SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
KENYATAAN



Udin menyelinap keluar dari lapas, ia melompat dari dahan pohon satu ke pohon lainnya.


Untuk menemukan alamat rumah yang diberikan oleh Paman Sam, Udin menggunakan Google maps melalui ponsel yang dimilikinya.


Setelah kurang lebih hampir satu jam, akhirnya ia sudah melihat titik rumah yang dimaksud oleh Paman Sam.


Udin mulai mengurangi kecepatannya, samar-samar ia mendengar suara wanita bersenandung. Semakin Udin dekat dengan rumah keluarga Paman Sam, semakin jelas nyanyian wanita itu.


Di balik rerimbunan pepohonan, Udin melihat kain putih yang bergerak-gerak. Udin mengendus aroma yang khas sekali, rupanya Tante Kuntilanak tengah melakukan pertunjukan Opera.


Ia menyanyi, sesekali ia tertawa cekikikan, tiba-tiba berubah tangisan. Sungguh labil sekali jiwanya.


Udin sengaja mendarat kan kakinya perlahan di dahan yang satu tingkat lebih tinggi dari dahan pohon yang di tempati oleh Tante Kuntilanak.


Ia menyender kan punggungnya , menekuk satu kakinya sedangkan kaki yang lain menjuntai ke bawah.


Haaa aaa aaaaaa aaaa hihihi hihihi hiks hiks hiks hiks hiks.


Terus saja si Kuntilanak mengulang lagi yang sama, membuat Udin mengorek lubang telinga nya.


" Nggak ada lagu lain ya " Tegur Udin sudah tidak tahan.


" Ha AW AW AW " Si Kuntilanak terkejut hingga ia terjungkal, untung saja ia masih sempat memegang dahan pohon sehingga tubuh nya tidak terjun bebas ke tanah.


" Ih kau siapa sih?? Gangguin aja " Gerutu Kuntilanak sembari berusaha naik lagi ke dahan pohon itu.


" Kau yang siapa?? sok bagus sekali suara mu nyanyi kuat sekali, tiba-tiba nangis tiba-tiba tertawa, Gila ya kamu " balas Udin.


" Kau yang gila, eh kamu manusia apa hantu?? " Si Kuntilanak baru menyadari jika Udin ini berbeda dari yang lain.


" Aku ?? Menurut mu?? "Udin justru melemparkan pertanyaan kembali.


" Masa hantu SE cakep kamu sih ?" Si Kuntilanak meraba kaki Udin lalu mencabut bulu di kaki nya.


" AW sakit" Udin menarik kaki nya sembari menggosok-gosok karena kesakitan.


" Hem kamu manusia?? " Si Kuntilanak mengendus aroma bulu yang baru saja dicabut nya.


" Iya " jawab Udin pendek.


" Ngapain kamu disini?? Aku kok nggak tahu kamu berada disitu??? " Tanya Kuntilanak.


" Aku lagi nyari anaknya Paman Sam, katanya dia tinggal di rumah ini " Jawab Udin jujur.


" Apa?? Kamu nyari aku ?"


Udin terhenyak, pandangan teralihkan kepada wajah Kuntilanak itu.


" Kamu kenal Bapak aku dimana ?" tanya Kuntilanak itu lagi.


Udin meneguk air liur nya, ia sungguh terkejut mengetahui jika anak Paman Sam sudah meninggal.


Ia perlahan menuruni dahan dan duduk sejajar dengan Kuntilanak. Alhasil mereka nongkrong disana.


" Kamu benar anaknya Paman Sam?? " Tanya Udin memastikan.


" Apa Bapak tidak ngasih foto ku ?"


Udin menjawab dengan gelengan kepala.


" Yah, Aku anak dari pria yang kamu panggil Paman Sam"


" Kamu Lia ?"


Kuntilanak itu mengiyakan.


" Jadi, kamu tidak menjenguk Bapak mu karena kamu meninggal?? "


Kuntilanak itu membenarkan.


" Kenapa tidak ada yang memberi tahu Paman Sam?? "


" Bude tidak menyukai Bapak, begitu juga dengan diriku. Tapi mereka menikmati semua uang kedua orang tua ku, rumah Bapak dijual, tanah yang cuma sepetak itu pun dijual. Aku sama sekali nggak dikasih sepeserpun "


Udin menyimak dengan baik.


