SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
NASI KANGKANG



" Ayu!! Cepat siapkan makan siang untuk ku dan suami mu " Ibu Pak Karyo memberikan perintah kepada menantunya. Ayu justru menatap Pak Karyo penuh arti.


Pak Karyo mengangguk, lalu ia beranjak masuk ke dalam.


" Karyo!! Mau kemana kamu ?! " Seru Ibu Pak Karyo, ia berang anaknya tidak menghiraukan panggilan nya.


Sedangkan sang menantu sudah berlari cepat mengekori suaminya.


Ibu Pak Karyo menghela nafas kasar, kedua tangannya terlipat di dada. Udin diam saja memperhatikan si Ibu.


Tiba-tiba beliau menoleh ke arah Udin, ia seperti memikirkan sesuatu.


" Kamu sebenarnya mau apa datang mencari anakku? " Tanya Ibu Pak Karyo dengan suara berbisik, mungkin ia takut terdengar oleh orang lain.


" Saya muridnya Bu " Jawab Udin jujur.


" Aku tahu, tapi tadi aku lihat kamu melompat ke atas pohon seperti monyet. Jelas-jelas kamu bukan manusia biasa, apa yang kamu rencanakan? Hah ?"


Udin terdiam, rupanya tindakan nya diketahui oleh Ibu Pak Karyo. Bagaimana ini ? Jika ia jujur, ia takut akan menimbulkan masalah. Tapi jika dia bohong? Pasti akan lebih menjadi masalah.


" Jawab aja, mungkin kita bisa bekerja sama" Ibu Pak Karyo mengerlingkan matanya.


Akhirnya Udin setuju, kemungkinan besar Ibu Pak Karyo sepemikiran dengan Udin. Karena ia terlihat tidak menyukai menantunya itu.


" Hari ini adalah hari pertama saya sekolah di sini, dan juga hari pertama bertemu Pak guru. Saya melihat auranya berbeda, dia dipenuhi asap hitam yang tebal. Setelah mendengar cerita tentang Pak guru dari teman-teman saya, Saya memutuskan untuk mengikuti nya diam-diam. Dan sesuai prediksi saya, Pak guru telah memakan nasi kangkang "


Ibu Pak Karyo terbelalak lebar, dadanya naik turun menahan emosi. Ia hendak bangkit tapi ditahan oleh Udin.


" Aku ingin membu-nuh perempuan itu" Ibu Pak Karyo sangat berang, tapi Udin tetap menahannya.


" Percuma Bu, selama Pak guru tidak disembuhkan. Apapun yang dilakukan oleh Ibu tidak akan menghasilkan apapun" Udin memberikan peringatan, akhirnya Ibu Pak Karyo kembali duduk dengan tenang.


" Apa kamu memiliki rencana? "Tanya Ibu Pak Karyo, Udin membenarkan.


" Berikan saya air kencing Ibu setetes saja, lalu campurkan dengan air putih. Sisanya saya sendiri yang akan bertindak" Pinta Udin.


" Baiklah, tunggu disini " Ibu Pak Karyo beranjak pergi, ia masuk ke dalam toilet untuk melakukan permintaan Udin.


Tak lama kemudian ia pun datang dengan membawa sebotol air mineral. Lalu ia berikan kepada Udin.


" Sudah ku masukkan air kencing ku ke dalam" Ibu Pak Karyo menunjuk botol air itu.


Udin mengangguk lalu mengambil alih botol tersebut. Ia menggenggam nya erat, dua Jimat yang berada di balik cuping telinga nya bergerak menjalari tangan Udin. Lalu mengitari botol yang digenggam.


" Ini Bu,,, " Udin menyerahkan botol itu kepada Ibu Pak Karyo, beliau terlihat senang sekali.


" Bu, ayo makan. Masakan sudah siap " Seru Pak Karyo yang berhasil membuat Ibunya sedikit kaget.


" Ah iya... Yuk Nak" Ibu Pak Karyo mengajak Udin untuk turut serta.


" Bu, tidak usah bawa dia " Pak Karyo mencegah Udin agar tidak ikut, karena itu adalah perintah istrinya.


" Kenapa? Dia cucuku sekarang" Bantah si Ibu tak perduli. Udin ngikut aja tanpa rasa bersalah.


