SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
RANI



Ibu Sakhi menarik nafas dalam-dalam lalu mendengus sembari masuk ke dalam rumah nya.


Sakhi hanya mampu mengekor gerakan sang ibu dengan matanya. Di sini ia jadi serba salah, tapi Kakaknya memang keterlaluan. Masak main pergi aja sama laki-laki yang baru dikenalnya. Apa tidak terlalu mur*Han??


*


Malam semakin larut, Andi tersadar dari pingsannya karena mendengar bunyi gesekan roda bangkar yang berasal dari lorong rumah sakit.


Derikan itu terasa memekakkan telinga, ingin sekali Andi berteriak agar suster yang biasa mendorong bangkar pasien menghentikan aktifitas nya. Atau setidaknya lebih pelan agar tidak menimbulkan bunyi yang menggangu.


Tapi untuk bergerak saja Andi sangat kesakitan, lehernya sakit menembus kerongkongan nya akibat cekikan tangan hantu si Rani.


Yah Rani, sosok yang selalu menghantuinya sejak sepekan terakhir. Ketiga temannya pun sudah tew*s di tangan hantu itu.


Kini tinggal Andi seorang yang masih bisa bertahan, atau mungkin Rani memang sengaja menyiksa Andi dalam ketakutan.


Andi berusaha mengambil nafas sebanyak-banyaknya dan merilekskan diri. Agar rasa sakit di sekujur tubuhnya sedikit berkurang.


Suara derikan bangkar sudah tidak terdengar lagi, Andi mulai tenang dengan masih merasakan sakit yang sama.


Kejadian Malam Minggu pekan lalu terimbas kembali. Disaat dirinya dan ketiga temannya Yus, Wira, beserta Sahib mempunyai rencana untuk mencuri uang di brankas sekolah.


Saat mereka sudah berhasil membobol brankas, dengan penuh sukacita mereka berjalan untuk keluar dari area sekolah tersebut.


Tiba-tiba tanpa sengaja mereka bertemu dengan Rani, anak Ibu kantin. Dia mendapatkan perintah dari Ibunya untuk mengambil kunci mobil yang tertinggal di dalam kantin.


" Kalian dari mana kok belum pulang? " Tanya Rani penuh curiga.


Andi dan kawan-kawannya saling berpandangan satu sama lain dengan perasaan cemas.


" Kok diem?? Aku jadi curiga, pasti kalian melakukan sesuatu yang tidak-tidak di sekolah ini" Rani langsung menuduh mereka.


" Nggak kok Kak " Sahib melambaikan tangannya mengelak dari tuduhan.


" Iya Kak, kami kami lagi ada tugas tambahan" Imbuh Andi terlihat gugup.


Rani tidak langsung percaya, Ia memperhatikan ke empat ABG itu satu persatu.


" Aku akan tanyakan besok sama guru kalian, apa benar kalian sedang ada kelas tambah? " Rani justru mengancam ke empat adik kelasnya itu.


Andi terbelalak lebar, begitu juga dengan teman-temannya. Mereka panik, kalau sampai ketahuan maka akan berat hukuman nya.


Usai mengancam mereka, Rani berbalik untuk pergi.


Andi yang ketakutan secara cepat bertindak, ia tidak ingin dihukum. Tangannya meraih tabung gas alat pemadam kebakaran, yang digantung di dinding. Lalu ia menghantamkan tabung tersebut ke kepala Rani.


Gadis itu langsung ambruk tak sadarkan diri.


" Andi , apa yang Lo lakukan? Kenapa Lo malah menyerang Kak Rani ?" Timpal Yus terkejut dengan tindakan Andi.


" Lo mau diskors sama pihak sekolah karena ketahuan nyolong? Hah?" Andi justru merasa tindakan nya benar.


Yus menggeleng pelan. Wira garcep memeriksa keadaan Rani dengan menyentuh bagian bawah hidung nya.


" Dia masih hidup bro " Serunya.


" Ayo cepat bawa masuk ke dalam mobil" Andi seperti sudah terlatih melakukan kejahatan, karena ia terinspirasi oleh film-film psikopat yang selalu ia tonton.


Ke empat anak yang sudah beranjak dewasa itu menggotong tubuh Rani dan dimasukkan ke dalam bagasi mobil.


