SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
TELUH UDARA



Udin masih melangkah setapak demi setapak mengikuti jalanan berbatu yang sedikit curam.


Setelah keluar dari dukuh Kamboja, Udin masih belum menemukan pemukiman penduduk lainnya.


Ia terus saja mengikuti lorong kecil yang sepertinya sering dilalui oleh manusia untuk mencari kayu bakar di dalam hutan, ataupun berburu hewan.


Saat malam tiba, Udin memilih istirahat di bawah pohon besar yang berongga. Sehingga mampu mengurangi rasa dingin dan juga melindungi dari hujan jika tiba-tiba saja turun saat malam.


Seperti malam itu, tiba-tiba kilat menyambar saling bersahutan dengan guntur. Membuat Udin tidak bisa nyenyak tidur.


Ia bangun dan memperhatikan ke sekeliling. Perasaan Udin tak enak, sepertinya ini bukan hujan biasa. Seperti ada sebuah peristiwa besar terjadi malam ini.


" Kujang... " Udin memanggil Kujang yang sejak tadi berada di sisi nya " Kita lihat keluar, sepertinya ada sesuatu terjadi"


Kujang mengiyakan, dengan menunggangi hewan astral itu, Udin keluar menerobos derasnya hujan malam.


Seperti dugaan nya, ada sesuatu hal besar telah terjadi. Udin melihat segerombolan kuntilanak berterbangan dari segala penjuru arah. Mereka menuju ke satu rumah panggung milik warga.


" Ini pasti ada yang tidak beres, cepat kesana Kujang" Seru Udin, Kujang mengangguk setuju.


Di setiap dinding rumah panggung itu, para kuntilanak menempel sambil mengetuk-ngetuk dinding papan kayu tersebut.


Udin mengerahkan tenaga dalamnya disertai bantuan dua Jimat milik nya, menghantam ke arah para kuntilanak itu. Sehingga membuat mereka terpental jauh .


Suara pekikan mereka saling bersahutan. Saat Kujang menapak tanah, Udin langsung melompat. Ia mengetuk pintu rumah tersebut sembari mengucapkan salam.


Ada jawaban tapi samar-samar, lalu tak lama kemudian pintu kayu berdenyit menandakan pintu dibuka dari dalam.


" Anak muda, kamu siapa?" tanya seorang nenek heran melihat Udin yang basah kuyup berada di depan rumah nya.


" Maaf Nek, boleh kah saya numpang berteduh? " Udin sengaja berbohong menutupi niatnya yang tengah mencari tahu tentang apa penyebab rumah ini dikerubungi oleh Kuntilanak.


" Oh ya, silahkan masuk Nak " Nenek itu tidak tega untuk mengusir Udin. Ia tidak punya pilihan lain meskipun saat ini bukan waktu yang tepat untuk mempersilahkan tamu asing masuk.


Udin pun masuk, nenek itu memberikan handuk kecil agar Udin mengeringkan tubuhnya.


" Maaf ya Nak, Nenek tidak bisa lama-lama menemui mu. Kalau mau istirahat, silahkan" Nenek itu pamit untuk masuk kembali ke dalam rumah nya.


" Nenek mau kemana? " Tanya Udin.


" Nenek harus menemani putri Nenek yang sedang ingin melahirkan" Jawab Nenek itu.


Oh ternyata itu penyebabnya, pikir Udin.


" Saya boleh bantu Nek " Udin langsung menawarkan jasa.


Nenek itu tak menjawab, ia cepat masuk ke dalam rumah nya dengan diikuti oleh Udin.


" Astaghfirullah Melati " Pekik Nenek itu saat melihat seorang wanita hamil merangkak di lantai kayu. Di sekitarnya sudah menggenang banyak sekali darah.


Hem inilah yang memancing para Kuntilanak itu datang ke tempat ini.


Tapi bukan karena hal itu yang membuat Sang Nenek terkejut, melainkan disebabkan punggungnya Melati yang membusung. Seolah-olah Melati hamil bukan membusung di perut tapi di punggung.


" Mel... Jangan begini Ndok... Ibumu takut " Rintih lirih sang Nenek sambil menangis.


" Mana si Anwar, kenapa disusul suruh datang? tapi nggak datang-datang" Gerutu si Nenek sambil melihat ke arah pintu rumah nya.


