SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
PERJALANAN UDIN



Sakhi yang sebagian hati dan jiwa nya terpengaruh oleh Nyai Roro Demit, tidak patah semangat.


Ia menunggu kepulangan Udin di rumah nya. Sakhi terus menunggu hingga malam tiba.


Sebenarnya Udin sudah kembali, namun ia berdiri di sebuah pohon pinang di belakang rumah tetangga yang dapat melihat dengan jelas pergerakan Sakhi di depan rumah nya.


" Kau merasakan sesuatu? " Tanya Kujang.


Udin menoleh, sudah beberapa hari ini Kujang tidak menampakkan diri. Tiba-tiba sekarang dia muncul di samping Udin.


"Dari mana saja?" Tanya Udin.


" Kau merindukanku?? " Kujang tersengeh.


Udin melengos, ia kembali memperhatikan Sakhi .


" Duh yang baru saja ditinggal pergi oleh kekasih hati... " Goda Kujang seraya duduk di sisi Udin.


Udin diam tak merespon godaan si Kujang.


" Aku kembali ke tempat ku untuk sementara waktu" Akhirnya Kujang menjelaskan kemana dia belakangan ini.


" Ke tempat mu?" Udin merasa kurang memahami maksud dari perkataan Kujang.


" Aku juga punya rumah, dan rumahku di pegang oleh seseorang yang berada di Jepang"


Udin mengernyitkan dahinya, kalau memang Kujang punya rumah, kenapa dia mengikuti dirinya? Itulah yang menjadi pertanyaan Udin di dalam hatinya.


Udin merasa banyak hal yang dirahasiakan Kujang dari dirinya. Dia datang dengan sengaja mencari Udin melalui dua jimat sakti yang selama ini menempel di belakang cuping telinga nya.


Kedua, percakapan antara Kujang dan Nyai Blorong. Seolah-olah mereka mengenal siapa Udin dan keluarga nya.


Tapi untuk membahas hal ini, rasanya sekarang bukan waktu yang tepat. Karena posisi mereka tengah mengintai pergerakan Sakhi .


" Aku merasa Sakhi dikendalikan oleh seseorang, tapi orang itu tidak melakukan sihirnya. Ia mengintimidasi pikiran Sakhi untuk melakukan nya " Ujar Udin.


" Tapi aku merasakan kehadiran sosok itu diantara kita " Kujang menambahkan.


Udin mengangguk.


" Seperti dia ingin mengalahkan ku melalui Sakhi yang saat ini tengah labil, kalau aku menampakkan diri sekarang, maka Sakhi akan sulit dikendalikan "


Kujang menoleh menatap Udin dari samping.


" Lalu apa rencanamu? " Tanya Kujang.


" Aku libur sekolah selama tiga Minggu, akan ku pergunakan waktu itu untuk mencari topeng legendaris itu. Tolong temani aku " Pinta Udin.


" Baiklah, kapan kita akan berangkat? " Tanya Kujang.


" Sekarang!"


Udin langsung mundur dan melompat ke dahan pohon lalu berpindah ke pohon lainnya. Kujang mengekori hingga mereka menampakkan kaki di atas tanah lapang.


Perjalanan keduanya dimulai untuk mencari dimana kah topeng legenda tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Prilly sudah tiba di rumah panggung yang terbuat dari kayu Ulin. Rumah itu sangat besar dan megah, karena Opu merupakan orang terkaya di kampung nya.


Prilly mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu Udin bahwa dirinya sudah sampai dengan selamat.


Namun ternyata Udin sudah mengirimnya pesan singkat, JAGA DIRIMU BAIK-BAIK DISANA, DAN TOLONG PERCAYA LAH PADAKU. JANGAN MENGHUBUNGI AKU SEBELUM AKU MENGHUBUNGI MU.


Prilly tidak mengerti apa maksud dari pesan Udin ini. Ia langsung menelpon Udin, tapi ternyata sudah tidak aktif.


Semakin kacau lah pikiran Prilly , ia sangat gusar. Dan hal itu dilihat oleh Latuluna.


" Kenapa sayang? Hem ?" Latuluna menghampiri sang putri tercinta.


" Udin Ma, dia tidak bisa dihubungi. Tapi dia mengirim pesan ini " Prilly menunjuk kan pesan yang dikirim oleh Udin kepada nya.


Latuluna tersenyum simpul.


" Di dalam cinta harus ada kepercayaan, Mama percaya sama Udin. Dia bukan anak yang suka neko-neko, jadi kamu tunggulah kabar dari nya"


Prilly mengangguk mengerti, yah Udin memang pria yang bisa dipercaya. Dia jujur dan sangat punya prinsip. Jadi tidak ada alasan bagi Prilly untuk meragukan kesetiaan si Udin.


