SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
SEMUA KARENA DENDAM



Prilly diam, genggaman tangannya pada benda pipih itu sangat lah kuat.


" Sayang... "


Prilly tersentak kaget mendengar panggilan Mamanya, saat menoleh sang Ibu sudah berada di samping nya.


" Mama "


Latuluna tersenyum simpul, ia menarik tangan sang anak lalu digenggamnya lembut.


" Mama harap kejadian tentang Tante Sonya bisa menjadi pelajaran buat kamu sayang. Kamu tahu kan, bagaimana Mama sangat menyayangi Tante Sonya? Tapi apa yang Mama dapatkan hanyalah sebuah pengkhianatan. Mama nggak mau anak Mama satu-satunya mengalami apa yang Mama alami"


Prilly menarik sudut bibirnya, ia berjongkok di hadapan sang Ibu yang duduk di kursi roda.


" Doakan Prilly ya Ma, semoga Udin tidak seperti Papa "


Latuluna mengusap pucuk kepala sang anak penuh kasih.


" Kalau Udin Mama yakin dia pria yang baik "


Mendengar penilaian sang Ibu yang positif, Prilly merebahkan kepalanya dipangkuan Latuluna.


" Tapi Mama sanksi dengan anak Mama sendiri"


Prilly mengernyitkan keningnya, kemudian ia mengangkat kepalanya.


" Kok gitu Ma? "


" Siapa tahu ? soalnya sebelum Udin anak Mama sudah pernah jatuh cinta sama Yoga. Tapi karena Yoga pindah sekolah, jadi putus deh " Latuluna tersenyum menggoda.


" Ah Mama, siapa juga yang putus sama Yoga? Wong pacaran aja nggak, aku sama Yoga cuma temenan Ma" Prilly mengelak dari tuduhan sang Ibu.


" Ohya? Masa sih ? Kalau cuma temenan kenapa sampai nangis dan nggak mau makan berhari-hari pas Yoga pergi. Mau makan pun harus vc dulu sama Yoga " Latuluna semakin menggoda putrinya, Membuat gadis itu malu, wajahnya bersemu merah.


" Mama ih... Jangan sembarangan bicara ah, nanti jatuhnya fitnah. Kalau Udin denger kan bisa salah paham. Aku sama Yoga bener-bener cuma temen Ma, Mama kan tahu aku orang nya gimana? nggak mudah bergaul sama orang dan tidak punya banyak teman. Aku merasa kehilangan Yoga karena cuma Yoga teman aku di sekolah "


" Dan kalau Udin tuh beda Ma, aku emang sayang sama dia dan aku ungkapkan rasa sayang itu sama dia " Prilly menjelaskan panjang lebar tentang perasaannya terhadap Udin dan Yoga.


" Oh begitu rupanya, emmm tapi kamu tahu nggak? Kalau ternyata sekarang kamu satu sekolah lagi sama Yoga "


Pupil mata Prilly langsung melebar.


" Serius Ma?"


Latuluna mengangguk yakin.


" Kok Mama tahu? "


" Kan Mama udah cek lokasi sekolah kamu" Latuluna tersenyum penuh arti.


" Aduh " Prilly mengeluh sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal " Apa nggak ada sekolah lain Ma ?"


" Ada , banyak malah. Tapi sekolah itu yang terbaik dengan kwalitas yang tidak diragukan. Kenapa? takut ketemu Yoga ?" Latuluna sangat suka sekali melihat putrinya panik.


" Ah Mama, bukan itu Ma... Cuma kan udah lama nggak ketemu. Terus tiba-tiba ketemu gimana gitu ?" Prilly sangat jujur mengenai apa yang tersembunyi di dalam hatinya.


" Ya udah, kan nggak punya perasaan apa-apa. Jadi santai aja "


Prilly merungut, ia tidak suka Mamanya selalu saja asyik menggoda nya.


Di lain tempat*~*


Udin melihat Surti baru saja datang dengan menenteng kresek putih. Membuatnya menghentikan percakapan nya dengan Kujang.


Surti yang tanpa sengaja melihat ke arah surau langsung tersenyum ke arah Udin. Ia berjalan menghampiri anak itu seraya memilih salah satu bungkusan kresek yang dibawa nya.


" Nih Dek, Mbak beli es tadi.. Cuaca agak bahang kalau minum es pasti nikmat " Surti menyodorkan bungkusan kresek tersebut kepada Udin, Udin pun dengan senang hati menerima nya.


