SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
SIAPA DIA?



Prilly berlari mendatangi Andi, Udin dan Sakhi mengekor di belakangnya.


" Andi, Lo kenapa? " Prilly berjongkok merangkul Andi, ia melihat kondisi Andi yang babak belur bersimbah darah.


Andi tidak menjawab, dari bibirnya hanya keluar erangan kesakitan.


" Ayo cepat kita bawa dia ke rumah sakit" Tukas Sakhi , Prilly mengangguk setuju.


Tapi belum sempat mereka menggotong Andi, tiba-tiba ada sesuatu yang menarik Andi masuk ke dalam ruang laboratorium.


" Andi " Pekik Prilly kaget.


BRAK


Pintu terbanting keras, Prilly dan Sakhi cepat bergerak mendorong pintu untuk menolong Andi. Tapi pintu seperti dikunci dari dalam.


" Andi Andi " Sakhi dan Prilly bersahut-sahutan memanggil Andi sembari menggedor-gedor pintu.


Tapi tak ada jawaban.


" Din gimana ini ?" Prilly meminta bantuan Udin untuk melakukan sesuatu.


Udin maju, ia menyentuh daun pintu.


CEKLEK


Pintu berhasil dibuka, Prilly gegas masuk mendahului, disusul oleh Sakhi dan juga Udin. Kujang mengekor di belakang sembari mengedarkan pandangannya.


Setibanya di dalam, Prilly sama sekali tidak menemukan Andi. Padahal baru saja anak itu terseret ke dalam.


" Mana Andi ?" tanya Prilly .


Sakhi mencari saklar lampu, tapi saat ia menemukan nya, lampu nya justru mati.


" Kok mati sih? " gumam Sakhi .


Prilly terus mencari, begitu juga dengan Udin. Udin meraba dinding di belakang papan tulis. Ia merasakan hal yang aneh.


" Andi "


Suara Prilly mengalihkan perhatian semua nya termasuk Udin. Ia mengurungkan niatnya untuk memeriksa dinding di balik papan itu.


" Sa, bantu gue " Prilly kesulitan mengangkat Andi yang sekarat , Sakhi mengangguk ia pun merangkul Andi dari sisi lengan yang lain.


" Biar aku Sa, kamu bantu hubungi ambulans aja " Udin meminta Sakhi menepi, lalu ia menggantikan posisi Sakhi .


Sakhi mengangguk saja, meskipun ia cemburu.


Udin dan Prilly bersama-sama memapah Andi untuk keluar dari ruangan Lab tersebut.


BRAK


Pintu kembali terbanting keras, Sakhi yang tengah berusaha menghubungi 119 terkejut. Ia berlari ke arah pintu, rupanya keadaan seperti tadi pintu terkunci dari luar.


" Nggak bisa dibuka" Ujar Sakhi .


" Apa-apaan sih? siapa yang sedang main-main sama kita? Nggak tahu apa kalau lagi ada orang sekarat " Prilly menggerutu panjang.


Sakhi dan Udin termangu heran, jadi sejak tadi Prilly nggak sadar kalau mereka tengah berhadapan dengan makhluk halus.


" Kita coba lewat sana " Prilly menunjuk ke pintu yang lain. Sebab ruang Lab memiliki dua pintu.


Udin mengangguk setuju, mereka pun menuju ke pintu yang lain.


CEKLEK


Sosok yang berada di luar ruangan tercengang, karena siswa yang ingin ia kunci ternyata malah keluar dari pintu yang lain.


" Ini hantunya yang be gok atau ia lupa kalau disini ada dua pintu ya " Komentar Kujang.


Udin dan Sakhi senyam-senyum, mereka jadi ingat kejadian beberapa menit yang lalu. Dimana Prilly me taekwondo si hantu dengan mudahnya. Padahal Prilly tidak punya keahlian khusus dalam menghadapi makhluk astral, Kok bisa gitu?


Dan sekarang tambah aneh lagi, Prilly sama sekali tidak menyadari jika ia tengah dipermainkan oleh Hantu.


" Sa, Lo udah telfon ambulans nya belum ?" Tanya Prilly sambil lalu terus memapah Andi bersama Udin.


" Udah" Sakhi menjawab singkat.


Tapi tidak dengan sosok di kejauhan sana. Api kemarahan terpancar kuat dari sorot matanya yang tajam.


Sakhi yang tidak sengaja melihatnya, memperhatikan dengan seksama wajah dari sosok tersebut.


