SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
KEINGINAN SAKHI



Cahaya sudah tidak sanggup lagi, ia terjatuh ke tanah sebelum berhasil mendarat dengan baik.


Suami nya Pangeran As'ad yang mendengar suara kedebuk langsung keluar dari gubuknya. Ia terperangah melihat Cahaya tersungkur di tanah. Gegas Pangeran As'ad menuruni tangga bambu untuk menolong sang istri.


" Sayang... " Pangeran As'ad langsung menggendong tubuh istri nya dengan gaya bridal style. Ia membawa nya ke tempat istirahat yang berada di bawah gubuk.


Pangeran As'ad membuka topeng yang masih melekat pada wajah Cahaya.


" Sayang kamu tidak apa-apa? "


Cahaya perlahan melirik sang suami, air matanya meluruh deras tak tertahan kan.


" Sayang... " Pangeran As'ad mendekap erat sang istri tercinta. Tidak ada hal apapun yang mampu membuat Cahaya menangis kecuali anaknya.


Direngkuh dengan hangat tanpa sebarang pertanyaan membuat Cahaya semakin sebak. Seperti ada sesuatu yang meledak dalam dadanya, ia menangis meratap lirih.


Pangeran As'ad mendongak ke langit, hatinya pun hancur pabila sang istri meraung lirih menyayat hati. Ia mengusap kepala Cahaya agar Perempuan itu sedikit lebih tenang.


Setelah tangisan nya mereda, Cahaya merenggangkan pelukan suaminya. Pangeran As'ad mengusap wajah Cahaya yang basah oleh air mata.


" Sekarang, tolong cerita kan padaku! Apa yang telah terjadi? " Tanya Pangeran As'ad .


Cahaya menelan saliva, tenggorokannya tercekat kembali jika mengingat peristiwa yang baru saja terjadi. Ia telah menyentuh buah hatinya, setelah sekian lama Cahaya menunggu kedatangan nya.


" Jiwanya,,,,, memanggil ku.. Ibu " Cahaya tertunduk, bagai banjir bandang air matanya tak dapat terbendung lagi.


Kedua bola mata Pangeran As'ad melebar, apakah baru saja Cahaya mengatakan perihal anaknya??


" Apa maksud mu sayang? " Suara nya bergetar.


Cahaya mendongak pelan, ditatapnya mata suaminya yang berkaca-kaca. Ia mengangguk kan kepalanya.


" Yah !! Aku telah bertemu dengan nya, dia seperti mu tapi matanya seperti ku... Dia anak kita " Tubuh Cahaya berguncang hebat, tangisan pasang surut tak terkendali.


" Dimana? Dimana dia ?" tanya Pangeran As'ad .


Cahaya mengangkat tangan kirinya, ia menunjuk ke satu arah.


" Jadi benar dia datang bersama Kujang? " Sekali lagi Pangeran As'ad ingin memastikan.


" Yah ! Harimau itu sama sekali tidak meninggalkan anak kita"


Pangeran As'ad tertunduk, ia meremas dadanya sendiri. Rasanya ada sesuatu yang akan meledak hebat disana.


" Sebentar lagi, sebentar lagi dia akan sampai" Cahaya menambahkan.


" Apa kita tidak menjemput nya saja ?" Pangeran As'ad tak sabar untuk bertemu langsung dengan anaknya.


" Jangan!! Kita tunggu, kita tunggu seperti perintah Ibuku " Cahaya masih ragu , tadi pun saat menolong Udin ia sedikit takut. Tapi tak mungkin ia membiarkan anaknya di bantai oleh Iblis itu.


Pangeran As'ad mengangguk ragu, pandangan nya terlempar jauh. Degup jantungnya bergemuruh.


Kita beralih kepada nasib Sakhi ~^~


Sakhi keluar dari rumah Prilly bersama ibunya dengan wajah muram. Ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika beberapa orang datang dan meminta kepada nya untuk mengosongkan rumah itu.


Ibu Sakhi sangat shock, ia menolak untuk pergi. Tapi semua orang suruhan Prilly tidak mau tahu itu.


" Kenapa kita diusir? " Ibu Sakhi mengeluh pilu.


" Ini bukan rumah kita Bu " Jelas Sakhi .


" Tapi teman kamu kan yang menyuruh kita untuk tinggal disini, kenapa sekarang saat dia pergi kita malah diusir?? "


" Itu tanah ku , terserah aku mau dijual apa nggak" Ibu Sakhi justru membenarkan tindakannya dulu.


" Ya udah kalau gitu Ibu cari sana tempat tinggal sendiri, jangan ikut aku lagi " Tegas Sakhi , ia menenteng tas ranselnya pergi meninggalkan Ibunya seorang diri.


