SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
ENERGI JAHAT



Sakhi memperhatikan Kujang secara detail, dari ujung kepala ke ujung kaki, lalu kembali lagi ke ujung kepala.


Si Harimau putih mengernyitkan keningnya, ia merasa tidak yakin jika gadis di depannya tengah memperhatikan dirinya.


Tapi saat Kujang menoleh, tidak ada siapapun di belakangnya kecuali dirinya.


" Apa dia bisa melihat ku ?" gumam Kujang dalam hati.


Sakhi menoleh ke kanan dan ke kiri, ia memastikan tidak ada yang memperhatikan dirinya.


" Kau khodam cowok itu ? " Bisik Sakhi dengan hati-hati.


Kujang terbelalak, jadi benar gadis itu bisa melihatnya.


Kujang menjawab dengan anggukan kepala.


" Waaaaahhh keren banget" Sakhi melompat kegirangan.


Tapi mendadak ia mematung begitu pintu toilet terbuka. Udin muncul dari sebalik nya. Dia menatap Sakhi aneh, lalu pergi tanpa kata.


Sakhi melambaikan tangannya ke arah Kujang yang mengekor di belakang Udin. Kujang hanya tersenyum, ia bersikap cuek menirukan sang majikan.


" Kok lama banget sih ? " Tanya Prilly begitu Udin sampai. Tapi yang ditanya tidak menjawab.


" Kenapa toilet disini kotor sekali? " Udin justru balik bertanya.


" Kotor?? Apa kamu masuk ke toilet berstiker hitam? "


Udin mengangkat kedua bahunya.


" Ya kalau kamu masuk ke toilet berstiker hitam emang kotor, anak-anaknya pada jorok. Beda sama toilet kita yang berstiker merah, Toilet nya bersih mengkilap kayak cermin, CLING!! " Prilly mengerlingkan sebelah matanya.


" Kok beda ? " tanya Udin


" Ya beda lah, derajat kita juga beda. Semua bisa beda kalau kita ber-uang" Prilly menggesek jari telunjuknya dengan jari jempol.


" Tapi aku tidak ber uang" Bantah Udin.


" Disini Mamaku yang jadi wali kamu, otomatis kamu sederajat dengan kita. Baik kan Mama ku "


Udin terdiam, baru dia tahu bahwa ada sekolah yang menerapkan sistem seperti ini. Faedah nya apa ya??


Udin dan Prilly melangkah bersama menuju kelas. Tapi tiba-tiba seorang siswa menghadang keduanya untuk masuk.


" Luis!! cepat singkirkan tangan Lo " Cetus Prilly, nada bicaranya nampak tidak bersahabat.


" Kok jutek amat sih Sayang" Tanpa segan Luis mentoel pipi mulus si Prilly.


" Apa-apaan sih Lo?? Jangan kurang A jar ya " Bentak Prilly tidak suka dengan sikap Luis yang seenaknya mencubit-cubit pipinya.


" Idih segitu aja udah marah, dia siapa Lo sih ? " Luis menunjuk Udin dengan gerakan alisnya.


" Calon suami gue , kenapa? " Dengan tegas Prilly menjawab, Udin sempat terkejut, Kujang pun menutup mulutnya karena shock dengan jawaban Prilly.


" Lo serius?? " Luis merasa kurang yakin.


" Emang kapan gue mau bercanda sama Lo? " Prilly menegaskan suaranya.


" Buset, Lo mau nikah muda Pri " Celutuk Nando teman Luis.


" Bukan urusan Lo kan ? "


Nando dan Delon tertawa mengejek, tapi tidak dengan Luis. Tatapan nya tajam ke anak mata si Prilly.


" Udah sana, gue mau masuk kelas" Prilly meringsek masuk dengan membentur bahu Luis, sembari menarik tangan Udin untuk masuk bersama nya.


Udin sama sekali tidak tertarik dengan Luis dan teman-temannya. Ia justru tertarik dengan sosok gadis berwajah pucat yang terus berdiri di samping Luis.


Energi jahat dari sosok itu sangat kuat, sehingga membuat Udin meremang bulu roma.


Tidak hanya itu saja, saat Kujang hendak masuk mengikuti si Udin. Sosok itu justru menahan tangannya di jidat si Kujang. Sehingga si harimau putih tidak bisa masuk.


Tapi sosok itu tak bergeming, wajahnya yang pucat Nampak datar disertai Tatapan kosong.


