
Kini menjadi rutinitas sehari-hari bagi Paman Sam mengintip orang mandi. Meskipun tanpa Udin, dia akan naik ke atas atap untuk melakukannya.
Udin sengaja memberikan teropong miliknya kepada Paman Sam.
Dan hari itu Paman Sam melakukan hal yang sama, Tapi kelakuannya diketahui oleh Kujang.
Kujang memang memiliki jiwa penasaran yang tinggi, dia pun mengikuti Paman Sam. Tingkah Paman Sam ia tirukan, seperti melangkah dengan hati-hati, toleh kanan toleh kiri, terus mengendap-endap menaiki atap.
Semua Kujang lakukan persis sama seperti yang dilakukan oleh Paman Sam. Padahal dirinya kan makhluk astral, tidak ada yang bisa melihat nya kecuali dia yang indigo.
Sesampainya di atas atap, bola mata Kujang melebar sampai mengembang melihat pemandangan di kejauhan. Ia tidak perlu memakai teropong, karena itu memang kelebihannya.
Tenggorokannya naik turun, air liur nya ngeces tanpa disadari.
" Waaaaahhh" Paman Sam bergumam, si Kujang manggut-manggut.
" Sexoy oy " Seru Kujang.
Udin celingukan mencari keberadaan Kujang yang tadi ia lihat bermain di lapangan.
" Kemana perginya harimau tua itu? " Udin berencana ingin mengerjai Kujang lagi, tapi dia sudah kehilangan jejak.
Namun ia merasakan Kujang tidak pergi jauh, melalui insting yang kuat Udin mencari Kujang.
Dan betapa Udin terkejut begitu tahu jika Kujang nongkrong bersama Paman Sam di atas atap.
" Ngapain dia disitu, astaghfirullah.. Nih para bandot tua yang tidak ingat umur"
Udin melompat ke atas atap, tapi kehadiran nya sama sekali tidak menarik minat dua makhluk beda alam tersebut.
Dengan sengaja Udin menghalangi pandangan mereka. Paman Sam miring kiri, Kujang miring Kanan. Merasa gagal, Udin justru bergoyang-goyang.
Tapi bokong nya justru ditendang oleh Paman Sam dan Kujang. Alhasil Udin langsung nyosor ke tanah. Dan tidak ada satupun diantara mereka yang perduli.
" Kurang A jar, kalian benar-benar keterlaluan" Udin geram sekali. Ia kembali melompat naik ke atas atap.
Ia duduk di sebelah Kujang, seolah-olah menemani nongkrong.
" Lihat apaan? " Udin berbisik di dekat daun telinga si Kujang.
" Cewek, mandi , **** " Jawab Kujang sembari mengangkat jempol nya.
" Situ gob Lok ya "
Kujang langsung menoleh.
" Berani ya kamu bilang aku gob Lok?"
" Lah emang iya, ngapain situ jauh-jauh ngintip dari sini. Mending samperin aja kesana, nggak bakalan ada yang bisa lihat kamu kok "
" Yang bener?" Paman Sam menjawab, ia tidak tahu jika Udin bicara dengan Kujang bukan dirinya.
Udin dan Kujang sama-sama melongo.
" Aku pergi aja dech, dosa ngintip begituan" Seloroh Kujang tanpa merasa bersalah, ia dengan tenang berjalan pergi.
" Paman ada sipir " Seru Udin cepat, Paman Sam kelabakan keduanya cepat-cepat turun.
Padahal Udin hanya berbohong agar Paman Sam tidak membahas percakapan mereka yang salah tanggap.
Kujang cekikikan, tapi Udin tidak bisa memukul atau pun mengumpat. Karena dikhawatirkan tingkah nya akan dianggap gila.
" Hey!! Anak kecil" Tiba-tiba terdengar seruan, tapi Udin terus saja berjalan. Ia tidak merasa jika dirinya lah yang dipanggil.
" Hey anak kecil!!" Seruan itu lebih nyaring, dan berhasil menghentikan langkah si Udin. Kujang pun turut berhenti, dan Paman Sam yang berjalan dua langkah di depannya juga melakukan hal yang sama.
" Waduh, gajah duduk memanggil mu " Seru Kujang.
Udin berdecih, dia tahu jika beberapa orang baru saja dipindahkan ke lapas ini. Mungkin itu mereka, sehingga belum mengenal siapa si Udin.
