
Prilly duduk di kursi, ia yang bukan siapa-siapa nya Sakhi jadi turut pening memikirkan Ibu dan anak itu.
Syifa pun sudah sangat keterlaluan, Prilly berniat membuat perhitungan dengan perempuan itu nanti.
" Sa, bangun lah " Seru Prilly , Sakhi bangun secara perlahan. Matanya bengkak hidung nya merah. Tangisannya tersisa sesenggukan yang masih sesekali disertai linangan air mata.
" Tega banget Kak Syifa sama Ibu , kalau hanya aku? Nggak apa-apa, aku bisa berdiri di kaki aku sendiri. Tapi Ini Ibu? Ibu yang melahirkannya, dan juga sangat menyayangi nya " Air mata Sakhi kembali meluruh deras.
" Apa maksud kamu Sakhi ?" Ibu Sakhi masih bingung, ia tidak akan percaya dengan mudah jika dikatakan bahwa Syifa telah meninggalkannya begitu saja di Bandara.
" Bu, Ibu tahu tidak? Kak Syifa sudah ninggalin Ibu " Sakhi mulai kehilangan kesabarannya.
" Kau jangan memfitnah Syifa, dia anak kesayangan Ibu. Hal itu tidak mungkin dia lakukan " Bantah Ibu Sakhi keras.
" Eh perempuan tua!! Anak kesayangan mu itu sudah naik pesawat duluan, dia sudah bawa kabur uang mu. Paham nggak?! Ih greget banget deh " Prilly mengepalkan tangannya karena geram.
" Itu tidak mungkin" Bantah Ibu Sakhi .
" Ya udah kalau nggak percaya, yuk Sa! Biarkan saja perempuan itu disini, menunggu anak kesayangannya sampai mam-pus " Prilly bangkit, kesabarannya mungkin hanya setipis tisu.
" Pri dia ibu gue " Sakhi menolak karena nggak tega ninggalin Ibunya di Bandara sendirian.
" Ibu ? Apa ada Ibu kayak dia? Ninggalin anak demi anak kesayangan yang tidak tahu diri itu. Ih Amit-amit jabang bayi dah gue punya Ibu kayak dia " Prilly refleks mengusap perutnya.
Ibu Sakhi melengos marah mendengar kata-kata pedas dari mulut Prilly . Ia memeluk tasnya lebih erat lagi.
" Bu, ayo kita pulang" Sakhi mengajak ibunya untuk pergi.
" Mau pulang kemana Lo Sa? Lo kan sudah nggak punya rumah " Timpal Prilly cepat.
" Kemana aja la Pri, gampang nanti gue pikirin. Yang penting sekarang Ibu nggak terlantar disini " Sakhi menjawab seolah-olah itu bukan masalah besar.
" Itu pilihan dia Sa, ya tanggung sendiri lah. Lo biarin aja wanita yang Lo sebut sebagai Ibu itu disini" Prilly tidak berminat untuk membawa Ibu Sakhi itu pergi. Karena dirinya turut merasakan sakit hati atas tindakan konyol si Ibu.
" Gue nggak bisa, dia tetap Ibu gue Pri " Sakhi tetap kekeuh dengan pilihannya.
" Terserah Lo dah " Prilly sudah malas, ia bangkit lalu pergi.
" Bu ayo " Sakhi meraih tangan si Ibu.
" Syifa gimana? " Lagi-lagi Ibu Sakhi masih mencemaskan Syifa.
" Kak Syifa udah pergi Bu, kita doakan saja semoga Kak Syifa bahagia di sana bersama suaminya" Berat rasanya hati Sakhi untuk mengucapkan kalimat seikhlas itu.
" Tapi Ibu pengen tinggal sama Syifa"
Sakhi terdiam, se sayang itukah Ibunya kepada sang Kakak. Hingga kehadiran Sakhi sama sekali tidak menjadi pertimbangan bagi sang Ibu.
" Ya udah, sekarang Ibu ikut Sakhi lebih dulu. Nanti kalau Kak Syifa datang, Ibu baru ikut dia " Sakhi membujuk sang Ibu meskipun harus berbohong.
" Tapi, gimana caranya dia menemukan kita? Sedangkan kita nggak tahu akan tinggal dimana? " Sadar juga si Ibu kalau sekarang dia sudah tidak memiliki apapun.
" Kak Syifa kan tahu alamat sekolah Sakhi , jadi pasti dia akan mencari Sakhi di sekolah " Rayuan Sakhi semakin masuk akal.