Kujang berusaha melepaskan tangan gadis itu, tapi tangan tersebut seperti sebuah patung kayu yang dicor . Sehingga sulit untuk digerakkan.


Udin menyaksikan apa yang terjadi kepada Kujang, hingga Udin pun bertindak dengan mengirim dua Jimat sakti nya melesat cepat memukul mundur sosok gadis itu.


Sosok itu terpelanting jauh, dan anehnya lagi Luis tiba-tiba mengadu kesakitan di dadanya. Ia hampir jatuh kalau tidak berpegangan pada pundak si Delon.


" Lo nggak apa-apa Luis? " Tanya Delon.


Luis tak menjawab, dadanya benar-benar sakit. Ia berusaha mengambil nafas sebanyak-banyaknya.


" Ah palingan dia cuma caper" Prilly berdecih, ia sama sekali tidak perduli dengan apa yang terjadi dengan Luis.


Kujang berlari masuk ke dalam menyusul Udin.


" Makasih ya Bro " Kujang cengengesan, tapi sebenarnya ia sedikit ngeri dengan sosok gadis itu. Kenapa energi jahat nya begitu kuat? Padahal dia hanya roh biasa, dan kenapa saat sosok itu terkena pukulan jimat Si Udin? Justru Luis yang merasakan kesakitan.


...----------------...


Jam pulang sekolah sudah berdering, Bu guru segera menuntaskan pelajaran nya untuk hari ini.


" Din, kamu mau ikut aku nggak?? " Prilly menawarkan diri.


" Kemana?? "


" Habis ini aku ada latihan renang, aku ikut olimpiade renang untuk tingkat antar kota "


Dua bola mata Kujang langsung berbinar-binar.


" Ikut Din ikut" Celutuk Kujang.


" Aku mau pulang aja "


Jawaban Udin sontak mengecewakan, entah bagi Kujang maupun Prilly. Padahal si Prilly nih udah merencanakan untuk membuat Udin terpesona akan dirinya.


" Gue ikut ya Pri " Tiba-tiba Bayu nyelutuk aja.


" Gue nggak ngajak Lo " Tandas Prilly kesal menelan kecewa.


" Din, kamu ikut aja. Kasihan Prilly, kayaknya banyak cowok yang suka sama dia dan suka berbuat seenaknya sama Prilly " Kujang membujuk Udin agar ikut.


Jelingan mata si Udin terlempar ke arah Kujang, namun harimau putih itu justru memasang tampang memelas.


" Ya udah, aku ikut" Akhirnya Udin memilih untuk menemani Prilly. Gadis itu tersenyum lebar.


Bisa dibayangkan bagaimana Kujang tak berkedip memperhatikan cewek-cewek cantik dan seksi berpakaian bikini.


Apalagi si Prilly?? Tubuhnya putih mulus seperti susu, lembut nan kenyal, disertai belahan dada yang montok menggoda. Membuat air liur si Kujang tidak berhenti menetes.


Sedangkan Udin justru tidur di kursi pantai yang ada di tepi kolam. Ia tidak tertarik menyimak para gadis-gadis itu.


Karena terlalu asyik memperhatikan pemandangan indah ini, Kujang tidak menyadari jika Sakhi merangkak mendekatinya.


Lagi-lagi gadis itu memperhatikan Kujang dengan detail hingga ke seluk beluknya.


" Kamu nga Ceng juga "


Kujang terkejut, dengan refleks ia menutupi bagian selingkingan nya.


" Hehehehe doyan juga kamu sama yang bening-bening" Sakhi tidak berhenti meledek membuat Kujang berbalik memunggungi. Ia malu ada yang melihat nya dengan kondisi lagi sa nge.


Tiba-tiba sebuah tangan menutup mata Sakhi dari belakang, gadis itu terkejut. Ia berbalik setelah melepaskan diri dari tangan kuat itu.


Hampir saja wajahnya bertubrukan dengan wajah Udin, hanya tinggal beberapa centi saja. Membuat Sakhi jantungan, padahal ia belum beraktifitas yang berat-berat.


Tapi kenapa jantung nya berdegup kencang hingga dentumannya sampai di gendang telinga.


" Jangan melihat yang seharusnya tidak kau lihat" Saat Udin bersuara, nafasnya hangat menerpa wajah Sakhi. Itu terdengar seperti mantra sihir yang membuat nya menjadi patung.