Ia merasa pernah melihatnya, tapi siapa? Dan dimana??


Udin , Prilly , dan Sakhi berjalan beriringan untuk pulang. Tak lupa Sakhi menuntun sepeda nya, karena ia datang ke sekolah naik sepeda.


Sedangkan Prilly jalan kaki, sebab mobilnya ia parkir di rumah Udin.


" Ohya, gue mau tanya Ama Lo Sa, ngapain Lo ada di sekolah? sama Udin lagi ? kalian nggak macem-macem kan ?" tanya Prilly , yang memang sejak tadi sudah memiliki perasaan nggak enak.


" Ya nggak lah Pri, gue datang ke sekolah pengen nyari Andi" Sakhi menjawab dengan jujur" Gue juga nggak tahu Udin ada di sekolah, waktu gue liat kalian ya gue dateng samperin kalian "


" Lo nggak bo-ong?" Prilly masih merasa sanksi.


" Sumpah Pri " Sakhi mengangkat dua jarinya.


" Jadi kamu meragukan aku ? " Tiba-tiba Udin ikut menimpali.


" Yah pantas lah, aku cari-cari kamu tiba-tiba muncul hampir bersamaan dengan Sakhi . Curiga dong aku " Prilly membenarkan diri.


" Aku pantang berbohong loh " Lirikan matanya si Udin sudah tidak mengenakan.


" Yah Sorry" Prilly terpaksa meminta maaf karena khawatir Udin akan ngambek.


Udin menghela nafas kasar, ia mengambil langkah lebih cepat dari sebelumnya.


" Din.. Tunggu in aku " Prilly berlari mengejar, tapi Udin tak menghiraukannya.


Sakhi yang tertinggal hanya menatap iri dengan dua pasangan itu.


Setibanya di rumah, Sakhi menemukan Ibunya duduk di teras dengan mimik wajah penuh kekhawatiran.


" Apakah Ibu menunggu ku ?" Tanya Prilly pada dirinya sendiri. Ia percepat mengayuh sepedanya agar lekas sampai.


" Assalamualaikum" Seru Sakhi setelah memarkirkan sepedanya di samping rumah.


" Wa'alaikum salam" jawab Ibunya.


" Ibu ngapain duduk di luar?" Tanya Sakhi setelah ia mencium tangan sang Ibu.


" Kakak mu belum pulang Sa, Ibu khawatir"


Oh... ternyata si Ibu sedang menunggu Syifa. Hati Sakhi sedikit kecewa.


" Emang Kak Syifa nggak pamit Bu?" Lanjut Sakhi bertanya.


" Pamit, dia kan dijemput oleh kenalan barunya. Katanya mau jalan-jalan, coba telfon Kakak mu Sa " Pinta Ibunya.


Sakhi mengangguk, ia segera menghubungi Syifa.


Sejak Syifa sembuh, kecantikan nya telah kembali. Ia pun mengumbarnya kemana-mana. Banyak pria yang kepincut dengan nya, termasuk Danu pria yang mengajak nya jalan-jalan.


Padahal mereka baru saja kenal tadi pagi di pasar. Tiba-tiba siangnya udah datang ke rumah untuk menjemput Syifa jalan-jalan. Tanpa pikir panjang, Syifa pun menyanggupi.


" Nggak diangkat Bu " Tukas Sakhi setelah mencoba menelpon Syifa lebih dari dua kali.


" Coba lagi " Pinta Ibunya, Sakhi mengikuti kemauan sang Ibu. Tapi kali ini nomor Syifa sudah tidak aktif.


Sakhi tidak tega jika mengatakan hal yang sebenarnya, karena pasti Ibunya akan semakin gelisah.


" Emangnya Ibu tahu siapa laki-laki yang ngajak Kak Syifa keluar jalan-jalan? " Tanya Sakhi .


Sang Ibu menggeleng lemah, Sakhi berniat jika Ibunya tahu maka ia akan menyusul nya ke rumah laki-laki itu.


" Kak Syifa kok malah jadi gini kalau sudah sembuh" Gumam Sakhi yang terdengar jelas oleh Ibunya.


" Apa maksud kamu mengatakan begitu? Kamu nggak suka Kakak mu sembuh? "


Sakhi gelagapan, ia tidak menyangka akan mendapatkan respon seperti itu dari Ibunya.


" Bu bukan begitu Bu "