
Kita beralih kepada Sakhi yang pulang bersama Nuri. Ternyata Nuri justru membawa Sakhi ke tempat lain.
Gadis itu memiliki janji dengan seorang pria yang jauh lebih Tua dari nya. Melihat bahasa tubuh si Nuri yang sangat intens, Sakhi bisa menilai jika mereka memiliki sebuah hubungan.
" Sa, kenalin ini Om Putra" Nuri memperkenalkan pria yang tengah merangkul nya mesra.
Sakhi tersenyum tipis seraya menerima uluran tangan pria itu.
" Sakhi"
" Putra "
Keduanya saling menyebutkan nama lalu sama-sama melepaskan tautan tangan nya.
" Terus rencana kita gimana? Masa bawa teman kan nggak nyaman" Putra membisikan sesuatu yang nyata Sakhi bisa mendengar nya dengan jelas.
" Nggak apa-apa Om, Sa Lo nggak punya rencana mau kemana-mana kan? " Nuri melemparkan pertanyaan kepada Sakhi , yang dijawab dengan gelengan kepala.
Sakhi merasa tak enak hati jika memaksa si pemilik mobil untuk segera pulang. Eh iya, Sakhi baru ingat. Kapan Nuri membeli mobil ini ? Setahu Sakhi Nuri keadaannya tidak berbeda jauh dengan nya.
Meskipun Nuri masih lebih baik karena kedua orang tuanya lengkap, Ayah Nuri bekerja ojek online sedangkan Ibunya bekerja di warung nasi Padang. Tapi Nuri memiliki Kakak laki-laki yang masih kuliah, dan adiknya yang masih sekolah dasar.
Jadi pengeluaran keluarga nya terbilang banyak, mustahil Nuri bisa membeli mobil meskipun bekas dan murah seperti yang Nuri katakan.
" Kamu bisa kan nunggu aku , aku ada miting sama Om Putra. Sebentar aja kok, kamu tinggal dulu di Mobil yah " Nuri mendekati Sakhi lalu membisikkan sesuatu" Nanti aku belikan kamu jajan enak "
Sakhi mengangguk saja membuat Nuri tersenyum senang.
" Ya udah yuk Om " Ajak Nuri kemudian, pria itu tersenyum puas mereka berjalan berpelukan meninggalkan Sakhi di parkiran.
Sakhi menghembuskan nafas panjang, ia masuk ke dalam mobil dan diam disana.
Karena terlalu lama menunggu, tak terasa Sakhi terlelap. Ia melihat seorang wanita bersanggul lengkap dengan kebaya sendodot berjalan bak seorang penari ronggeng menghampiri Sakhi .
Wanita itu membelai wajah Sakhi dan mengendus kulit nya.
" Darah manis, kesukaan ku " Bisik wanita itu.
Sakhi tersentak kaget, ia tersadar dari mimpi nya dan saat itu Nuri baru saja duduk menutup pintu mobil.
" Apa aku mengagetkan mu? " Tanya Nuri. Sakhi mengerjap, ia merasa sedikit pusing karena bangun secara tiba-tiba.
" Udah selesai mitingnya?" Tanya Sakhi , Nuri tersenyum lebar.
" Kamu mau makan apa? Ayo kita belanja " Ajak Nuri penuh semangat. Sakhi tersenyum, ia ngikut aja dengan kemauan Nuri.
Keduanya makan di restoran mahal, belanja baju bagus. Nuri sengaja membelikan beberapa helai baju bagus juga untuk Sakhi .
Sekitar jam sembilan malam, barulah Sakhi dan Nuri pulang. Mereka terlihat sangat bahagia sekali.
" Happy banget kan kalau punya uang banyak" Tukas Nuri, Sakhi mengangguk disertai senyuman lebar.
" Kita bisa beli apapun yang kita inginkan, Lo mau kayak gue ?"
Sakhi tercengang, ia tidak mengerti apa maksud dari ucapan Nuri?
" Nggak usah terkejut gitu, Lo pasti tahu kan maksud gue? " imbuh Nuri dengan senyuman manisnya.
Sakhi jadi tak enak hati, mungkin dia bisa memprediksi apa yang dilakukan Nuri tadi bersama pacarnya di Losmen. Tapi untuk melakukan hal yang sama, Sakhi belum terfikirkan.