Sembari mengawasi ke sekeliling, mereka buru-buru masuk ke dalam mobil lalu tancap gas.


Andi membawa teman-temannya nangkring di tepi danau buatan yang sepi. Sebelum itu mereka sudah berbelanja miras dari hasil menjarah brankas sekolah.


Andi menggerakkan kepalanya sebagai perintah untuk mengecek bagasinya, Yus pun maju dengan langkah kaki yang agak limbung.


Ia membuka bagasi, Rani mengulurkan tangannya dengan gemetar. Ia berharap anak itu akan mengasihani dirinya.


" Bro, dia siuman!" Seru Yus memberi tahu yang lain.


Andi, Wira dan Sahib datang mendekat, Mereka melihat Rani yang tak berdaya sembari mengerang kesakitan.


Andi tersenyum miring, di otaknya timbul niat jahat. Ia meminta ketiga temannya agar mengangkat tubuh Rani keluar dari bagasi lalu dan diletakkan di atas tanah lapang.


Andi membuka celananya, Rani yang masih sadar panik melihat Andi sudah separuh Bu Gil.


" Kau mau apa? hah?" Rani mendorong kan kakinya, tapi kekuatan nya terlalu lemah.


Andi memegang kaki Rani lalu ia lebar kan, setelah itu tanpa aba-aba Andi meruda paksa Rani yang disaksikan oleh ketiga temannya.


Rani berusaha berontak, tapi tak berdaya. Andi mengerang nikmat, ia memuntahkan lahar nya di dalam.


" Aku ya " Wira sigap membuka celana nya lalu mengganti posisi Andi.


Mereka lakukan bergantian secara berkali-kali hingga kelelahan. Ke empat anak laki-laki yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama tertidur bergeletakan di sekitar tubuh Rani.


Gadis yang sudah ternoda itu menangis sesenggukan, ia harus bisa menyelamatkan diri bagaimana pun caranya.


Rani merangkak menyeret tubuhnya, darah segar masih merembes di bagian belakang kepalanya. Tapi ia terus merangkak menjauh dari keberadaan anak-anak itu.


Yus terjaga karena ingin buang air kecil, usai membuang hajat sembarangan ia terkejut karena tidak menemukan keberadaan Rani.


Yus cepat-cepat membangun kan teman-temannya, jika sampai Rani lolos maka tamatlah riwayat mereka berempat.


" Ayo bangun, Kak Rani kabur" Seru Yus yang berhasil menyentak ketiga temannya.


Mereka masuk mobil, dengan tancap gas mencari keberadaan Rani. Siapa tahu masih belum ada orang yang menolongnya.


Dan benar saja, dari kejauhan mereka melihat Rani berjalan terseok-seok sambil berpegangan pada pohon-pohon yang tumbuh di tepi jalan.


Andi menginjak pedal gas, otaknya sudah dipenuhi oleh ke angkara murkaan.


" Di, Lo mau ngapain?" Wira panik Andi akan melakukan apa yang ada dipikiran nya.


Dan itu benar, Dengan tanpa ampun Andi menabrak Rani hingga tubuhnya terjepit pada pohon.


Andi tersenyum iblis, ia memundurkan kembali mobilnya lalu menabrak kembali tubuh Rani yang tersungkur ke tanah.


" Di Lo gila ya " Pekik Yus.


" Gue nggak mau dia punya kemungkinan untuk hidup dan menghancurkan masa depan kita. Sudah ayo cepat sebelum ada orang yang liat" Andi pun kabur dari tempat itu. Meninggalkan mayat Rani yang sudah hancur tak berbentuk.


Andi berhenti di sebuah kali yang berair jernih. Ia meminta kepada teman-temannya agar membantu mencuci mobil untuk menghilangkan jejak.


Ibu kantin merasa heran kenapa Rani belum juga pulang? Padahal hari sudah lewat tengah malam.


Ia hendak menyusul ke sekolah, tapi tidak diizinkan oleh suaminya.


" Jangan Bu! Kita tunggu saja " Jawab Ayah Rani sembari menatap langit lepas.


" Dia akan pulang jika aku memanggil nya " Sambung Ayah Rani.


Dari situ perasaan Ibu kantin sudah tidak nyaman. Karena suaminya adalah seorang dukun yang cukup tersohor.