Ia mendekati Melati yang merangkak kesakitan, ia juga kesusahan mengusap kandungan nya yang pindah ke punggungnya.


Udin mengumpulkan kekuatan nya ke telapak tangannya, lalu ia menepuk ubun-ubun Melati. Perempuan itu langsung tengkurap di lantai yang terbuat dari papan kayu.


Udin mengusap kepala wanita itu sampai ke ujung kaki. Lalu ia menyergap udara kosong, lalu ia lemparkan. Dari penglihatan sang Nenek adalah seperti itu.


Padahal yang terjadi, Udin menangkap teluh yang dikirim melalui udara lalu ia lemparkan ke arah Kujang. Harimau putih itu menangkap nya lalu menelan nya.


Kujang bersendawa saat teluh itu melewati kerongkongannya dan menjadi kentut saat sampai ke dasar perut.


Udin menggosok hidung nya, kentut Kujang bukan main bau.


Perlahan punggung Melati menyusut , dan perut nya kembali kepada keadaan semula. Wanita itu membalikkan tubuhnya dengan bantuan sang Nenek.


" Alhamdulillah" Si Nenek tak berhenti bersyukur, akhirnya Melati sudah kembali normal. Ia juga sudah tidak kesakitan seperti tadi sebelum terjadi peristiwa mengerti barusan.


" Terimakasih Dek " Suara Melati masih lemah.


" Sama-sama Mbak , sekarang Mbak istirahat lah. Mbak sudah kehilangan banyak darah " Ucap Udin, Melati mengiyakan.


" Nenek tidak menyangka, ternyata kamu adalah bantuan yang dikirim Allah untuk kami" Nenek Melati merasakan sangat terharu.


Tadi sebelum Udin datang, beliau sudah putus asa. Karena tidak bisa mendapatkan bantuan disaat hujan deras. Di tambah lagi dengan gangguan kuntilanak yang berdatangan untuk meminum darah Melati.


Sang Nenek hanya bisa melakukan perlindungan ala kadarnya, dengan menabur kapur untuk mengurangi bau anyir darah Melati. Ia juga tak putus berzikir agar Allah melindungi Melati dari gangguan Kuntilanak itu.


Hingga akhirnya si Nenek mendengar pekikan bersahutan lalu suara ketukan pintu disertai ucapan salam.


***


BUGH AKH


Ki Kusumo terpental ke dinding rumahnya saat Udin menepuk ubun-ubun Melati.


Dan ia merasa dadanya seperti dipukul gadah sebesar gajah saat Udin menangkap teluh yang dikirim nya lalu ditelan oleh Kujang.


Kejadian selanjutnya, ia muntah darah ketika teluh itu menjadi kentut. Nafasnya memburu, rasa sakit semakin perih ketika ia menarik nafas dalam-dalam.


" Kur4ng Aj4r... siapa anak itu? Kenapa dia begitu kuat sekali?? Semudah itu ia mematahkan sihir ku " Ucap Ki Kusumo, tangan nya menekan dada. Sakit luar biasa.


" Bagaimana ini?? Uang sudah dibayar cash, sedangkan aku sudah gagal menjalankan misi yang sebenarnya sangat mudah sekali. Tidak! Aku tidak mau mengembalikan uang itu, aku harus memasang alasan atau aku harus menemui anak itu" Ki Kusumo berbisik kepada dirinya sendiri.


Hemmmmm


Ki Kusumo duduk bersila, ia bersemedi mengembalikan kekuatan nya lagi. Meskipun tidak sempurna, tapi mampu mengurangi rasa sakit di dadanya.


Keesokan paginya, Anwar datang dengan terburu-buru masuk ke dalam rumah sang istri. Ia sudah mendengar kabar mengenai keadaan istrinya sejak semalam. Tapi ia baru bisa pulang pagi tadi karena hujan.


" Melati" Anwar berhambur ke arah sang istri yang terbaring di tempat tidur. Di sana juga ada si Nenek sedang mengompres Melati dan Udin yang duduk memperhatikan.


" Maafkan Abang ya sayang, Abang tidak bisa langsung pulang. Karena kondisi cuaca yang sangat buruk sekali " Ucap Anwar memberikan penjelasan.


" Iya nggak apa-apa Mas, toh aku baik-baik saja " sahut Melati menguatkan sang suami.