SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
PEMANGGILAN ARWAH



Saat azan subuh berkumandang, Bu kantin baru saja membuka pintu rumah nya. Ia dikejutkan dengan kedatangan beberapa polisi yang mengabarkan kecelakaan yang menimpa Rani.


Bu Kantin sangat shock, ia memanggil suaminya dan anak laki-lakinya Kakak Si Rani.


" Ada apa Bu ?" Tanya Roni.


" Adik mu Ron adik mu.." Bu Kantin tak mampu melanjutkan kata-katanya, ia hanya menunjuk ke arah dua polisi lalu lintas yang masih berdiri di sana.


" Maaf Pak, ada apa ya ?" Roni menanyakan perihal apa yang terjadi kepada dua polisi itu.


" Saudara Rani ditemukan meninggal di Jalan Demak. Melihat kondisi nya dia seperti korban tabrak lari" jawab salah satu polisi itu.


" Apa?" Roni tergamak mendengar berita itu, sedangkan Bu Kantin meraung-raung dengan posisi bersimpuh memegang kaki putranya.


Hanya suaminya yang diam tanpa ekspresi, beliau tiba-tiba masuk ke dalam dan mengunci kamar nya rapat-rapat.


Jenazah Rani sudah dimandikan oleh pihak rumah sakit. Mereka sengaja menyiapkan semuanya agar pihak keluarga tidak semakin terluka jika mengetahui keadaan Rani yang sudah tidak utuh lagi.


Dokter bertindak menjahit tubuh Rani agar bisa ditegakkan dengan sempurna. Karena memang tubuh Rani hampir tidak bisa dikenali.


Malam selanjutnya, Ayah Rani baru membuka matanya menyudahi semedi nya. Sepanjang proses pemakaman, Ayah Rani tidak keluar dari kamar khususnya itu. Ia tidak bergeming meskipun beberapa kali Roni ataupun Bu kantin memanggil nya.


"DARAH HARUS DIBAYAR DENGAN DARAH. NYAWA HARUS DIBAYAR DENGAN NYAWA"


Ayah Rani meletakkan pisau di telapak tangan kiri nya, lalu digenggamnya pisau tersebut. Dengan sekali tarik, Pisau itu menggores telapak tangan Ayah Rani.


Darah mengucur deras menetes ke dalam baskom yang berisi air bunga tujuh rupa.


" Rani anakku, darah daging ku, maka dengan darah ku, Aku bangkit jiwamu, balaskan dendam mu, jangan biarkan orang itu hidup dengan tenang" Dua mata tua sang Ayah menatap tajam penuh rasa sakit.


Bayangan senyuman sang anak yang sedari kecil ia sayangi, semakin menyakiti hati nya. Air mata mengambang lalu menetes pelan.


" Ayah..." Suara Rani terngiang-ngiang di pendengaran, derap langkah kaki nya yang berlari menghampiri sang Ayah melintas dalam ingatan.


Rasa sakit itu kini menjadi dendam yang membara, siap membakar hidup-hidup pelaku pembunuh anaknya.


BOM


Letupan keras terdengar dari balik batu nisan yang bertuliskan nama RANI BINTI ABIDIN. Perlahan tanah yang masih merah itu mengeluarkan asap. Bumi merekah terbelah oleh sepasang tangan yang keluar dari dalam liang lahat.


Sesosok perwujudan Qorin si Rani merangkak keluar, tatapan mata yang tajam siap memangsa orang-orang yang telah menzalimi dirinya hingga meregang nyawa.


Yus lah yang menjadi korban pertama, saat ia tengah mencuci muka di wastafel kamar mandi nya. Sosok Rani muncul di belakangnya, Yus terkejut ia terbelalak ketakutan.


Namun tubuhnya membatu tidak bisa digerakkan. Tangan Rani meraba perut nya Yus dari belakang, lalu naik ke wajahnya. Anak itu merasakan tangan dingin itu menggerayangi wajah nya yang masih dipenuhi oleh busa.


Rani mendekati cuping telinga si Yus, ia mendesah seperti suara Yus saat mencapai ******* meruda paksa si Rani.


