SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
WANITA BERWAJAH HITAM



Hari kedua di sekolah, Udin sudah tidak deg-degan lagi. Ia langsung masuk ke area sekolah dan berjalan menuju kelas.


Kedatangan nya banyak memancing perhatian, penampilan Udin yang cuek menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan kaum hawa.


Apalagi wajahnya yang terbilang sangat tampan, menunjang status nya yang sangat pantas sebagai siswa berbaret merah.


Tapi tiba-tiba...


PLAK!!


Sebuah tamparan melayang di wajah Udin, sebelum ia menjejakkan kakinya di kelas.


Semua orang terpana, begitu berani nya Sakhi menampar anak kelas baret merah di depan khalayak ramai.


" Kurang A jar kamu ya, bisa-bisanya kamu tega ninggalin seorang perempuan pingsan di antara tiga pria. Dimana hati nurani mu hah?? Kalau sampai terjadi apa-apa sama aku gimana?? Apa kamu tidak merasa bersalah sama sekali?? Hah??" Sakhi melampiaskan kekecewaannya terhadap Udin yang membiarkan dia di gudang bersama dengan Luis beserta teman-temannya.


Untung saat Sakhi sadar, ketiga cowok itu masih klenger . Kalau tidak ? Entah apa yang akan terjadi dengan nya ? Di tengah malam lagi .


" Apa-apaan ini? " Prilly datang tepat waktu, dia menengahi keadaan.


" Nggak usah ikut campur Lo " Sergah Sakhi.


" Harus dong, dia kan tunangan gue " Prilly tidak mau kalah.


" Gue jadi kasian sama Lo Pri, punya tunangan yang tidak memiliki solidaritas sosial sama sekali " Sakhi melirik Udin tajam, namun Udin biasa saja.


" Emang kenapa sih ? " Prilly mengalihkan perhatiannya kepada Udin yang diam saja.


" Siapa yang nyuruh kamu ikut masuk ke dalam gudang??" Udin melemparkan pertanyaan kembali.


Sakhi terjebak, ia bingung harus menjawab apa?


" Dan siapa yang nyuruh kamu ikut campur urusan orang? " Udin bertanya kembali, membuat Sakhi celingukan.


" Prilly saja, dia tidak melakukan apa yang kamu lakukan? Karena dia tahu, ini urusan antara aku dan Luis. Dan kamu ?" Udin menunjuk wajah Sakhi " Bukan siapa-siapa "


Udin masuk ke dalam kelas dengan menumbruk sebagian pundak Sakhi. Di ikuti oleh Prilly yang berlari kecil menyusul Udin.


Sakhi tertunduk malu, semua mata tertuju pada nya. Ia gegas lari keluar dari zona merah.


" Ada apa sih Din ?" Prilly masih penasaran.


" Nggak ada apa-apa " Udin menjawab acuh.


Prilly memperhatikan Udin, ia meraih wajah pria itu lalu membolak-balik nya. Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu.


" Pipi mu merah, apa dia menampar mu ? " Tanya Prilly.


Udin menepis tangan Prilly, lalu beralih membuka isi tasnya.


" Meskipun kamu bersikap acuh, aku tidak akan membiarkan Sakhi begitu saja " Tukas Prilly sembari berbalik menghadap ke depan.


Udin melirik Prilly, perasaan seperti ini yang tidak Udin suka. Ketika ia mulai merasa dekat dan nyaman dengan orang sekitar. Ia jadi takut untuk kehilangan mereka.


Sama seperti halnya kejadian yang telah berlalu, Udin masih sangat trauma. Bayangan kematian Wati, Siti, Rahul dan Satrio terus membekas dalam ingatannya.


*


Nuri heran melihat Sakhi datang dengan langkah terburu-buru. Gadis itu kemudian duduk di kursi nya dengan raut wajah memerah.


Sesekali Sakhi meremas jari jemari nya sendiri, ia nampak gugup, takut serta nervous.


" Lo kenapa? " Tanya Nuri. Sakhi hanya menggelengkan kepalanya, beberapa kali ia terlihat meneguk saliva.


" Lo habis dikejar hantu? " Celutuk Nuri, Lagi-lagi Sakhi menggeleng.


" Aneh.. "


Nuri tidak lagi bertanya, ia paling malas jika yang ditanya hanya menjawab dengan gelengan kepala.


