SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
TELUH BUANGAN



Hairul tidak sabar menunggu kabar, apakah teluh yang dikirim nya untuk Syifa sudah menjadi.


Yah!


Pria itu tidak memiliki jalan lain untuk memutuskan pertunangan nya dengan Syifa. Ia meminta bantuan seorang dukun dari kawasan laut Utara di ujung barat pulau Jawa.


Ia ingin memberikan pelajaran kepada Syifa, karena kebohongannya membuat Hanum hampir meregang nyawa.


Gadis yang dicintainya itu meminum obat tidur dan terpaksa dilarikan ke RS.


Di saat Ibu Hairul mengajak Syifa pergi ke butik untuk memilih baju pengantin, Hairul datang ke rumah Syifa.


Di sana ia hanya bertemu dengan Sakhi, adik ipar nya yang masih kecil itu.


" Ibu dan Bapak ada ?" Tanya Hairul.


Sakhi menggeleng.


" Bapak ke ladang, Ibu masih di pasar " Jawab Sakhi.


" Oh, ya udah tolong adek ambil kan handset Abang yah di kamar Kakak" Pinta Hairul, tentu itu hanya alasan fiktif belaka. Yang mana meskipun Sakhi mencari sampai menyekop rumahnya, tidak akan pernah menjumpai barang tersebut.


Dan benar saja, Sakhi mengatakan tidak ada. Jadi Hairul meminta ijin untuk mencari nya sendiri. Dengan senang hati Sakhi mengijinkan.


Pada saat itu lah Udin melihat dari cermin bagaimana Hairul menabur abu tulang manusia ke seluruh penjuru kamar.


Setelah dua hari berlalu, Hairul belum mendapatkan kabar mengenai keadaan Syifa. Ia sudah tidak sabar menunggu, akhirnya Hairul datang dan bertemu Sakhi di halaman rumah.


" Dek, aku dengar Kakak mu sakit? "


Sakhi yang tidak tahu jika sebenarnya tidak ada tahu mengenai apa yang menimpa Syifa pun mengiyakan.


Ia pikir Hairul diberi tahu oleh Syifa, karena itu Hairul datang.


" Sakit apa dek?? Gimana keadaannya?" Tanya Hairul ingin diperjelas.


Maka Sakhi menjelaskan secara detail keadaan sang Kakak.


Hairul mengangguk mengerti, lalu ia pun berpamitan untuk pulang.


Disini lah awal mula kesalahpahaman itu terjadi.


Udin menghela napas lega, ternyata bukan Sakhi pelakunya.


" Kembali kan saja kepada pengirim nya Ratu, aku rasa dia sudah cukup berbahagia melihat penderitaan Syifa selama beberapa tahun ini " Gumam Udin.


" Dengan senang hati sayang " Ratu Blorong membelai pipi Udin menggunakan ujung jari nya yang lentik.


Sekali lagi ia menabur bunga tujuh rupa dan membaca mantra. Tapi kini ia menghembuskan udara ke arah telaga. Menciptakan angin kuat menyapu tujuh cahaya berwarna terbang menjauh.


Syifa yang tengah terlelap merasa kan sesuatu benda dingin menyapu kaki nya.


Perlahan Syifa membuka matanya, ia terpaku melihat sosok perempuan bertubuh biawak menjilati kaki nya.


Syifa mematung dengan rasa ngeri yang mencekam. Ia tidak berani bergerak karena takut sosok itu menggigit nya.


Ekor matanya bergerak ke samping, rupanya tidak hanya satu saja makhluk yang sama. Ada banyak sekali, anehnya mereka menjilati lantai kamar Syifa secara menyeluruh.


Setelah itu mereka berkumpul secara berkelompok di tengah-tengah ruangan. Mereka menganggukkan kepalanya bersamaan ke arah Syifa, lalu menghilang.


Syifa menghela nafas lega, tubuh nya yang kaku pun bisa kembali digerakkan. Ia duduk di bibir kasur, mengatur nafas menenangkan pikiran nya yang kalut.


" Hah ? " Syifa terkejut menemukan luka borok di sekujur tubuhnya mengering. Belatung pun tak terlihat bergerak mengorek lukanya.


