SULTAN UDIN

SULTAN UDIN
PERINGATAN DARI KUJANG



Anwar memperhatikan kondisi sang istri, lalu pandangannya menangkap sosok asing di sebelah sang ibu mertua.


" Siapa dia ?" Tanya Anwar.


" Dia adik sepupu kecil ku Mas, baru datang tadi malam" Jawab Melati cepat.


Anwar memicingkan matanya, sepertinya ia tidak langsung mempercayai jawaban sang istri.


Tapi Udin bertindak cepat, ia Lang menyalami Anwar serta memperkenalkan diri.


" Saya Udin Bang , senang akhirnya bisa bertemu dengan Abang"


Anwar tersenyum kelat, ia lalu duduk di bibir kasur samping sang istri.


" Mbak Mel... "


Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita datang, semua menoleh hampir bersamaan ke arah pintu.


Wanita itu duduk bersimpuh di antara Nenek dan Anwar.


" Gimana keadaan mu Mbak ?" Tanya dia.


" Alhamdulillah baik-baik saja Sur " Jawab Melati sembari tersenyum.


Nenek bangkit lalu keluar dari kamar itu tanpa mengatakan apapun. Udin melihat wajah sang Nenek mencuka . Padahal tadi dia tidak seperti itu.


" Bude tetap saja tidak suka aku datang menemui Mbak " Surti rupanya tidak hanya sekali ini mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ibu Melati.


" Sudah biarkan saja " Melati mengusap punggung tangan adik sepupunya itu.


" Sur, kamu kenal dia " Anwar menunjuk keberadaan Udin disana, Surti menoleh lalu menggelengkan kepalanya.


" Siapa dia ?"Tanya Surti.


" Kamu lupa sama Udin Sur, dia anak Bude Ruk " Rupanya Melati sudah merancang semua dalam otaknya sehingga dia bisa menjawab begitu yakin sekali.


Surti terus memandangi si Udin, anak itu tersenyum tipis tanpa ragu.


" Sudah ah kenapa jadi bahas Udin ? toh dia banyak ngebantu aku loh Mas semalam" Melati mengalihkan perhatian suami dan sepupunya itu.


" Seharusnya Mas tuh mengucapkan terima kasih sama Udin, karena dia yang petantang petenteng hujan-hujanan cari dokter" Melati sekali lagi mengucapkan kalimat yang sejak tadi ia rancang.


Anwar tersenyum hambar, ia akhirnya memijit tangan istrinya itu.


" Maafkan Mas sayang, kan sudah Mas bilang tadi kalau semalam hujan badai"


Surti bangkit lalu berdiri di belakang punggung Anwar. Udin terus saja memperhatikan pergerakan keduanya dengan jeli.


Rupanya diam-diam Surti mencolek punggung Anwar seperti memberikan sebuah kode.


Lalu kemudian Surti pamit keluar untuk pergi ke kamar kecil.


" Sayang Mas ambil minum dulu yah " Anwar juga pamit keluar, Melati mengiyakan.


Udin mengekori si Anwar dengan tatapan matanya.


" Udin " Melati melambaikan tangannya, mengalihkan perhatian si Udin dari sang suami.


Udin merangkak mendekati Melati memenuhi panggilan wanita itu.


" Ada apa Mbak ?" Tanya Udin.


" Kamu liat apa sampai segitunya memperhatikan Surti dan Mas Anwar?"


Udin tersenyum simpul, tak mungkin ia mengatakan sesuatu yang belum jelas kebenarannya.


" Mereka kode-kodean " Melati langsung menebak dengan tepat, Udin membenarkan.


Melati menarik nafas dalam-dalam, pandangannya kosong ke langit-langit kamarnya.


" Ibu juga bilang begitu, malah Ibu kerap memergoki mereka berdua an. Tapi Mbak nggak bisa ngomong apa-apa, karena mereka tidak ketahuan bermesraan. Jadi Mas Anwar masih mangkal"


Udin manggut-manggut tanda mengerti.


" Apa kamu juga curiga mereka yang mengirimkan teluh sama Mbak ?"


Udin terbelalak lebar, apa Melati punya keahlian bisa membaca pikiran orang?


" Sama, Mbak juga mikir gitu" Tanpa Udin mengatakan apapun, Melati langsung tahu jawabannya si Udin.


Udin terdiam, ia berpikir bagaimana caranya mencari bukti itu? Ah iya , Udin teringat dengan NYI Blorong. Dia pernah mengatakan bahwa teluh itu tidak bisa dimusnahkan kecuali dilemparkan kembali kepada pengirim nya.


