
Udin pulang ke rumah dengan menaiki ojek online. Ia sudah menyimpan alamat tempat tinggal nya yang baru malam sebelum ia memulai sekolah nya.
Cahaya yang melihat anaknya sudah pulang langsung berlari kecil menyambut nya.
" Udin kamu kemana aja ?" Tanya Cahaya penuh kekhawatiran.
" Ada urusan sebentar Bu " Jawab Udin disertai senyuman.
" Kalau ada urusan pulang dulu, pamit sama Ibu baru pergi lagi "
Udin hanya tertawa tipis.
" Ayo masuk, Gading dan Naya dimarahi habis-habisan sama Om Fajar karena meninggalkan mu di sekolah"
Udin terhenyak, ia pun bergegas masuk bersama sang Ibu.
" Itu Udin pulang Pa " Seru Tania yang duduk bersimpuh melindungi anak-anak nya. Semua menoleh ke arah Udin yang baru saja datang bersama Cahaya dibelakang nya.
Fajar langsung menghampiri Udin, ia terlihat cemas sekali.
" Kamu akhirnya pulang Nak, kemana saja?" Tanya Fajar.
" Maafkan Udin Om, Ini bukan salah mereka. Tapi Udin sendiri yang sengaja bersembunyi untuk pergi ke suatu tempat "
Mendengar jawaban Udin, Gading serta merta langsung bangkit dari lantai.
" Papa sudah dengar sendiri kan, apa jawaban dia ? Jadi bukan salah kami memilih untuk pulang. Seandainya kami tidak pulang pun, dia tetap tidak akan ketemu "
Fajar tak menjawab, karena Pantas Gading kesal karena disalahkan.
Anak sulung Fajar melangkah pergi penuh emosi, Naya pun melakukan hal yang sama. Tania gegas menyusul kedua anaknya.
Udin mengekori mereka dengan mata, ia merasa tak enak hati karena dirinya Gading dan Naya dimarahi oleh Fajar.
" Din, apa kamu sudah makan ?" Tanya Fajar mengalihkan perhatian si Udin .
" Sudah Om, maaf Udin masuk ke kamar dulu Om " Udin membungkukkan badannya lalu pergi tanpa menunggu persetujuan Fajar.
Jujur Udin tidak suka diperlakukan seperti ini oleh Fajar. Dirinya sadar jika hanya orang asing di rumah ini, tapi sikap Fajar terlalu berlebihan. Membuat nya tak nyaman, bagaimana nanti ia akan menghadapi Gading yang semakin tidak menyukainya?
" Sebaiknya kamu minta maaf kepada kedua anakmu" Cahaya menyentuh pundak Fajar dengan lembut.
" Iya Kak, aku akan minta maaf" Jawab Fajar patuh.
***
Cahaya mengetuk pintu kamar Udin, lalu masuk karena kebetulan pintunya tidak terkunci.
Rupanya Udin baru saja selesai sholat, ia bangkit kemudian melipat sajadahnya.
" Apa Ibu mengganggu?" Tanya Cahaya segan, Udin menggeleng sambil tersenyum.
" Udin juga ingin bicara sama Ibu " Sambung Udin.
" Ohya?? Mau bicara apa? " Tanya Cahaya seraya duduk di bibir kasur. Udin pula duduk di samping nya.
" Bu, Udin mau minta ijin untuk memakai topeng itu malam ini"
Cahaya terperanjat mendengar permintaan anaknya.
" Mau kemana kamu memakai topeng itu Nak ?" Tanya Fajar.
" Udin mau menemui iblis itu, sudah saatnya Udin membalas dendam atas kematian keluarga Udin Bu "
Cahaya terdiam, ia menatap lekat wajah yang masih belum dewasa itu. Sebenarnya Cahaya tidak rela Udin melakukan nya sendiri, tapi dia sudah pernah mengutarakan jika Cahaya sendiri yang akan menghabisi Iblis musuh Udin tersebut.
Tapi anaknya menolak , Udin ingin memusnahkan Iblis itu sendiri saja.
" Kau akan melakukannya malam ini ?" Tanya Cahaya masih ragu, Udin mengangguk yakin.
Setelah topeng itu berada di telapak tangan Cahaya, secara ajaib topeng itu berubah bentuk seperti semula.
Cahaya menyematkan topeng itu di dada sang anak, dan langsung berubah menjadi sebuah kalung.
" Pakailah disaat terdesak saja, kau sudah cukup hebat dengan adanya bola inti kehidupan dalam tubuh mu " Cahaya memperingatkan Udin, karena ia tahu. Bagaimana pun Udin masih seorang bocah yang masih labil.