Ia tidak percaya sampai berdiri dan mengoreksi tubuhnya berkali-kali. Yang lebih mengejutkan lagi saat matanya tak sengaja melihat ke dalam cermin, wajah cantik nya telah kembali.


Syifa meraba wajah nya tak percaya, ia senang sekali akhirnya bisa sembuh seperti sedia kala.


" Ibuuuuu Ibuuuuu" Seru Syifa memanggil Ibunya.


" Ibu , lihat lah.. Aku sudah sembuh"


Sepasang mata tua itu terpukau, ia tidak percaya hingga mengucek matanya berulang kali.


" Ini benar kamu Syifa?"


" Iya Bu, ini Syifa"


Sakhi yang baru saja terjaga karena suara Kakaknya yang memanggil sang Ibu , datang berkumpul.


" Kak Syifa?" Sakhi terpana, ia melihat Kakak nya sudah cantik seperti dulu.


Syifa tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan hangat dari sang adik.


Sakhi berhambur memeluk Syifa, ia menangis haru karena tak percaya Kakaknya bisa sembuh seperti sedia kala.


" Aku rasa ini adalah bantuan dari teman mu itu ? " Tukas Syifa, Ibu serta adiknya duduk mengapitnya di bibir kasur.


" Teman yang mana ? " Tanya Ibu Syifa.


" Itu Bu teman Sakhi yang ke pasar pagi tadi , namanya Udin. Dia anak yang istimewa, dan juga memiliki khodam" Sakhi menjelaskan.


" Kenapa kamu nggak bilang kalau dia akan membantu Kakakmu ?"


Sakhi tersenyum hambar, bagaimana dia mau bilang? Jika sikap ibunya begitu dingin.


*


Hairul tidur dengan gelisah, ia merasa udara di kamar nya sangat panas. Seperti tengah dipanggang di atas bara api.


Sejak teluh nya berhasil, Hairul memutuskan hubungan pertunangan secara sepihak. Dengan alasan bahwa Syifa memakai susuk untuk bisa terlihat cantik. Dan kini susuk itu sudah terpantang, jadi kecantikan wanita itu hangus.


Orang tua Hairul percaya saja, sehingga mereka tidak bisa mencegah keputusan anaknya itu.


Tapi disaat mereka mendengar jika Hairul ingin menikahi Hanum, Ibu Hairul tidak setuju. Karena Hanum adalah gadis tak bernasab. Ibunya Hanum berprofesi sebagai pel*cur, sampai sekarang pun Ayah biologis Hanum tidak pernah diketahui.


Terpaksa Hairul pamit untuk merantau ke luar kota, dengan alasan malu sebagai mantan tunangan dari gadis pemakai susuk.


Padahal sebenarnya Hairul berniat menikah dengan Hanum di luar kota tanpa sepengetahuan siapapun.


AAAKKKKHHHHHHH


Hairul terkejut mendengar jeritan istrinya.


" Ada apa sayang?? Hah ?? Ada apa?? " Hairul panik sendiri, ia pikir ada rampok atau pencuri telah masuk rumah.


" Wa wa wajah mu Mas " Hanum menunjuk wajah suaminya dengan gemetar.


Hairul meraba wajah nya tapi tidak merasakan apapun, ia pun turun melantai ke depan cermin.


AAAKKKKHHHHHHH


Hairul menjerit histeris menemukan wajahnya hitam legam. Ia pun pingsan pada saat itu juga.


Sadar jika teluh yang dikirim nya kembali kepada nya, Hairul langsung mendatangi dukun yang dulu telah membantu nya.


Dengan harapan ia bisa disembuhkan. Namun sayang, si dukun tidak bisa melakukannya. Karena ini bukan teluh kiriman nya, melainkan teluh buangan yang tidak bisa disembuhkan.


Hairul tidak bisa percaya ini, ia memaksa dan siap membayar berapapun yang dukun itu mau.


Tetap saja si dukun menolak, ia tidak bisa melawan pasukan Nyai Blorong dengan kemampuan nya yang terbatas.


Si Dukun pun heran, kenapa Nyai Blorong bisa ikut campur dengan teluh buatan nya? Tidak mudah bagi manusia meminta Ratu ular itu melakukannya.


Dia hanya suka memberikan kekayaan bagi siapapun yang bisa memuaskan nya di ranjang.


Tapi kali ini sepertinya beda.