Baru saja Sakhi merapikan buku-bukunya ke dalam tas, tiba-tiba ada seseorang yang menggebrak mejanya.


Ia terkesiap kaget, Prilly sudah berdiri di hadapannya.


" Kamu nampar Udin ? hah ? " Tanya Prilly sengit.


PLAK!!


Sebuah tamparan tak dapat ia elak, Prilly ingin menampar lagi tapi tangannya tertahan. Gadis itu menoleh, rupanya Udin sudah berdiri di belakangnya.


" Lepasin Din, aku harus ngasih pelajaran sama dia " Prilly menarik tangan nya , tapi Udin mencekal kuat.


" Jangan buang-buang waktu, ayo" Udin menarik tangan Prilly keluar dari kelas Sakhi.


Prilly tak mampu untuk menolak, tapi sebelum ia lenyap di kelokan pintu. Prilly sempat menuding ke arah Sakhi sebagai tanda peringatan.


" Sa,, serius Lo buat masalah sama anak-anak baret merah? " Nuri langsung nimbrung saat Prilly dan Udin pergi.


Sakhi tertunduk, ia tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.


" Kebangetan ya Lo Sa, ngapain sih Lo pakek nampar cowok itu segala? Emang dia buat salah apa sama Lo ?" Sambung Nuri lebih ingin tahu.


Sakhi memilih untuk pergi saja, dari pada ia terus dicerca oleh pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.


Tak lupa Sakhi membawa tas sekolahnya langsung, ia berniat untuk pulang ke rumah nya .


" Sa.. " Nuri masih menyerukan namanya, tapi Sakhi tak perduli.


...----------------...


Akhir Minggu , Udin berniat untuk belanja ke pasar, sekalian joging . Sudah pasti ia ditemani oleh Kujang, harimau putih yang kini menjadi sahabat nya.


" Entar kamu mau aku belikan apa ? " Tanya Udin.


" Emmm Doa aja " Jawab Kujang.


" Do'a ? "


" Yah, hanya Doa hadiah terindah yang menaikkan derajat ku " Kujang menjelaskan.


Udin manggut-manggut..


" Ya udah, aku doakan semoga bentar lagi ada cewek seksi lewat" Seloroh Udin.


" Nah itu baru mantap " Sahut Kujang.


Udin tersenyum tipis begitu ia sudah menemukan letak pasar di kawasan yang dekat dengan rumah nya.


Ia bergegas lebih cepat karena sudah lama ia tidak menikmati fantasi tawar menawar ala-ala di pasar.


Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita memakai kerudung seperti tengah menangis di belakang sebuah toko.


Wanita itu tertunduk, sesekali ia menyeka wajahnya yang tidak begitu jelas terlihat oleh Udin.


Lalu tak berapa lama seorang gadis celingukan, gadis yang sangat dikenal oleh Udin. Dialah Sakhi.. terlihat Sakhi seperti mencari seseorang.


Ah rupanya dia mencari wanita yang menangis di belakang toko. Sakhi menghampiri wanita itu, mereka berbincang dengan sangat akrab.


Sakhi mengusap sisa-sisa air mata di wajah wanita itu.


" Terimakasih"


Dari gerakan bibir nya Udin bisa menyimpulkan jika wanita berkerudung itu mengucapkan terima kasih.


Eits!! Udin memicingkan matanya, ia seperti menemukan sesuatu yang aneh pada wajah wanita berkerudung itu.


Wajahnya menghitam, sedang kan warna kulit di badannya berwarna kuning Langsat. Selain itu, wajah wanita itu seperti dipenuhi borok yang membusuk.


Udin tidak bisa menahan rasa penasarannya, ia langsung mendekati Sakhi dan wanita berkerudung itu.


" Assalamu'alaikum" Sapa Udin,


" Wa'alaikum salam" Jawaban kedua wanita itu hampir bersamaan, Sakhi menoleh. Ia cukup kaget melihat Udin berada di tempat ini.


" Ngapain Lo disini?? Ngikutin gue ya" Sergah Sakhi, meskipun terdengar seperti orang yang tidak suka, namun Sakhi diam-diam merasa senang jika benar Udin mengikuti dirinya.


Kujang mencebikkan bibirnya.


GE-ER