Ayu yang melihat kedatangan Udin di belakang Ibu mertua nya mendelik tajam. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak karena Ibu mertuanya menggandeng tangan Udin erat.


Saat makan, dengan sengaja Udin membuat Pak Karyo tersedak. Ayu cepat menyodorkan air minum. Tapi Ibu Pak Karyo tak kalah cepat. Sehingga Pak Karyo mendapatkan dua air di depannya.


Ayu terbelalak, disaat itulah Ibu Pak Karyo memberikan air minum yang sudah ia persiapkan. Mau tidak mau Pak Karyo pun menerima air dari sang Ibu.


Ia menenggak air itu sampai habis separuh, Ayu terlihat gusar. Ia menatap Udin dan Ibu mertuanya secara bergantian.


Tiba-tiba Pak Karyo merasa kepalanya pusing sekali, perut nya seperti di aduk-aduk.


" Mas kamu kenapa? " Tanya Ayu panik. Pak Karyo hanya menggeleng lemah, ia tidak tahan lagi hingga muntah-muntah di tempat.


Semua makanan yang masuk selama dari pagi keluar tak tersisa. Sampai hanya keluar cairan kekuningan.


" Mas.. " Ayu semakin panik.


" Bu, Ibu sengaja meracuni Mas Karyo ya " Tengking Ayu geram kepada sang Ibu mertua.


" Meracuni apa-an " Bantah Ibu Pak Karyo.


" Itu airnya Ibu campurin apa sampai Mas Karyo muntah-muntah?" Ayu menunjuk botol air yang berada di atas meja.


" Sudah!! " Pak Karyo bersuara meskipun lemah " Jangan kurang A jar sama orang tua Yu "


Ayu membeliak lebar, ia tidak percaya jika suaminya kini justru membela Ibunya.


Ibu Pak Karyo tersenyum penuh kemenangan, akhirnya putranya sudah kembali kesedia kala.


" Mas, Ibu udah buat kamu muntah-muntah. Dia pasti sengaja meracuni kamu " Ayu masih bersikeras membela diri.


Ibu Pak Karyo membantu anaknya untuk menyenderkan tubuhnya ke kursi.


" Ibuku bukan orang sejahat itu" Pak Karyo tetap membela Ibunya, karena ia memang tahu karakter wanita yang melahirkannya itu.


" Mas, jadi kamu membenarkan sikap Ibu yang udah Membuat kamu muntah-muntah? " Ayu melebarkan matanya tak percaya.


" Hanya muntah kok jadi persoalan sih "


Ayu geram, kenapa suaminya kini berubah seperti dulu? Sangat penurut dan patuh kepada Ibunya.


Ibu Pak Karyo tersenyum miring saat Ayu menatapnya tak suka. Akhirnya Ayu terpaksa pergi dengan menghentakkan kakinya ke lantai.


" Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah kembali seperti dulu Nak " Ibu Pak Karyo mengucapkan rasa syukur yang tiada henti.


" Emang Karyo kenapa sih Bu? " Pak Karyo tersenyum sayu, ia nampak pucat karena habis muntah-muntah.


" Kamu tahu tidak, kalau istri mu sudah meracuni mu dengan nasi kangkang. Sehingga kamu selalu nurut sama dia dan tidak pernah mendengarkan nasehat Ibu lagi " Ibu Pak Karyo menjelaskan apa yang terjadi, Tapi reaksi Pak Karyo hanya diam. Ia sedikit mengerutkan keningnya.


" Kalau kamu tidak percaya, tanya muridmu itu " Ibu Pak Karyo menunjuk Udin yang sejak tadi diam saja.


Pak Karyo melirik Udin, ia memperhatikan anak itu agak lama.


" Kamu murid baru ya ?" Tanya Pak Karyo, Udin membenarkan.


" Jangan katakan apapun yang terjadi di sini kepada siapapun? Kau mengerti?" Sambung Pak Karyo yang langsung di iyakan oleh Udin.


" Pokoknya kamu harus pulang ke rumah Ibu, jangan tinggal disini lagi. Nanti Ayu pasti meracuni kamu lagi Karyo " Ibu Pak Karyo memberikan keputusan sendiri.


Tapi sang Anak hanya diam saja, sebenarnya ia sangat mencintai Ayu. Tapi mungkin karena sikap nya yang keras Membuat Ayu memilih jalan untuk mengguna-guna dirinya agar jadi suami penurut.