Sakhi mengangguk cepat, ia bersyukur Nuri bisa mengerti dan tidak memaksa nya.
Setibanya di rumah, Sakhi terkejut melihat bayangan seorang wanita berkebaya lengkap dengan sanggul bak seorang penari di jendela.
Perasaan Sakhi langsung tidak tenang, ia baru saja teringat dengan mimpinya siang tadi. Gegas Sakhi masuk ke dalam rumah yang Prilly pinjamkan kepada nya.
Ternyata Ibunya sudah tertidur di salah satu kamar di rumah itu. Sakhi meletakkan makanan yang ia beli untuk Ibunya di atas nakas.
Lalu ia keluar secara pelan-pelan, tak lupa Sakhi menutup pintu kamar Ibunya rapat-rapat.
Sakhi mencari keberadaan bayang-bayang perempuan bersanggul tadi. Tapi tidak ada siapa-siapa di rumah ini.
Sejak Sakhi tinggal di rumah Prilly , baru kali ini ia melihat makhluk tak kasat mata. Karena sememangnya rumah Prilly bersih tidak ada penunggunya.
Namun disaat Sakhi masuk ke dalam kamarnya, ia terbelalak melihat perempuan yang dicari nya tengah duduk di depan cermin sambil tersenyum.
Perempuan itu berbalik, bibirnya tetap tersenyum menambah kesan cantik di seri wajahnya.
" Kemarilah Nak, aku sudah lama menunggu mu " Wanita itu tidak lain adalah NYI Roro Demit, yang tetap menyimpan dendam kepada Udin.
Sakhi melangkah maju dua kaki seraya menutup pintu kamar nya.
" Siapa kamu ?" Tanya Sakhi tegas, ia sama sekali tidak menunjukkan rasa takutnya terhadap makhluk astral tersebut.
" Aku lah Dewi penolong mu sayang, aku tahu kamu menyimpan perasaan terhadap anak hebat itu "
Sakhi mengernyitkan keningnya, siapa yang dimaksud dengan Anak hebat?.
" Kau tidak tahu siapa yang aku maksud?" Makhluk itu seolah bisa membaca pikiran Sakhi .
" Udin! Itu namanya"
Sakhi diam tak bergerak, hatinya penuh kewaspadaan karena ia tahu makhluk seperti ini biasanya hanya ingin menjerumuskan saja. Berbeda dengan peliharaan Udin yaitu si Kujang.
Wanita itu berjalan begitu teratur menghampiri Sakhi . Ia kembali mengendus tubuh Sakhi yang baginya sangat wangi.
" Kau adalah keturunan darah manis sayang, aku sangat tergoda dengan aroma tubuh mu " Ujar Nyai Roro Demit.
" Jadi karena itu kau mendekati ku " Cetus Sakhi .
" Tentu tidak, aku bisa merasakan sekuat apa perasaan mu kepada si Udin. Tapi anak itu tidak bisa tahu se berharga apa dirimu sayang? Karena di sisinya ada wanita berdarah dewa mengalir. Yang tentu nya auranya lebih kuat daripada dirimu "
Sakhi berbalik menghadap Nyai Roro Demit, apakah yang dimaksud adalah Prilly ??
Wanita berdarah dewa?? Sakhi mengingat semua kejadian yang terjadi di depan matanya. Bagaimana Prilly mengalahkan sosok hantu tanpa sedikitpun ia dapat melihat sosok tersebut. Dan juga, Prilly sama sekali tidak punya rasa takut kepada makhluk-makhluk itu.
Berbeda dengan dirinya, meskipun ia bisa melihat makhluk astral, Sakhi mempunyai rasa takut jika berhadapan langsung. Kali ini saja ia berani dengan Nyai Roro Demit, karena wujudnya yang sama sekali tidak menakutkan.
" Tapi tenang saja, wanita itu akan segera pergi menjauh" sambung Nyai Roro Demit.
" Menjauh?? Itu mustahil " Sakhi menyangkalnya.
" Lihat saja nanti, wanita itu akan pindah ke tempat asalnya " Nyai Roro Demit mengibaskan selendangnya lalu berbalik menuju ke arah jendela di kamar tersebut. Lalu pergi dengan menembus jendela.
Sakhi masih tercenung, ia memikirkan semua perkataan Nyai Roro Demit. Apakah itu benar?? Prilly akan pergi??