" Lalu kenapa kamu mati ?" tanya Udin.


" Malam itu aku demam parah banget, tapi bukannya aku dibawa ke dokter, justru aku disuruh tidur di kandang kambing. Hujan sangat deras, tubuh ku menggigil hebat, hingga aku menghembuskan nafas terakhir di sana"


" Kejam sekali mereka " Gumam Udin.


" Tidak berhenti disitu, kematian ku tidak ada yang tahu. Mereka mengubur tubuh ku di bawah pohon ini seperti orang yang mengubur bangkai kambing "


Udin mengepalkan tangannya dengan kuat, ia marah sekali.


" Apa Bapak disana baik-baik saja?" Arwah Lia begitu mencemaskan sang Bapak.


" Paman baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Dua tahun lagi dia akan bebas" Jawab Udin.


" Pasti Bapak akan sedih sekali jika tahu aku sudah tidak ada di dunia ini lagi " Gumam Lia.


Udin diam, ia tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jika dia memberi tahu kabar ini?


" Kau kapan bebas? " Lia mengalihkan topik pembicaraan.


" Belum tahu " jawab Udin.


" Hah?? Terus kok kamu ada disini kalau kamu belum bebas? " Tanya Lia heran.


" Jangan tanyakan sesuatu yang tidak bisa ku jelaskan, sekarang gimana?? Apa kamu nggak mau balas dendam kepada mereka? " Tanya Udin.


" Sudah dong, Masa mau aku biarkan begitu saja orang-orang seperti mereka. Mendengar nyanyian ku saja, roh mereka yang berada di dalam rumah itu tidak akan berani keluar "


Udin menautkan kedua alisnya.


" Maksud mu ? "


" Mereka sudah ku bantai habis, seluruh keluarga Bude termasuk anak cucunya sudah ku habisi dan ku kumpulkan mayat mereka di dalam rumah itu. Sampai sekarang tidak ada yang menyadari bahwa mereka sudah mati "


Udin manggut-manggut tanda mengerti.


" Apa kamu tidak ingin menemui Bapak mu ? " Tanya Udin.


Lia menggeleng lemah.


" Aku akan semakin tidak rela jika melihat Bapak menangis, aku titip Bapak yah. Kalau dia sakit dia suka dikerokin, jadi tolong kerokin dia "


Udin mengiyakan permintaan Lia.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu "


Lia mengangguk, Udin pun kembali dengan mengambil jalan yang sama seperti tadi dia datang. Barulah kini dia tahu kenapa tiba-tiba Udin berada di atasnya tanpa ia sadari.


Di lain tempat, Cahaya yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anaknya, mendadak bengong melihat perubahan yang sangat besar di tempat yang sangat ia kenal sebagai yayasan Al-Hikmah.


Di depannya hanya ada bangunan tinggi hampir mencakar langit. Bangunan tersebut dikelilingi kaca berbentuk kotak-kotak. Dan terdapat pintu gerbang yang sangat besar disana.


Pangeran As'ad menghampiri seorang pria penjaga pintu gerbang. Dia menanyakan perihal Yayasan yang berada di tempat itu.


" Yayasan?? Setahu saya Mas, selama saya bekerja disini, memang seperti inilah keadaan nya. Tidak ada Yayasan disini Atau pun disekitar sini" Jawab Pak Satpam.


Perasaan Cahaya hancur lebur, jadi selama ini firasat nya bener. Anaknya telah pergi jauh dan semakin jauh dari nya.


" Bagaimana ini sayang?? " tanya Pangeran As'ad .


" Apa aku harus menunggu lagi ? " Gumam Cahaya, ia meremas bajunya menahan sakit di dalam dadanya.


" Kita akan mencari nya sayang, kita akan temukan anak kita " Tukas Pangeran As'ad .


" Kemana?? Kalau itu mudah sudah ku datangi tempatnya, tapi aku tidak tahu dia ada dimana?"


Pangeran As'ad terpegun, otaknya buntu sekali.