" Makasih Mbak " Ucap Udin.


Kujang menggeleng kan kepala nya sebagai tanda agar Udin tidak meminum nya.


" Iya Mbak bentar lagi, saya masih belum haus " Udin menolak dengan alasan yang dibuat-buat.


" Cicip aja , Mbak pengen tahu pendapat mu enak apa nggak?" Surti tetap memaksa.


" Menurut Mbak gimana? " Udin membalikkan pertanyaan.


" Enak " Jawab Surti.


" Udah minum Mbaknya?"


" Udah tadi di warung nya "


" Itu untuk siapa?" Udin menunjuk ke bungkusan kresek yang masih ditenteng sama Surti.


" Ini untuk Bude, Melati dan Mas Anwar" Surti menjelaskan tanpa curiga.


" Untuk Mbak mana ?"


" Tadi udah minum jadi Mbak udah kenyang" Jawab Surti.


" Oh gitu, gimana kalau ini buat Mbak aja. Saya sebenarnya nggak bisa minum Es Mbak, sakit amandel " Udin langsung meletakkan kresek yang tadi diberikan oleh Surti ke telapak tangan wanita itu.


Surti melongo melihat sikap Udin. Namun Udin sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada Surti untuk menolak. Ia bergegas pergi sambil berlari kecil masuk ke dalam rumah Melati.


Surti hanya mampu mengikuti Udin dengan matanya, ia geram karena rencananya gagal untuk membu-nuh Udin.


Yah!! Ki Kusumo telah menghubungi nya semalam. Bahwa teluh yang dikirim untuk melenyapkan Melati telah gagal.


Ki Kusumo juga mengatakan apakah teluh itu akan dikirim ulang atau akan dikembalikan kepada pengirim nya yaitu Surti.


Jelas Surti memilih untuk dikirim ulang, Ki Kusumo menambahkan jika ingin dikirim ulang maka Surti harus turun tangan untuk membantu.


Di rumah Melati ada orang asing, dan orang itulah yang menolong Melati. Jika ingin teluh ini berhasil, maka orang itu harus dilenyapkan.


Ki Kusumo juga mengatakan, jika dia tidak bisa melakukan apapun kepada anak itu karena tidak tahu siapa anak tersebut.


Padahal itu hanya alasan saja, yang sebenarnya adalah Ki Kusumo merasa takut jika melawan Udin akan melenyapkan dirinya sendiri.


Karena itu Surti berinisiatif untuk meracuni Udin agar anak itu bisa metong. Tapi caranya gagal, justru Udin mengembalikan es beracun nya itu.


Sekarang Surti tidak tahu bagaimana caranya untuk melenyapkan Udin?


Anwar menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara pintu terbuka. Nampak Udin masuk dan duduk di sisi ranjang Melati.


" Dari mana saja? " Sapa Melati, wanita itu tersenyum ramah , bibirnya nampak pucat. Maklum, semalam Melati telah kehilangan banyak darah.


" Dari luar Mbak nyari angin" jawab Udin.


" Kamu udah makan ?" Tanya Melati lagi, Udin mengangguk cepat.


Anwar hanya diam, ia merasa kurang suka dengan Udin. Karena Surti telah memberi tahunya mengenai apa yang dikatakan oleh Ki Kusumo.


Yah! Surti dan Anwar telah menjalin hubungan terlarang. Perselingkuhan mereka telah terhidu oleh Melati. Tapi mereka menyangkal karena Melati hanya belum memiliki bukti, hanya berdasarkan katanya.


Puncaknya, Surti yang berniat menjual tanah warisan untuk bisa menikah dengan Anwar, kaget karena tanah itu tidak bisa dijual.


Rupanya Ibu Melati telah mengubah surat wasiat dengan mengatasnamakan tanah itu sebagai milik Melati dan anak yang dikandung nya.


Murka Lah Surti begitu tahu tentang perbuatan Budenya. Ia langsung datang menemui perempuan tua itu dan menegur perbuatan Ibunya Melati yang menurut nya sangat lancang.


Tapi Ibu Melati tak gentar sedikit pun, karena ia mempunyai kuasa untuk itu.


" Kau, tidak berhak sedikit pun atas harta warisan keluarga besar ini. Karena pedoman kami, seorang pengkhianat tidak layak menjadi bagian keluarga Baharuddin" Itulah kata-kata pedas Ibu Melati terhadap Surti.


Sehingga menyebabkan Surti dendam dan ingin melenyapkan Melati.