***


Mereka baru saja tiba disebuah dukuh yang bertuliskan Kamboja di tugu perbatasan. Udin melihat ke sekitar, memang sudah tidak ada jalan lagi selain melewati dukuh tersebut.


Akhirnya Udin masuk dengan mengucapkan kalimat Bismillahirrahmanirrahim.


WUUZZZZZ


Angin kuat menyambar tubuh Udin, ia terpaksa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Kujang sigap menghentakkan kedua kaki depannya, membuat angin kuat itu berbalik arah.


" Sepertinya ini bukan desa biasa" Gumam Kujang.


Udin mengiyakan, mereka melanjutkan perjalanan dengan penuh kewaspadaan.


Selama mengikuti jalan setapak, Udin sama sekali belum menemukan rumah pemukiman warga. Yang ada hanya pohon Pinus berjejer di kiri kanan jalan.


Udin terus berjalan beriringan bersama Kujang. Sampai akhirnya Udin melihat sesuatu muncul dari permukaan tanah.


Sebuah tangan menyembul, lalu disusul oleh tangan lainnya. Kedua tangan itu merangkak keluar lalu munculah sebuah badan tanpa kepala.


Bukan hanya tanpa kepala, tapi tanpa kaki juga. Tangan itu menyeret badannya berjalan, dan sering kali menabrak pepohonan.


Kujang yang melihat adegan tersebut cekikikan, karena malam itu sangat sunyi. Suara tawa Kujang bisa terdengar dengan jelas oleh makhluk itu.


Ia berjalan cepat menuju ke arah datangnya suara. Spontan Kujang langsung menutup mulutnya. Mengerikan juga makhluk tanpa kepala dan kaki itu jika sudah berada di depan mata.


Urat leher yang sedikit menyembul pada bekas tebasan, bergetar. Seolah-olah dia sedang bicara.


Udin mengulurkan tangannya, memegang tangan makhluk itu.


" Kau mau kemana? aku akan mengantarmu" ucap Udin.


Makhluk itu tidak merespon, tapi pada akhirnya ia menunjuk ke batang lehernya.


" Kau mencari kepala mu?"


Makhluk itu mengangkat ibu jarinya 👍👍👍 Kujang tersenyum menahan tawa. Karena tidak memiliki kepala, Makhluk itu tidak bisa bicara dan hanya memakai gerakan tangan untuk berkomunikasi.


" Baiklah aku akan mencoba mencari kepala mu " sambung Udin.


Tangan dingin makhluk itu menyalami Udin, seperti ungkapan terimakasih. Lalu ia merangkak mundur lalu menghilang ditelan kegelapan.


" Bagaimana kamu bisa mencari kepalanya? Sedangkan kamu belum tahu seperti apa wajahnya" Kujang berkomentar.


" Aku yakin pasti kita akan mendapatkan petunjuk, ayo kita lanjutkan perjalanan " Udin melangkah lebih masuk ke dalam desa dan masih belum menemukan satu rumah warga.


Sekitar setengah jam, di kejauhan samar-samar Udin mendengar suara seseorang.


" Kakak... Kakak... pulang lah, Ucok kangen.. "


Udin dan Kujang saling berpandangan satu sama lain, lalu mereka mempercepat langkah kaki nya agar segera menemukan siapa pemilik suara tersebut.


Rupanya seorang anak kecil yang mungkin masih berumur sembilan tahun. Ia berjalan seorang diri setapak demi setapak di kegelapan malam.


" Adek.. " Sapa Udin, anak yang menyebut dirinya bernama Ucok mengerjapkan matanya. Ia memperhatikan Udin secara seksama.


" Adek mau kemana? Ini udah malam " Udin berjongkok dihati anak itu agar mereka sejajar.


" Aku mencari Kakak, udah hampir sebulan Kakak menghilang"


Udin jadi teringat dengan makhluk tanpa kepala dan kaki itu. Apa mungkin dia yang dicari anak ini ?


" Carinya besok aja ya, sekarang udah malam. Ayok aku anter pulang" Udin menawarkan diri.


" Kata Kakak, Ucok kalau mau cari Kakak harus malem-malem"


Udin mengernyit heran.


" Kakak siapa yang bilang begitu?" tanya Udin.


" Kak Sofi, dia datang dalam mimpi Ucok "


" Oh, itu hanya mimpi Dek... mimpi adalah bunga tidur. Ya udah yuk pulang, besok Abang temani Adek cari Kakak, yah " Udin berusaha membujuk.


Tak disangka Ucok malah setuju, ia pun mau pulang bersama Udin ke rumah nya.