
Melihat kepulangan Iksan, Tiara bergidik ngeri. Ia masih terbayang-bayang dengan ekor cecak yang nyempil di sudut bibir sang adik.
Iksan tersenyum mistis ke arah Tiara, ia lewat di depan Tiara dengan angkuh.
Ekspresi kedua orang tua Tiara pun tidak berbeda jauh. Mereka heran dengan perubahan sikap Iksan yang sangat drastis.
" Bah " Tiara mendekati Pak Haji Kamil yang tengah memicit keningnya.
" Iksan kenapa ya Bah, kok jadi aneh. Dia tu kayak bukan Iksan loh "
Pak Haji Kamil menghembuskan nafas panjang.
" Nanti aku bawa dia menemui Ki Cokro. Biar Ki Cokro yang memeriksa keadaan Iksan" Tanggap Pak Haji Kamil.
" Tapi kata Abah , Ki Cokro nyuruh agar Iksan dinikahkan saja dengan Wati " Tegur Bu haji Kamil.
" Itu dia, Abah mau nolak, biar Iksan menikah dengan wanita lain saja. Toh Iksan sudah sembuh "
Tiara kaget mendengar adiknya sudah sembuh, apa itu benar?? Padahal baru kemarin loh . Ini benar-benar aneh .
Usai sholat duhur, Pak Haji Kamil mengajak Iksan untuk ikut menemui Ki Cokro. Karena tempat tinggal dukun itu lumayan jauh, jadi lebih baik berangkat siang saja.
Iksan menurut tanpa sembarang bantahan. Ia banyak diam dan sering menyendiri, mengakibatkan kedua orang tuanya semakin rungsing.
Setibanya di rumah Ki Cokro, Iksan langsung keluar dari dalam mobil. Ia memandangi ke sekeliling rumah, ekspresi nya seperti seorang perantau yang baru saja pulang kampung.
Pintu rumah Ki Cokro terbuka, dan muncul lah seorang pria berjanggut putih sambil memegang tongkat kayu berkepala ular.
Iksan tersenyum begitu juga dengan Ki Cokro, pria tua itu keluar menyambut kedatangan Iksan.
" Selamat datang junjungan ku" Ki Cokro bersujud di depan Iksan yang sontak membuat Pak Haji Kamil beserta istrinya terperanjat.
" Bangun lah " Iksan membantu pria tua itu untuk berdiri.
" Saya sungguh tidak pernah mengira, jika dengan pukulan yang sangat kuat. Junjungan ku justru terlepas dari segel "
Perkataan Ki Cokro semakin tidak bisa dipahami.
" Aku harus berterimakasih kepada anak itu, tapi sepertinya anakku ketakutan kepada nya"
" Ah itu bisa saya urus nanti, mari silahkan masuk ke gubuk saya Tuan " Ki Cokro mempersilahkan Iksan untuk masuk.
" Ki " Seru Pak Haji Kamil, ia merasa tidak diperhatikan oleh dukun itu.
Iksan dan Ki Cokro menoleh hampir bersamaan.
" Ada apa Pak Haji?? "
" Kenapa Ki Cokro tidak memperdulikan saya?? Apa aki tidak melihat kehadiran saya? " Tegur Pak Haji Kamil.
Ki Cokro dan Iksan saling bertukar pandangan, keduanya tersenyum devil seperti memiliki rencana yang sama.
" Oh, ayolah jangan seperti itu Pak Haji. Bukankah rumah ku ini bukan tempat asing untuk Pak Haji. Mari masuk Pak Haji mari masuk " Ki Cokro mengajak Pak Haji Kamil beserta istrinya untuk turut masuk ke dalam rumah.
" Aku sangat berterimakasih sekali sama Pak Haji, karena sudah bersedia menjaga dan merawat Iksan melebihi anak Pak haji sendiri" Ujar Ki Cokro sembari menabur kemenyan.
Pak Haji Kamil semakin bingung, kenapa tiba-tiba Ki Cokro membahas masalah ini.
" Untuk itu, mulai sekarang Pak Haji dan Bu Haji jangan pernah kesini lagi. Dan biarkan Iksan tinggal disini bersama ku " sambung Ki Cokro.
" Tugas Pak Haji sudah selesai, kini Iksan akan disini bersama ku " Ki Cokro tetap dengan keputusannya.
" Ki, kami sangat mencintai Iksan. Malah kamu sudah siap mewariskan semua harta kami kepada Iksan " Bu Haji ikut bicara, ia tidak rela jika harus kehilangan Iksan.
Ki Cokro terdiam, ia melirik Iksan yang sedari tadi memperhatikan pernak pernik di ruangan Ki Cokro.