" Sini " Sekali lagi pria itu melambaikan tangan, Udin pun mendatangi mereka.
Paman Sam jadi khawatir jika Udin akan diperlakukan dengan tidak baik . Ia ikut datang mengikuti langkah si Udin.
" Hey Pak Tua!! Bos kamu tidak memanggil mu " Tegur salah satu pria berambut panjang yang di kuncir ke belakang.
" Tidak apa-apa, aku hanya ingin menonton saja. Bagaimana si Udin berlaga ? Sudah lama dia tidak memukul orang, iya Din " Jawab Paman Sam enteng.
Sontak para tahanan baru itu tertawa mengejek. Tapi Udin tetap tenang dan tidak terlihat takut.
" Wah seperti nya mereka tidak tahu siapa kamu ya ? tenang ada aku. Aku akan berdiri di belakang mu " Ujar Kujang yang membuat Udin semakin geram kepada nya.
" Jadi nama kamu Udin ya?, menurut perhitungan ku sejak tadi, cuma kamu tahanan paling kecil disini" Pria gemuk bertato itu menyambung kalimat nya setelah selesai tertawa.
" Kamu butuh perlindungan?? " Tanyanya sembari mencondongkan kepalanya ke depan.
Udin menggeleng.
Pria itu mengernyit tajam, ia merasa disepelekan oleh seorang anak kecil.
" Waaaaahhh dia menolak Bos " Tandas pria bertubuh lebih kurus dari yang lainnya.
" Sombong juga kamu ya, kamu belum tahu kan kami ini siapa ? hah!! " Tegur si rambut panjang. Ia maju lalu menarik kerah baju Udin bagian belakang. Sehingga tubuh Udin menggelantung tidak menapak tanah.
Kejadian itu langsung memancing antusias para napi lain. Mereka berkumpul mengelilingi lapangan.
Udin tetap santai meskipun dengan posisi tubuh yang menggantung.
" Dia tidak terlihat takut Bos " Bisik si Pria kurus kepada pria gendut.
" Pukul dia" Pria gendut itu menjatuhkan perintah nya, yang langsung ditanggapi dengan senyuman miring oleh pria berambut panjang.
Pria yang tengah menggantung Udin Mengangkat tangannya bersiap memukul perut Udin. Namun belum lagi menyentuh titik sasaran, kali Udin sudah lebih dulu mendarat di wajah pria itu.
BUGH
Pria berambut panjang sempoyongan, jeratan tangan di leher si Udin terlepas. Udin melompat begitu Indah menapak tanah. Wajahnya terangkat tajam, ia bangkit lalu merapikan kerah bajunya.
Pria gemuk bertato itu jadi terkesima, begitu juga dengan partnernya si Kurus.
Tapi ini Udin, bukan napi sembarang napi. Ia mendekati pria bertato itu, lalu tanpa permisi langsung memukul wajahnya sehingga ambruk ke tanah. Dan kursi yang diduduki oleh nya patah.
Pria kurus itu terkejut, begitu menyadari jika Udin kini menatap ke arah dirinya. Ia langsung kabur tanpa perduli dengan teman-temannya.
"Wuuuuuuuu" Para narapidana yang menonton bersorak riang, begitu juga dengan para sipir penjaga. Mereka sengaja membiarkan perkelahian itu terjadi, agar napi yang baru saja pindah itu jera Membuat keributan.
Karena sememangnya mereka dipindahkan dengan alasan demikian. Lapas disini terkenal dengan keharmonisan, tidak pernah terjadi perkelahian yang berarti. Semua tenang dan damai.
Sedangkan para napi pindahan itu memang suka buat onar. Tidak ada yang mampu mengatasi mereka.
Kujang bertepuk tangan, ia suka sekali menyaksikan kehebatan si Udin.
Udin mendekat lalu menginjak perut pria bertato itu. Pria itu meringis kesakitan, padahal injakan kaki si Udin tanpa penekanan sama sekali.
" Setelah ini ,ku harap om bisa lebih tahu diri lagi. Atau ku buat kau menyesal seumur hidup, paham !!! " gertak Udin.
" Paham paham " Pria itu cepat menjawab agar Udin berhenti menginjak nya.
Udin pun turun, ia berbalik pergi dengan pongah.