Jika benar diantara mereka yang berniat jahat kepada Melati, pasti mereka sudah terkena teluh itu. Tapi ini tidak?


Kujang mengajak Udin untuk keluar kamar, Udin pun pamit kepada Melati.


" Jangan lama-lama Din, Mbak masih takut. Sepertinya Mbak diintai seseorang" Melati memohon.


Di intai?? Udin memperhatikan ke sekeliling kamar Melati. Lagi-lagi Udin teringat dengan Nyai Blorong, ia juga bisa melihat Syifa waktu tidur di kamarnya dari cermin yang keluar dari dalam telaga.


Bisa jadi teluh itu masih belum dikembalikan ke pengirim nya. Dan kemungkinan besar teluh itu akan dikirim kembali kepada Melati.


Udin membutuhkan petunjuk dari Nyai Blorong kembali. Ia masih belum mahir menghadapi situasi seperti ini.


Kujang mengajak Udin masuk ke dalam surau kecil yang ada di pojok halaman. Surau itu terbuat dari papan kayu dengan kolong di bawahnya. Model nya mirip dengan rumah panggung yang ditempati oleh Melati.


" Ada apa Jang ? " Tanya Udin.


" Aku rasa kamu perlu berhati-hati dengan dua manusia tadi " Ucap Kujang.


" Yah aku mengerti " Udin mengangguk setuju dengan peringatan Kujang.


" Tidak, ini bukan masalah perempuan itu saja. Mereka mencurigai mu, dan dari cara mereka memperhatikan mu tadi seolah-olah menganggap mu sebuah ancaman besar"


" Din, lebih berbahaya menghadapi manusia biasa tapi mempunyai target terselubung kepada kita "


Udin mengangguk.


" Terimakasih Jang "


Kujang mendekat, ia mengendus pipi Udin dengan lembut.


" Kau masih terlalu kecil untuk memahami watak orang dewasa"


*


*


Kembali ke Sakhi ,,


Tidur siangnya terganggu oleh ketukan pintu dari luar. Ia mengeliat merenggangkan otot-ototnya.


" Siapa yang mengetuk pintu sih ? Apakah Prilly ?? Ah masak dia langsung datang kesini?? Ataukah itu Udin ? Ah iya, pasti itu Udin "


Sakhi melompat turun dari tempat tidur lalu berlari cepat keluar kamar.


Begitu pintu dibuka, bukan Udin ataupun Prilly yang ia jumpai. Melainkan dua orang berpakaian polisi.


" Maaf apa anda Nona Sakhi ? " Tanya salah satu polisi itu.


" Ya benar, saya Sakhi . Ada apa ya Pak? " Sakhi merasa tidak melakukan kesalahan yang melanggar hukum, jadi dia bingung kenapa polisi itu mencarinya?


" Ini rumah Udin Kan?"


Sekali lagi polisi itu bertanya, Sakhi membenarkan.


" Maaf Nona, kami diperintahkan oleh atasan kami untuk mengunci secara permanen rumah ini. Jadi anda diminta untuk keluar dari rumah yang dikhususkan untuk Udin "


Hah?? Sakhi terperanjat, perintah atasan? Ah Sakhi lupa jika Prilly adalah berasal dari keluarga polisi. Kakek nya adalah seorang jenderal, dan Ayahnya pun memiliki pangkat yang tinggi. Pantas semua oknum polisi disini takut serta segan kepada keluarga Prilly .


Akhirnya dengan terpaksa Sakhi pun keluar. Harapan nya untuk menunggu Udin sampai datang dan tinggal bersamanya pupus sudah.


TRING TRING


Ponsel Sakhi berdering, Sakhi melihat ke arah layar ponsel nya, rupanya itu telfon dari Prilly .


" Hallo Sakhi , gimana? masih pengen tinggal di rumah Udin ?" Prilly langsung mengejek Sakhi waktu talian telfon tersambung.


" Masih mending aku tidak menjebloskan kamu ke penjara, karena menempati rumah tanpa ijin. Tapi kurang seru jika harus melihat mu gigit jari lebih awal. Aku masih memiliki empati kepada mu meskipun kau sudah bersikap kurang 4j4r kepada ku. Jadi pulang lah, kasihan Ibumu sendirian di rumah" sambung Prilly cetus.


" Diam kau!! aku tidak butuh empati darimu " Sakhi melawan dengan penuh amarah.


" Ohya?? kalau begitu bersih kan segera rumah ku , dan jangan pernah kembali lagi. Aku juga akan membuat mu keluar dari sekolah itu secepatnya " Tegas Prilly sembari memutuskan talian secara sepihak.


AKHHHHH


Sakhi berteriak geram, ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat.