepada nya.
Hingga malam nahas itu menimpa Syifa, wajahnya hitam legam. Dan tubuhnya membusuk di penuhi borok yang bau busuk.
Seandainya Syifa tidak berbohong akan kehamilan nya, Bapaknya tidak mungkin bunuh diri karena frustasi menanggung malu.
Seandainya Syifa tidak dibutakan oleh cinta yang penuh ambisi, sudah pasti dia tidak akan termakan teluh yang merenggut kecantikannya.