Akhirnya si Ibu pun bersedia ikut dengan Sakhi . Meskipun sesekali dia akan menoleh ke belakang, berharap Syifa akan kembali.
Prilly berdecih saat melihat Sakhi menggandeng sang Ibu dengan hangat. Ia tidak suka dengan perempuan tua itu karena sikapnya.
Sementara si Udin baru saja siuman. Ia heran dan tidak tahu dirinya sekarang berada di mana. Tahu-tahu Sakhi masuk ke dalam mobil bersama Ibunya.
" Lumayan " jawab Prilly ketus.
" Kamu kenapa? " Udin merasa janggal melihat wajah Prilly yang mengetat. Tapi gadis itu tidak menjawab.
" Maafin gue Pri " Justru Sakhi yang menyahut dengan mimik muka penuh penyesalan.
Prilly menghela nafas panjang berkali-kali, ia mulai mengontrol emosi nya dengan baik.
" Sekarang rencana Lo mau kemana? " Tanya Prilly pada akhirnya.
Sakhi menjawab dengan gelengan kepala yang lemah.
" Gue ada rumah, dulu gue tempati saat Papa masih hidup. Tapi sekarang Gue tinggal serumah sama Mama. Jadi rumah itu nggak ada yang tempati. Hanya seminggu dua kali bibi datang ke sana buat bersih-bersih"
" Lo bisa tinggal di sana untuk sementara waktu sampai Lo punya tempat tinggal sendiri" Prilly mencadangkan sesuatu yang tidak pernah Sakhi pikirkan sebelumnya.
" Nggak usah lah Pri, Lo udah banyak bantu gue " Sakhi tidak mau terlalu banyak menerima kebaikan Prilly . Apalagi dia terlihat kurang suka terhadap Ibunya.
" Nggak apa-apa, gue nggak mau saingan gue harus mundur hanya gara-gara kelakuan orang-orang yang tak berperikemanusiaan. Sebentar lagi olimpiade akan dimulai usai ujian. Lo fokus aja buat ngalahin gue" bantah Prilly yang sangat masuk akal.
Karena jika Sakhi tidak menemukan tempat tinggal, pasti akan berakibat pada pendidikan nya juga.
" Emangnya kalian berlomba dalam bidang olahraga apa ?" Tiba-tiba Udin bertanya.
" Banyak, salah satunya renang, cerdas cermat juga " Prilly menjawab.
" Oh, nggak apa-apa Sakhi , kamu pasti ada kesempatan untuk mengalahkan nya. Asal jangan balapan"
Prilly tersenyum menahan tawa, Sakhi pun ikut tersenyum. Sejenak ia sedikit melupakan kepedihan nya.
" Terimakasih ya Pri, sampai kapan pun gue nggak bisa membalas semua kebaikan Lo" ucap Sakhi saat ia sudah sampai di rumah Prilly .
Prilly tersenyum tulus.
" Ya udah, kamu masuk aja. Istirahat lah, hari ini pasti sangat melelahkan bagimu " Prilly menepuk pundak Sakhi lembut, Sakhi mengangguk setuju.
" Gue balik dulu "
Prilly kembali masuk ke dalam mobil bersamaan dengan Udin. Sakhi melambaikan tangannya melepaskan kepergian dua sahabat nya.
Yah! Mereka lah yang dinamakan sahabat sejati. Selalu ada disaat waktu terpuruk. Sakhi berjanji kepada dirinya sendiri, suatu hari nanti dia akan membalas kebaikan Prilly .
Prilly melirik Udin yang ketahuan senyam-senyum sendiri melihat dirinya.
" Kamu kenapa?" Tanya Prilly sembari terus memegang kemudi.
" Nggak, nggak kenapa-napa.." Udin berdalih.
" Nggak kenapa-napa tapi senyam-senyum sendiri dari tadi. Ketempelan setan?" Celutuk Prilly , memancing senyuman Udin semakin lebar.
" Kamu baik juga ya sama Sakhi , padahal aku lihat kamu kayak mau perang mulu kalau deket-deket dia " Akhirnya Udin mengungkapkan isi hatinya.
" Aku nggak suka kalau dia deketin kamu, selain dari itu aku biasa aja " Jawab Prilly .
" Dia nggak pernah deketin aku, aku juga nggak merasa Deket sama dia " Bantah Udin.
Prilly mencebikkan bibirnya.