Yus gemetar, ia ingin mengucapkan kata maaf, tapi lidahnya kelu .


Hantu si Rani tersenyum, tangan nya terus meraba ke kepala si Yus. Lalu tiba-tiba, ia menjambak rambut Yus hingga tulang lehernya berbunyi kretek.


Tidak sampai disitu, Rani menghantam kan wajah Yus ke kaca wastafel berkali-kali hingga wajah si Yus hancur tak berwujud. Bola matanya terlepas sebelah, ia meregang nyawa di dalam kamar mandi nya.


Wira yang hanya memakai celana boxer dan kaos tank top putih itu digerayangi mulai dari telapak kaki nya.


Karena geli, kaki Wira bergerak menghindar dengan mata masih terpejam. Tangan Rani terus naik masuk ke dalam celana si Wira. Lalu ia meremas burung beserta dua telur nya dengan sangat kuat.


AAAKHH


Wira berteriak dan langsung terjaga, ia melotot karena wajahnya berhadapan langsung dengan wajah hantu Rani yang pucat pasi .


Rani tersenyum miring, ia memperkuat cengkraman tangannya di dalam celana si Wira.


AAAKKKKHHHHHHH


Wira berteriak kuat karena telurnya meletus serta kepala burung nya putus. Saat itu juga Wira pingsan seketika.


Teriakannya memancing kedua orang tua Wira datang ke kamar nya. Mereka terkejut menemukan Wira terbaring dengan darah membasahi kasur nya.


Malam itu juga Wira di larikan ke rumah sakit.


Sahib yang masih asyik melakukan live streaming bermain game mobile legend, tiba-tiba komputernya mati.


"Anjirrr" Sahib memaki kesal, ia meraba stop kontak yang berada di bawah meja. Karena ia mengira komputer nya mati karena colokan nya kurang pas dan bergoyang.


Tiba-tiba sebuah tangan menahan tangan Sahib, tangan dingin itu menyentak Sahib yang serta merta menarik tangan nya.


Tapi tangan Sahib di cekal kuat, dan malah ditarik untuk masuk ke dalam lubang stop kontak yang masih on.


Sahib menolak, ia menarik lebih kuat tangan nya sendiri. Tapi kekuatan hantu Rani tidak dapat ia kalah kan.


Hingga akhirnya ujung jemari si Sahib masuk ke dalam lubang stop kontak. Alhasil ia terkena setrum hingga tubuhnya gosong terbakar.


Andi yang mendengar kabar bahwa Wira masuk rumah sakit, langsung datang menjenguk nya. Ia berusaha menelpon dua temannya yang lain, tapi tidak bisa terhubung.


Di sanalah Wira bercerita bahwa yang mencelakai nya adalah hantu si Rani. Andi tidak langsung percaya dengan apa yang dikatakan oleh Wira.


Ia justru tertawa mengejek karena Wira berhalusinasi.


" Kau pikir dengan putusnya kepala burung ku, aku sedang berhalusinasi?" Wira sangat jengkel sekali dengan sikap Andi.


Serta merta Andi terdiam dan tidak tertawa lagi. Ia berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh Wira mungkin saja benar? Tidak mungkin Wira memenggal sendiri kepala burung nya.


Akhirnya Andi memutuskan untuk mendatangi kediaman Sahib dan Yus. Kedua orang tua temannya itu mengira bahwa anak mereka masih berada di kamar.


Namun setelah di cek, mereka terkejut menemukan Yus yang metong di kamar mandi. Wajahnya hancur tak berbentuk dan sudah mulai dikerubungi oleh belatung.


Sedangkan orang tua Sahib mencium aroma daging hangus terbakar saat membuka paksa kamar Sahib.


Andi terperangah melihat kondisi Sahib yang sudah gosong dengan posisi masih memegang stop kontak listrik.


Ibu Sahib pingsan, sedangkan Ayahnya terkulai tak berdaya.


Barulah kini Andi merasakan ketakutan yang luar biasa. Bagaimana dengan nasibnya sendiri sekarang?