" Tuan, bagaimana ini ? Apa anda ingin ikut mereka?" Tanya Ku Cokro penuh ketaatan.
Iksan memutar tubuhnya, ia tersenyum devil.
" Jika mereka ingin bersama ku, maka akan ku kabulkan. Hitung-hitung aku sedang menyantap makanan pembuka " Jawab Iksan.
Pak Haji Kamil dan istrinya merasa aneh dengan jawaban Iksan, tapi tidak dengan Ki Cokro. Ia tersenyum penuh kebanggaan.
" Baiklah, jika itu keinginan Tuan " Ia bangkit lalu keluar dari ruangan nya. Seruan Pak Haji Kamil sama sekali tidak ia perduli kan.
Pintu tertutup rapat dengan sendirinya, Bu Haji ngeri sekali karena tiba-tiba ruangan itu jadi gelap gulita.
" Bah, Bah " Ia meraba mencari keberadaan sang suami, tanpa ia sadari jika tubuh Pak Haji Kamil sudah tidak menapak lantai. Kedua kakinya menggapai-gapai udara kosong , sementara kedua tangannya berusaha melepaskan tangan hitam berbulu yang mencekik lehernya.
" Abah... Kamu dimana ? " Bu haji terus mencari sang suami, sampai akhirnya ia tanpa sengaja menyentuh sepasang kaki yang diselimuti oleh bulu tebal nan panjang.
" AW!! " Bu haji terjerembab ke lantai dikarenakan kaget oleh benda tersebut.
" Apa itu?"
Iksan yang sudah berubah wujud ke bentuk aslinya telah berhasil menghisap jiwa Pak Haji Kamil. Dan menyisakan tubuh yang sudah tidak bernyawa.
BUGH
Bu haji terkejut, benda apa yang jatuh barusan ? Seperti karung yang berat hampir mencapai satu kwintal. Ia tidak pernah mengira jika benda jatuh itu adalah tubuh suaminya.
Tiba-tiba Bu haji merasakan sesuatu yang berbulu menyentuh lehernya. Bu haji terbeliak, tubuhnya mulai terangkat dengan cekalan kuat di batang leher.
AKH AKH AKH
Hanya suara itu yang keluar dari mulut Bu haji. Kini ia bisa melihat wajah makhluk di depannya. Dia adalah Iksan, tapi hanya sebatas muka saja. Selain dari itu, tubuhnya dipenuhi oleh bulu. Kepalanya bertanduk panjang, bola matanya merah menyala.
Nasib Bu Haji akhirnya tidak jauh berbeda dengan Pak Haji Kamil. Jiwa mereka dihisap oleh Iblis yang berwujud Iksan.
Bukan !! Dia memang Iblis, kisah ini bermula saat Pak Haji Kamil masih menjadi petani biasa. Karena ingin kaya raya dengan cepat, ia meminta bantuan Ki Cokro , Dukun ternama yang berasal dari alas Roban.
Pada saat itu Ki Cokro tengah melakukan ritual pembangkitan iblis, namun karena tubuh Iblis itu hancur oleh topeng legendaris. Ia tidak bisa kembali hidup kecuali jiwanya di segel dalam tubuh manusia.
Akhirnya Ki Cokro menculik seorang bayi laki-laki lalu menyegel jiwa Iblis tersebut ke dalam tubuh bayi itu.
Berhubung ada pasien yang ingin cepat kaya, Ki Cokro memberikan syarat kepada Pak Haji Kamil agar merawat bayi iblis itu dengan baik. Maka dia akan kaya raya dengan sendirinya. Dan benar saja, sejak ia merawat Iksan ! Nama bayi iblis itu, Pak Haji Kamil semakin lama semakin sukses dan kaya raya.
Tiara dan Mona tidak tahu jika sebenarnya Iksan bukan adik mereka. Karena Bu Haji berpura-pura mengalami hamil gaib. Dan orang-orang disekitarnya percaya saja dengan cerita kedua pasangan suami istri ini.
Hingga akhirnya segel yang mengikat jiwa iblis dalam tubuh Iksan terlepas saat menerima pukulan dari Udin.
Udin bukan tidak tahu jika dalam tubuh Iksan terdapat aura jahat. Ia juga bisa merasakan jika anak yang dikandung oleh Wati adalah titisan iblis.
Tapi Udin tidak bisa melenyapkannya saat ini juga, karena bisa berakibat fatal terhadap nyawa Wati sendiri.
Udin tidak ingin terjadi apa-apa dengan sang Kakak, tapi ia senantiasa menjaga Wati dan tidak pernah sekalipun meninggalkan nya .