SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
PUTUS



Turun dari pik up, Wati langsung lari masuk ke dalam rumah. Siti yang berada di ruang tamu, dilewatinya begitu saja.


" Gimana Pak ? " tanya Siti yang memang sejak tadi sudah rungsing.


Satrio Duduk menyender di kursi, ia menghembuskan asap rokok tinggi-tinggi.


" Anak Kiai itu tidak mengakuinya" Jawab Satrio, sebagai seorang Ayah hatinya pun terluka.


" Terus gimana ini nasib anak kita Pak ? " Siti kembali menangis, air mata yang baru saja mengering kini basah kembali.


Udin masuk ke dalam rumah, ia sangat kasihan melihat sang Ibu yang terus saja menangis.


" Tragis nya lagi , anak Pak haji Kamil. Dia justru menuding anak kita pembohong. Padahal setahu kita kan Wati mondok karena laki-laki itu" Sambung Satrio, Istrinya mengiyakan.


Udin tiba-tiba merasakan ada sesuatu hal yang aneh, ia cepat lari masuk ke dalam. Satrio sampai heran melihat tingkah aneh si Udin.


Saat Udin hendak masuk ke kamar Wati, ternyata pintu terkunci dari dalam. Dengan terpaksa UDin menendang pintu hingga jebol.


BRAK


Satrio terlonjak kaget, ia bangkit dan buru-buru masuk ke dalam menyusul Udin. Begitu juga dengan Siti.


Ternyata Udin menemukan Wati sudah gantung diri, ia melompat memeluk tubuh Wati yang kejang-kejang di tali gantungan.


Dengan kekuatannya, tali yang menjerat leher Wati putus.


" WATI!!! " Siti menjerit histeris, ia melihat langsung bagaimana Wati ambruk ke lantai dengan dipeluk oleh Udin.


Satrio terpaku di depan pintu, ia sangat shock dengan apa yang dilakukan putrinya itu.


" Watiiiii Nak bangun " Siti berhambur memeluk Wati, ia menangis semakin menjadi.


Hanya Udin yang terlihat tenang disini, anak itu menekan bagian bawah leher si Wati. Sehingga Wati tersedak dan batuk-batuk.


Siti menghela nafas lega, ia menciumi wajah sang anak dengan penuh rasa haru.


Mengetahui dirinya masih hidup, Wati langsung menangis memeluk sang Ibu. Ia meraung-raung sambil terus meratapi nasibnya.


" Wati nggak mau hidup lagi Bu... Wati nggak mau... Keluarga kita akan semakin direndahkan Bu, hiks hiks hiks hiks"


" Sabar Nak sabar yah, semua ini ujian " Meskipun Siti merasakan sakit yang luar biasa di dalam hatinya, ia tetap mencoba menguatkan sang anak. Agar Wati tidak melakukan hal yang anarkis lagi.


Tubuh Satrio terjelopoh ke lantai, kedua kakinya lunglai. Nafasnya terasa sesak sekali, baru kali ini ia merasakan hidup nya hancur tanpa harapan.


Meskipun Satrio terlihat acuh tak acuh, tapi dia sangat mencintai keluarganya. Apapun yang diminta oleh Wati ,ia akan berusaha mewujudkannya. Karena hanya Wati anak perempuan nya yang banyak membantu pekerjaan rumah.


Sekarang, ia melihat sendiri sang Anak hampir meregang nyawa. Hatinya begitu terluka, kemarahan yang tidak bisa ia luahkan menjadi batu besar yang menindih dadanya.


Di lain tempat, Iksan sudah siuman. Sakit di bawah perutnya sudah mendingan karena obat penahan rasa sakit yang diberikan oleh Dokter.


" Kau harus cepat pulih, dan kita akan membawa mu berobat ke cucu Mak Erot" Pungkas Pak Haji Kamil.


" Emang Iksan kenapa Bah ? " Tanya Iksan kurang mengerti.


Istri Pak Haji Kamil menyentuh tangan sang suami, ia memberi kode agar tidak mengatakan apapun kepada putra nya.


Pak Haji Kamil menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia memilih untuk keluar dari ruangan tempat anak dirawat.


" Ummi, Abah kenapa? " Tanya Iksan semakin ingin tahu.