" Terimakasih Ibu.. " Udin menatap liontin di dadanya. Ia tersenyum penuh semangat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Iksan duduk dengan menyilangkan kaki menyaksikan Bilal , anaknya memakan manusia yang masih hidup .
Tubuh perempuan itu bergetar menahan sakit, ia mengerang kesakitan, satu persatu kakinya dicabik-cabik oleh taring si Bilal.
Sedangkan kedua tangannya dirantai ke tonggak kayu di kedua sisi meja batu besar itu.
Bilal sengaja menyantap bagian kakinya, agar manusia itu terus hidup. Karena memakan daging manusia yang masih hidup itu rasanya manis sekali.
Perbuatan itu sudah menjadi rutinitas disetiap malam bulan purnama. Ketampanan Iksan lah yang akan memancing perempuan-perempuan itu untuk datang dengan sukarela ke kediaman nya.
Disini, Iksan dan Bilal sudah tidak lagi tinggal di desa Si Udin. Mereka selalu berpindah-pindah tempat untuk menghilangkan jejak.
Tapi Udin dapat mencium keberadaan Iksan saat tadi ia bertemu Ayu. Sepertinya Ayu sedang menjalin hubungan dengan Iksan. Itulah penilaian Udin.
Sebelum pulang dari rumah Pak Karyo, Udin meminta tolong kepada Ibu Pak Karyo untuk memberikan nya beberapa helai rambut sang menantu.
Sudah tentu dengan senang hati Ibu Pak Karyo mengambil nya tanpa sepengetahuan anaknya.
Dari rambut itulah, Udin mendeteksi keberadaan Ayu. Naluri serigala yang ada dalam tubuhnya meningkat saat Udin mengendus rambut perempuan itu.
Ia melesat cepat mengikuti jejak kepergian Ayu. Udin yakin Ayu akan menemui Iksan karena guna-guna nasi kangkang nya sudah tak berbisa lagi.
Dan itu benar, perempuan yang tengah disantap oleh Bilal adalah Ayu.
Udin membuka sedikit celah genteng untuk mengintip kegiatan di dalam rumah Iksan. Tapi ternyata rumah itu menggunakan plafon, jadi tidak terlihat.
Tak menemukan cara, Udin pun mengambil tindakan tegas. Ia menghantamkan tenaga dalamnya hingga plafon rumah itu jebol.
Bilal melompat turun, begitu pun dengan Iksan. Mereka kaget tiba-tiba saja plafon rumah nya ambruk.
Udin melompat ke bawah, ia menapak lantai dengan indah. Iksan memicingkan matanya, ingin lebih jelas melihat siapakah yang menjadi tamu tak diundang itu.
" Kau ?" Iksan tidak percaya jika ia akan bertemu lagi dengan Udin.
" Siapa dia Ayah ?" Bilal bertanya, wajahnya cemong penuh dengan darah.
" Dia adalah Kakak iparnya sayang, adik dari Ibumu" Jawab Iksan disertai seringai licik.
" Diam kau Iksan, hari ini akan ku balas kematian keluarga ku " Sergah Udin ,kedua matanya memancarkan ambisi yang sangat kuat.
" Ohya ?? kau cukup yakin sekali Udin " Iksan tersenyum mengejek.
Dengan gerakan yang tidak terduga, Udin menggunakan tenaga dalamnya yang sudah meningkat pesat, mencekik leher Bilal.
Iksan terperangah, ia tidak menduga anak ingusan itu sudah memiliki tenaga yang luar biasa.
" A yah " Tubuh Bilal terangkat ke atas, ia kesulitan untuk bernafas. Kakinya berayun-ayun mencari tempat untuk menapak. Tapi ia terlalu tinggi untuk menyentuh lantai Atau pun lainnya.
" Lepaskan dia Udin, pertarungan mu adalah dengan ku. Bukan dengan anak ku " Iksan panik, ia tidak ingin kehilangan Bilal.
" Kau lupa siapa yang telah membu-nuh Kakak ku Wati ?" Udin menampik ucapan Iksan dengan kisah kematian Wati yang cukup tragis.
" Rasanya itu terlalu tidak adil, jika kamu justru membu-nuh Bilal yang masih anak-anak " Iksan tetap berusaha membujuk Udin untuk melepaskan Bilal, anaknya itu terlihat semakin lemas oleh cekikan tangan Udin.
Ini bukan cekikan biasa, jika hanya serangan manusia biasa Bilal sangat mampu menghadapi. Iksan jadi curiga, pasti Udin memiliki sesuatu yang melebihi kekuatan manusia biasa.