Kesabaran Sakhi sudah habis, bukan nya menyesal, Ibunya justru merasa tidak bersalah sama sekali.


Ini bukan masalah tanah itu milik siapa? Tapi tanah dan rumah itu adalah harta satu-satunya. Dan kini sudah tidak bersisa.


" Sakhi !! Sakhi " Seru Ibu Sakhi memanggil, namun Sakhi terus saja pergi meninggalkan nya.


Setelah agak jauh, barulah Sakhi menoleh ke belakang. Ibunya sudah tidak terlihat karena terhalang dinding yang menikung.


Tanpa merasa bersalah, Sakhi pun melanjutkan langkah nya keluar dari perumahan kompleks mewah tersebut.


Ia berusaha menghubungi Nuri, Sakhi berniat untuk meminta bantuan Nuri untuk sementara waktu.


" Kok bisa Lo diusir sih Sa ? perasaan Prilly sudah mengijinkan Lo tinggal disana meskipun ia pindah " Tanya Nuri sembari terus mengemudi mobil nya.


" Entahlah" Sakhi tidak berniat untuk jujur, karena ia khawatir Nuri akan ilfil padanya.


Nuri melirik temannya itu, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sakhi .


" Jangan bilang Lo sudah menggoda Udin ya saat Prilly nggak ada " Nuri langsung menebak, karena ia tahu jika Sakhi diam-diam menaruh hati pada Udin.


" Bisa diam nggak? " Sakhi langsung menggertak Nuri.


" Hem ternyata benar " Nuri jadi gedek sendiri dengan sikap Sakhi . Ada rasa sesal dihati nya karena telah datang menyanggupi permintaan Sakhi .


" Terus sekarang Lo mau kemana? "


" Gue mau numpang tinggal di rumah Lo boleh nggak? "


" What's?? " Nuri kaget mendengar permintaan Sakhi yang sangat keterlaluan baginya.


" Lo tahu sendiri kan Sa anggota keluarga gue banyak. Mana ada kamar kosong, lagian Lo sih. Udah ada orang sebaik Prilly yang bantuin Lo, malah mau ditikung "


" Bisa diem nggak?!! Kalau Lo nggak mau kasih gue tumpangan sementara, kasih gue pinjam duit buat cari kosan yang deket sama sekolah " Tanpa rasa segan sedikitpun, Sakhi main target aja.


" Duit dari mana? " Bantah Nuri, tentu dia juga tidak akan memberikan Sakhi pinjam uangnya. Karena ia tahu Sakhi tidak akan punya uang untuk membayar.


" Jangan Lo pikir gue bodoh ya Nur, gue tahu Lo jadi sugar Baby kan? Mangkanya Lo bisa beli mobil. Kalau anak-anak sekolah tahu tentang kegiatan haram yang Lo lakuin? Lo bisa dikeluarin dari sekolah " Sakhi mengancam Nuri agar teman nya itu mau membantu nya.


Kedua bola mata Nuri membulat, ia tidak menyangka jika Sakhi akan berani mengancamnya.


" Sekarang cepat Carikan gue kontrakan, dan pinjam kan gue duit. Gue akan ganti, sekalian Carikan gue om-om yang bisa dijadikan sugar Daddy" cetus Sakhi , ia sudah memikirkan hal itu sejak tadi.


" Apa?? Lo mau cari sampingan kayak gue? " Nuri sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


" Gue udah nggak punya cara untuk bertahan Nur, gue harus secepatnya mengubah haluan hidup gue. Menjadi baik selalu tertindas, Ibu gue nggak pernah menganggap gue anak yang baik. Baginya hanya Kak Syifa yang baik. Jadi sekarang gua akan menjadi anak yang diinginkan oleh Ibu gue " Sakhi menatap kosong ke depan. Hatinya terluka jika mengenang semua orang-orang yang telah menyakiti nya.


Nuri terdiam, ia bisa merasakan bagaimana menjadi seorang Sakhi ? Mungkin sekarang dia benar-benar sudah capek dengan masalah hidupnya.


" Ibu Lo sekarang dimana? " Tanya Nuri ingin tahu.


" Nggak tahu, dan gue nggak mau tahu. Biar dia merasakan dampak dari perbuatannya sendiri yang telah menjual rumah. Sakit hati gue Nur, Ibu malah tidak merasa menyesal gitu dengan perbuatannya " Sakhi mengesat sudut matanya yang mulai berair.


Nuri menghela nafas panjang, ia mengusap bahu Sakhi dengan sebelah tangan.


" Yang sabar ya, nanti kalau kamu sudah mendapatkan sugar Daddy yang kamu mau, aku jamin kehidupan kamu akan berubah seratus delapan puluh derajat"


Sakhi tersenyum tipis, ia mengiyakan perkataan Nuri.