Baru saja Pak Haji Kamil duduk di ruang tunggu, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia langsung menekan tombol hijau karena itu telfon dari Tiara anak sulung nya.


" Ada apa Ra ? "Tanya Pak Haji Kamil.


" Bah, Pak Kades baru saja kesini. Dia membatalkan pertunangan Iksan sama Syela " Jawab Tiara , terdengar suaranya sangat panik.


" Apa ?? ! Kurang a jar Pak Kades itu, anakku lagi sakit malah main mutusin pertunangan seenaknya" Gerutu Pak Haji Kamil mulai emosi.


" Iya Bah, Tiara udah bilang biar nunggu Abah saja. Pak kades menolak, pokoknya mulai detik ini sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi diantara mereka. Katanya dia mutusin pertunangan disebabkan Iksan sudah bukan lelaki tulen. Emangnya Iksan kenapa Bah ?"


" Hus!! Ngomong sembarangan, siapa bilang begitu?? Wong Iksan baik-baik saja " Pak Haji Kamil menyangkalnya.


" Syukurlah Bah, ya udah Bah Tiara cuma mau bilang itu aja. Tiara mau lanjutin cuci baju dulu "


" Hem " Hanya dengungan yang menjadi jawaban.


Tiara memutuskan talian, suaminya menunggu dengan tidak sabar , Ingin tahu apa yang dikatakan oleh Bapak mertuanya.


" Gimana sayang?? " tanya sang suami.


" Kata Abah sih Iksan baik-baik saja Mas " Jawab Tiara.


" Masa kalau emang baik-baik saja Pak Kades Sampek membatalkan pertunangan sih Sayang. Jangan-jangan Abah berusaha menutupi nya Sayang, Biar kita nggak tahu " Ternyata suami Tiara tidak mudah untuk dibohongi. Tiara mengangguk setuju.


" Ya udah Mas ,aku nyusul ke rumah sakit dulu untuk memastikan. Kalau ternyata berita itu benar?, berarti Iksan tidak akan bisa menghasilkan keturunan. Dan itu artinya dia tidak akan menjadi ahli waris keluarga ini"


" Betul itu Sayang" Jawab Suami Tiara penuh semangat " Dan kamu yang akan mewarisi seluruh harta ini karena kamu adalah anak sulung"


Tiara mengangguk dengan senyuman puas, ia memang sangat ingin menguasai harta kedua orang tuanya. Karena Pak Haji Kamil selalu bertindak tidak adil kepada putri-putrinya. Hanya Iksan yang sangat dimanjakan oleh Pak Haji Kamil. Semua keinginan Iksan akan selalu dituruti. Sedangkan Tiara dan Mona, seperti tak dianggap malah cenderung dijadikan babu oleh Iksan .


" Mi.. " Pak Haji Kamil memanggil istrinya yang tengah menyuapi Iksan makan.


" Ada apa Abah ? "Tanya Bu haji,


" Kalau sudah nyuapin Iksan, Ummi temui Abah diluar ya " Jawab Pak Haji Kamil. Ia pergi tanpa menunggu jawaban dari sang istri.


Bu haji merasa heran, tapi ia tidak berani bertanya karena takut ini masalah yang harus disembunyikan dari Iksan.


" Bah.. " Bu Haji duduk di sebelah Pak Haji Kamil, ia tadi cepat-cepat menyelesaikan kegiatannya menyuapi Iksan lalu keluar karena sangat penasaran.


" Ada apa sebenarnya? "


Pak Haji Kamil menarik nafas terlebih dulu agar supaya lebih tenang.


" Pak Kades membatalkan pertunangan Iksan dan Syela"


Bu Haji terperanjat, ia menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar oleh Iksan.


" Kok bisa Abah? "


" Kurang a jar si Kades itu, dia malah ngomong sama Tiara kalau Iksan sudah bukan pria tulen lagi "


Bu haji semakin shock.


" Kok jahat banget sih Pak Kades, kalau emang mau putus ya udah putus saja. Nggak usah ngomong karena apa ? " Bu haji kecewa sekali dengan keluarganya Syela.


" Itulah Bu, aku pun geram. Ini semua karena Anak Satrio itu. Awas kalian, akan ku obrak-abrik warung mereka. Biar susah nanti cari makan " Tukas Pak haji Kamil penuh dendam.